Quiet Quitting, Untuk Kebahagiaan Hidup atau Kurang Motivasi?

Quiet Quitting, Untuk Kebahagiaan Hidup atau Kurang Motivasi?

Gaya kerja quite quitting disebut ingin melawan efek buruk dari etos kerja hustle culture yang membuat karyawan terpenjara dalam pekerjaan mereka. 
 
quiet quitting

 
Quiet quitting diyakini akan membuat karyawan terhindar dari stres yang diakibatkan tekanan pekerjaan.
 
Dengan begitu para karyawan akan lebih bahagia karena tidak harus bekerja berlebihan yang membuat mereka tidak ada waktu untuk melakukan hobi, kumpul bersama teman, atau melakukan aktivitas sosial lainnya. 
 

Apa Itu Quite Quitting 

 
Quite quitting adalah sikap serius dalam melakukan pekerjaan, tapi tetap dalam batas-batas uraian kerjanya (job description).
 
Seorang karyawan yang menerapkan gaya kerja quiet quitting tidak akan lembur atau melakukan pekerjaan lain hanya karena disuruh bos.
 
Misal, pada jobdesc-nya tidak tertulis tugas "memfotokopi hasil rapat". Maka dia tidak akan memfotokopi hasil rapat yang diminta bosnya, walau cuma dia sendiri dan si bos yang menghadiri rapat bersama klien.

Meskipun namanya "quitting" tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan berhenti bekerja atau resign. Justru quitting disini berarti tidak keluar dari pekerjaan.
 

Dipopulerkan di TikTok

 

Pada Maret 2022 lalu video unggahan pengguna bernama Brian Creely viral dan disukai lebih 100.000 akun dengan lebih dari 4000 komentar.

Brian mengutip artikel di majalah Insider yang ditulis koresponden senior Aki Ito. Tajuk dalam artikel bertuliskan, "Muak dengan jam kerja yang panjang, banyak karyawan diam-diam (quiet) memutuskan santai di tempat kerja daripada berhenti dari pekerjaan mereka (quit)."

Brian meringkas artikel itu jadi, "Lebih banyak orang berhenti diam-diam daripada berhenti (quiet quitting).
 
Sejak videonya viral dan jadi rujukan bagi orang-orang untuk bekerja apa adanya, Brian menegaskan kepada Insider kalau yang dia maksud dengan quiet quitting bukanlah malas atau bekerja asal-asalan.
 
Brian bilang, "Bukan malas atau melakukan pekerjaan yang buruk. Quiet quitting berarti memulihkan keseimbangan yang sehat dalam karier dan pekerjaan. Dengan kata lain kita melakukan persis sesuai jobdesc dan menetapkan batasan yang tegas."

Pelaku Quiet Quitting

 
Menurut poling dari Axios dan Generation Lab sebanyak 82% dari Generasi Z atau Gen Z yang ikut dalam poling meyakini bahwa quiet qutting di kantor adalah sesuatu yang sangat menarik untuk mempertahankan pekerjaan mereka.
 
 
Sebanyak 15% dari 82% Gen Z yang berpartisipasi dalam poling mengaku telah melakukan quiet quitting.
 
Gen Z menganggap mereka bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Jadi melakukan pekerjaan seminimal mungkin di tempat kerja bagus untuk mencegah kebosanan dan ketidakseimbangan hidup. 
 
Melihat Gen Z yang menyukai quiet quitting amat wajar karena mereka baru memasuki dunia kerja setelah lulus kuliah dan belum banyak terlibat di dalamnya. Mereka juga telah melihat bagaimana Milenial dan Gen X telah menjadi robot tanpa kehidupan selain dunia kerja.

Gen Z tidak mau terperangkap pada hustle culture dan lebih menyukai quiet qutting karena dirasa dekat dengan kehidupan mereka di kampus sebelum masuk ke dunia kerja yang serius.

Bila Gen Z melakukan quiet quitting karena sesuai dengan gaya hidup mereka yang dinamis dan tidak mau terkungkung, sebagian Milenial melakukan quiet quitting karena kecewa.
 
Mereka telah bekerja keras selama pandemi, tapi tidak dapat pengakuan atau penghargaan dari atasan sebagaimana yang mereka kira layak didapat.
 
Secara keseluruhan, quiet quitting dilakukan oleh orang yang tidak bisa resign (keluar dari pekerjaan) karena usia, pendidikan, dan alasan lainnya, sekaligus tidak mau dipecat.

Kontroversi Quiet Quitting 

 

Seorang guru bernama Maggie Perkins dalam wawancara di CNBC mengatakan kalau dia telah menerapkan quiet quitting sejak 2018, sebelum quiet quitting populer lewat TikTok.
 
Dia melakoninya karena sadar kalau karirnya sebagai guru tidak bisa bisa berkembang alias mentok. Tidak ada kenaikan pangkat dan jabatan. Walaupun seorang guru telah mendapat penghargaan Teacher of the Year, gaji dan tunjangan yang didapatnya tetap sama dengan guru yang tidak.

Jadi, Maggie tidak pernah lembur dan tidak melakukan pekerjaan selain mengajar di tempatnya bekerja. Meski begitu banyak yang bilang kalau Maggie adalah guru yang baik.
 
Konsultan karir Kelsey Wat mengatakan, orang yang ingin gajinya naik dan dapat pengakuan harusnya melakukan kerja yang berprestasi melebihi rekan-rekannya.
 
Kalau kita kerja cuma biasa-biasa saja, standar, dan alakadar, mana mungkin kita dapat kenaikan gaji atau jabatan.
 
Pete Hinosoja dari kantor konsultan personalia Insperity bilang kalau quiet quitting bisa menimbulkan konflik di kantor. Sebabnya pekerja yang betul-betul menyukai pekerjaannya di kantor, termasuk yang bersedia lembur, kerap berseberangan ide dan sulit bekerja sama dengan pekerja yang melakukan quiet quitting.

Jadi Pete berpendapat quiet quitting tidak bisa diterapkan terus-terusan di kantor. Ada waktu yang tepat untuk quiet quitting disaat kita sudah benar-benar lelah dan butuh penyegaran.

Kantor butuh pekerja yang menyukai tugasnya dan lembur bila diperlukan karena berimbas pada efisiensi dan efektivitas perusahaan secara keseluruhan.

Meski disebut bagus buat keseimbangan antara pekerjaan kantor dengan kehidupan pribadi, quiet quitting disebut lebih jelek dari yang digembar-gemborkan tentang keseimbangan hidup di dunia nyata. 
 
Itu karena kebanyakan pelaku quiet quitting tetap melakukan kewajiban mereka di kantor dengan baik, namun cenderung menganggap remeh kehidupan sosial, bahkan enggan terlibat di dalamnya.
 

Quiet Quitting yang Positif


Selain pada profesi guru, quiet quitting lebih cocok diterapkan di pekerjaan yang kenaikan gaji dan jenjang karirnya mentok seperti tukang bangunan, buruh pabrik, atau karyawan kontrak dan outsourcing.

Penting untuk sesuaikan etos kerja dengan kepentingan pekerjaan. Boleh jadi ada kantor atau pekerjaan yang butuh kerja keras dari karyawannya sebelum dipromosikan ke jabatan dan gaji yang lebih tinggi. 

Dan ada juga kantor yang menerapkan kenaikan gaji dan jabatan berdasarkan lama kerja, bukan prestasi, sehingga kita bisa saja menerapkan quiet quitting.

Beda Content Writer dan Blogger yang Tidak Sama Dengan Wartawan

Beda Content Writer dan Blogger yang Tidak Sama Dengan Wartawan

Content writer atau penulis konten adalah orang yang menulis untuk suatu blog, kolom di media massa, atau yang melakukan kegiatan jurnalisme warga (citizen journalism). 

content writer blogger

Content Writer yang Menulis Jurnalisme Warga 

 

Orang yang menulis kejadian menarik dan unik yang terjadi di wilayahnya dapat disebut sebagai penulis konten yang melakukan jurnalisme warga. 

Sementara itu arti dari jurnalisme warga adalah warga yang melaporkan kejadian unik dan menarik dalam bentuk reportase seperti wartawan yang meliput berita di lapangan. Reportase atau pelaporan ini bisa dalam bentuk video, audio seperti yang dilakukan radio, atau tulisan.

Yang harus diperhatikan kalau penulis konten ingin membuat artikel jurnalisme warga adalah sebagai berikut.

1. Memerhatikan kaidah dasar jurnalistik 5W+1H (why, what, when, where, who, dan how), dalam bahasa Indonesia diakronimkan jadi adiksimba, yaitu apa, di mana, kenapa, siapa, mengapa, dan bagaimana.

2. Tidak boleh memasukkan opini dan pandangannya terhadap suatu peristiwa, meski itu terjadi di lingkungan rumahnya sendiri.

Kenapa? Sesuai namanya "jurnalisme" tentu menyesuaikan dengan kaidah jurnalistik. Kalau si penulis ingin memasukkan opini dan pandangannya terhadap suatu peristiwa, maka dia tidak lagi menulis jurnalisme warga.

Jenis artikel yang cocok untuk ditulis kalau kita ingin memasukkan opini dan sudut pandang pada peristiwa yang sedang populer namanya feature.

3. Penulis konten tidak boleh menyebut dirinya jurnalis/wartawan. Sebabnya karena dia tidak bekerja di media massa.

Dia juga tidak boleh menyebut dirinya sebagai wartawan lepas (freelance) karena alasan sama seperti diatas. 

