Anak Diganggu Teman di Kelas dan Cara Orang Tua Bersikap

Anak Diganggu Teman di Kelas dan Cara Orang Tua Bersikap

Anak yang masih duduk di sekolah dasar (SD) dan belum akil-baligh belum bisa berpikir layaknya orang dewasa dan lebih banyak meniru sekitarnya. 

Maka tidak aneh kalau si anak terbiasa melihat kekerasan, perkataan kasar, dan perilaku buruk  lain dari orang tua, keluarga dekat, atau lingkungan tempat tinggalnya, dia akan cenderung melakukan hal serupa.

Pendidikan Pertama Anak di Tangan Keluarga 

 

Sejak lahir, orang yang paling sering dilihat anak adalah orang tua atau keluarga dekat yang mengasuhnya, misal nenek, bibi, kakak, atau pengasuh yang dibayar orang tua.

Perkataan dan perilaku yang dilakukan orang tua atau orang yang mengasuhnya akan ditiru dan diikuti oleh si anak. 

Kenapa pendidikan pertama dan utama anak ada di tangan orang tua, bukan sekolah? 

Karena sebelum masuk sekolah, anak lebih dulu mengenal orang tuanya. Bila kedua orang tuanya bekerja dan tidak bisa menemani anak, mereka tetap bertanggung jawab mendidik dengan cara menggaji pengasuh yang baik perkataan dan perilakunya.

Kalau tidak mampu menggaji pengasuh, orang tua harus memastikan bahwa keluarga yang mengasuh tidak berperilaku buruk yang dapat ditiru anak-anaknya. Pun menjaga agar anak tidak terpengaruh bila para tetangganya ternyata misal, sering berkata kasar, temperamen, merokok, melewatkan waktu salat, atau suka memukul.

Kita sudah mengasuh dan mendidik anak sesuai akhlak agama, tapi ketika masuk sekolah, ternyata ada temannya yang suka mengganggu. Apa yang harus kita lakukan?

Sekali lagi, anak yang belum akil-baligh belum bisa berpikir secara benar layaknya orang dewasa. Apa yang diucapkan dan dilakukannya adalah hasil dari meniru orang-orang disekitar yang sering dilihatnya.

Anak yang sering marah-marah bisa jadi karena melihat ibu atau ayahnya sering meledak-ledak. Pun anak yang sering mencuri uang kemungkinan karena tidak pernah dipenuhi keinginannya dibelikan sesuatu oleh orang tua.

Maka, bila anak memiliki disruptive behavior (perilaku mengganggu) di sekolah, berarti ada yang tidak ideal dari pola asuh yang diterimanya di rumah.

Penyebab Anak Bertingkah di Kelas dan Mengganggu Teman-temannya

 

1. Broken home. Melansir Research Gate, anak yang orang tuanya bercerai cenderung berperilaku agresif karena kehilangan perasaan nyaman dan bahagia akibat orang tuanya tidak lagi bersama.

Dia juga merasa disia-siakan dan tidak diterima oleh ayah dan ibunya, bahkan banyak anak yang merasa bersalah telah menjadi penyebab orang tuanya berpisah, padahal sama sekali bukan salah mereka.

Untuk melampiaskan semua perasaan itu dia jadi agresif dan mengganggu teman-teman di kelasnya supaya segala keresahan di jiwanya hilang.

2. Kurang interaksi dengan orang tua. Orang tua yang utuh bahkan ada di rumah sepanjang waktu juga bisa jadi penyabab anak agresif karena kurangnya waktu bercengkrama dengan orang tua.

Pola pikir orang tua yang menganggap anak harus selalu menurut dan tidak boleh membantah, membuat kemampuan bicara dan mengutarakan perasaan si anak terhambat.

Anak yang tidak dekat dengan orang tua jadi lebih sering meniru lingkungannya. Kalau ada tetangga atau tontonan yang sering memperlihatkan kata-kata kasar dan berperilaku buruk, dia akan mudah mengikutinya karena tidak ada filter yang mestinya diberikan orang tuanya.

3. Ada keinginan yang tidak terpenuhi. Anak yang dijanjikan sesuatu, tapi tidak kunjung dipenuhi juga bisa membuatnya agresif dan mengganggu teman-teman.

Dia merasa dibohongi, tidak dihargai, dan tidak diperhatikan sehingga berbuat ulah dan cari perhatian di kelas.

Maka hindari menjanjikan sesuatu kepada anak kalau kita tahu janji itu tidak bakal bisa dipenuhi. Itu juga melatih kita sebagai orang tua untuk tidak membohongi anak demi membuat dia tidak rewel atau ceriwis.

