Beda Prakata dan Kata Pengantar Ditulis Oleh Orang dan Penulis

Beda Prakata dan Kata Pengantar Ditulis Oleh Orang dan Penulis

Pada penulisan skripsi, makalah, atau karya fiksi kita sering membaca bagian Kata Pengantar yang berisi ucapan terima kasih si penulis kepada orang-orang dan apa yang harapannya dari karya tulisnya itu.

Ternyata, itu namanya bukan Kata Pengantar, melainkan Prakata. Sayangnya, semua penulisan makalah, skripsi, sampai novel terkemuka menganggap ucapan terima kasih dari si penulis sebagai Kata Pengantar. Apa itu berarti semua makalah dan skripsi serta beberapa buku fiksi yang menggunakan Kata Pengantar sebagai ucapan terima kasih berarti salah?

Terima Kasih yang Dilewati

 

Para dosen pembimbing skripsi di perguruan tinggi sering melewatkan bagian Kata Pengantar mungkin karena isinya cuma ucapan terima kasih kepada orang-orang yang tidak dikenal dosen. Dan bagian itu sudah pasti tidak perlu direvisi, wong tidak ada kaitannya dengan keilmuan.

Itu mungkin yang jadi sebab bagian Kata Pengantar salah kaprah dimaknai sebagai bab untuk mengucapkan terima kasih semata.

Kata Pengantar (Foreword) Pendongkrak Kredibilitas Penulis


KBBI mengartikan Kata Pengantar sebagai kata pendahuluan. Masih dari KBBI yang mengambil terminologi dari Ilmu Komunikasi, Kata Pengantar berarti: kata-kata dari orang terkenal yang dimuat di halaman depan sebagai tanda terbitnya suatu buku.

Kalau merujuk pada arti dari Kamus Besar Bahasa Indonesia ini, betul, Kata Pengantar bisa digunakan sebagai tempat untuk mengucapkan terima kasih dari si penulis kepada orang yang mendukungnya.

Akan tetapi, kata pendahuluan yang dimaksud KBBI juga bisa bermakna: kata yang dibuat oleh si penulis sendiri atau orang lain sebagai pendahuluan dari sebuah karya tulis dan buku.

Karya tulis adalah karangan atau tulisan yang didasarkan pada fakta maupun fiksi serta kaidah tertentu.

Sementara itu, kamus Merriam-Webster mengartikan Kata Pengantar (foreword) sebagai komentar pembuka/perkenalan (seperti untuk buku) terutama ketika ditulis oleh orang selain penulis.

Melihat itu maka makna dari Kata Pengantar adalah pendahuluan yang ditulis oleh orang lain yang ditujukan kepada panulis. Misal, kita baru pertama kali membuat novel dan akan kita kirim ke penerbit mayor.

Supaya novel itu menarik minat orang untuk membelinya, kita muat Kata Pengantar dari Dee Lestari, misalnya, atau Sabda Armando Alif yang mengapresiasi novel dan kemampuan kita meracik cerita.

Sebelumnya kita kirim dulu naskah novel kita ke mereka bisa lewat email atau datang langsung ke tempat mereka. Kata Pengantar juga bisa dibuat oleh penerbit, terutama penerbit mayor (besar).

Kata pengantar dari orang terkenal bisa mendongkrak kredibilitas penulis, terutama pemula, karena karyanya dianggap layak untuk dibaca.

Prakata (Preface) dan Harapan Penulis

 

Prakata disebut juga dengan mukadimah yang artinya (uraian dan sebagainya) yang ditulis oleh penulis atau pengarang sebagai pengantar suatu karya tulis (buku, laporan, penelitian, dan sebagainya); mukadimah.

Jadi, semua ucapan terima kasih kepada orang-orang tersayang juga alasan kita menulis buku tersebut. Selain itu apa yang jadi harapan dan tujuan kita menulis novel, skripsi, makalah, atau karya nonfiksi lainnya juga ditulis dalam Prakata.

Maka kalau kita pernah menyusun skripsi dengan menaruh ucapan terima kasih di bagian Kata Pengantar, itu sebenarnya keliru. Mestinya kita ganti Kata Pengantar itu dengan Prakata. Apa daya, nasi sudah jadi bubur.

Mana yang lebih dulu ditaruh di halaman depan? Kata Pengantar atau Prakata? Tidak ada aturan baku karena tergantung kebijakan penerbit atau keinginan penulis mau menaruh halaman Kata Pengantar atau Prakata lebih dulu.

Related: Judul Dulu atau Isi Dulu?

Namun, umumnya dalam buku posisi Kata Pengantar ditaruh lebih dulu di halaman terdepan. Pada halaman berikutnya barulah Prakata kita baca. Setelah Prakata barulah kita akan menemukan bab pertama.


Last Song Syndrome Penyebab Kita Selalu Terngiang Satu Lagu

Last Song Syndrome Penyebab Kita Selalu Terngiang Satu Lagu

Pernah tidak sengaja dengar satu lagu yang sering diputar tetangga kemudian jadi hapal? Atau hapal lagu karena sering mendengarnya di TikTok? Itu artinya kita mengalami last song syndrome atau sindrom lagu terakhir.

Disebut last song (lagu terakhir) karena yang selau terngiang dan teringat cuma potongan atau bagian kecil dari satu lagu saja. Bagian lagu yang paling sering terngiang biasanya ada di intro (pembuka) dan refrain (bagian yang diulang).

Apa Itu Last Song Syndrom

 

Jadi last song syndrome adalah kondisi saat satu lagu yang sering terdengar tiba-tiba muncul di ingatan dan terngiang di telinga. Kadang kita tanpa sadar menyenandungkan atau menyanyikan potongan lagu itu saat santai atau sedang mengerjakan sesuatu yang tidak butuh konsentrasi tinggi.

Last song syndrom terjadi karena adanya paparan berulang, baik yang disengaja atau tidak. Paparan berulang yang disengaja kita dapat dari melihat video di TikTok. Kita biasanya men-scroll video pengguna TikTok lain yang biasanya menggunakan lagu yang sedang viral untuk musik di videonya.

Saking seringnya mendengar, potongan lagu itu lantas nyangkut di kepala dan terngiang di telinga kita.

Sedangkan paparan yang tidak disengaja datang, misal, dari radio yang disetel tetangga, di toko buku, restoran dan kafe, atau di mall.

Related: Alasan Orang Suka ke Mall

Tidak semua lagu bisa nyangkut di kepala dan terngiang di telinga kita. Ada kondisi khusus yang harus ada pada satu lagu supaya dia bisa nyangkut di telinga kita. Syarat tersebut yaitu:

1. Catchy. Catchy artinya berkesan karena enak didengar. Lagu yang menempel di otak dan terngiang di telinga haruslah yang enak didengar sehingga menancap dalam benak.

2. Bernada riang dengan tempo cukup cepat, tapi tidak cepat seperti lagu mars. Ketukan lagu yang memicu last song syndrome ada di 108-120 per menit. Lagu yang temponya terlalu lambat atau terlalu cepat sulit diserap ke ingatan jadi kurang memicu last song syndrome.

3. Komposisi lagu tidak rumit. Lagu yang memicu last song syndrome tidak meliuk-liuk atau nada naik turun tinggi rendah yang drastis.

Itulah kenapa kita tidak mudah menyenandungkan musik rock dan metal karena komposisi musiknya lebih bervariasi dari pop.

4. Lirik sederhana. Diksi (pemilihan kata) dalam lagu haruslah seperti kata yang biasa kita dengar sehari-hari.

Lirik band Dewa 19 termasuk sulit dicerna karena sangat puitis, tapi karena catchy dengan tempo cukup cepat dan komposisinya tidak rumit, maka lagu mereka sesuai kondisi terciptanya last song syndrome.

Pop dan Dangdut

 

Lagu bergenre pop dan dangdut memenuhi semua unsur lagu yang memicu last song syndrome. Makanya lagu dangdut dan K-Pop juga lebih cepat dihapal anak-anak karena last song sydrome menimpa mereka dari lagu yang disetel atau dari tempat yang mereka datangi.

Selain itu, genre dangdut dan pop sama-sama punya lirik sederhana yang disertai pengulangan serta irama yang easy-listening. Ciri ini sesuai studi yang dibuat oleh Department of Music di Durham University. 

Meski disebut sindrom, fenomena psikologis ini tidak berbahaya karena tidak membahayakan siapa pun.

Last Song Syndrom dan Lagu Tradisional

 

Kalau ayah-bunda mau membuat anak-anak kita hapal lagu-lagu daerah, pakailah cara supaya mereka mengalami sindrom lagu terakhir. Caranya:

1. Nyanyikan lagu-lagu tradisional atau daerah sesering mungkin saat anak sedang santai. Kondisi anak harus dalam keadaan santai dalam arti tidak sedang mengerjakan sesuatu yang butuh konsentrasi tinggi.