Content Writer di Blog Publik

 

Blog publik yang dikenal luas saat ini ada Kompasiana, IDNTimes, Seword, dan Mojok. Kita bisa pilih jadi content writer di sana kalau tidak mau repot urusan tata letak dan optimasi SEO di artikel dan blog.

Blog publik seperti yang disebut diatas juga membayar penulisnya dengan sejumlah uang setelah syarat dan ketentuan terpenuhi.

Misal, Kompasiana memberi K-Rewards kepada Kompasianer yang menulis minimal 8 artikel dengan unique view minimal 3000 telah dicapai tiap bulannya. Sementara itu Seword membayar penulisnya sebesar Rp3 per view.

Untuk Mojok tiap artikel dihargai dengan poin. Maksimal penulisnya bisa mengkonversi poin dengan uang Rp500.000 per bulan. Hal serupa dilakukan oleh IDNTimes.

Jadi, orang yang menulis di blog publik lebih tepat disebut sebagai content writer daripada blogger. 

Sebabnya karena dia menulis dan memposting tulisan di blog publik, tapi tidak memiliki dan mengelola blog tersebut.

Blog publik adalah blog yang mana semua orang bebas mem-posting tulisan mengikuti syarat dan ketentuan dari pengelola atau adminnya. Blog publik dikelola oleh tim sendiri, bukan dikelola oleh orang-orang yang menulis di blog tersebut.

Seseorang yang menulis fiksi (puisi, cerpen, novelet) di blog publik juga disebut sebagai content writer. Bila tidak mau pakai istilah content writer, mereka bisa menyebut diri sebagai penulis fiksi atau cerpenis (untuk penulis cerpen).

Blogger dan Pengelolaan Blog


Blogger, dalam bahasa Indonesia disebut sebagai narablog, adalah orang yang menulis, memiliki, sekaligus mengelola suatu blog.

Istilah blog pada 1990-an disebut sebagai web blog. Kemudian diperpendek jadi we blog karena para blogger mengelola situs, tapi situs itu tidak sama seperti situs web berita, pemerintah, swasta, perusahaan, atau yang lainnya.

We blog lalu dipendekkan jadi weblog dan sekarang hanya disebut sebagai blog saja.

Pembeda Blog dengan Situs Berita

 

1. Naungan

Situs berita dikelola oleh perusahaan pers yang terdaftar dan terverikasi di Dewan Pers. Wartawannya dilindungi oleh UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers yang berlaku lex specialis

Lex Specialis artinya aturan dan hukum di dalam UU Pers berlaku untuk kasus yang melibatkan wartawan, media, dan perusahaan pers. Jadi hakim tidak mengadili kasus pers memakai hukum pidana, tapi memakai UU Pers. 

Blogger tidak bernaung di bawah siapa pun. Dia bekerja sendiri untuk diri sendiri. Walau tidak ada yang menaungi, blogger tetap tunduk pada etika siber atau etika berinternet.

Termasuk dalam etika internet adalah mencantumkan sumber jika mengutip informasi dari situs lain. Sertakan juga link (tautan) yang bisa diklik ke sumber tersebut untuk menghargai bahwa situs itu telah memberi informasi yang kita butuhkan.

2. Penghasilan

Wartawan juga dapat gaji rutin dan tunjangan, seperti pekerjaan lain pada umumnya, dari perusahaan pers. 

Sedangkan blogger tidak dapat penghasilan dari siapa pun. Penghasilannya tergantung dari seberapa banyak dia memonetisasi blognya.

Monetisasi blog dapat dilakukan dengan memasang AdSense atau penyedia iklan sejenis, menjadi affiliate seller di marketplace (lokapasar) seperti Shopee. dan penulisan artikel yang dibayar sponsor yang dinamakan content placement.

3. Ciri Situs Berita dan Blog

Tiap situs berita pasti mencantumkan Pedoman Media Siber dan tim redaksi. Pada media-media arus utama seperti kompascom, detikcom, atau antaranewscom biasanya tidak mencantumkan nama-nama tim redaksi, tapi mereka pasti mencantumkan Pedoman Media Siber dan alamat kontak.

Sementara itu, blog tidak mencantumkan seperti yang ada pada media online. Yang ada pada blog adalah Privacy Policy (kebijakan privasi), About (tentang), Sitemap (peta situs), Disclaimer (penafian), dan Contact (kontak).

Keterangan-keterangan tersebut sebenarnya tidak wajib ada di blog. Keterangan itu dicantumkan untuk membuktikan kalau blog dikelola serius untuk memberi informasi kepada pengunjung internet dan isinya bisa dipertanggungjawabkan.

Bisa dipertanggungjawabkan artinya semua konten di blog itu tidak mengandung hal yang melanggar hukum seperti perjudian, pornografi, penipuan, dan tindak kriminal lainnya, juga tidak memuat berita bohong dan ujaran kebencian.

Beda Content Writer dengan Blogger


Singkatnya content writer hanya menulis untuk sebuah situs, sedangkan blogger menulis sekaligus mengatur dan mengurus situs tempat dia menulis.

Menjadi blogger butuh modal untuk membeli domain dan template blog. Sedangkan content writer tidak butuh modal materi untuk menjadi penulis pada blog publik atau media sosial.

Blogger bisa merangkap jadi content writer kalau dia menulis di blog publik atau di media massa sebagai kontributor. Sama juga, content writer bisa merangkap jadi blogger kalau dia mengelola sebuah blog dan aktif memperbarui konten blognya.

Apa Itu Fotosensitivitas, Jenis, dan Cara Meminimalisir Gejalanya

Apa Itu Fotosensitivitas, Jenis, dan Cara Meminimalisir Gejalanya

Photosensitivity atau fotosensitivitas adalah kondisi sensitivitas ekstrim terhadap sinar ultraviolet (UV) dari matahari dan sumber cahaya lainnya semisal lampu neon dalam ruangan dan warna silau dari layar.

Fotosensitif

Penggunaan layar ponsel dan laptop di luar ruangan juga dapat memicu fotosensitif pada penderitanya karena layar itu memantulkan ultraviolet dari matahari. Menurut alodokter.com, bahaya ultraviolet yang terpantul dari layar gawai justru berisiko lebih besar memicu kanker kulit daripada yang terpapar dari kertas putih.

Penderita fotosensitif dapat mengalami ruam, kulit mengelupas, atau luka bakar bahkan dengan hanya sedikit kena sinar matahari.

Pada penderita yang punya penyakit lupus atau epilepsi, fotosensitif bisa membuat mereka sakit kepala dan demam.

Jenis-jenis Fotosensitivitas


Beberapa bahan kimia (dalam obat) dapat menyebabkan seseorang menjadi peka terhadap sinar matahari. Kepekaan terhadap sinar matahari terbagi jadi dua jenis.

1. Phototoxic atau fototoksik. Reaksi fototoksik disebabkan ketika bahan kimia yang baru masuk ke tubuh berinteraksi dengan sinar ultraviolet matahari. 

Obat-obatan seperti doksisiklin dan tetrasiklin adalah penyebab paling umum dari jenis reaksi fototoksik.

Jenis reaksi fototoksik berupa ruam kulit yang terlihat seperti terbakar sinar matahari parah. Biasanya terjadi dalam waktu 24 jam setelah terpapar sinar matahari.

2. Photoallergic atau fotoalergi. Selain muncul dari efek samping obat, reaksi fotoalergi juga dapat timbul dari produk kecantikan (makeup dan skincare) dan tabir surya.

Jenis reaksi ini muncul dalam waktu beberapa hari setelah terpapar sinar matahari. 

Jadi ada baiknya kalau mencoba merek kosmetik dan skincare baru tunggu sehari setelah pemakaian pertama sebelum menggunakannya untuk kedua kali. Kalau ada reaksi fotoalergi berarti kita tidak cocok memakai merek tersebut. 

Penyebab Photosensitivity


Fotosensitif dapat disebabkan karena efek samping obat antibiotik, kemoterapi, dan diuretik. Kondisi medis yang diderita seseorang seperti penyakit lupus, erupsi cahaya polomorf, epilepsi, dan prurigo aktinik juga dapat membuat penderitanya mengidap fotosensitif.

Kita harus memeriksakan diri ke dokter untuk tahu apakah mengidap fotosensitif atau hanya terbakar matahari biasa, Tidak bisa hanya dari pemeriksaan online atau menduga-duga gejalanya.

Dokter akan memeriksa riwayat kesehatan dan obat-obatan yang pernah diminum selain memperhatikan perkembangan pola ruam dan paparan sinar matahari.

Bila perlu dokter akan merekomendasikan biopsi kulit untuk memastikan apakah seseorang mengidap fotosensitivitas atau tidak.

Pemicu Fotosensitivitas

 

Orang yang punya fotosensitivitas akan merasakan gatal, ruam, dan perih pada kulitnya kalau terpapar hal berikut. Pada pengidap epilepsi, lima hal dibawah ini diduga, melansir epilepsy.com, dapat membuat penyakit mereka kambuh.

  1. Kedipan cahaya dari layar televisi, komputer, dan ponsel yang berkedip-kedip secara cepat.
  2. Kilatan cahaya dalam efek film atau game.
  3. Pola warna yang berganti secara cepat dalam layar.
  4. Cahaya matahari yang terpantul di air, cermin, atau bilah pepohonan.
  5. Lampu strobo dari ambulans, bus, dan mobil polisi.

Selain ruam kulit dan gatal, sebagian penderita fotosensitivitas juga mengalami sakit kepala dan demam terlalu lama terpapar atau kena cahaya panas matahari dan cahaya layar yang menyilaukan.

Selain ruam kulit dan gatal, sebagian penderita fotosensitif juga mengalami sakit kepala dan demam kalau terlalu lama terpapar sinar matahari dan cahaya layar yang menyilaukan.