4. Energi melimpah yang tidak tersalurkan. Energi anak-anak sangat berlimpah dibanding orang tua. 

Itu sebabnya mereka tidak bisa diam dan ingin selalu bergerak. Ada baiknya beri anak kegiatan fisik dan dampingi, misal bermain peran, main sepeda, karambol, atau les keterampilan sesuai minatnya.

5. Berkebutuhan khusus. Anak dengan diagnosa hiperaktif atau berkebutuhan khusus lainnya harus diterapi dan dibimbing secara khusus pula supaya terampil dan tidak mengganggu anak-anak lainnya.

Bila disatukan dengan anak-anak lain, yang berkebutuhan khusus dan yang tidak malah sama-sama tidak optimal pendidikan.

Bila Anak Terluka Karena Diganggu Teman


Terluka disini bisa berarti fisik atau mental. Anak  yang sering diledek, kesehatan mentalnya bisa terganggu. Kemampuan akademiknya juga bisa menurun dan susah untuk menormalkannya kembali.

Sementara itu terluka secara fisik juga bisa menyebabkan anak trauma. Maka yang harus kita lakukan ketika anak terluka karena diganggu temannya di kelas adalah:

1. Beritahu wali kelas lebih dulu

Wali kelas haruslah jadi orang pertama yang kita hubungi kalau ada kejadian tidak enak yang menimpa anak di sekolah.

Kenapa? Karena "tempat kejadian perkara" ada di sekolah. Secara tidak langsung, wali kelas punya tanggung jawab mengawasi anak-anak yang ada di kelasnya, walau tidak setiap waktu.

Sebisa mungkin tahan diri dengan tidak menceritakan kejadian yang menimpa anak ke sesama orang tua sebelum memberitahu wali kelas.

Memberitahu ke sesama orang tua sebelum wali kelas bisa jadi bumerang. Kalau orang tua anak yang mengganggu tahu, mereka secara agresif dapat menyebarkan berita kalau anaknya hanya membela diri karena diganggu lebih dulu.

Padahal anak kita tidak ngapa-ngapain tiba-tiba dipukul, ditendang, atau dijegal.

2. Bangun mental anak

Anak yang terluka atau habis berkelahi dengan temannya tidak perlu dimarahi apalagi dinasehati sampai berbusa. Mental anak malah akan jatuh karena merasa tidak dipercaya orang tuanya.

Cukup beritahu anak kalau dia harus menghindari temannya yang sering mengganggu. Beri alasan kenapa dia harus menghindar, misalnya supaya si teman tahu kita tidak suka diganggu dan tidak mau berteman dengannya.

Beritahu anak kalau menghindar bukan berarti penakut, tapi karena kita tidak suka dengan perilaku buruk si teman. 

Beri perhatian dan kata-kata lembut lebih banyak dari biasanya supaya anak tidak merasa sendirian menghadapi situasi tidak enak yang terjadi padanya di kelas.

3. Hindari melabrak orang tua dari anak yang mengganggu

Baik lewat WhatsApp atau bicara langsung, melabrak orang tua dari anak yang mengganggu sangat tidak disarankan karena akan membuat posisi jadi terbalik. 

Kita bisa jadi pihak yang malah bersalah bila tidak sengaja melempar ancaman, marah-marah, atau menghina si orang tua.

Walau rasanya ingin ngomel, lebih baik kita sama sekali tidak memberitahu orang tua dari anak itu. Biar wali kelas yang memberitahu supaya efektif dan terhindar dari campur tangan orang tua lain yang seringkali malah memperkeruh keadaan.

Wali kelas sudah terdidik secara akademik untuk menghadapi situasi seperti ini, meski sebelumnya belum punya pengalaman serupa.

4. Tahan diri bergosip dengan sesama orang tua

Ini banyak dilakukan ibu-ibu saat ada waktu di sela menjemput anak. Mereka bisa saling ber-ghibah mengenai anak pengganggu tadi, juga bisa membicarakan orang tua anak itu.

Ghibah sangat tidak disarankan karena bisa menjurus kepada fitnah. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan karena dampaknya bisa berlanjut amat lama.

Jadi, tahan diri sekuat mungkin meski kita jengkel ingin menjelekkan anak pengganggu dan orang tuanya. Paling penting dampingi anak kita supaya kalau terjadi sesuatu lagi padanya, anak kita bisa bercerita tanpa rasa ketakutan terhadap si teman pengganggu.

Solusi Mengawasi Anak Bila Kedua Orang Tua Bekerja

Beritahu keluarga yang mengasuh tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak.

Misal, orang yang mengasuh tidak boleh mengucapkan kata-kata negatif seperti sialan, asu, jancuk, bajingan, dan sebagainya. 