2. Nyanyikan berulang-ulang dengan hati riang. Menyanyi dengan terpaksa membuat nada jadi tidak enak didengar.

3. Mengajaknya bermain sambil bernyanyi lagu-lagu tradisional. Mereka akan hapal dengan sendirinya kalau kita ajak menyanyi sambil bermain.

4. Usia ideal supaya anak mudah meresapi lagu ialah dibawah lima tahun atau balita. Maksimal di usia kelas 1 SD.

Kalau sudah terlalu besar, anak biasanya sudah mengikuti selera musik teman-teman atau yang sering didengarnya di lingkungan. Jadi lebih sulit mengenalkan anak kepada lagu tradisional kalau usianya sudah besar.

Bystander Effect Saat Kita Enggan Menolong Orang di TKP

Bystander Effect Saat Kita Enggan Menolong Orang di TKP

Ada perempuan yang tiba-tiba jatuh dari motor karena karena dia baru belajar mengendarai motor ditengah jalanan yang basah karena hujan.

Ilustrasi efek pengamat (bystander effect) dibuat dari Microsoft Designer

Apakah kita akan menolongnya? Atau biar saja, deh, orang lain yang nolong daripada saya kena masalah

Ternyata orang yang enggan menolong orang lain saat terjadi kecelakaan dan kesulitan di tempat umum bukan cuma kita saja, melainkan hampir semua orang melakukannya. Itulah yang disebut dengan bystander effect

Bystander effect adalah fenomena psikologis ketika seseorang tidak berkeinginan menolong korban dalam situasi darurat saat disitu sudah ada orang lain yang hadir. Makin banyak orang yang ada di TKP (tempat kejadian perkara) makin banyak juga yang tidak mau menolong.

Awal Mula Fenomena Bystander Effect

 

Bystander (pengamat) dan effect (efek/dampak) terjadi karena ada difusi (penyebaran atau perembesan) sosial dan tanggung jawab. 

Difusi tanggung jawab terjadi ketika makin banyak orang yang ada di satu tempat saat kecelakaan atau krisis terjadi, makin rendah rasa tanggung jawab individu untuk bertindak. Sedangkan difusi sosial terjadi saat orang yang ada di TKP saling tunggu dan mengawasi orang lain untuk menentukan bagaimana harus bertindak.

Istilah efek pengamat (bystander effect) ini pertama kali tercetus oleh pembunuhan Kitty Genovese pada 1964 di luar kediamannya di New York. Kitty amat mungkin selamat kalau 38 tetangganya menelepon polisi atau menolongnya saat perampokan, pemerkosaan, dan penikaman itu terjadi. Tapi mereka cuma melihat dan mendengar tanpa melakukan apa-apa.

Setelah peristiwa itu, mengutip Psychology Today, psikolog sosial Bibb LatanΓ© dan John Darley kemudian melakukan beberapa studi dan percobaan kenapa orang sampai tega ga nolong atau minimal lapor polisi. Dari keduanyalah istilah bystander effect muncul.

Percobaan Sosial yang Mencetuskan Bystander Effect 

 

Eksperimen pertama yang mereka lakukan adalah merekrut mahasiswa untuk jadi peserta dalam diskusi kelompok melalui interkom. Bibb LatanΓ© dan John Darley memberitahu para peserta kalau mereka akan bicara bergantian dengan orang lain yang tidak terlihat dan hanya melalui interkom.

Nyatanya, tidak ada orang di seberang interkom. Para peserta cuma mendengar rekaman suara yang sudah disiapkan. 

Pada suatu titik, salah satu suara pura-pura mengalami kejang epilepsi dan minta bantuan. Bibb LatanΓ© dan John Darley mengukur seberapa cepat dan seberapa sering para peserta mencoba menolong atau minta bantuan orang lain. 

Bibb LatanΓ© dan John Darley menemukan bahwa jika para peserta berpikir bahwa mereka adalah satu-satunya yang mendengar suara itu maka 85% dari mereka menolong dalam waktu satu menit. Namun, kalau mereka berpikir bahwa ada empat orang lain yang juga mendengar suara itu, cuma 31% dari mereka yang menolong dalam waktu satu menit.

Eksperimen kedua yang dilakukan Bibb LatanΓ© dan John Darley ialah meminta para peserta untuk mengisi kuesioner di sebuah ruangan. Selama mereka mengisi kuesioner, asap mulai keluar dari ventilasi di ruangan itu. 

Bibb LatanΓ© dan John Darley mengamati seberapa lama para peserta memperhatikan asap, seberapa lama mereka memeriksanya, dan seberapa lama mereka melaporkannya kepada orang lain. 

Hasilnya, kalau para peserta sendirian di ruangan itu, 75% dari mereka melaporkan asap dalam waktu enam menit. Akan tetapi, saat peserta bersama dua orang lain, yang sebenarnya adalah konfederat yang pura-pura tidak memperhatikan asap, cuma 10% peserta yang melaporkan asap dalam waktu enam menit.

Konfederat adalah orang yang bekerja sama dengan peneliti.

Bibb LatanΓ© dan John Darley membuat percobaan lain dan beberapa studi yang melahirkan bystander effect. Mereka berpendapat ada banyak faktor sosial yang dapat menghambat atau memfasilitasi setiap tahap ini, seperti jumlah orang yang hadir, norma sosial, karakteristik korban, dan karakteristik penolong. 

Mereka juga mengemukakan beberapa konsep untuk menjelaskan mengapa orang kurang bersedia membantu ketika ada orang lain di sekitar, seperti difusi tanggung jawab, penilaian sosial, dan kesesuaian sosial.

Kenapa Orang Diam Saja dan Tidak Menolong Korban?

 

Selain karena kondisi psikologis yang terjadi karena pengaruh orang banyak yang ada di sekitar, yaitu difusi tanggung jawab dan difusi sosial, ada alasan lain yang lebih pribadi yang dirasakan saat menyaksikan kejadian memilukan.

Alasan itu bisa karena:

1. Shock (terkejut). Beberapa dari kita perlu mencerna sejenak apa yang sedang terjadi. Setelah otak mampu mencerna, kita tidak langsung bertindak karena berbagai pertimbangan, dua diantaranya karena difusi tanggung jawab dan sosial itu tadi.

2. Merasa lemah dan tidak berdaya untuk menolong. Situs Simply Psychology mengatakan ada banyak orang yang takut menolong karena merasa tidak berdaya dan lebih lemah dari pelaku atau dari kejadian yang terjadi di depan mata, misalnya kecelakaan mobil atau kebakaran.

Mereka memilih diam atau pura-pura tidak tahu dan berharap orang lain yang jadi penolong atau melakukan sesuatu untuk menolong.

Betul juga, alih-alih menolong bisa jadi nyawa kita yang terancam. Ini biasanya terjadi di kejahatan jalanan seperti begal, klitih, penjambretan, penodongan, atau tawuran. Orang yang paling berani menolong saat ada kejahatan jalanan biasanya cuma tentara dan polisi.

3. Merasa bukan urusannya. Saat ada orang lain di TKP, kita cenderung cuek dan tidak ingin terlibat karena merasa hal itu bukan urusan kita.

Kita merasa sudah punya masalah dan urusan sendiri dan tidak ingin menambahnya dengan menolong atau mengurusi korban.

Contoh paling nyata ada di kasus KDRT. Keluarga dan tetangga sering tidak menolong karena merasa itu urusan rumah tangga suami-istri dan bukan urusan mereka.

4. Takut dihukum. Di negara kita, alasan hukum juga membuat kita enggan menolong. Sudah bagus kita mau nolong, lha, kok, malah jadi tersangka. Kalaupun tidak jadi tersangka, minimal jadi saksi yang bisa berkali-kali dipanggil polisi untuk dimintai keterangan.

Kejadian ini pernah menimpa Amaq Sinta yang jadi korban begal. Dia melawan dua begal yang mengancamnya dengan senjata dan mau merampas motornya. Amaq sudah berteriak minta tolong, tapi tidak ada warga yang datang. 

Berbekal pisau kecil yang dibawanya, Amaq menikam dua begal yang akhirnya tewas itu. Amaq kemudian melaporkan pembegalan itu ke polisi. Ternyata dia malah jadi tersangka pembunuhan. Untunglah penyidikan dihentikan setelah Kapolri Listyo Sigit turun tangan.

Apakah Bystander Effect Dibenarkan?

 

Efek pengamat bisa dikurangi kalau masyarakat punya empati terhadap korban atau terhadap kejadian memilukan yang terjadi di depan mata. 