Menjaga Agar Fotosensitif Tidak Mudah Kambuh

  1. Selalu memakai lengan panjang, topi, dan kacamata hitam saat berada di luar ruangan,
  2. Pakai topi atau payung saat matahari sedang panas-panasnya.
  3. Tidak berada terlalu lama dibawah sinar matahari atau terpapar cahaya lampu yang sangat terang di dalam ruangan.
  4. Menonton televisi atau menatap layar tidak terlalu dekat untuk menghindari kilatan dan kedipan cahaya dari layar.
  5. Pemakaian obat-obatan harus dalam pengawasan dokter.

Fotosensitif digolongkan sebagai penyakit kulit dan dikategorikan sebagai penyakit langka karena hanya satu dari 100.000 orang yang menderitanya, seperti dilansir National Library of Medicine AS.

Pekerjaan Paling Cocok Untuk Orang Berkarakter Lone Wolf

Pekerjaan Paling Cocok Untuk Orang Berkarakter Lone Wolf

Secara kiasan lone wolf adalah seseorang yang meminimalisir campur tangan orang lain dalam urusannya dan sekuat mungkin menyelesaikannya sendiri.


Menyendiri beda dengan mengisolasi diri. Lone wolf tetap berteman, bekerja, dan beraktivitas seperti orang normal. 

Sedangkan mengisolasi diri berarti tidak ingin berkomunikasi dengan siapa pun kecuali keluarga inti, tidak sekolah, tidak bekerja, dan amat jarang keluar rumah. Tindakan mengisolasi diri seperti itu dikenal dengan istilah hikikomori.

Bacaan Lain: Hikikomori dan Mental yang Goyah dari Kesenjangan dan Budaya Tinggi Ekspektasi

Arti Kata  


Dalam bahasa Inggris lone wolf artinya serigala penyendiri. Istilah lone wolf disematkan kepada orang yang lebih suka sendiri dalam hal pekerjaan, bersenang-senang, sampai menyelesaikan masalah.

Serigala adalah hewan yang selalu hidup berkelompok. Sangat jarang serigala mencari mangsa dan berkelanan sendirian tanpa kelompok. Serigala yang sendirian biasanya karena kalah bertarung memperebutkan posisi di kelompoknya. 

Manusia juga dikenal sebagai makhluk sosial yang hampir butuh orang lain dalam segala aspek kehidupan. Maka manusia yang lebih senang sendirian dalam banyak hal disebut lone wolf, sama dengan individualis.

Bacaan Lain: Lone Wolf, Dikaitkan Pada Teroris Padahal Individualis

Walau istilah lone wolf di Indonesia erat dikaitkan dengan teroris, tapi orang yang menjadi lone wolf di dunia jumlahnya terus bertambah. Bukan karena ingin jadi teroris, tapi sejak pesatnya kemajuan di bidang internet, banyak pekerjaan baru yang memungkinkan seseorang menjadi lone wolf.

Penyebab Orang Memilih Jadi Lone Wolf

 

Seseorang sengaja memilih menyendiri bukan karena mereka kesepian dan tidak punya teman, melainkan karena:

  1. Ingin fokus pada apa yang hendak diraihnya.
  2. Tidak tahan dengan tuntutan sosial yang menginginkannya jadi orang hebat. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak orang sukses.
  3. Tidak kunjung menemukan sekelompok orang yang punya minat sama.
  4. Lelah dengan kepalsuan di social circle.
  5. Sudah tidak ingin menerima penolakan jika minta bantuan atau mengajak orang lain.

Pekerjaan yang Cocok Untuk Lone Wolf

 

Seorang lone wolf lebih nyaman bekerja sendiri untuk menuangkan ide dan kreativitasnya tanpa gangguan dari orang lain. Ini pekerjaan yang cocok bagi lone wolf.

1. Web Designer atau Web Developer. 

Seorang web designer dan developer bekerja dalam tim, namun untuk mengerjakan algoritma dan bahasa pemrograman tidak perlu banyak campur tangan dari orang lain.

4. Gamer dan Pro Player. 

 Orang yang memainkan gim untuk tujuan komersil dinamakan gamer. Mereka biasa melakukan streaming di YouTube dan Twitch dan dapat uang dari monetisasi akunnya.

Gamer juga bisa memainkan suatu gim dan ketika level gim itu sudah tinggi, dia akan menjual akun gim itu dengan harga mahal.

Sedangkan pro player adalah gamer yang bermain untuk klub esport dan digaji profesional.

3. Penulis atau Pengarang

Orang yang membuat karangan fiksi seperti novel, cerpen, dan puisi disebut pengarang. Sedangkan orang yang membuat artikel atau karya nonfiksi disebut penulis.

4. Petani

Seorang lone wolf yang memilih jadi petani masih bisa jadi anggota kelompok tani dan mengikuti pelatihan khusus dari dinas pertanian setempat. Namun, semua keputusan memilih bibit, pupuk, dan pestisida ada ditangannya, tidak butuh orang lain untuk mencampuri pertaniannya.

Dia juga bebas menggunakan metode tanam mutakhir seperti hidroponik, tabulampot (menaman buah menggunakan pot), vertikultur, vertical garden, polybag, atau budikdamber (budidaya ikan dan sayuran) tanpa harus bekerja secara tim.

Bacaan Lain: Jus Lezat dari Sayuran Hidroponik

6. Trader Saham, Forex, dan Indeks Berjangka

Mencari penghasilan dari saham, foreign exchange, dan indeks sekarang sudah bisa dilakukan di rumah melalui komputer atau smartphone

Keputusan menginvestasikan uangnya ada ditangan si lone wolf sendiri dengan membaca analisis teknikal dan fundamental, bukan atas saran orang lain.

7. Buka Usaha Sendiri atau Bekerja di Startup

Seorang lone wolf bisa merasakan kenyamanan bekerja di startup, tapi tidak di pemerintahan atau perusahaan besar.

Ini karena birokrasi di pemerintahan amat panjang hanya untuk pengambilan satu keputusan saja dan tentu melibatkan banyak orang dengan bermacam karakter. Sementara di perusahaan besar, kerja sama dan rapat tim lebih sering dilakukan dan membuat lone wolf tak nyaman.

Maka bekerja di startup atau berwirausaha adalah pilihan yang cocok untuk lone wolf.

Beda Lone Wolf Dengan Introvert

 

Lone wolf hanya bersosialisasi seperlunya dan tidak berusaha menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Introvert bisa bersosialisasi dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan terlihat supel.

Seorang introvert juga bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama orang yang sama sekali tidak punya kesamaan apapun dengannya. Setelah menghabiskan waktu bersama banyak orang, introvert perlu menyendiri untuk mengembalikan energinya.

Namun, lone wolf tidak bakalan menghabiskan waktu dengan orang yang tidak punya minat, pandangan, dan kesukaan yang sama dengannya. Dia juga tidak akan basa-basi dengan orang lain kalau dirasa tidak ada gunanya.

Bisakah Lone Wolf Tidak Lagi Jadi Lone Wolf?

 

Bisa saja, tapi amat jarang karena lone wolf merupakan karakter yang melekat karena kekecewaaan pada proses sosialisasi yang dialami seseorang.

Namun, seorang ekstrovert bisa saja jadi lone wolf kalau dia merasa lelah dengan orang banyak atau menghadapi kekecewaan besar dalam hidupnya yang dikarenakan campur tangan orang lain.
FOMO dan JOMO, Ketakutan dan Kegembiraan Atas Keterlibatan Tren Sosial

FOMO dan JOMO, Ketakutan dan Kegembiraan Atas Keterlibatan Tren Sosial

JOMO merupakan akronim dari Joy of Missing Out. Kalau diterjemahkan secara bebas berarti ga ngaruh mau ketinggalan info, kegiatan, atau apa pun yang lagi viral, hidupku tetap menyenangkan dan aku tetap gembira (joy).

Kebalikan dari JOMO adalah FOMO, yaitu Fear of Mission Out di mana seseorang takut ketinggalan informasi dan tren terbaru baik makanan, fashion, dan gaya hidup.


Awal Mula Kemunculan FOMO

 

Riset dari University of Glasgow, Skotlandia pada 2019 terhadap 467 responden mengungkap bahwa para responden merasakan tuntutan sosial untuk selalu ada, dalam artian ada di medsos, ada di komunitas, dan ada untuk mengikuti tren yang sedang viral.

Itu sebabnya FOMO dianggap muncul berbarengan dengan tumbuhnya video games. Paling besar yang mempengaruhi seseorang menjadi FOMO adalah media sosial.

Terbaru, riset dari Journal of Social and Personal Relationships yang menyurvei 400 orang dari seluruh Amerika Serikat (AS), menemukan kalau paparan media sosial yang menyebabkan FOMO sudah meluas menjadi kecemasan.

Kecemasan itu diakibatkan kepercayaan diri yang rendah dan tidak menyayangi diri sendiri. Akibatnya seseorang merasa tidak rela atau sangat khawatir kalau orang lain bersenang-senang tanpa dirinya.

Menurut John M. Grohol, pendiri sekaligus pemimpin redaksi Psych Central, FOMO menyebabkan seseorang terus mencari teman baru supaya tidak ketinggalan tren, tapi mengabaikan teman lama. 

Awalnya diperkirakan empat dari sepuluh anak muda di AS dilaporkan mengidap FOMO. Kini orang berusia 14-47 tahun dianggap jadi usia paling rentan mengidap FOMO, terutama ketakutan ketinggalan sesuatu di lingkaran sosial mereka.

