Restoran No Pork No Lard Apakah Halal?

Sering kita jumpai ada restoran yang memasang info bahwa restoran mereka tidak mengandung babi dan lemak babi (no pork no lard). Para pengunjung berjilbab pun tanpa ragu masuk ke restoran dan makan dengan nikmatnya tanpa kuatir soal kehalalan makanannya.

restoran no pork no lard apakah halal

Pork dalam bahasa Inggris berarti daging babi. Sedangkan lard adalah lemak/minyak babi yang kandungan lemaknya sangat tinggi. Minyak babi sering digunakan pada masakan Tiongkok (Chinese food) dan Jepang (Japanese food) untuk menumis.

Bila dapur sebuah restoran tidak ada daging dan minyak babi, apakah restoran itu sudah bisa dibilang halal?

Sake, Rum, Wine, dan Minuman Beralkohol

Kalau makan di restoran Indonesia atau yang menyediakan makanan daerah, kita lebih tenang menyantapnya karena kuliner Indonesia menggunakan bumbu dan bahan halal, kecuali mungkin kuliner dari daerah mayoritas nonmuslim seperti Bali, Papua, NTT, dan sebagian Sulawesi.

Namun, kalau kita datang ke restoran yang menyediakan kuliner asing, kita bakal harap-harap cemas karena walau tidak ada daging dan lemak babi, kemungkinan mereka menggunakan campuran alkohol seperti sake, wine (anggur beralkohol), rum, dan sebagainya sangat besar.

Contohnya steak. Orang Barat suka steak yang dimasak medium rare (setengah matang) untuk menikmati daging empuk dan lembut yang juicy (bersari).

Sebetulnya bukan cara masaknya (matang atau setengah matang) yang bikin daging jadi empuk dan lembut, melainkan penggunaan bahan perendamnya (marinasi).

Steak itu bisa empuk dan lembut karena dimarinasi dalam wine, whiskey, brandy, atau bir. Makanya walau sama-sama menggunakan has dalam, daging yang dimasak steak lebih empuk, bersari, dan lembut daripada daging yang dimasak rendang.

Alkohol jelas haram dalam Islam. Muslim dilarang minum segala jenis minuman yang beralkohol karena dapat menyebabkan hilang akal. Walaupun alkohol dalam makanan yang kita santap tidak bikin kita mabuk dan hilang akal, keharamannya tetap berlaku.

Cara MUI Menilai Halal Tidaknya Restoran 

Sertifikasi halal dari LLPOM MUI jadi salah satu cara kita menilai apakah satu restoran halal atau tidak. Cara MUI menilai halal tidaknya suatu restoran adalah dengan melihat:

Bahan baku yang digunakan

Bahan baku tentu saja harus yang halal, tidak mengandung bahan yang haram. Bukan cuma daging babi, restoran juga tidak boleh menyediakan daging hewan bertaring, hewan ampibi, hewan yang menggunakan cakarnya untuk makan, dan hewan yang menjijikkan.

Pencampuran alkohol dalam makanan dan minuman juga haram karena alkohol itu sendiri sudah haram dikonsumsi dalam Islam.

Jadi kalau kita makan steak yang dimarinasi atau disiram oleh red wine, white wine, brandy, whiskey, sake, dan sebagainya itu sudah tidak bisa dibilang halal karena menggunakan alkohol.

Bahan baku lain semisal bumbu dan sayuran juga tidak boleh ditaruh dan bercampur dengan zat yang haram.

Peralatan masak

Fasilitas produksi seperti dapur, tempat mencuci, dan peralatan masak harus bersih dan tidak boleh digunakan bergantian untuk menangani bahan dan produk yang mengandung turunan babi. 

Pemilik resto nonmuslim yang ingin mendapat sertifikat halal harus memisah peralatan produksinya dari penggunaan untuk kebutuhan rumah tangga dan pribadi. Jangan sampai yang haram mencemari yang halal.

Saya pernah masuk di restoran hotel bintang tiga yang menunya menyediakan Nasi Campur Bali. Nasi Campur Bali berisi daging babi. Disitu cuma dijelaskan kalau nasi itu dimasak khas Bali yang artinya hampir pasti menggunakan daging babi.

Walau ada menu lain berbahan ayam, tapi kalau tempat menyimpan bahan baku dan peralatan masaknya bercampur antara makanan haram dan halal, maka yang halal jadi haram.

Menjauhi Kebathilan

Satu alasan kenapa MUI tidak meloloskan sertifikat halal untuk Mie Gacoan karena nama menu yang digunakan. MUI menilai nama-nama menu yang ada dalam Mie Gacoan menimbulkan kebathilan (tidak sesuai kaidah Islam).

Mengutip detikcom, Mie Gacoan menamai menunya dengan mie setan, mie iblis, es genderuwo, hingga es pocong. Nama menu seperti itu dinilai oleh MUI sebagai nama yang bathil.

restoran no pork no lard apakah halal
Grafik dari LPPOM MUI

Seberapa Penting Kehalalan Buat Kita?

Ketenangan dalam mengonsumsi apa yang masuk ke tubuh penting bagi banyak muslim. Tubuh akan bereaksi lebih baik terhadap makanan dan minuman yang halal.

Dari sisi religi, mengonsumsi yang halal kita lakukan untuk membuktikan manusia sebagai makhluk yang mulia dan bermartabat. Juga sebagai bentuk ketaatan sekaligus rasa syukur kepada Allah SWT.

Halal tidaknya makanan dan minuman juga mempengaruhi karakter manusia. Contoh gampangnya, orang yang rajin puasa akan lebih bisa mengendalikan emosinya dibandingkan dengan orang yang tidak pernah berpuasa.

Sementara itu dari sisi lahiriyah, senyawa dalam makanan haram juga dapat memicu hormon yang merangsang orang berperilaku kasar. Itulah kenapa daging hewan yang bertaring dan yang mencari mangsa dengan cakarnya haram untuk dimakan.

Selama masih banyak makanan dan minuman halal yang bisa kita konsumsi, baiknya kita hindari yang abu-abu seperti menu no pork no lard. Bisa saja menu itu tidak mengandung daging dan lemak babi, tapi dicampur dengan alkohol.

Kalau kita ingin masuk restoran tanyakan pada pelayannya apakah resto ini halal. Kalau dia menjawab halal padahal ada bahan haramnya, ya sudah, itu urusan dia sudah berbohong. Atau pelayannya yang tidak tahu yang mana saja yang halal dan haram?

0 komentar

Posting Komentar