Cara meminimalisir bystander effect adalah mengasah empati dan kepekaan sosial. Jadi kita tidak perlu saling tunggu dan pura-pura tidak tahu yang bisa berakibat nyawa korban melayang.

Pelaku Bystander effect bisa dibilang tidak sesuai dengan moral agama karena ajaran agama mengharuskan kita saling tolong-menolong. 

Kalau kita kebetulan ada di situasi yang menyebabkan muncul korban seperti kejahatan jalanan, kecelakaan, KDRT, atau hal lain yang bisa menimbulkan korban, kita bisa menelpon nomor 112. Laporkan kejadian itu kepada operator 112 dan mereka akan meneruskannya ke polisi, pemadam kebakaran, BNPB/BPBD, atau pihak lain yang terkait.

Dengan begitu kita tidak perlu terlibat langsung, tapi bisa meminimalisir kejadian buruk yang bisa menimbulkan korban raga atau jiwa.

Pareidolia si Pembentuk Manusia dan Hewan di Benda Mati

Pareidolia si Pembentuk Manusia dan Hewan di Benda Mati

Pernah melihat awan berbentuk wajah manusia atau lafaz Allah? Eh, atau pernah juga melihat pohon bentuknya seperti raksasa? Ilusi visual itu namanya pareidolia. Ilusi visual dapat dimaknai sebagai kekeliruan dalam memaknai sebuah gambar pada objek.

Makanya pareidolia juga sering disebut dengan gangguan persepsi. Contoh pareidolia paling terkenal adalah penampakan manusia di bulan dan cemilan Cheetos yang bentuknya seperti spesies gorila harambe.

Penampakan jagung Cheetos yang diklaim berbentuk gorila harambe (kanan) yang laku 99,9 dolar di e-Bay (USA Today)

Sementara itu, arti pareidolia menurut kamus Merriam-Webster adalah kecenderungan untuk melihat gambar, pola, atau makna tertentu dalam rangsangan visual yang samar atau acak seperti melihat wajah, binatang, atau objek di awan, bulan, atau pada benda mati. 

Kenapa Kita Mengalami Pareidolia


Pareidolia berasal dari bahasa Yunani para dan eidolon. Para berarti disamping, bersama, atau salah. Eidolon artinya gambar, bentuk, atau rupa.

Kita mengalami pareidolia karena otak manusia cenderung mencari makna dan pengenalan di mana pun pada kesempatan apa pun karena pengaruh bagian otak yang disebut dengan fusiform face area.

Fusiform face area bertanggung jawab untuk mengenali wajah. Jadi saat kita melihat sesuatu yang mirip dengan wajah, bagian otak ini aktif dan membuat kita percaya kalau kita sedang melihat wajah betulan. 

Psychology GeniePsychology Genie melansir bahwa aktivitas saraf dalam otak, seperti di area lobus temporal, terlibat dalam pengenalan pola dan wajah. Saat kita mengalami pareidolia, area-area ini menjadi aktif karena otak mencoba untuk menafsirkan stimulus yang samar menjadi sesuatu yang bermakna.

Pareidolia dan Kondisi Mental 


Laman Psychology Today bilang kalau pareidolia mungkin ada hubungannya dengan mood dan tingkat kecemasan seseorang.

Namun banyak studi yang nelihat kalau pareidolia tidak ada hubungannya dengan mood dan tingkat kecemasan seseorang. Se-mood apa pun kita kalau otak tidak langsung memroses suatu benda, maka pareidolia tidak akan muncul.

Yang pasti pareidolia muncul karena persepsi dan keinginan kita untuk menafsirkan sesuatu yang sebetulnya tidak punya arti apa-apa menjadi sesuatu yang jelas dan nyata.

Pareidolia dan Halusinasi 


Jadi kalau kita melihat busa cappucino berbentuk mata atau awan berbentuk malaikat, sangat mungkin itu bukan firasat atau tanda alam, tapi kita sedang mengalami pareidolia karena otak kita memroses persepsi visual sesuai kebiasaan dan kemauan kita. 

Pareidolia dalam kopi (reddit/manojkathuria)

Apakah mungkin fenomena ini bisa disebut juga dengan, anak sekarang menyebutnya halu?

Dulu pareidolia sering dianggap halusinasi dan delusi, sekarang dianggap sebagai fenomena wajar yang dialami manusia yang disebabkan cara otak memroses rangsangan dan membentuk persepsi.

Pareidolia dan Penyakit Saraf


Meski merupakan fenomena wajar, tidak menganggu kesehatan fisik dan mental, orang yang mengalami pareidolia terus-menerus harus diwaspadai mengidap gejala skizofrenia atau epilepsi temporal.

Pemeriksaan gejala skizofrenia dan epilepsi harus dilakukan psikiater dan dokter saraf, bukan berdasarkan asumsi sendiri.

Jadi awan wajah siapakah yang kamu lihat tadi?



Beda Menyebut Nama Negara Karena Eksonim dan Endonim

Beda Menyebut Nama Negara Karena Eksonim dan Endonim

Kita menyebut negara-negara yang pernah menjajah kita dengan sebutan Belanda, Jepang, Inggris, Prancis, dan Portugis. Namun orang mereka sendiri menyebut negaranya dengan Nederland, Nippon/Nihon, United Kingdom, Française, dan Portugal.

Sementara itu nama internasional untuk enam negara itu adalah The Netherland, Japan, United Kingdom, France, dan (tetap) Portugal.

Kenapa ada perbedaan dalam menyebut nama-nama negara?

Orang-orang antar-negara saling beda menyebut nama negara lain karena faktor pengucapan, ejaan, dan bahasa yang digunakan.

Sebagai contoh, orang Jepang sulit mengucapkan huruf L karena di kosakata mereka lebih banyak huruf R dan tidak ada huruf L. Namun orang Tiongkok justru tidak tidak bisa mengucapkan R karena di kosakata mereka lebih banyak huruf L.

Selain itu juga karena ada perbedaan dalam mengambil asal kata nama negara. Misalnya bahasa Inggris menyebut Mesir dengan Egypt. Kata Egypt diserap dari bahasa Yunani aigyptos yang artinya dibawah laut Aegea.

Sementara endonim Mesir adalah Misr yang diambil dari bahasa Arab. Kita menyebutnya dengan Mesir yang berasal dari pelafalan Misr di lidah orang Indonesia.

Perbedaan dalam menyebut nama-nama negara itulah yang dikenal dengan istilah eksonim dan endonim.

Eksonim dan Endonim


Kata eksonim diambil dari bahasa Yunani exo yang artinya luar dan onoma yang berarti nama. Jadi eksonim adalah istilah untuk menyebut nama tempat (kota dan negara) yang ada di luar tempat tinggal kita.

Ivan Lanin menyebut eksonim sebagai nama tempat dalam bahasa asing. Sedangkan Wikipedia mengartikan eksonim sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut suatu tempat, penduduk, atau bahasa yang tidak digunakan oleh penduduk lokal tempat tersebut atau bahasa yang dimaksudkan tersebut.

Sama seperti eksonim, kata endonim juga berasal dari bahasa Yunani yaitu endon yang artinya dalam dan onoma yang berarti nama. Dengan begitu endonim berarti nama yang digunakan orang untuk menyebut diri atau negara mereka sendiri.

Eksonim Indonesia Bagi Orang Asing


Kita menyebut tanah air ini dengan Indonesia, maka endonim negara ini adalah Indonesia yang asalnya dari bahasa Yunani yaitu indus (India) dan nesos (kepulauan) atau kepulauan India.

Orang Jerman menyebut Indonesia dengan Indonesien. Jadi eksonim Indonesia bagi orang Jerman adalah IndonΓ©sien. Orang Prancis menyebut Indonesia dengan IndonΓ©sie, jadi eksonim Indonesia bagi orang Prancis adalah IndonΓ©sie.

Kemudian, orang Turkiye menyebut negara kita dengan Endonezya. Itu berarti eksonim Indonesia dalam bahasa Turkiye adalah Endonezya.

Setelah itu ada bahasa Maori yang menyebut negara kita dengan Initonihia. Dan eksonim tanah air kita dalam bahasa Samoa ialah Indonesikondre.

Endonim dan Eksonim Negara ASEAN


1. Malaysia

Ke mana pun orang Malaysia pergi mereka tidak akan kesulitan menyebut endonim dan eksonim negaranya karena sama-sama disebut dengan Malaysia. Eksonim Malaysia bagi semua negara di dunia tetaplah Malaysia, sama seperti endonimnya

Nama Malaysia diciptakan oleh pelayar Prancis Jules Dumont d'Urville pada tahun 1831 dengan menggabungkan kata malais (melayu) dan nesie (pulau).