Beda FOMO dengan JOMO

 

JOMO adalah kebalikan dari FOMO. Semua yang dilakukan seorang FOMO tidak akan dilakukan JOMO.

Bila FOMO sangat peduli dan ingin selalu tahu dan terlibat dengan hal yang tren dan viral, JOMO hanya menikmati melakukan yang disukainya walaupun itu kuno.

Bagi seorang FOMO punya banyak teman itu penting. Walau tidak ada satu pun teman yang jadi bestie tidak apa-apa, yang penting temannya banyak. Itu sebab FOMO cenderung kesepian dan sering cemas memikirkan apa kata orang lain tentang dirinya.

Sedangkan bagi JOMO, yang penting adalah kualitas pertemanan, bukan kuantitas. Maka tidak masalah bagi JOMO kalau cuma punya segelintir teman.

FOMO selalu melihat media sosial sesering yang dia bisa, sebalknya JOMO amat jarang. Medsos hanya digunakan si JOMO kalau ada hal penting saja. Karena itu FOMO juga paling sering membuat konten daripada JOMO.

Kepercayaan diri seorang FOMO timbul kalau dia berhasil melakukan hal yang sedang tren dan sudah mengetahui sesuatu yang viral. Sedangkan si JOMO tidak pernah mau tahu apa saja yang sedang tren dan viral karena kepercayaan dirinya tetap sama tingginya.

Supaya Tidak Jadi FOMO

 

1. Minimalisir penggunaan media sosial. Medsos diyakini menjadi penyebab awal munculnya FOMO, maka membatasi melihat medsos adalah cara paling baik supaya terhindar jadi FOMO.

Kita boleh punya semua akun medsos, tapi batasi melihatnya sering-sering walau hanya untuk upload foto. Kalau tahan, batasi diri dengan hanya punya 1-2 akun medsos saja.

Silaturahmi dengan kerabat dan teman lama dapat dilakukan dengan bertelepon, SMS, atau via WhatsApp alih-alih lewat medsos.

2. Punya hubungan dengan orang lain. Profesor psikologi dari Washington State University Chris Barry menyarankan punya hubungan dekat dengan orang lain untuk menghindari perasaan terisolasi akibat Fear of Missing Out.

Hubungan ini bisa dengan keluarga inti, suami atau istri, anak, teman lama, atau tetangga sebelah rumah.

3. Kurangi minder. Yakinlah bahwa semua yang ada di dunia ini tidak sempurna. Punya kekurangan bukan aib, melainkan kodrat manusia. 

Dengan menerima kekurangan mau tidak mau kita jadi lebih menghargai dan menyayangi diri sendiri.

4. Kurangi baperan. Kalau ada celetukan-celetukan, misal, "Itu, kan, lagi viral, makanan dikasih nitrogen, masak gak tahu, sih?!" biar saja, tidak usah baper.

Kalau kita dibilang kudet dan kuper, biar saja. Mereka yang bilang begitu seringnya cuma ingin dirinya terlihat gaul.

5. Cari circle lain. Kalau kita sudah tidak nyaman dalam satu circle, kurangi bergaul dengan orang-orang di circle itu sebelum benar-benar meninggalkannya.

Cari lingkaran sosial lain yang membuat kita nyaman dan bisa jadi diri sendiri.

Konteks FOMO

 

FOMO dan JOMO yang dibahas emperbaca.com adalah dalam konteks psikologi. Pada bisnis dan metaverse dikenal juga istilah FOMO, tapi konteknya bukan dengan kepribadian.

FOMO pada manajemen bisnis digunakan supaya tidak ketinggalan tren kompetitor dan strategi marketing. FOMO juga digunakan untuk memilih investasi mana yang paling menguntungkan sesuai minat si investor.

Sedangkan pada perdagangan mata uang kripto (cryptocurrency), FOMO digunakan untuk mencermati turun-naik nilai kripto dan bagaimana membaca analisis teknikal dan fundamental supaya tidak terombang-ambing isu di forum kripto.

Bacaan Lain: Cara Belanja dan Makan dengan Cryptocurrency

FOMO, JOMO, dan Istilah missing out Lain

1. FOBO (Fear of Better Option).  Ini istilah untuk seorang yang sulit memilih diantara salah satu dari banyak hasil yang dia terima. 

2. ROMO (Reality of Missing Out). Ini mungkin biasa dialami para fan yang tergabung di fandom (fans kingdom). ROMO adalah perasaan takut kehilangan suatu hal fantastis yang kita tahu tidak bakal jadi bagian di dalamnya.

3. FOMOMO (Fear of the Mystery Of Missing Out). Ini versi parah dari pengidap FOMO. FOMOMO sudah tidak bisa lepas dari ponsel dan medsos sedetik pun.

4. MOMO (Mystery of Missing Out). Mengacu pada paranoia yang muncul ketika seseorang mendapati teman-temannya tidak memposting apa pun di media sosial. Dia jadi kehilangan informasi dari teman-temannya itu. Bisa juga paranoid kehilangan suatu info tentang mantan atau musuh.

5. FOJI (Fear of Joining In). Ketakukan kalau dia memposting sesuatu di medsos, tidak ada orang yang me-like.

6. BROMO. mengacu pada saat teman-teman seseorang (bros/brothers)saling melindungi dari merasa kehilangan atau ditinggalkan.

Contoh BROMO adalah jika teman-teman seseorang menahan diri untuk tidak memposting foto kegiatan bertiga, berempat orang yang ada dalam geng yang sama karena takut membuat siapa pun dalam geng itu merasa ditinggalkan

7. NEMO (Nearly but not fully Missing Out). Istilah ini bukan Nemo nama ikan, melainkan merujuk pada orang yang selalu online di internet, tapi justru jarang ngecek internet.

8. SLOMO (Slow to Missing Out). Mengacu pada perasaan bertahap yang datang pada seseorang kalau dia akan kehilangan sesuatu.

***

Munculnya macam-macam bentuk ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran seperti disebut diatas di dunia psikolog termasuk dalam mental yang tidak sehat.

Orang yang mengidap missing out harus berkonsultasi ke psikolog atau berobat ke psikiater bila tidak mau dan mampu mengatasinya sendiri supaya tidak jadi gangguan mental.


Hikikomori: Mental yang Goyah dari Kesenjangan dan Budaya Tinggi Ekspektasi

Hikikomori: Mental yang Goyah dari Kesenjangan dan Budaya Tinggi Ekspektasi

Hikikomori adalah sindrom gangguan mental di mana seseorang sengaja menarik diri dari lingkungan sosial dan tidak berinteraksi dengan siapa pun kecuali dengan keluarga inti.

Pemerintah Jepang mulai menyadari hikikomori di akhir 1990-an sampai kemudian jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun.

Berdasarkan sensus pemerintah Jepang pada 2016, orang yang mengisolasi diri di kamar dan rumah mereka ada 540.000 jiwa. Jumlah ini meningkat pada 2019 menjadi 800.000 orang. Mayoritas laki-laki berusia 15-39 tahun.

Melansir The Conversation, saat ini diperkirakan sudah 1,2 persen dari total penduduk Jepang yang mengidap hikikomori. Artinya sudah jutaan orang Jepang mengisolasi diri dalam jangka waktu lama.

Dari Mana Istilah Hikikomori Berasal?

 

Istilah hikikomori dicetuskan oleh psikiater Jepang Tamaki Saito pada tahun 1998, atas tanggapan terhadap krisis yang terjadi di kalangan pemuda Jepang. 

Pada masa itu sudah banyak anak muda menghindari sekolah dan acara sosial, sering tinggal di rumah selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tanpa berkomunikasi dengan keluarga atau teman-teman.

Hikikomori diperburuk oleh kecanduan internet dan game, serta kemajuan teknologi yang memungkinkan orang tidak perlu berinteraksi di luar rumah untuk menjalankan hidup.

Ciri Seseorang Mengidap Hikikomori

 

  1. Para pelajar tidak mau berangkat ke sekolah. Orang yang punya pekerjaan tidak mau lagi berangkat bekerja.
  2. Sulit berinteraksi dengan orang di luar anggota keluarga.
  3. Menghindar dari lingkungan, situasi, dan interaksi sosial selama enam bulan berturut-turut.

Pengidap hikikomori dapat mengisolasi diri di rumah selama bertahun-tahun tanpa ada keinginan keluar rumah atau melakukan kontak dengan teman.

Penyebab HIkikomori

 

Sebelum mengisolasi diri, para pengidap hikikomori sering merasa tidak disukai, menganggap dunia tidak adil terhadapnya, kecewa terhadap suatu hal, takut berbuat salah, atau karena perundungan.

Ada juga yang melakukan hikikomori sebagai bentuk hukuman terhadap diri sendiri yang gagal memenuhi harapan orang tua, masyakarat, atau lingkungan sosial.

Misal, anak seorang chef ternama yang diharap mampu meneruskan usaha kuliner orang tuanya, ternyata tidak berbakat masak karena dia lebih tertarik menjadi penari. 

Tidak tahan pada desakan banyak orang (termasuk media massa dan orang tuanya sendiri) yang menginginkannya jadi chef dan pengusaha kuliner andal, lantas memicu anak melakukan hikikomori. Mengisolasi diri alih-alih berkarya di bidang lain dan tidak memedulikan perkataan orang.

Produk Budaya atau Lemah Mental?


Kita tahu dulu Jepang punya jam kerja panjang yang mana para pekerjanya bekerja 12-14 jam sehari. Selain jam kerja yang panjang, perekrutan tenaga kerja yang tertutup dan kesenjangan karir di Jepang juga lebar. 