Bila perlu percayakan pada pengasuh profesional seperti babysitter atau nanny. Dengan mereka kita bisa menanamkan pola asuh ideal tanpa rasa canggung.

Bila tidak mampu membayar pengasuh, bicarakan kepada kakek-nenek, paman-bibi, atau siapa pun keluarga yang mengasuh anak di rumah supaya pola asuhnya sama dengan kita dan tidak bertolak belakang. 

Orang yang membantu mengasuh juga harus membatasi akses sinetron, YouTube, TikTok, media sosial, game, dan aktivitas internet lain bila anak sedang mengerjakan tugas sekolah.

Upayakan tetap bercengkrama dengan anak bukan cuma urusan PR dan tugas sekolah. Tentang kesukaannya, film terbaru, atau apa yang sedang disukai teman-temannya.

Mengasuh itu anak itu mudah, asal ada kemauan karena niat saja tidak cukup.

Dekorasi Kelas, Menyemangati atau Mengganggu Konsentrasi?

Dekorasi Kelas, Menyemangati atau Mengganggu Konsentrasi?

Sudah jamak kelas-kelas sekarang punya dekorasi yang wow dibanding zaman orde baru yang warna catnya cuma putih atau krem.

Dekorasi yang ada di kelas juga cuma foto Presiden Soeharto beserta wakilnya, dan nama-nama menteri disertai lambang Garuda Pancasila.

Dekorasi kelas berfungsi untuk menciptakan lingkungan yang nyaman supaya anak semangat belajar sekaligus menstimulasi kreativitasnya.

Itu sebab, dekorasi kelas dibuat semenarik mungkin, terutama di TK untuk mengenalkan aneka warna dan bentuk.

However, seperti apa dekorasi yang efektif membuat anak nyaman dan mendorong semangat belajar dan kreativitasnya? Apakah dekorasi yang ramai, megah, dan penuh warna?

Pengaruh Dekorasi Kelas

 

Riset yang dilakukan Carnegie Mellon University yang dimuat pada jurnal psikologi pada 2014, menemukan bahwa kelas yang didekorasi berlebihan dan tidak sesuai kebutuhan ternyata mengganggu konsentrasi belajar.

Anak-anak juga sering kehilangan perhatian pada guru ketika pembelajaran sedang berlangsung. Motivasi belajar juga menurun dan lebih kecil daripada mereka yang belajar di ruang kelas yang dekorasinya lebih sederhana. 

Contoh kelas dengan dekorasi angkasa luar yang berlebihan (foto: Mazaliee)

Anak-anak yang belajar di kelas dengan dekorasi berlebihan juga cenderung lebih sering mengobrol dengan teman dan melakukan aktivitas selain pembelajaran (off-task behavior).

Meski begitu, pada anak yang lebih besar, kelas 6 keatas, dekorasi yang berlebihan tidak terlalu menganggu karena mereka lebih butuh kondisi yang sepi dan tenang untuk menjaga fokus.

Dekorasi Kelas dan Kurikulum 2013

 

Sebenarnya Kemdikbudristek sudah mengarahkan sekolah-sekolah untuk menggunakan Kurikulum Merdeka. Namun, untuk jenjang SD, baru kelas 1 dan 4 saja yang menggunakannya. Kelas lain masih memakai Kurikulum 2013 atau K13.

Bacaan Lain: Fakta Sekolah Gratis, Makin Banyak Fasilitas dan Prestasi Makin Tidak Bisa Gratis

Di buku Tema K13 ada pelajaran tentang Tema. Tapi, apakah ruang kelas lantas harus di cat gambar dinosaurus aneka jenis hanya karena guru menginginkan dekorasi kelas bertema lingkungan?

Lucunya, gambar aneka jenis dinosaurus itu dilukis tepat di samping papan tulis.

Lalu, pada kelas bertema sains, tembok dan langit-langit kelas dicat gambar ruang angkasa lengkap dengan astronot dan planet-planetnya.

Apakah harus seheboh itu mendekorasi kelas?

Efek Kurikulum yang DIterapkan Salah Kaprah


Pada K13 tidak disebutkan secara eksplisit soal peran orang tua dalam pendidikan anak-anaknya di sekolah. Hanya disebutkan bahwa orang tua terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka dan dapat memberi masukan kepada guru.

Terlibat dalam pendidikan maksudnya yaitu, pendidikan anak di luar sekolah jadi tanggung jawab orang tua. Tidak seperti zaman rikiplik di mana pembentukan akhlak, karakter, dan mental diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Orang tua tinggal bayar SPP dan terima beres.