2. Singapura

Orang Singapura menyebut negaranya (endonim) dengan Singapura karena bahasa nasionalnya bahasa Melayu. Akan tetapi, orang Singapura keturunan suku Tamil (dari India) menyebut Singapura dengan CiαΉ…kappΕ«r. Sementara keturunan Tionghoa menyebutnya dengan XΔ«njiāpō.

Eksonim Singapura bagi mayoritas negara-negara Barat adalah Singapore.

3. Brunei Darussalam

Endonim negara yang terletak di pantai utara pulau Kalimantan ini adalah Negara Brunei Darussalam. Eksonimnya di hampir semua negara di dunia juga Brunei Darussalam. 

Orang Lithuania menyebut negara ini BrunΔ—jaus Darusalamas. Sedangkan eksonimnya bagi orang Yunani adalah Mbrounei Ntarusalam.

4. Thailand

Endonim negara ini dalam bahasa Thai ialah Thai. Kadang-kadang orang Thai menyebut negaranya dengan sebutan Prathet Thai dan Mueang Thai. 

Sebelum 1939 orang asing menyebut Thailand dengan Siam. Eksonim bahasa Indonesia untuk Thailand juga Thailand sama seperti hampir semua eksonim mayoritas negara di dunia.

5. Vietnam

Endonim Vietnam adalah Việt Nam atau lebih sering disebut dengan Vietnam. Eksonim bahasa Indonesia dan semua negara di dunia juga Vietnam.

Negara ini berada dibawah kekaisaran Tiongkok selama 1000 tahun sampai merdeka pada 939 M. Vietnam kemudian berada dalam jajahan Prancis sejak pertengahan abad 19 sampai 1954 dan berpindah ke tangan Amerika Serikat.

Vietnam berhasil mengusir semua penjajah dan merdeka dengan tangannya sendiri sama seperti Indonesia.

6. Filipina

Endonim negara ini dalam bahasa Tagalog adalah Pilipinas. Bahasa Tagalog disebut juga dengan bahasa Filipina.

Makanya orang Pilipinas juga menyebut negara mereka dengan Filipina, sama seperti eksonimnya dalam bahasa Indonesia. 

Eksonim negara-negara berbahasa Inggris adalah Philippines. Orang Arab menyebut negara bekas jajahan Spanyol dan Amerika Serikat ini dengan Al-felpine. Sementara eksonimnya dalam bahasa Denmark ialah Filippinerne.

7. Kamboja

Orang Kamboja menyebut negara mereka dengan Kampuchea dari bahasa Prancis cambodge. Eksonim Kampuchea dalam bahasa Inggris adalah Cambodia.

Sementara itu dalam bahasa Italia disebut dengan Cambogia dan eksonimnya dalam bahasa Hongaria adalah Kambodzsa.

8. Laos

Nama negara ini berasal dari kata Laotian yang merupakan etnis asal Tiongkok yang bermigrasi ke satu-satunya negara di Asia yang tidak punya pantai ini pada abad 8 dan 9 Masehi.

Prancis yang menjajah kawasan Indochina lalu menyatukan tiga negara di Indochina menjadi satu dan memberinya nama Laos pada 1893. Asal nama Laos juga berasal dari kata Lan Xang yang artinya kerajaan gajah.

Negara Eksonim untuk Laos bagi masyarakat dunia juga Laos. Cuma ada beberapa negara saja yang menyebut Laos dengan sebutan berbeda, yaitu eksonim dalam bahasa Arab menjadi Laus. 

Eksonim bagi orang Vietnam ialah Lào dan pada bahasa Mandarin tradistional disebut dengan Lǎowō.

9. Myanmar 

Sejak abad ke-13 endonim Myanmar dalam bahasa Myanmar adalah Mran Ma atau Myanma. Dulu negara ini dikenal dengan nama Burma yang berasal dari nama suku mayoritas di sana yaitu Burman atau Barman.

Pada 1989 pemerintah junta militer mengubah Burma menjadi Myanmar yang berasal dari kata Mran Ma atau Myanma. Sampai sekarang orang Myanmar masih menyebut negara mereka dengan dua kata itu.

Eksonim Myanmar bagi orang asing juga sama-sama Myanmar. Hanya saja eksonim bahasa Irlandia menyebutnya dengan Mhaenmar.

10. Timor Leste

Negara ini sempat jadi bagian dari Indonesia pada 1976-1999 dengan nama Timor Timur setelah sebelumnya berada dibawah jajahan Portugis.

Presiden BJ Habibie kemudian memberikan referendum bagi Timor Timur. Mayoritas rakyat Timtim memilih lepas dari Indonesia dan sampai sekarang jadi negara mandiri bernama Timor Leste sejak 19 Oktober 1999.

Arti Timor berasal dari bahasa Melayu/Indonesia yang artinya timur. Sedangkan Leste berasal dari bahasa Portugis yang artinya juga timur.

Alih-alih menggunakan nama Timur, orang Timor memilih nama Leste seperti nama yang mereka gunakan sebelum berintegrasi dengan Indonesia. Makanya eksonim negara ini di Portugal juga Timor-Leste.

Eksonim bahasa Slovenia untuk negara penghasil kayu cendana dan marmer ini ialah Vzhodni Timor. Sementara itu eksonimnya bagi negara berbahasa Inggris adalah East Timor.


Kenapa Ada Orang "Ember" dan Alasan Orang jadi "Ember"

Kenapa Ada Orang "Ember" dan Alasan Orang jadi "Ember"

Kata "ember" sering digunakan oleh generasi yang menjalani masa mudanya di tahun 1980-an dan 1990-an. "Ember" artinya memang benar, betul sekali, iya banget, atau untuk menyatakan kita setuju dengan mereka tentang suatu hal.

Misal, Budi berkata kepada Sinta kalau ujian Bahasa Indonesia hari ini susah. Lalu Sinta menimpali, "Ember!"

Mengingat "ember" digunakan sebagai bahasa pergaulan, maka ia digunakan hanya kepada sesama anak muda di situasi yang santai dan tidak formal, misal di tempat nongki, di rumah teman, pada jam istirahat kelas, dan di semua situasi yang tidak formal.

Jadi walau ada guru, dosen, pak RT, pak camat, atau pak ustaz yang friendly, gaul dan sedang di situasi yang santai, kita tetap tidak boleh bilang "ember" kepada mereka, karena mereka bukan teman sepergaulan.

Kenapa Kita Lebih Sering Pakai Bahasa Pergaulan daripada yang Baku?

 

Bahasa pergaulan disingkat jadi bahasa gaul-dikenal juga dengan bahasa slang alias bahasa sehari-hari yang tidak formal.

Bahasa pergaulan gunanya adalah untuk membuat obrolan terasa lebih santai, akrab, dan penuh canda-tawa. Bahasa gaul juga bermanfaat untuk mencairkan suasana sekaligus mempererat pertemanan terutama bagi anak muda yang baru saling kenal.

Selain itu anak muda biasanya punya kreativitas dan imajinasi yang lebih besar dari orang tua. Salah satu bentuk kreativitas dan imajinasi itu adalah dengan menciptakan bahasa gaul yang digunakan di kalangan merek. Bahasa dan kata-kata gaul itu kemudian menyebar ke sesama anak muda di luar lingkungan dan circle mereka.

Makanya bahasa gaul tiap generasi berbeda-beda karena masing-masing generasi menciptakan bahasa gaul yang sesuai pola pikir dan apa yang sedang hits di zamannya.

Generasi 1980-an dan 1990-an belum mengalami ledakan internet dan sosial media, jadi bahasa gaul yang mereka ciptakan cuma seputar bahasa Indonesia yang kata-katanya disingkat dan dibolak-balik.

Sedangkan generasi 2010 sampai sekarang terpapar arus informasi yang sangat deras sampai tidak bisa menyaring apa yang betul-betul mereka butuhkan. Maka bahasa gaul yang mereka ciptakan pun lebih banyak yang berasal dari bahasa asing, misal jaman now, gamon (gagal move on), bilek (be like), salty, spill, dan masih banyak lagi.

Orang Ember 


Sementara itu kalau kita kita kembali ke "ember" kata ini sekarang dipakai bukan cuma untuk mengiyakan dan menyatakan setuju dengan perkataan orang lain. "Ember" juga ditujukan kepada orang yang tidak bisa menjaga omongan dan rahasia.

Di sekitar kita pasti ada orang yang rajin membagikan foto, video, dan tangkapan layar chat di status WhatsApp. Saking rajin dan banyak, jumlah statusnya cuma tinggal terlihat titik-titik saja. Selain itu dia juga sering menceritakan hidup orang lain yang diceritakan kepadanya.