Di Indonesia, lulusan SMA sederajat dapat menjadi manajer sampai kepala cabang kalau dia berprestasi dan sudah melanjutkan kuliah sembari bekerja.

Di Jepang, pada masa lalu, tidak begitu. Lulusan perguruan tinggi pasti berkarir moncer dengan berbagai tunjangan dan fasilitas. Kesempatan bekerja dan berkarir seperti itu tidak didapat mereka yang cuma lulusan SMA, mengakibatkan mereka cuma bekerja sebagai pegawai rendahan atau di sektor informal.

Sektor usaha informal adalah sektor usaha yang tidak punya izin usaha serta usahanya tidak terdaftar pada lembaga pemerintah. Jenis usaha ini adalah UMKM seperti warung sembako, warteg, ibu rumah tangga yang menjual asinan, dan sejenisnya.

Bila generasi Jepang yang lampau memilih mengakhiri hidup karena tekanan pekerjaan dan hidup, generasi yang lebih muda memilih hikikomori.

Disamping budaya Jepang yang punya jam kerja panjang, ada kebiasaan yang membudaya pada masa lalu bahwa seorang ibu haruslah sayang kepada anaknya, terutama anak laki-laki tertua.

Nyatanya, rasa sayang berlebihan malah jadi kemanjaan. Si anak tidak mandiri karena si ibu terlalu melindungi. Alih-alih mengatasi segala rintangan yang menghampirinya, si anak malah menyerah.

Bibit hikikomori biasanya sudah terlihat sejak usia dini di mana anak tidak mampu menyelesaikan masalah sederhana di sekolah, dengan teman, atau sangat tersinggung jika ditegur guru.

Kenapa Hikikomori Disebut Gangguan Mental?

 

Normalnya, manusia adalah makhluk sosial yang selalu butuh berinteraksi dengan sesama manusia. Orang yang punya kesulitan untuk berperilaku dan berpikir seperti manusia normal menandakan ada  yang tidak sehat pada mentalnya.

Maka itu dinamakan gangguan mental. Hikikomori secara sengaja mengisolasi diri hanya karena tekanan yang bagi orang normal dianggap wajar dan bisa diatasi. Pengidap hikikomori memilih mengisolasi diri daripada menyelesaikan masalahnya, dan karenanya termasuk gangguan mental.

Karena itu orang yang mengetahui ada kerabat atau teman yang mengidap hikikomori harus minta bantuan psikolog dan psikiater karena penderitanya tidak bisa hanya sekadar diajak curhat.

Walau termasuk gangguan mental, hikikomori berbeda dengan social anxiety (kecemasan sosial) yang mana penderitanya sangat takut bertemu dengan orang di tengah keramaian. Pun tidak sama dengan beberapa jenis fobia yang berhubungan dengan orang banyak dan lingkungan sosial.

Dampak Hikikomori Bagi Jepang


Hikikomori yang diidap generasi mudanya mengakibatkan Jepang kekurangan tenaga kerja. Usia produktif melimpah, tapi sangat jarang dari mereka yang bekerja.

Karena itu Jepang terpaksa mengimpor banyak ekspatriat atau tenaga kerja asing berpendidikan tinggi dan digaji besar.

Populasi negeri sakura itu juga terus menurun. Menurut Nikkei Asia, penduduk Jepang berkurang 644.000 jiwa di 2022, terbesar dalam 26 tahun terakhir.

Hikikomori memperburuk penurunan populasi Jepang karena mereka tidak menikah dan tidak punya anak.

Beban Orang tua dan Negara

 

Seorang hikikomori hanya diam di rumah dan tidak melakukan apa pun untuk menghasilkan uang. Mereka juga sama sekali tidak produktif menghasilkan suatu karya. Tidak pula mengurus atau merawat apapun dan siapa pun.

Karena tidak punya penghasilan, hikikomori hidup dari gaji atau uang pensiun orang tua. Bila ODGJ tidak mampu bekerja karena kehilangan akal kewarasannya, hikikmori tidak mau bekerja karena memilih mengisolasi diri.

Di mata Jepang, hikikomori juga merugikan karena tidak punya penghasilan untuk bayar pajak, tidak punya asuransi kesehatan, tidak berpartisipasi dalam aktivitas sosial, dan malah menghabiskan uang orang tua.

Bagaimana Seorang Hikikomori Menghabiskan Waktu?

 

Berada di kamar atau di rumah sepanjang waktu amat membosankan. Bahkan seorang introvert dan solitude juga perlu berkegiatan di luar rumah walau tidak bergabung dengan kelompok sosial mana pun, hanya sekadar menghirup udara segar.

Namun, pengidap hikikomori betah menghabiskan seluruh waktunya dengan bermain game, berselancar di internet, membaca buku, memasak sendiri, atau aktivitas lain yang tidak mengharuskannya ke luar rumah.

Pengidap hikikomori amat jarang pernah keluar rumah walau untuk ke warung membeli kebutuhan sehari-hari. Kebanyakan mereka memesan bahan makanan dan kebutuhan harian via online,  

Apakah Hikikomori Hanya Terjadi di Jepang?

 

Yang jelas hikikomori tidak bakal terjadi di Indonesia. Walau para tetangga dan netizen di negeri ini julid, nyinyir, dan merasa paling benar, tapi di rumah kita masih punya mertua, ipar, menantu, anak, dan pekerja rumah tangga yang membuat kita tidak sendirian menghadapi tekanan hidup.

Bila tekanan datang dari keluarga, orang Indonesia masih bisa mencari pelarian dengan curhat di medsos, jadi selebgram, atau YouTuber kontroversial.

Sementara itu, hikikomori juga menjalar ke anak-anak muda di Amerika Serikat, India, Korea Selatan, Prancis, dan Spanyol.

YOLO "You Only Live Once" Antara Hidup Penuh Kesenangan dan Totalitas Ibadah

YOLO "You Only Live Once" Antara Hidup Penuh Kesenangan dan Totalitas Ibadah

You Only Live Once, akronim dari YOLO, adalah istilah dan gaya hidup yang menekankan bahwa manusia hanya hidup satu kali saja. Maka wajar bila mendahulukan kesukaan, kebutuhan, dan kesenangan diri sendiri daripada yang lain.

YOLO juga digunakan untuk memaksa seseorang melakukan hal berbahaya dan menantang adrenalin supaya dia berani. Misalnya memanjat tebing, kebut-kebutan, atau yang lebih buruk, mabuk-mabukkan.

Terminologi YOLO

 

Seorang leksikografer (orang yang ahli dalam penyusunan kamus)  bernama Ben ZImmer, menemukan penggunakan kata you only live once (ditulis dengan huruf kecil) pada sebuah merek peralatan yang sedang mengajukan merek dagang pada 1993. 

Penemuan Ben ZImmer itu ditengarai sebagai yang pertama kalimat YOLO muncul sebelum dipopulerkan oleh rapper Kanada, Drake.

Pada 2011, Drake membuat album lagu The Motto yang mana salah satu lagunya berjudul You Only Live Once dengan akronim YOLO. Sejak itu istilah YOLO populer sebagai bagian dari gaya hidup hedon

Sudut Pandang YOLO


Makin hari, pendapat soal YOLO meluas bukan saja soal kesenangan hidup, tapi dilihat dari sisi akademis dan religi.

YOLO menurut kaum hedonis adalah refleksi menikmati hidup karena sia-sia kalau hidup tidak dinikmati. Kalau sudah mati kita tidak bakalan bisa mengulang hal yang belum pernah kita lakukan dalam hidup.

YOLO bagi kaum hedonis sudah pasti bersenang-senang. Makin gila dan ramai makin kita menikmati hidup dan memaknai YOLO dengan tepat.

Bacaan Lain: Luxury Influencer, Gaya Hidup Mewah Demi Iklan

Pendapat lain datang dari kalangan akademisi yang berpendapat bahwa YOLO sebaiknya digunakan untuk mencapai prestasi dan keilmuan semaksimal mungkin.

Pada situs Internet Public Library yang memuat ratusan makalah dan esai dari kalangan akademisi AS, banyak analisa mengatakan bahwa YOLO sebaiknya disemangati untuk mencapai aktualisasi diri yang jauh dari kata-kata bersenang-senang.

YOLO dan Agama Samawi

Agama samawi atau agama yang turun berdasarkan wahyu dan kenabian seperti Islam, Kristen, dan Yahudi hanya mengenal hidup sekali saja sebelum manusia ke surga atau neraka. 

Makanya, pak ustaz sering bilang, "Kita hidup cuma sekali, perbanyaklah beribadah." Ibadah bagi umat Islam termasuk ibadah kepada sesama manusia (hablumminannas), supaya semua yang kita lakukan bukan cuma bermanfaat di dunia, melainkan jadi bekal di akhirat.

Konsep yang sama juga dikenal penganut Kristen dan Yahudi. Semua kebaikan akan bermuara ke surga dan kejahatan pasti tersungkur ke neraka.

YOLO dan Reinkarnasi

 

Walau diyakini oleh penganut agama samawi, "hidup hanya sekali" tidak berlaku bagi penganut Hindu dan Buddha karena ajaran mereka meyakini manusia hidup berkali-kali melalui konsep reinkarnasi atau terlahir kembali.

Pada agama dan kepercayaan yang menganut konsep reinkarnasi, semua kebaikan dan kejahatan yang kita lakukan di kehidupan sekarang, akan dapat ganjarannya di kehidupan masa datang ketika kita terlahir kembali.

Bila saat ini kita sering mengalami kesulitan hidup, bisa jadi sebagai akibat dari banyaknya keburukan yang kita lakukan pada kehidupan yang lampau. Umat yang percaya reinkarnasi mengenalnya sebagai karmaphala. 