Didalam K13, keterlibatan orang tua terhadap pendidikan dan sekolah difasilitasi dalam bentuk paguyuban kelas. Pengurus paguyuban dipilih oleh orang tua dan wali peserta didik kelas yang bersangkutan.

Apa yang menjadi aspirasi orang tua terhadap sekolah dapat disalurkan lewat paguyuban.

Namun, yang terjadi, kurikulum yang mendorong keterlibatan orang tua itu justru dimanfaatkan untuk kepentigan dan keegoisan si orang tua. 

Misalnya, menentukan tempat karyawisata yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran atau mengutip banyak iuran kepada orang tua untuk membuat kaus kelas. 

Bacaan Lain: Biaya Sekolah vs Jalan-jalan

Mendekorasi kelas secara berlebihan juga termasuk bentuk keegoisan orang tua yang mengatasnamakan anak.

Lagipula, anak kecil usia TK dan SD belum mengerti dekorasi apa yang mereka butuhkan di kelas. Mereka cuma ingin belajar bersama bapak-ibu guru dan bermain dengan teman-teman.

Maka idealnya kita lebih memprioritaskan kebutuhan belajar anak daripada dekorasi kelas.

Biaya Sekolah Vs Jalan-jalan

Biaya Sekolah Vs Jalan-jalan

Tidak ada sekolah yang gratis. Bukan salah pemerintah karena peserta didik di sekolah negeri sudah tidak dipungut SPP (sumbangan pembiayaan pendidikan) seperti halnya sekolah swasta.

Sekolah swasta, bahkan madrasah swasta pun sekarang sudah dapat bantuan operasional sekolah bernama BOS Afirmasi yang diambil dari amanat UU sebesar 20 persen dari APBN.
 

However, dana BOS sering tidak cukup bagi sekolah unggulan dan sekolah penggerak. Mereka kesulitan memenuhi seluruh kebutuhannya hanya dengan mengandalkan BOS. Makanya mereka minta dana kepada komite sekolah untuk membayar pelatih ekstrakurikuler, pengadaan komputer, atau merenovasi toilet.
 
Nanti, komite sekolah yang akan memungut sumbangan dari wali peserta didik. Soal sumbangan ini yang sering tidak dimengerti orang tua dan wali. 

Mereka menganggap sekolah negeri sudah dibiayai pemerintah jadi orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun.
 
Maka ketika komite minta sumbangan untuk keperluan sekolah yang tidak cukup dibiayai dari BOS, para orang tua ini keberatan.

Mereka beralasan sudah mengeluarkan banyak uang untuk buku teks, buku tulis, alat tulis, seragam, sepatu dan kaus kakinya, juga untuk jajan anak.


Buku Sekolah Versus Jalan-jalan

 
Sering saya melihat orang tua yang paling getol mengajak orang lain untuk kongkow-kongkow, jalan-jalan, dan makan-makan adalah juga orang pertama yang menolak sumbangan yang diminta komite sekolah.

Bukan cuma sumbangan komite, buku teks yang diminta wali kelas pun bisa ditolak mentah-mentah dengan alasan mahal. Padahal, itu bukan buku ajaran terlarang, melainkan buku pengetahuan yang kalau dibaca dapat membuat anak jadi pintar.

Karena banyak protes dari orang tua, akhirnya tidak semua kelas memakai buku teks pendamping buku Tematik. Kelas yang sudah sepakat soal buku pendamping pun dipangkas jadi 2-3 mata pelajaran saja.

Soal buku Modul/LKS saja masih banyak orang tua keberatan membelinya. Padahal, Modul dan LKS itu tidak mahal karena tipis sekali. Fungsinya juga cuma latihan soal untuk mengasah sejauh mana para siswa menyerap materi dari buku Tema.
 

Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka

 
Buku Tema dan Modul atau LKS adalah produk dari Kurikulum 2013 (K13). Sebanyak 2500 sekolah di Indonesia sudah diarahkan untuk menggunakan Kurikulum Merdeka di kelas 1 dan 4.

Kelas lain masih menggunakan K13 yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Artinya, jika sekolah itu perlu buku pendamping, terutama sekolah unggulan yang juga sekolah penggerak, maka sebenarnya orang tua tidak boleh menolak jika diminta membeli buku pendamping.
 
Pada K13, keterlibatan orang tua tidak secara eksplisit diatur dalam peraturan menteri, tapi berupa peran dalam mendukung pendidikan anak di sekolah dan luar sekolah, termasuk menyediakan bila guru membutuhkan LKS/Modul atau buku pendamping yang diperlukan. 