Itulah Si Ember. Apa pun yang sampai ke kupingnya akan diceritakan lagi ke orang lain tanpa ragu. Karena itulah Si Ember punya dua sisi mata pisau.

Dia bisa dijadikan corong sebagai humas untuk menyebarkan kesan tertentu, sekaligus bisa digunakan sebagai penyebar berita bohong alias hoax.

Alasan orang jadi ember bisa karena hal sebagai berikut.

1. Kesepian. Orang ember kelihatan punya banyak teman dan jadi orang gaul yang lebih sering beraktivitas di luar rumah.

Sebenarnya dia kesepian makanya dia membocorkan kisah dan informasi tentang orang lain supaya punya teman ngobrol.

2. Wawasan dan pengatahuannya sempit. Mayoritas orang ember tidak berwawasan dan berpengetahuan luas.

Pengetahuan yang mereka punya cuma seputar peristiwa sehari-hari atau seputar circle-nya saja. Kalau disuruh mikir atau ditanya tentang kenapa Indonesia disebut negara maritim, misalnya, dia akan bingung dan malah mengalihkannya ke hal remeh-temeh.

Pepatah tong kosong nyaring bunyinya dan air beriak tanda tak dalam amat tepat ditujukan buat orang yang ember sebab orang yang banyak omong biasanya justru tidak punya cukup pengetahuan tentang banyak hal.

Related: Kenapa Orang Indonesia Tidak Bisa Berenang Padahal Tinggal di Negara Air

3. Senang cerita tentang dirinya sendiri. Si Ember akan menceritakan orang lain kemudian akan menceritakan dirinya sendiri.

Misal dia cerita tentang ibu yang sering kerja lembur sampai jarang bertemu anaknya. Beberapa menit setelah menceritakan si ibu, Si Ember akan bercerita bagaimana dia akan menyempatkan waktu untuk anaknya walau sudah lelah dan sibuk kerja seharian.

Jadi maksud di Ember cerita tentang orang lain adalah supaya dia bisa cerita tentang dirinya sendiri.

4. Tidak betah di rumah. Orang rumahan tidak melulu karena dia kesepian dan tidak punya teman, tapi karena dia lebih menikmati waktu beraktivitas sendirian.

Related: Delapan Keuntungan Jadi Anak Rumahan

Semua orang yang ember pasti tidak betah di rumah karena mereka lebih menikmati ngobrol dengan orang lain di luar rumahnya sendiri.

Meski Si Ember tidak betah di rumah, mereka tidak bisa dibilang ekstrovert karena cuma bergaul, bergosip, dan berghibah dengan orang yang status sosial dan ekonominya sama. Dengan kata lain mereka sebetulnya minder bergaul dengan orang yang lebih pintar, lebih kaya, atau lebih terpandang.

Supaya Tidak Jadi Ember

 

1. Tahan diri untuk tidak membicarakan orang lain kecuali hal yang positif dan membawa manfaat buat kita. Yakinlah bahwa membicarakan orang lain dari sisi negatif tidak ada gunanya buat kita. 

2. Tidak perlu kepo (penasaran terus banyak nanya) terhadap hal yang sedang diomongkan orang lain.  

Misal kita datang ke suatu perkumpulan dan orang-orang sedang membicarakan sesuatu, kita tidak perlu tanya-tanya dan ikut-ikutan bicara.

Dengarkan saja dan baru ngomong kalau ditanya. Kalau obrolan dirasa sudah sangat negatif dan menjelek-jelekkan orang lain, pura-puralah ke toilet dan carilah tempat duduk lain.

3. Sering mengisi waktu dengan melakukan hobi, misal baca buku, berkebun, ngeblog, atau merajut. 

Sering melakukan kegiatan kesukaan bermanfaat untuk mengasah pikiran tetap positif dan meminimalisir ngurusin orang lain.

Kalau kita punya hobi ngoceh dan ngobrol, coba bikin podcast. Kita bisa bebas ngoceh tanpa harus ngurusin orang. Bikin konten TikTok dengan nyanyi-nyanyi dan joget-joget masih lebih baik daripada jadi ember.

4. Perluas wawasan. Kalau pengetahuan dan wawasan kita luas otomatis kita jadi tidak tertarik membicarakan orang.

Hal ini sesuai dengan pepatah seperti padi yang makin berisi makin merunduk. Makin banyak ilmu, pengetahuan, dan wawasan seseorang maka makin rendah hatilah dia.

Bikin Judul Dulu atau Isi Dulu, Mana yang Ideal?

Bikin Judul Dulu atau Isi Dulu, Mana yang Ideal?

Banyak guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan penulis yang menyarankan membuat judul dulu baru isinya. Hal itu untuk memudahkan menulis supaya tulisan tetap pada tema dan tidak ngalor-ngidul membahas yang tidak ada hubungannya dengan tema.

Akan tetapi, banyak novelis yang justru lebih mudah menulis isinya dulu lalu judul karena bisa mengembangkan ide atau mengubahnya bila dirasa perlu.

Apa beda penulis dan novelis? Novelis adalah penulis novel jadi semua novelis adalah penulis, tapi penulis belum tentu novelis.

Jadi sebetulnya tidak ada aturan tentang mana yang idealnya dibuat lebih dulu, judul atau isi. Namun ada beberapa saran berkaitan dengan jenis tulisan apa yang akan kita buat.

Judul Berita

 

Kalau kita mau nulis berita sebaiknya buat judul dulu karena berita tidak butuh opini atau pendapat siapa pun kecuali narasumber berita. 

Selain itu artikel berita cuma perlu memuat fakta 5W+1H (what, when, where, why, who, dan how). Judul artikel berita juga tidak dibuat untuk memancing orang supaya tertarik membaca dan perlu ditulis lebih dulu supaya 5W+1H tidak ada yang terlewat.

Kalau ada media berita online membuat judul yang tidak ada hubungannya dengan isi berita, berarti media tersebut cuma mementingkan clickbait. Mereka membuat judul dengan tujuan supaya orang mengklik isi berita (clickbait) dengan tujuan mencari view guna mencari penghasilan semata.

In-depth Report

 

Reportase mendalam (in-depth) biasanya ditemukan di majalah berita yang ditulis oleh wartawan investigasi. In-depth reportt memuat 5W+1H dari satu masalah dengan sangat lengkap dan akurat.

Judul biasanya ditulis belakangan setelah artikel ditulis secara utuh. Judul boleh sedikit bombastis, memakai kiasan, atau apa adanya. Terpenting semuanya ditulis sesuai fakta dan tidak boleh ada opini wartawan disitu.

Artikel Feature dan Opini


Artikel feature adalah artikel ringan tentang peristiwa ringan sehari-hari di kehidupan kita. Zaman dulu artikel feature biasanya ada di tabloid, majalah wanita dan majalah remaja, atau majalah khusus seperti otomotif, flora-fauna, dan olahraga.

Tapi di era digital seperti sekarang artikel feature lebih banyak dimuat di blog publik yang ditulis oleh masyarakat umum. Tokoh masyarakat dan para pakar juga sering menulis artikel feature di kolom opini media massa atau media online.

Karena bahasan dan bahasanya yang ringan, banyak yang menulis isi artikelnya dulu baru judulnya kemudian. Setelah menulis bahasan dengan lengkap barulah mereka memikirkan judul yang sesuai dengan isi artikel dan menarik minat orang untuk membaca.

Karya Fiksi

 

Pada karya fiksi seperti cerpen, puisi, dan novel judul boleh dibuat duluan atau belakangan. Banyak cerpenis dan novelis yang menulis jalan ceritanya dulu kemudian judul. Alasannya supaya mereka bisa leluasa mengembangkan cerita yang kemudian dikerucut menjadi judul.

Penulis puisi, disebut juga dengan penyair, ada yang menulis judul dulu baru isi, tergantung pada kebiasaan dan kenyamanan si penyair. Penyair yang membuat judul lebih dulu biasanya karena tidak ingin tema puisinya berubah di tengah jalan dan ingin tetap pada tema. Sementara penyair yang ingin mengeksplorasi isi atau ingin mengubah tema ditengah jalan lebih memilih menulis judul belakangan.

***

Bikin judul dulu atau isi dulu tergantung si penulis. Ada penulis yang mudah sekali mengeluarkan imajinasi, isi pikiran, dan ide, tapi sulit membuat judul. Ada juga yang mudah membuat judul, tapi kesulitan mengembangkan ide.

Jadi kita juga boleh kadang bikin judul dulu baru isinya dan dilain waktu bikin isi dulu kemudian judulnya belakangan, dan sebaliknya. Tidak ada aturan baku, maka yang penting adalah jangan ragu menulis apa pun dan jangan terpaku hanya pada judul.