Maka amat wajar tidak ada umat Hindu dan Buddha di mana pun yang mencetus atau membahas soal you only live once.

***

Uniknya, YOLO dikenal cuma oleh dua golongan yang justru bertolak belakang. Yaitu, mereka yang tidak percaya adanya surga-neraka dan mereka yang betul-betul percaya bahwa manusia akan berakhir, kalau tidak di surga, ya, neraka.

Dendrophile si Pecinta Pohon dan Nemophile si Pecinta Hutan

Dendrophile si Pecinta Pohon dan Nemophile si Pecinta Hutan

Dendrophile adalah orang yang amat sangat menyukai pohon dan pepohonan. Sementara nemophile adalah orang yang sangat menyukai hutan.

Menyukai pohon, tapi tidak suka hutan? Menyukai hutan, tapi bukan pohon? Bikin mumet. Walaupun habitat pohon ada di hutan dan hutan isinya banyak pohon, tapi keduanya tidak sama.

Hutan berisi beragam flora dan fauna. Si dendrophile cuma suka pohon, tidak mencintai semua yang ada dalam hutan.

Orang yang mencintai hutan dengan segala isinya, bukan cuma pohon, itulah si nemophile.

Asal Kata Dendrophile 


Dendro berasal dari bahasa Yunani kuno yang artinya tree friend atau teman pohon. Sedangkan phile artinya sangat menyukai atau punya kecintaan.

Bila bahasa Latin banyak digunakan untuk menyebut istilah-istilah ilmiah, bahasa Yunani kuno dipakai untuk istilah non-ilmiah.

Asal Kata Nemophile

 

Nemophile ini tidak ada hubungannya dengan ikan bernama Nemo yang terpisah dari ayahnya karena terjerat jaring. Nemo si pecinta hutan berasal dari kata Yunani kuno, nemos, yang artinya lover of a wood or grove alias si pecinta hutan.

Sedangkan phile berasal dari kata philia yang artinya sangat menyukai atau mencintai, sama dengan kata pada dendrophile.

Apakah orang yang hobi menanam dan merawat tanaman di pekarangan disebut Dendrophile juga?

Pecinta pohon hanya menyukai pohon saja, seperti pohon mangga, sawo, rambutan, bahkan pohon raksasa baobab dari Afrika. Namun, dia tidak tergila-gila dengan tanaman padi, kunyit, jagung, mawar, atau tanaman hias.

Orang yang menyukai bunga-bungaan, tanaman hias, dan tanaman obat disebut anthophile atau pecinta tanaman. 

Dendrophile akan menanam beragam jenis pohon bila dia punya pekarangan luas, sedangkan anthophile cenderung menanam dalam pot-pot atau membuat taman yang asri dan indah.

Anthophile juga bertangan dingin. Semua tanaman yang dirawat olehnya pasti subur walau tanpa pupuk.

Ciri Khas Dendrophile

 

1. Mengerti banyak jenis pohon dan karakteristiknya. Beberapa dendrophile seperti kamus berjalan yang sangat mengerti detail dari pohon yang ada di daerahnya.

2. Bangun pagi-pagi dan keluar rumah untuk menghirup aroma pohon yang kena embun.

3. Menganggap pepohonan sebagai keluarga sendiri yang dirawat dengan kasih sayang.

4. Sering bicara atau mengajak ngobrol pepohonan, terutama yang ditanam di pekarangan atau area rumahnya.

5. Selalu merasa nyaman dan tenang bila berada dekat pepohonan.

Ciri Khas Nemophile

 

1. Senang hikng dan trekking ke gunung. Bila tidak memungkinkan untuk pergi ke gunung, nemophile juga rajin menyambangi hutan kota atau tempat wisata alam di mana masih terdapat pepohonan beserta flora dan faunanya.

2. Mengenal jenis hutan yang ada di dunia dan tumbuhan serta hewan endemiknya.

3. Paham cara bertahan hidup di hutan dengan memanfaatkan sumber daya di hutan.

4. Senang berkemah di pinggir hutan.

5. Paling menentang jika diketahuinya ada penebangan liar atau eksploitasi hutan menjadi perkebunan yang mengakibatkan hilangnya habitat penghuni hutan.

***

Orang yang tadinya bukan pecinta pohon dan hutan bisa menjadi seorang dendrophile dan nemophile dari hasil interaksinya dengan banyak orang yang juga menyukai pohon dan hutan.

Kecintaan itu bisa juga datang dari pengalamannya ketika ada peristiwa yang berhubungan dengan pohon dan hutan.

Cafe Hopping, Awalnya Buat Kerja dan Ngerjain Tugas Kini Jadi Gaya Hidup Gabut

Cafe Hopping, Awalnya Buat Kerja dan Ngerjain Tugas Kini Jadi Gaya Hidup Gabut

Pernah pindah dari satu kafe ke kafe lain saat kafe yang kita tempati sudah ramai dan tidak enak lagi buat nongkrong? Lalu pindah ke kafe lain lagi saat kafe yang baru kita datangi kembali ramai dan tidak asyik lagi? Itu namanya cafe hopping. 

Awal Mula Cafe Hopping


Hopping dalam bahasa Inggris artinya melompat. Secara kiasan cafe hopping berarti "melompat" dari satu kafe ke kafe lainnya, 

Cafe hopping biasa dilakukan oleh mahasiswa yang mengerjakan tugas dan para remote worker. Remote worker adalah karyawan yang bekerja dari rumah karena kantor mereka berada di luar kota atau luar negara yang tidak memungkinkan mereka bekerja pulang-pergi.

Bacaan Lain: Hustle Culture dan Tipe Karyawan yang Senang Melakoninya

Terlalu sering bekerja di rumah menimbulkan kejenuhan, maka para remote worker mencari kafe yang sepi untuk bekerja sambil menyeruput kopi dan memakan kudapan. Kalau kafe itu sudah dianggap terlalu ramai untuk kerja, mereka akan mencari kafe lain yang lebih kondusif.

Hal sama berlaku untuk para mahasiswa yang mengerjakan tugas. Kadang mereka mengerjakan tugas di kafe untuk menghemat kuota internet karena di setiap kafe pasti menyediakan Wifi untuk pengunjungnya.

Siapa yang Memulai dan Dari Mana Tren Cafe Hopping?


Walau istilahnya diambil dari bahasa Inggris karena mengacu pada kebiasaan remote worker dan mahasiswa yang mengerjakan tugas, tren cafe hopping ternyata muncul pertama kali di Kuala Lumpur, Malaysia. Tren itu kemudian menjalar ke Penang dan Johor kemudian ke seluruh negara bagian.

Sejak 2015, anak-anak muda Malaysia makin sering nongkrong bareng di kafe tanpa disambi mengerjakan tugas kuliah. Sambil nongkrong mereka mencari kopi dan makanan yang enak dari satu kafe ke kafe lainnya.

Tidak ada batasan berapa kafe yang didatangi dalam sehari. Selama masih ada duit, mau datang ke 10 kafe dalam sehari pun tidak masalah.

Tren di kalangan mahasiswa ini menjalar ke para pekerja kantoran Malaysia. Mereka mengikuti tren ini, terutama saat weekend, dengan rekan kerja. Dalam semalam mereka bisa mendatangi rata-rata 2-3. Ada juga yang sampai empat kafe.

Di Indonesia tren cafe hopping di kota-kota besar marak sejak 2019 sebelum terhenti karena pandemi. Sedikit berbeda dari di Malaysia, tren cafe hopping di Indonesia lebih banyak dilakukan oleh pekerja kantoran daripada mahasiswa.

Cafe Hopping Vs Clubbing


Cafe hopping bisa dibilang mirip dengan clubbing. Para penyuka dugem (dunia gemerlap malam) sering pindah dari satu klub ke klub malam (night club) lain untuk berpesta sampai pagi. Itulah kenapa mereka dinamakan clubber dan aktivitasnya dinamakan clubbing.

Dua-duanya sama-sama butuh duit dan lebih seru dilakukan bersama orang yang juga suka cafe hopping dan clubbing.

Baca Juga:

  1. Tipe Karyawan Hustle Culture
  2. Lone Wolf si Individualis yang Sering DIkira Teroris

Walau banyak kafe yang menyediakan alkohol sama seperti klub malam, cafe hopping dipandang sebagai tren yang positif daripada clubbing. Ini karena cafe hopping tidak dilakukan sampai dini hari dan tidak identik dengan narkoba, seks bebas, dan mabuk-mabukkan seperti halnya clubbing.

Cara Seru Menikmati Cafe Hopping


Cafe hopping adalah salah satu cara asyik menghabiskan waktu kalau kita lagi gabut ditemani para bestie yang juga sama gabutnya. 

Ini cara cafe hopping yang efekif supaya seru dan tidak asal gabut.

1. Lakukan beramai-ramai. Makin ramai memang makin seru, tapi tidak berarti kita harus ajak belasan orang untuk cafe hopping.

Kalau nongkrong bareng belasan orang itu namanya arisan, bukan cafe hopping. Selain jadi arisan, kalau mengajak belasan orang, kamu harus menyewa tempat secara khusus di kafe itu supaya tidak mengganggu tamu lain dan memberi keleluasaan untuk pihak kafe menyediakan menu lebih banyak dari biasanya.

Ajak hanya bestie atau sahabat terdekat 3-4 orang saja cukup untuk melakukan cafe hopping.

2. Pilih cafe yang jaraknya dekat. Dekat dalam arti masih dalam satu mal, satu komplek perbelanjaan, atau kafe sekitar yang dekat rumah dan kantor.