Fasilitas Sekolah


Padahal sekolah unggulan dan sekolah penggerak harus punya faslitas (mendekati) lengkap karena mereka "dituntut" oleh pemda dan masyarakat untuk selalu berprestasi. Bagaimana menciptakan peserta didik yang berprestasi kalau sekolahnya tidak punya fasilitas?
 
Pada pelajaran seni musik, misalnya, semua peserta didik akan mengenal alat musik gitar, keyboard, angklung, gendang sampai kolintang yang ada di sekolahnya. Siswa cuma bisa membayangkan melihat dan memainkan, tanpa menyentuh, kalau sekolahnya tidak punya fasilitas alat musik.
 
Orang tua yang anaknya tidak masuk 10 besar peringkat akademik kelas atau tidak pernah menang lomba apapun pasti bangga juga kalau orang mengenal anaknya sebagai siswa di sekolah (yang sudah dikenal) unggulan.
 

Pendidikan dan Investasi Masa Depan Anak

 
Sekolah adalah salah satu bentuk investasi yang kita berikan untuk anak. Kelak, jika anak berhasil menyerap banyak pendidikan di sekolah, dia akan jadi orang yang mudah diterima kerja, bahkan di bidang yang tidak sesuai latar pendidikannya. 
 
Pun, dia punya bekal akademik yang baik jika ingin berwirausaha. Bukan cuma modal uang, modal nama besar orang tua, apalagi modal dengkul.
 
Lalu, saat jeda semester pasca penilaian tengah dan akhir semester, klub orang tua yang gemar jalan-jalan, tapi menolak bayar sumbangan komite itu kembali mengajak orang tua di kelas anaknya untuk hura-hura, haha-hihi di tempat liburan. 

Disamping orang tua yang seperti itu, saya juga beberapa kali bertemu orang tua kalangan ekonomi pas-pasan yang demi apapun kebutuhan sekolah anaknya, dia rela tidak beli beras. Buat mereka yang penting semua buku anaknya terbeli, makan urusan nomor dua.
 
Untuk orang tua yang menomorsatukan pendidikan anak, saya angkat topi dan berdoa semoga Anda dilancarkan rejeki, panjang umur, dan sehat selalu. Aamiin!


Fakta Sekolah Gratis, Makin Banyak Fasilitas dan Prestasi Makin Sekolahnya Susah Gratis

Fakta Sekolah Gratis, Makin Banyak Fasilitas dan Prestasi Makin Sekolahnya Susah Gratis

Spanduk bertuliskan Sekolah Gratis banyak kita temui ditempel di pagar sekolah-sekolah negeri dengan harapan menarik minat orang tua menyekolahkan anak mereka di sekolah itu tanpa terbebani biaya pembelajaran. 

However, spanduk seperti itu tidak bakalan kita temukan di sekolah berakreditasi A, apalagi yang berstatus sekolah model dan sekolah unggulan. Selain itu ada yang namanya Sekolah Penggerak.

Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi literasi, numerasi, dan karater, diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru).

Walau Mas Menteri Nadiem telah mengatakan bahwa Sekolah Penggerak bukanlah sekolah unggulan, tapi telanjur ada persepsi sejak lama bahwa sekolah unggulan otomatis jadi Sekolah Penggerak. Itu terjadi karena sekolah unggul mutunya dianggap bagus karena peserta didik yang masuk kesana bagus-bagus (intelejensi, hasil tes masuk, dan kantong tebal orang tua).

Standar Nasional Pendidikan (SNP)


Adanya SNP secara otomatis melebur sekolah model, sekolah inti, dan sekolah unggulan, faktanya masih ada sekolah model, sekolah unggulan, dan sekolah penggerak.

Sebutan sekolah model, menurut definisi Kemdikbud, adalah sekolah yang dijadikan sebagai sekolah percontohan bagi sekolah lain yang akan menerapkan penjaminan mtu pendidikan secara mandiri.

Sekolah model punya tanggung jawab untuk mengimbaskan praktik penerapan mutu pendidikan kepada lima sekolah di sekitarnya. 

Karena harus jadi sekolah yang dicontoh dan harus mengimbas, maka sekolah model yang juga adalah sekolah unggulan harus punya fasilitas penunjang selain kegiatan belajar-mengajar rutin di sekolah.

Satu sekolah disebut telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan bila berhasil mencapai delapan standar, yaitu standar kelulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, standari pendidikan dan ketenagapendidikan, standar pembiayaan, standar pengelolaan, dan standar sarana dan prasarana.

Apa itu standar sarana dan prasarana?

Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007, standar sarana dan prasarana mengatur jumlah rombongan belajar dalam satu kelas, keselamatan bangunan termasuk penerangan dan tingkat kebisingan. 