Butterfly Effect Saat Kekacauan Rumit Bermula dari Ketidaksengajaan Sepele

Butterfly Effect Saat Kekacauan Rumit Bermula dari Ketidaksengajaan Sepele

Kamus Merriam-Webster mengartikan butterfly effect (efek kupu-kupu) sebagai sistem kekacauan yang terjadi saat ada perubahan kecil di kondisi awal yang mengakibatkan kekacauan sistem dalam skala besar di masa depan.

Simpelnya, butterfly effect adalah istilah yang dipakai dalam teori kekacauan. Teori itu melihat bahwa sesuatu yang kecil dan sepele pada akhirnya dapat menimbulkan konsekuensi yang besar dan rumit.

Laman HowStuffWorks mencontohkan ketika kupu-kupu mengepakkan sayapnya di India, perubahan tekanan kecil pada kepakan itu ternyata menyebabkan tornado di Iowa, AS.

Asal Mula Teori Butterfly Effect

 

Pencetus butterfly effect adalah Edward Lorenz, seorang Matematikawan dan Meteorologis dari Masachusset Institute of Technology (MIT) yang mengemukakan tentang teori kekacauan (chaos). 

Edward membuat dokumen ilmiah berjudul “Prediktabilitas: Apakah Kepakan Sayap Kupu-kupu di Brasil Memicu Tornado di Texas?” 

Dokumen itu menjelaskan bahwa kepakan sayap kupu-kupu, jika disinkronkan di Brasil, dapat memicu tornado di Texas. Tentu saja Edward tahu ini keliru. Berbagai kondisi cuaca harus terjadi secara bersamaan untuk mencapai hasil yang kacau dari tornado, dan bukan berdasarkan kepakan sayap kupu-kupu semata.

Akan tetapi ide teori kekacauan dari Edward Lorenz ini menunjukkan kalau seluruh kehidupan cuma bisa diprediksi, tapi tidak pernah bisa dipastikan. Keputusan terpisah pada suatu hari atau terlambat satu menit pada hari lain dapat memicu rangkaian peristiwa yang sangat berbeda.

Butterfly Effect di Kehidupan Sehari-hari

 

Warga yang tinggal di pinggiran Jakarta seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang Selatan tahu benar apa efeknya kalau mereka berangkat kerja pukul 05.30 dan 05.35. Cuma beda lima menit. 

Mereka akan tiba di kawasan Senayan, Sudirman, dan Thamrin di Jakarta Pusat pada pukul 07.00 kalau berangkat dari rumah pukul 05.30. Namun mereka akan sampai di sana pukul 08.30 kalau berangkat pukul 05.35.

Logikanya kalau selisih berangkatnya cuma lima menit, sampai di tempat tujuannya juga selisih lima menit, yaitu pukul 07.05. Nyatanya semua yang tinggal di pinggiran Jakarta mengalami hal yang seperti itu.

Contoh lainnya saat kita beli tumis kacang panjang di warteg untuk makan siang. Didalam kacang panjang itu rupanya masih ada telur cacing karena tidak dicuci bersih saat akan dimasak. Hanya karena makan satu kali tumis kacang panjang yang ada telur cacingnya, kita sampai harus dioperasi untuk mengeluarkan cacing yang telah beranak-pinak di usus.

Butterfly Effect di Alam

 

Kita mungkin sering berpikir, "Ahh, gak apa beli sebotol air kemasan plastik. Toh, cuma satu." Kalau jutaan orang di Indonesia berpikir sama, maka akan ada jutaan botol plastik dalam satu hari dan bisa menimbulkan masalah lingkungan di darat dan laut.

Contoh kecil dan sepele lainnya yang menimbulkan dampak besar adalah saat kita memetik bunga di pinggir jalan.

Didalam kelopak bunga itu ternyata ada lebah madu yang terbawa. Ketika terbang keluar dari kelopak bunga, lebah itu tidak tahu di mana sarangnya. Dalam waktu paling lama dua pekan si lebah madu akan mati karena tidak bisa hidup jauh dari sarangnya.

Karena si lebah madu mati, penyerbukan antarbunga terganggu dan akibatnya banyak bunga yang mati karena tidak bisa berkembang biak. 

Selintas tidak masuk akal, ya? Tapi itulah butterfly effect. Hal-hal sepele yang tampak tidak ada artinya ternyata berdampak besar dan rumit ke waktu mendatang.

Butterfly Effect yang Positif


Butterfly effect tidak selalu menimbulkan dampak negatif, ada juga positifnya misal membuang sampah pada tempatnya dapat menjaga kebersihan lingkungan dan meminimalisir penyakit yang datangnya dari lalat.

Mengurangi pemakaian kendaraan pribadi dan beralih ke angkutan umum juga memberi dampak besar bagi kualitas udara dan pemanasan bumi.

Runtuhnya Tembok Berlin

Pada 9 Desember 1989 Gunter Schabowski pejabat Jerman Timur tidak sengaja mengumumkan di depan TV kalau sejak hari ini warga Jerman Timur dapat bepergian ke Jerman Barat. Situs Deloitte menyebut pengumuman itu memicu kerumunan besar di Tembok Berlin, dan akhirnya tembok tersebut runtuh.

Namun runtuhnya Tembok Berlin justru membawa persatuan bagi Jerman dan kemakmuran bagi Jerman Timur. Kini Jerman jadi salah satu negara maju di dunia yang terkenal dengan teknologi tingginya di industri otomotif dan elektronik.

Penisilin

Ilmuwan Skotlandia bernama Alexander Fleming meninggalkan laboratoriumnya selama sebulan dan saat kembali dia lihat ada jamur di cawan petrinya.

Alex tidak membuang jamur itu dan menyimpannya. Ternyata didalam jamur itu ada kandungan penicilum yang menghasilkan penisilin yang dia temukan tahun 1928. Penisilin merupakan antibiotok pertama di dunia dan sampai sekarang masih digunakan untuk melawan bakteri dalam tubuh.

Andai Alexander Fleming membuang jamur itu kita mungkin belum punya obat untuk mengatasi bermacam infeksi yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri.

Bisakah Kita Menghindari Butterfly Effect?

 

Bisa saja walau tidak bisa sepenuhnya menghindar karena tidak ada yang pasti di dunia ini. Semua bisa diprediksi, tapi hasilnya tidak ada orang yang tahu. Begitu juga dengan butterfly effect, kita bisa menghindarinya dengan melakukan bermacam cara, namun hasil akhirnya tetap tidak ada yang tahu.

Ini cara menghindari butterfly effect yang negatif di kehidupan sehari-hari.

1. Tidak sering mengambil keputusan yang terburu-buru. Selalu pikirkan dulu apa efek dan konsekuensi jangka pendek dan panjangnya sebelum membuat keputusan.

2. Menghindari melakukan hal negatif yang merugikan orang lain dan diri sendiri seperti mengejek, memaki, mengadu-domba, dan tindakan buruk lainnya yang tidak beradab dan berperikemanusiaan.

3. Tidak merusak lingkungan seperti membakar sampah dan membuang sampah sembarangan.

4. Hindari melakukan tindakan yang melanggar hukum serta norma sosial dan agama seperti korupsi, melakukan nepotisme kepada saudara sendiri, atau hidup bersama pasangan tanpa menikah (kkkumpul kebo).

Butterfly Effect dan Hukum Sebab-Akibat


Butterfly effect mirip seperti hukum sebab-akibat yang artinya sesuatu tidak akan terjadi kalau tidak ada sebabnya. 

Bedanya, butterfly effect merupakan teori yang berdasar pada kekacauan besar dan rumit yang berawal dari hal yang kecil dan sepele.

Sedangkan hukum sebab-akibat adalah prinsip yang menyatakan bahwa setiap peristiwa atau fenomena di dunia ini memiliki penyebab dan akibat yang saling berkaitan. Prinsip ini berlaku secara universal dan dapat ditemukan di kehidupan sehari-hari. 

Filsuf Yunani Kuno Plato mengatakan kalau segala sesuatu yang menjadi atau berubah pasti melakukannya karena suatu sebab karena tidak ada yang bisa terjadi tanpa sebab. Hukum sebab-akibat juga diterapkan dalam ilmu sejarah di mana segala sesuatu yang terjadi dan berubah harus ada sebabnya.

Delapan Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Bisa Dikendalikan tapi Takbisa Disembuhkan

Delapan Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Bisa Dikendalikan tapi Takbisa Disembuhkan

Tidak ada orang tua yang ingin anaknya sakit atau kena gangguan tumbuh kembang. Anak yang menderita gangguan tumbuh kembang biasanya terlahir dengan kelainan pada syarat atau fisiknya. Bisa karena faktor genetik saat terjadinya embrio dikandungan, pola hidup orang tuanya, lingkungan tempat tinggal, atau hal lain yang diluar kuasa manusia.