Supaya kita tidak keburu kelelahan karena menghabiskan banyak waktu di jalan. Lelah bisa mengakibatkan bosan. Kalau sudah bosan, melakukan cafe hopping sudah tidak asyik lagi dan malah ingin melakukan aktivitas lain.

3. Kalau sempat, cari tahu dulu apa saja menu yang ada di kafe yang akan didatangi.

Rasanya buang-buang duit kalau ternyata manu di kafe yang kita datangi sama seperti menu di kafe sebelumnya. Jadi, lebih baik cari kafe yang menunya berbeda dengan kafe yang sudah kita datangi.

Mencari tahu menu lebih dulu bisa juga untuk mencegah risiko alergi bila ternyata kafe itu lebih banyak menyediakan menu boga bahari, sementara ada bestie yang alergi seafood.

4. Pilih makanan dan minuman berbeda. Hindari memesan menu yang sama dengan para bestie supaya kita bisa saling icip dan menambah rekomendasi menu pada preferensi pribadi.

Menu yang berbeda-beda juga bisa menambah rekomendasi kita untuk dibagikan di media sosial atau review Google Maps kafe yang bersangkutan.

5. Split bill alias bayar masing-masing. Semua yang memesan makan-minum harus bayar sesuai kemampuan kantongnya.

Kalau tidak begitu cafe hopping malah jadi beban bagi yang diajak, kecuali ada bestie yang bersedia membayar seluruh tagihan.

***

Tidak punya budget, tapi ingin merasakan tren cafe hopping? Kamu bisa saja melakukan warteg hopping. 

Saat warteg hopping kita bisa nimbrung obrolan antarpengunjung. Biasanya yang diobrolkan adalah isu sosial atau pemerintahan yang sedang hangat.

Para pengunjung juga biasanya tidak keberatan untuk saling mengobrol walau tidak kenal dan tidak tahu nama masing-masing orang yang ikut ngobrol.

Kalau cafe hopping lebih seru dilakukan beramai-ramai, pada warteg hopping sendirian malah lebih asyik.

Hustle Culture dan Tipe Karyawan yang Senang Melakoninya

Hustle Culture dan Tipe Karyawan yang Senang Melakoninya

Para karyawan di Indonesia makin terjangkiti hustle culture, baik yang bekerja di start-up alias perusahaan yang baru merintis atau perusahaan yang sudah mapan.

Mereka sering membawa pekerjaan kantor ke rumah. Ciri-cirinya: 

  1. Cek email kerjaan dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah.
  2. Sampai rumah buka laptop lagi.
  3. Sebelum tidur cek email lagi dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang perlu diperbaiki.
  4. Siklus cek email, buka laptop, dan mengerjakan pekerjaan kantor selalu berulang tiap hari, bahkan saat akhir pekan.
Membawa pulang pekerjaan kantor ke rumah dapat mengakibatkan stres dan mati rasa terhadap kebahagiaan lain karena para karyawan tidak punya kehidupan selain urusan kantor.

Bringing Work Home Vs Work From Home

Membawa pulang pekerjaan kantor ke rumah beda dengan bekerja dari rumah. Bekerja dari rumah artinya rumah selain sebagai tempat tinggal juga tempat kita bekerja. 

Kita tidak bekerja di kantor yang menggaji, tapi seluruh pekerjaan kita selesaikan di rumah. Istilah lain dari bekerja dari rumah adalah remote working.

Sedangkan membawa pekerjaan kantor ke rumah artinya kita masih uplek-uplekan dengan pekerjaan kantor saat sudah berada di rumah, bahkan saat kita harusnya sedang leyeh-leyeh nonton YouTube atau melakukan kesenangan di tempat lain.

Pada survey yang dimuat di Forbes, lebih dari 82% orang Amerika menyatakan tidak ada masalah jika mereka bekerja remote dari rumah dan tidak lagi harus ngantor.

Sangat mungkin di Indonesia juga begitu. Apalagi hustle culture ala Korea dan China sudah diterapkan secara masif dengan menciptakan persepsi bahwa karyawan yang pulang tepat waktu adalah karyawan kurang dedikasi dan pemalas.

Lembur tiap hari juga dikesankan sebagai hal wajar, bahkan bila si karyawan tidak dapat upah lembur yang sepadan.

Hustle culture bakalan terus subur selama tipikal karyawan dibawah ini mendominasi lingkungan kerja.

1. Workaholic


Menurut Psychology Today, jika Anda bekerja lebih dari 50 jam seminggu, tidak bisa mendelegasikan pekerjaan ke anak buah atau rekan, merasa nyaman jika larut dalam kesibukan, dan jarang memikirkan waktu untuk bersenang-senang, berarti Anda workaholic (gila kerja).

Workaholic adalah penyakit mental yang dipicu trauma masa kecil. Orang yang semasa kecilnya dituntut sempurna oleh orang tuanya bakal menjad perfeksionis di masa dewasa. Perfeksionis inilah yang menjadi awal seseorang jadi gila kerja.

Orang yang gila kerja bisa menikah dan punya anak, tapi mereka akan menomorsatukan pekerjaan menit demi menit dan mengabaikan yang lain. Enggak heran kalau workaholic akhirnya jadi penyendiri dan lama-lama malah makin sulit melepas diri dari pekerjaanya.

2. Tidak Kuasa Menolak Bos


Survei lawas dari Pew Research Center pada 2008 membuktikan bahwa 22% orang di Amerika Serikat terpaksa membalas email saat libur atau cuti. Prosentase karyawan yang berkutat pada email kantor saat libur bertambah jadi 81% pada 2020. 

Menikmati libur dan cuti adalah hak karyawan, tapi banyak karyawan tidak berani membantah bila sang bos menyuruh mereka menyelesaikan pekerjaan selepas jam kantor.

Karena seseorang mau diperintah diluar jam kerja, bos menilai bahwa hal itu wajar terjadi kepada bawahannya. Lama-lama jadi hal biasa seorang karyawan membawa pulang kerjaan ke rumah walau saat di kantor dia sudah lembur berjam-jam..

3. Takut Kehilangan Pekerjaan


Orang-orang yang kapasitas dan pendidikannya kurang memadai punya kecenderungan takut dipecat karena beranggapan pekerjaan itu sudah jadi jalan rejeki.

Mereka akan bekerja segiat dan setekun mungkin karena buat mereka mustahil dapat pekerjaan lain jika mereka keluar dari kantor itu hanya karena diminta bekerja lembur tiap hari tanpa uang lembur.

Jadi, alih-alih menikmati libur, mereka akan kerja terus, bahkan yang diluar jobdesc. Rasa kuatir kehilangan pekerjaan lebih besar dari rasa lelah karena hustle culture.

4. Tidak Punya Keluarga dan Teman


Orang yang umurnya diatas 40 tahun dan belum berkeluarga cenderung menghabiskan waktu dengan banyak bekerja. Sahabat-sahabat yang menikah sudah sibuk dengan keluarga dan lingkaran pergaulan sesama orang tua.

Maka sulit bagi jomblowan dan jomblowati untuk bergaul dengan para bestie yang sudah punya kehidupan berbeda dari masa muda dulu.

Menghabiskan waktu untuk bersenang-senang sendirian juga menjemukan. Mencari teman baru belum tentu teman itu bisa dipercaya. Maka membawa pekerjaan ke rumah adalah hal paling masuk akal untuk mengisi waktu dan sepi.

Kadang mereka juga menghindari bertemu dengan keluarga besar karena risih ditanya soal jodoh, Alasan yang membuat mereka aman adalah tidak bertemu keluarga, kalau tidak ada yang mendesak, dengan alasan harus lembur saat weekend.

Hustle Culture di Jepang


Budaya kerja yang berlebihan makin marak di Korea Selatan dan China, tapi sudah ditinggalkan di Jepang. 

Kaum muda Jepang sudah menyadari dampak buruk hustle culture bagi kesehatan mental mereka, sehingga mereka  yang bekerja kantoran menolak bekerja belasan jam sehari seperti pada pendahulunya.

Banyak kaum muda Jepang berusia 25-30 tahun juga tidak lagi mengejar kerja kantoran sebagai karir. Mereka lebih suka bekerja sendiri membuka usaha, jadi freelancer, gamer, trader saham dan forex, atau pekerjaan lain yang tidak mengharuskan mereka bekerja rutin di kantor.

Keengganan kaum muda Jepang itu jadi salah satu sebab negara sakura makin kekurangan angkatan kerja sejak 2018.

Di Indonesia hustle culture banyak menimpa karyawan kantoran daripada buruh. Jam kerja buruh memakai sistem shift dan mereka harus dapat uang lembur berdasarkan UU Ketenagakerjaan. 

Bila diperlakukan tidak adil oleh perusahaan, buruh dapat mengadu ke serikat dan serikat yang akan memperjuangkan keadilan bagi si buruh.

Namun, karyawan kantoran justru sebaliknya. Bekerja rodi tanpa uang lembur dengan diberi doktrin bahwa karyawan yang baik adalah karyawan yang terus bekerja sampai akhirnya kena gangguan mental.

Nyctophile si Pecinta Malam dan Kegelapan yang Dingin

Nyctophile si Pecinta Malam dan Kegelapan yang Dingin

Nyctophile adalah istilah yang disematkan untuk orang yang menyukai malam dan kegelapan yang alami.

Nyctophile menyukai gelap dari malam, hutan, gua, laut, atau kegelapan lain yang alami, bukan gelap karena mati listrik.

Apakah orang yang suka begadang berarti nyctophile? Tidak selalu, seseorang yang terjaga pada malam hari bisa karena dia kerja shift malam, menderita insomnia, ronda jaga kampung, atau senang clubbing.