Peraturan Menteri itu juga mengatur tentang prasarana yang harus dimiliki oleh sekolah, yaitu ruang kelas, UKS, perpustakaan, toilet, laboratorium, gudang, ruang pimpinan, tempat bermain, dan tempat beribadah atau berolahraga.

Anak kami (saya dan suami) bersekolah di SD Negeri malahan punya studio IT mini. Sebabnya karena makin banyak lomba dalam bentuk digital, seperti mading digital, vlog, pekan TIK, dan aneka lomba yang diadakan secara virtual sejak pandemi Covid-19 merebak.

Orang tua/wali diminta sumbangan sukarelanya untuk membuat studio IT itu. Selain studio, sekolah anak-anak kami juga membangun kamar untuk penjaga sekolah, toilet untuk siswa putra, dan ruang musik dan karawitan.

Kenapa sampai perlu ruang musik dan karawitan? 

Lagi-lagi karena sebagai sekolah model, sekolah penggerak, dan sekolah unggulan (walau sejak sistem zonasi diberlakukan tidak ada lagi istilah sekolah unggulan), sekolah anak-anak kami selalu diundang dan diminta untuk mengikuti macam-macam lomba, termasuk lomba yang sering diadakan yayasan-yayasan swasta.

Dari mana sekolah negeri bisa memenuhi semua itu kalau dana BOS cuma cukup untuk membayar guru honorer, karyawan tata usaha, dan operasional sekolah? Dari sekolah gratis?

Dana BOS dan Sumbangan Wali Siswa melalui Komite Sekolah


Semua hal diatas tidak dicukupi hanya dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dikucurkan pemerintah. Maka sekolah minta kepada komite supaya menghimpun dana dari orang tua/wali siswa agar fasilitas sekolah terpenuhi.

Andaipun dana BOS cukup, bila komputer, laptop, overhead projector, dan segala alat-alat penunjang pembelajaran dibeli dari dana BOS, maka alat itu harus dikembalikan ke dinas pendidikan setempat bila nilai asetnya menyusut atau tidak digunakan dalam tahun ajaran berjalan. 

Akibatnya sekolah harus beli lagi alat-alat itu bila sewaktu-waktu memerlukannya. Malah jadi pemborosan anggaran.

Lain halnya bila dibeli dari uang komite alias uang orang tua/wali siswa, maka alat-alat tersebut sepenuhnya jadi milik sekolah dan sekolah tidak perlu melaporkan penggunaannya ke dalam laporan BOS. 

Menurut Kemdikbud yang dilansir beritasatu.com, komite sekolah tidak boleh memungut uang dari orang tua/wali, tapi boleh menerima sumbangan dalam bentuk penggalangan dana sukarela.

Pada sekolah unggulan karena inputnya dianggap unggul, maka komite sekolah biasanya tidak kesulitan menghimpun dana untuk memenuhi fasilitas sekolah, termasuk membayar honor pelatih ekstrakurikuler.

Sekolah Gratis

Jadi, apa maksudnya spanduk sekolah gratis yang dipasang di pagar sekolah negeri? 

Yang gratis adalah biaya iuran pendidikannya. Dulu disebut sebagai SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan). Sekarang sekolah dilarang memungut uang dari orang tua/wali untuk alasan apa pun karena kebutuhan operasional sekolah dianggap sudah cukup dipenuhi lewat dana BOS.

Faktanya, bagi banyak sekolah, dana BOS tidak pernah cukup. Sebagian karena harus membayar upah para guru honorer, tenaga tata usaha, dan penjaga sekolah, sebagian untuk bayar listrik dan internet, dan sisanya untuk pengadaan buku-buku perpustakaan.

Maka itu, sekolah dibolehkan bekerjasama dengan komite sekolah. Nanti komite sekolah akan meninjau urgensitas fasilitas yang diminta sekolah. 

Jika komite menolak, sekolah boleh mengajukan lagi ke komite di tahun ajaran berikutnya. Bila komite setuju, komite akan menghimpun dana dari orang tua/wali siswa untuk pengadaaan fasilitas yang diminta sekolah.

Di tingkat kelas, kebutuhan dana itu dipenuhi oleh paguyuban. Paguyuban menghimpun dana untuk membeli modul (dulu namanya LKS-Lembar Kerja Siswa), perlengkapan kelas seperti spidol, penghapus whiteboard, kemoceng, sapu, dan lainnya, juga bahan-bahan prakarya untuk mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya.