Delapan jenis gangguan tumbuh kembang anak ini patut jadi pengetahuan kita supaya kita lebih bersyukur kalau anak atau saudara kita tidak mengalami satu diantaranya.

1. Autisme

 

Autisme punya istilah medis Autism Spectrum Disorder (ASD) atau Autism Spectrum Condition (ASC). 

Penyebab autisme diduga sebagian besar diwariskan secara genetik dan dari faktor lingkungan.

Anak yang menderita autisme punya gangguan pada perkembangan sarafnya sehingga dia mengalami kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Mereka juga sering mengulang-ulang gerakan atau tidak tertarik melakukan aktivitas apa pun.

Pada beberapa kasus anak dengan autisme juga mengidap epilepsi, disabilitas intelektual, dan hiperaktif.

Autisme tidak bisa disembuhkan, tapi anak yang mengidapnya harus diterapi untuk membuatnya mandiri, berperilaku, dan berkomunikasi seperti anak normal.

2. Celebral Palsy

 

Celebral palsy atau disebut juga dengan movement diorder (ganguan gerak), adalah gangguan yang memengaruhi gerakan, keseimbangan, dan postur tubuh. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan atau perkembangan abnormal pada otak yang mengatur fungsi otot. 

Gangguan ini biasanya terjadi sebelum, saat, atau sesudah kelahiran. Gejalanya bervariasi mulai dari kesulitan berbicara, makan, berjalan, hingga kelumpuhan. Cerebral palsy tidak bisa disembuhkan, tapi anak yang menderitanya bisa mendapat kualitas hidup dengan terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasi, dan terapi hidrol air.

3. Down Syndrome

 

Down syndrome lebih kita kenal sebagai keterbelakangan mental yang disebabkan kelainan genetik yang terjadi saat pembelahan sel. Saat pembelahan sel abnormal menghasilkan salinan kromosom 21 secara penuh atau sebagian.

Tingkat keparahan down syndrome berbeda tiap anak, tapi sama-sama menyebabkan kecatatan intelektual seumur hidup dan keterlambatan perkembangan.

Anak dengan down syndrom sering juga mengalami masalah jantung dan pencernaan karena kelainan genetik yang dimilikinya.

4. Stunting

 

Stunting atau stunted growth (pertumbuhan terhambat) adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dapat dilihat dari kurangnya tinggi badan sesuai usia. 

Stunting disebabkan oleh ibu hamil yang kurang gizi sehingga melahirkan anak yang kurang nutrisi. Bisa juga disebabkan karena kurang gizi parah dan infeksi berulangkali yang diderita anak saat masih balita.

Lembaga kesehatan dunia (WHO/World Health Organization) menetapkan ciri stunting dengan kurangnya tinggi badan anak dibawah dua devian dari Child Growth Standards yang ditetapkan WHO.

Cara menentukan apakah tinggi badan anak masuk termasuk normal atau tidak adalah dengan memeriksanya di KMS (Kartu Menuju Sehat) yang diisi oleh petugas Posyandu/Puskesmas yang memeriksa anak kita.

Related: Anak Diganggu Teman di Kelas dan Cara Orangtua Bersikap

Anak yang terindikasi stunting bisa ditangani dan tumbuh normal kalau usianya masih dibawah lima tahun. Pengobatan akan lebih manjur kalau usia anak masih dibawah dua tahun. Kalau tidak ditangani, stunting bisa mengakibatkan gangguan perkembangan otak, sering sakit dan kena infeksi, juga rentan kena diabetes dan sakit jantung saat anak dewasa.

5. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

 

ADHD adalah gangguan pada gelombang otak yang membuat anak susah fokus, hiperaktif, mudah lupa apa yang dilakukannya, dan berperilaku impulsif. Perilaku impulsif adalah sikap spontan dan tiba-tiba yang dilakukan tanpa memikirkan akibatnya.

Penyakit yang termasuk gangguan mental ini diduga karena faktor lingkungan saat bayi dalam kandungan seperti terpapar narkotika, alkohol, dan zat beracun lainnya. ADHD umumnya terlihat sejak anak berusia 3 tahun.

ADHD tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tapi dapat dikendalikan dengan psikoterapi (obat-obatan) untuk meredakan gejala dan membantu anak untuk fokus guna belajar membaca, menulis, berhitung, dan bermain.

Sekilas, anak autis dengan anak ADHD terlihat sama karena keduanya susah fokus dan terlihat banyak bergerak. Namun anak dengan autisme hanya melakukan kegiatan atau gerakan yang itu-itu saja berulangkali, sedangkan anak ADHD bergerak tanpa henti kemana saja dan melakukan apa saja.

6. APD (Auditory Processing Disorder)

 

atau gangguan pemrosesan pendengaran adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan memahami suara, termasuk kata-kata yang diucapkan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Auditory Processing Disorder", Klik untuk baca: https://health.kompas.com/penyakit/read/2022/02/24/090000568/auditory-processing-disorder.


Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

Auditory Processing Disorder adalah gangguan pemrosesan pendengaran yang mana anak kesulitan memahami suara termasuk suaranya sendiri.

Hal ini terjadi karena otak kesulitan memahami suara secara normal. Gejalanya sudah terlihat sejak usia anak-anak yang diduga karena pengaruh gen keluarga, keracunan timbal saat dalam kandungan, kelahiran prematur, penyakit sistem saraf, atau cedera kepala.

Anak yang menderita APD tidak punya masalah pendengaran seperti tuli atau kerusakan gendang telinga. Hanya saja saraf dalam otak mereka sulit memproses suara menjadi informasi sebagaimana otak orang normal.

Makanya gangguan ini tidak bisa disembuhkan, tapi bisa diatasi dengan terapi untuk meningkatkan pendengaran dan konsentrasi. Anak pengidap APD juga harus menggunakan alat bantu pendengaran yang terhubung dengan mikrofon ke arah guru selama belajar di kelas.

7. Gangguan Belajar (Learning Disorder)


Learning diorder atau gangguan belajar berbeda dengan down syndrome yang pengidapnya punya kecerdasannya dibawah rata-rata.

Pada Gangguan Belajar otak tidak bisa memproses informasi yang didengar telinga, dilihat mata, dan dirasakan indera lainnya. Jadi apa yang dilihat, diucapkan, dan didengar anak berbeda dengan apa yang diterimanya.

Beberapa Gangguan Belajar atau learning disorder yang umum diderita adalah:

  • Disleksia: Kesulitan dalam membaca dan memahami kata atau kalimat yang ditulis. Orang dengan disleksia sering salah membaca, mengeja, atau mengartikan huruf, kata, atau kalimat.
  • Disgrafia: Kesulitan dalam menulis dan mengekspresikan pikiran atau ide dalam bentuk tulisan. Orang dengan disgrafia sering salah menulis, mengatur spasi, atau menyusun kalimat.
  • Diskalkulia: Kesulitan dalam berhitung dan memahami konsep matematika. Orang dengan diskalkulia sering salah menghitung, mengingat rumus, atau memecahkan masalah matematika.
  • Dispraksia: Kesulitan dalam melakukan gerakan motorik halus atau kasar. Orang dengan dispraksia sering kaku, canggung, atau tidak terampil dalam bergerak, berbicara, atau bermain.
  • Disfasia: Kesulitan dalam berbicara dan memahami bahasa lisan. Orang dengan disfasia sering salah mengucapkan, mengartikan, atau menyusun kata atau kalimat.
Learning disorder tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tapi bisa diperbaiki dengan bantuan yang tepat sesuai kondisi anak.

8. Conduct Disorder (Gangguan Perilaku)

 

Anak yang kerap berulah dengan melanggar norma sosial, agama, budaya, dan masyarakat secara berulang adalah ciri pengidap Conduct Disorder atau Gangguan Perilaku.

Anak atau remaja yang mengalami conduct disorder biasanya menunjukkan perilaku seperti berbohong, mencuri, merusak, mengintimidasi, berkelahi, menyakiti manusia atau hewan, bolos sekolah, kabur dari rumah, atau melakukan tindakan seksual yang tidak pantas.

Faktor psikologis diduga jadi faktor anak mengalami gangguan perilaku seperti keluarga tidak harmonis, mengalami tekanan pergaulan, stress, merasa rendah diri, dan terpengaruh lingkungan sekitar.