Ciri Khas Nyctophile


Karena sangat menyukai malam dan kegelapan, nyctophile senang hiking dan bisa menghabiskan waktu di puncak gunung hanya untuk berdiam diri dan kenikmati keheningan malam.

Dia juga senang berdiri menatap laut yang gelap sambil main gitar atau hanya sekedar mendengar suara deburan ombak.

Kalau kamu punya ciri dibawah ini, bisa jadi kamu seorang nyctohpile.

1. Tidak suka panas matahari yang terik dan memilih kena udara malam yang dingin. 

Ini karena mereka tidak suka kegerahan dan berkeringat sepanjang hari. Nyctophile akan tenang saat menghirup udara malam yang menurut mereka segar.

Saat malam hari temperatur udara turun sehingga tidak sepanas siang hari. Itulah cuaca paling ideal yang disukai nyctophile. Gelap dan lembab.

2. Kreatif dan berenergi pada malam hari. 

Suasana malam yang tenang dan sedikit aktivitas manusia membuat nyctophile tenang. Karena itu mereka juga jadi aktif dan kreatif pada malam hari.

Otak mereka terstimulasi oleh perasaan senang terhadap malam sehingga saat orang lain beristirahat karena lelah, nytcophile malah bersemangat.

Itu sebab mereka sering tidak bisa tidur dan memilih bekerja pada malam hari. Banyak dari nyctophile yang bekerja sebagai musikus, penulis, pelukis, dan pekerjaan seni lainnya yang tidak harus dikerjakan pada siang hari.

3. Suka hal berbau angkasa luar seperti keberadaan planet, bulan, galaksi, bintang, dan benda-benda langit.

Walau begitu, tidak berarti mereka suka film Star Wars, Star Trek, atau Guardian of the Galaxy. Buat mereka yang utama adalah menikmati malam, bukan menonton film tentang ruang angkasa yang gelap.

Bintang, bulan, dan benda langit lainnya biasanya terlihat pada malam hari. Salah satu aktivitas yang nyaman dilakukan pada malam hari adalah menatap langit dan melihat gemerlap cahaya benda langit.

Asal Kata Nyctophile


Nycto berasal dari bahasa Yunani kuno "nyktos" yang secara harfiah berarti malam. 

Sedangkan phile adalah turunan dari kata phileein yang juga asal kata dari philos dan philia, yang artinya mencintai atau sangat menyukai. Jadi, nyctophile bisa disebut sebagai nyctophilia juga nyctophilus.

Beda Nyctophile dengan Tukang Dugem dan Clubber


Dugem adalah hiburan yang marak pada malam hari. Bukan dugem namanya kalau tidak identik dengan musik semarak dan suasana riuh dengan lampu dan keramaian orang yang menikmatinya di diskotek, klub, atau pub.

Seorang nyctophile suka keheningan yang jauh dari ingar-bingar aktivitas dan gemerisik kota. Jadi nyctophile menyukai malam, tapi tidak suka dengan dunia gemerlap malam.

Bila para clubber mencari kesenangan di klub, nyctophile mencari kesenangan di tempat gelap yang alami, bukan di tengah kota.

Kadang untuk menikmati malam yang gelap, mereka cukup memandangi bintang di langit dari halaman atau jendela rumah.

Beda Insomnia dengan Nyctophile


Sama-sama sering terjaga pada malam hari, apakah nyctophile mengidap insomnia?

Insomnia adalah gangguan fisik dan mental yang menyebabkan seseorang susah tidur pada malam hari. Gangguan itu dapat berupa stres dan depresi atau karena penyakit medis seperti radang sendi, asma, kanker, dan refluks asam lambung.

Deltadiscovery melansir bahwa nyctophile adalah kondisi psikologis dimana seseorang sangat menyukai malam karena merasa nyaman, bukan karena dia menderita gangguan mental atau medis.

Akan tetapi, nyctophilia harus tidur malam sama cukupnya dengan non-nyctophilia bila tidak mau kena gangguan kesehatan akibat terlalu cinta pada malam yang membuatnya begadang.

***

Saran bila kamu ternyata seorang nyctophilia. 

Nikmati malam yang gelap maksimal 2 jam supaya tidak tidur terlalu larut yang bakal bikin kesehatan terganggu kelak, kecuali weekend atau sedang libur.

Kemudian, hindari bekerja pada malam hari supaya metabolisme tubuh tidak terganggu. Cukup nikmati malam gelap tanpa disambi kerjaan ini-itu.

***

Silakan Klik Bacaan Keren Lainnya:

1. Logophile dan Lexophile, si Pecinta Kata yang Terang dan yang Samar
2. Cynophile si Pecinta Anjing yang Mengasihi Makhluk Allah



Cynophile si Pecinta Anjing yang Mengasihi Makhluk Allah

Cynophile si Pecinta Anjing yang Mengasihi Makhluk Allah

Cynophile adalah sebutan atau istilah orang yang amat menyukai dan mencintai anjing. Seorang cynophile yang terkenal sekaligus kontroversial adalah Hesti Sutrisno. Wanita ini sering menolong anjing terlantar dan merawatnya sendiri.

Sayang, Hesti harus memindahkan 47 dari 70 anjing miliknya ke tempat lain karena warga keberatan atas keberadaan puluhan anjing di lingkungan mereka.

Lalu, sebagai seorang cynophile, apa salah Hesti sehingga dia dihujat dan diusir masyarakat di tempat tinggalnya di Kecamatan Tenlojaya, Kabupaten Bogor?

Cadar dan Anjing


Hesti seorang muslimah bercadar. Amat jarang muslim yang memelihara anjing, apalagi yang bercadar karena cadar identik dengan ketaatan yang luar biasa terhadap Islam.

Hesti Sutrisno dan anjing-anjing di shelter miliknya di Kabupatan Bogor (muslimahdaily.com)

Sebagai seorang cynophile si pecinta anjing, nampak bahwa cadar yang dipakai Hesti tidak menghalangi kecintaannya memelihata anjing.

Dalam agama Islam, air liur, tinja (kotoran), dan kencing anjing termasuk najis berat atau najis mughalladhah.

Karena Indonesia ikut mahzab Syafi'i, maka seluruh bagian tubuh dari anjing termasuk najis mughalladhah. Pertimbagannya, mulut adalah bagian tubuh paling bersih, jika bagian tubuh paling bersih saja dianggap najis, apalagi bagian yang lain.

Namun, orang Islam dibolehkan memelihara anjing untuk menjaga keamanan rumah atau menjaga ternak, tapi tidak boleh dipelihara di dalam rumah supaya najisnya tidak mengotori rumah yang juga dipakai untuk salat.

Tidak semua orang yang menyukai anjing bisa disebut cynophile, sebab dia harus benar-benar mencintai anjing dan merawatnya setulus hati, bukan sekadar untuk lucu-lucuan.

Asal Kata Cynophile


Phile dalam cynophile artinya adalah ketertarikan yang sangat kuat terhadap suatu hal, dalam hal ini berarti adlah cinta. Phile berasal dari kata phileein yang diambil dari bahasa Yunani kuno yang artinya mencintai, sangat menyukai, atau mengagumi.

Sedangkan cyno berasal dari gabungan bahasa Yunani kuno dari abad ke-4 sebelum masehi, yaitu kunikos dan bahasa Latin cynicus yang berarti anjing.

Kata turunan dari cyno adalah cynegetics yang artinya berburu bersama anjing, cyniatris (dokter hewan spesialis anjing), dan cynanthtopy yang berarti orang yang berdelusi mengganggap dirinya sebagai anjing. 

Bacaan Lain: Istilah Phile yang Disematkan Untuk si Pecinta

Cynophile pertama kali masuk ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1547 dan menjadi banyak kata berbagai kata turunan sampai tahun 1564.

Apa Semua yang Memelihara Anjing Disebut Cynophile?

Tidak. Banyak orang memelihara anjing karena butuh teman, ingin hiburan di rumah, jadi teman main anak-anak, atau karena lucu bisa dibelai-belai. Seorang cynophile turun tangan sendiri merawat dan punya perhatian detail terhadap kebutuhan, kenyamanan, dan kehidupan alamiah si anjing.

Walau punya kecintaan terhadap anjing, seorang cynophile tidak lebay merawat dan memperlakukan anjingnya. Si anjing tidak perlu mereka pakaikan baju, tidur seranjang dengan pemiliknya, atau diberi kalung berlian.

Bolehkah Muslim Menjadi Cynophile?


Boleh, tidak ada larangan dalam menyayangi makhluk hidup ciptaan Allah, tapi perlu diperhatikan najisnya. 

Diceritakan dari nu.or.id, Rasulullah SAW pernah bercerita bahwa ada lelaki yang mengambil air dari sumur untuk diberikan kepada anjing yang sekarat. Atas perbuatan lelaki itu, Rasulullah berkata, “Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga.”

Melalui cerita tersebut, Rasulullah ingin menyadarkan umatnya bahwa status haram dan najis tak otomatis membuat kita membenci, melaknat, dan menghinakan si anjing dan semua makhluk Allah. 

Rasulullah pernah berujar, “Irhamû man fil ardl yarhamkum man fis samâ’ (sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”

Untuk kasus seperti Hesti Sutrisno, MUI juga sudah mengatakan bahwa anjing juga makhluk Allah yang harus disayangi. Keberadaan anjing yang tidak terawat justru akan mengganggu masyarakat.

Namun, kalau kita tidak bisa atau kesulitan menjaga kebersihan dan membersihkan najis anjing sesuai aturan agama, lebih baik memelihara kucing saja.