Orang tua/wali akan membayar iuran paguyuban yang besarnya sesuai kesepakatan bersama. Uang hasil iuran paguyuban juga bisa digunakan untuk keperluan non-sekolah, misal uang duka keluarga siswa, sumbangan bagi orang tua atau anak yang sakit, dan apa saja sesuai kesepakatan orang tua/wali.

Sekolah gratis sudah terwujud dan sudah terbukti membantu banyak anak mendapat pendidikan yang layak. Namun, sekolah yang benar-benar gratis tanpa orang tua/wali keluar duit sepeserpun hanya bisa terjadi di sekolah negeri yang hanya punya 1-2 kegiatan ekstrakurikuler (ekskul), cuma punya perpustakaan alakadar, dan hampir tidak pernah ikut lomba antarsekolah.

Mengharmoniskan Suami-Istri yang Beda Karakter dan Pola Pikir

Mengharmoniskan Suami-Istri yang Beda Karakter dan Pola Pikir

Pernikahan adalah komitmen seumur hidup yang harus dilakukan tiap hari selama kita ingin pernikahan itu langgeng.

Salah satu bentuk komitmen itu adalah keinginan untuk memberi dan terus memberi buat pasangan, bukan menerima.

Memberi kasih sayang, memberi kesabaran, dan tidak memberi pelampiasan atas kekecewaan dan kemarahan yang kita alami. Bila pasangan saling melakukan hal itu, maka pernikahan yang bahagia bukan cuma dongeng Cinderella semata.

Adakalanya kita heran, kenapa karakter kita beda sekali dengan suami (atau istri). 

Aku sangat pandai mengatur keuangan, istriku boros. Aku sabar menghadapi kenakalan anak-anak, suamiku temperamen. Aku senang bergaul, istriku pendiam. Dan banyak lagi karakter yang bertolakbelakang antara suami dan istri.

(theparentalcontrol.com)

Melansir Healthline, ternyata punya pasangan beda karakter ada manfaatnya.

Apa saja manfaat punya pasangan beda karakter?


1. Keseimbangan. Lelaki yang penyabar biasanya dapat istri yang grasak-grusuk. Istri yang pandai menabung biasanya malah dapat suami yang boros?

Apakah itu kutukan? Bukan, itu keseimbangan. 

Punya pasangan yang sama-sama sabar, cerdas intelektualnya, pandai mengatur keuangan, dan telaten mengasuh anak memang sempurna, tapi dunia ini tidak mengajarkan kesempurnaan, melainkan keseimbangan.

Pasangan beda karakter akan menyeimbangkan hidup kita juga.

2. Kesempatan untuk saling mengisi. Suami sangat kuat logikanya, sedangkan istri lebih mengutamakan intuisi, lantas apa keduanya bakal ribut terus?

Keduanya akan saling mengisi. Mengambil keputusan untuk keluarga sama-sama perlu logika dan intuisi supaya keputusan yang diambil adalah yang terbaik.

3. Dinamika hubungan yang seru. Punya karakter dan pola pikir yang sama dengan pasangan justru akan membuat hubungan jadi monoton.

Hidup terasa datar karena apapun yang kita lakukan, pasangan pasti setuju. Hidup rasanya kurang menantang.

Sesekali suami-istri perlu berselisih, perlu saling tidak setuju, lalu baikan kembali, bercanda lagi. Hubungan yang sehat bukan yang teratur dan tertata seperti robot.

4. Sudut pandang jadi makin luas. Punya suami dari desa sedangkan kita lahir dan besar di kota? Pasti banyak sudut pandang kita yang beda dengannya. 

However, perbedaan sudut pandang itu justru membuat suami dan istri saling berbagi pola pikir dan membuat wawasan keduanya jadi makin luas.

Suami dan istri jadi makin terbuka dan mengerti bahwa tidak semua perkara dilihat dan diselesaikan dari sudut pandangnya saja.

5. Belajar berkompromi dan berkomunikasi. Secara tidak langsung, punya pasangan beda karakter akan membuat kita terlatih untuk mengompromikan sesuatu kepada pasangan supaya ada titik temu antara pemikirannya dengan pemikiran kita.

Secara tidak langsung juga melatih cara kita berkomunikasi supaya saat kompromi kita dan pasangan tidak saling tersinggung.

***

Perbedaan pola pikir dan karakter biasanya sudah bisa kita deteksi sebelum menikah. Ketika memutuskan berumahtangga, laki-laki dan perempuan sudah tidak lagi memandang segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya saja. Itulah komitmen.

Komitmen

Komitmen pertama terjadi saat pasangan mengurus dokumen negara lalu melakukan akad nikah dengan syarat-syarat sah sesuai agama masing-masing.