Gejala umum conduct disorder dapat bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin, dan tingkat keparahan gangguan, diantaranya:

  • Agresif terhadap manusia dan hewan seperti menggertak, mengancam, atau mengintimidasi orang lain, berkelahi, menggunakan senjata, melakukan kekerasan seksual, menyiksa atau membunuh hewan.
  • Merusak properti dengan sengaja merusak fasilitas umum, membakar atau meledakkan barang milik orang lain, merusak barang milik diri sendiri atau orang lain.
  • Menipu dan mencuri seperti sering berbohong, mencuri barang di toko, merampok, atau memeras orang lain.
  • Melanggar norma sosial: sering bolos sekolah, keluyuran tengah malam, kabur dari rumah, dan melakukan tindakan seksual yang tidak pantas untuk usianya.
Gangguan Perilaku dapat diobati dengan terapi perilaku kognitif, terapi keluarga, terapi kelompok, terapi perilaku positif, dan obat-obatan (misalnya stimulan, antidepresan, atau antipsikotik). 
 

Berbagai gangguan tumbuh kembang anak itu bisa diketahui sejak dini dengan pengamatan dari orang tua kepada buah hatinya. Dengan begitu efek buruk dari gangguan itu bisa ditekan dan diminimalisir. Hidup anak pun bisa seperti anak normal dan siap menghadapi masa depannya secara mandiri. 

 
Karakter Pemakan Bubur Diaduk dan Tidak Diaduk

Karakter Pemakan Bubur Diaduk dan Tidak Diaduk

Bubur enak dimakan saat sarapan atau makan malam karena tidak terlalu membuat kenyang seperti nasi, tapi perut bisa tetap terisi dengan aneka bahan pelengkap (toping) yang bergizi, misalnya suwiran ayam, hati-ampela, atau telur.

Makan Bubur Diaduk


Orang yang sedang sakit atau sedang tidak enak badan biasanya makan bubur. Tekstur bubur yang lembek menjadikannya mudah ditelan dan dicerna lambung.

Bahan pelengkap bubur juga disesuaikan dengan kondisi atau kesukaan si sakit yang biaanya kehilangan nafsu makan. Maka itu, orang sakit cocok makan bubur dengan cara diaduk. Dengan mengaduk, bubur jadi lebih cepat encer dan berair sehingga suwiran ayam, daging, dan bahan pelengkap juga jadi cepat layu dan mudah ditelan.

Selain sakit, alasan orang mengaduk buburnya sebelum dimakan supaya semua bahan pelengkap bubur tercampur rata dan mudah dinikmat.

Makan bubur diaduk atau tidak juga dipengaruhi oleh pengalamannya di masa lalu. Bisa jadi sewaktu kecil keluarganya makan bubur diaduk dan dia terbawa pada kebiasaan itu. 

Bisa juga karena dia sering melihat bestie-nya makan bubur tidak diaduk lalu dia ikutan. Cara makan kita berasal dari lingkungan tempat kita berada dan seberapa kuat kita ingin mengikuti atau meninggalnya.

Hal itu mirip dengan kebiasaan orang Indonesia di mana kita biasa makan menggunakan tangan. Namun di Barat makan menggunakan tangan dianggap jorok dan tidak higienis.

Kebiasaan kita makan bubur bisa berubah, yang tadinya makan bubur diaduk jadi tidak diaduk lagi dan sebaliknya.

Karakter Umum Pemakan Bubur Tidak Diaduk


Pemakan bubur tidak diaduk memakan buburnya dari pinggir. Kalaupun ingin mencampur buburnya, mereka melakukannya sedikit-sedikit dari sisi pinggir, jadi tidak langsung diaduk sampai semuanya tercampur di mangkuk.

Berikut karakter yang dimiliki orang yang buburnya tidak diaduk.

1. Menyukai kehangatan. Bubur yang tidak diaduk lebih tahan kehangatannya karena panas yang ada di bagian tengah dan bagian dalam bubur tidak cepat menguap. 

Pada bubur yang diaduk, panas akan cepat hilang dan bubur jadi cepat dingin. Makin sering diaduk bubur suhu bubur akan sama dengan suhu ruang yang menyebabkan bubur jadi encer.

Itu sebabnya orang yang suka kehangatan makan buburnya tidak diaduk supaya dia bisa merasakan kelezatan bubur dalam kehangatan.

2. Teliti dan mendekati perfeksionis. Orang yang makan buburnya tidak diaduk tidak pernah buru-buru dalam mengerjakan sesuatu.

Dia selalu mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Kalaupun ada tugas mendadak, dia akan memeriksa dan mengeceknya berulangkali supaya minim kesalahan.

3. Tidak mudah membebek. Pemakan bubur tidak diaduk tidak gampang ikut-ikutan tren medsos yang sedang viral. 

Mereka juga tidak mudah terbawa isu dan opini dari media sosial dan media massa meski isu itu sedang ramai dibicarakan.

Kalau ingin ikut komentar, mencerca, atau mendukung mereka akan membaca-baca lebih dulu sampai yakin tahu tentang topik yang akan dikomentarinya. 

4. Cermat dan detail. Bila pemakan bubur diaduk cenderung punya kepribadian simpel dan sederhana

Kebanyakan pemakan bubur tidak diaduk sangat cermat dan memerhatikan detail pada banyak hal yang mereka lakukan.

Bila ingin travelling, misalnya, mereka akan menghitung dengan cermat waktu keberangkatan, spot wisata, sampai biaya tidak terduga mereka hitung betul-betul.

5. Menganggap penampilan adalah bagian dari jati diri. Jarang pemakan bubur tidak diaduk yang berpakaian asal-asalan. 

Mereka juga akan menghindari memakai baju dan aksesori yang warna dan motifnya saling tabrakan. Karena menyukai barang berkualitas tinggi, pemakan bubur tidak diaduk juga rela menabung untuk mendapatkan barang berkualitas yang mereka inginkan.

6. Punya selera seni bagus. Walau cuma buat dimakan, menata makanan juga termasuk seni.

Di Jepang, presentasi visual makanan termasuk penting disamping cita rasa, dinamakan mukimono atau seni makanan. 


Makanan juga merupakan bagian dari filosofi Yin dan Yang di Tiongkok. Di Jawa filosofi bubur punya beberapa makna. Contohnya bubur merah putih yang dibuat untuk menyambut kelahiran bayi atau orang yang berganti nama.


Merah melambangkan keberanian dan putih berarti suci.


Apakah makan bubur merah-putih lantas diaduk diublek-ublek? Ambil setengah sendok bubur putih yang gurih dan setengah sendok bubur merah yang manis. Suap sendok itu ke mulut. Rasakan kegurihan dan kemanisan dalam bubur yang menyatu padu.


Mangkuk dan piring di Jepang bahkan tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran, bukan cuma bundar dan oval karena menyesuaikan dengan hidangan dan dekorasinya.


Makan soto diaduk, kok bubur nggak? 

 

Satu hal yang sering dinyatakan oleh pemakan bubur diaduk adalah: makan bubur sama dengan soto, harus diaduk supaya semua rasanya tercampur rata. Makannya juga sama-sama pakai mangkuk, berarti sama-sama diaduk dong!

Pertama, soto itu pake kuah, guys! Secara otomatis semua bahan makanan yang ada di mangkok sudah kecampur duluan tanpa diaduk.

Bubur juga ada yang pake kuah, tapi kuahnya tidak sebanyak soto, jadi menyamakan makan bubur dengan soto itu gak apple to apple, ya, alias gak nyambung!

Kedua, pada soto tidak berlaku cara makan diaduk dan tidak diaduk. Cara makan yang berlaku bagi pemakan soto adalah nasi dicampur ke dalam mangkuk soto atau nasi dipisah dari soto. 

Pada orang yang menyukai makan soto terpisah dari nasi, mereka akan menuang soto ke dalam piring nasi sebelum disuap ke mulut.

Sebaliknya, orang yang menyukai soto campur nasi akan menaruh nasi ke dalam mangkuk supaya bisa dimakan bareng sotonya.

Ketiga, soto dan bubur adalah dua menu yang berbeda karena bahan, bumbu, dan cara pengolahannya tidak sama.

Dari tiga hal diatas dapat disimpulkan bahwa makan bubur tidak bisa disamakan dengan makan soto. Valid no debate.

Last but not least, karena berbeda karakter dan filosofi memandang hidup, orang yang makan bubur diaduk dan tidak diaduk tidak bisa jadi bestie (sahabat).

Mereka tetap bisa berteman dengan sangat asyik, tapi lebih dari itu tidak bisa. 

Perbedaan karakter antara dua orang sebenarnya baik untuk saling melengkapi, tapi perbedaan dengan  orang yang makan bubur diaduk dan tidak diaduk lebih kepada perbedaan prinsip dan visi hidup.

Maka, lebih baik cari pasangan hidup yang sama-sama makan buburnya diaduk atau tidak diaduk.