Komitmen selanjutnya adalah soal anak. Pengasuhan anak. Pasangan kerap beda pendapat kemudian berselisih di depan anak.

Menurut The Asian Parent, berselisih dan bertengkar di dekat anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang dan kesehatan mentalnya di masa depan.

Pengasuhan Anak

Satu hal lagi yang jadi indikator kebahagiaan adalah soal pengasuhan anak.

Pada dasarnya suami-istri sudah punya kesamaan visi dalam mengasuh anak. Kalau tidak, mereka tidak akan setuju menikah. 

Orang tua yang hedon dan agnostik akan mengasuh anak berdasarkan keduniawian. Sebaliknya, orang tua yang agamis akan mengasuh anak mereka sesuai agama yang diikutinya.

Maka, kesamaan visi sekecil apapun dengan pasangan soal pengasuhan anak jangan ditutup oleh perbedaan visi terhadap hal lain.

Pun biarkan ayah punya porsinya dalam pengasuhan anak. Seorang ayah biasanya sosok yang ideal bagi anak untuk bermain, menyalurkan hobi, dan bersenang-senang.

Walau ayah kelihatan dekat dengan anak, menurut Fatherly.com, dia selalu lebih punya kedekatan batin dengan ibunya.

Salah satu yang termasuk pengasuhan yang ideal adalah orangtua menghindari menasehati anak bersama-sama. Bila ibu sudah bicara, maka ayah tidak perlu bicara lagi. Pun sebaliknya. Bicara dan menasehati anak bersamaan akan membuatnya tertekan.

Libatkan anak

Biasanya seorang ibu ingin anaknya multi-skills dan multi-talent dengan mengikutkannya ke beragam les dari piano, bahasa, hingga sains.

Sementara ayah ingin anak menikmati masa kecilnya dengan bermain. Setelah melewati masa kecil yang bahagia dengan banyak bermain, barulah anak bisa ikut les dan macam-macam kursus.

Bagaimana menyatukan dua pemikiran itu? Libatkan anak. Beri pandangan singkat kepadanya apa yang diinginkan ayah dan ibu terhadapnya. Setelah si anak tahu yang diinginkan ayah-ibunya lalu tanyakan keinginannya.

Bila anak mau ikut beragam les, maka ikutkan dia. Bila anak tidak mau karena masih ingin banyak main, kita hormati keinginannya.

Beritahu konsekuensinya kepada anak bila dia mengikuti banyak les. Pun beritahu konsekuensinya kalau dia menghabiskan waktu hanya dengan bermain. 

Dan jika anak ingin mengikuti 1-2 les saja dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan ayah-ibunya, maka itulah yang terbaik baginya.

Orang tua juga harus melibatkan anak dalam menentukan prioritas. Apakah ingin sekolah dinomorsatukan, apakah bakat yang dinomorsatukan, atau pergaulan yang dinomorsatukan.

Menentukan prioritas juga melatih dan mengajarkan anak untuk bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.

Pun libatkan anak pada apapun yang berhubungan dengannya, misal pemilihan baju, sepatu, kursus, kegiatan, sekolah, dan lainnya.

Anak zaman sekarang beda dengan zaman dulu. Anak sekarang sudah punya pemikiran sendiri yang dia dapat dari memperhatikan dan mengamati lingkungannya.

Bila dia dipaksa melakukan sesuatu diluar kehendaknya, mentalnya akan jatuh lebih dalam dan merusak daripada anak era 90-an. Itulah alasan memaksakan kehendak kepada anak sudah bukan zamannya lagi.

Langkah bila suami-istri sering bertengkar karena beda pemikiran

Lagi-lagi butuh komitmen dari suami dan istri bagaimana mereka memandang pernikahan. Bila salah satunya sudah tidak ingin berkomitmen, maka perlu bantuan orang ketiga sebagai mediator.

Kalau keduanya masih ingin mempertahankan pernikahan dan pertengkaran terjadi karena keuangan, bicarakan berdua. Cari solusinya bersama-sama dan hindari saling menyalahkan.

Misal taksepakat soal pengasuhan anak, contohnya ayah membolehkan anak makan coklat dan permen, sedangkan ibu melarangnya, cari kesepakatan yang tidak merugikan anak.

Semua bisa dibicarakan dengan mengungkap alasan kenapa kita tidak setuju dengan pasangan. Carilah kesepakatan tanpa aksi ngambek dan marah-marah. 

***

Salah satu sebab pasangan di Indonesia mudah cerai adalah kurangnya komunikasi (deep level of communication) karena merasa diri paling benar, tidak terbiasa berdiskusi, dan malu jika pasangan punya persepsi jelek terhadapnya.

By always remember that communication is key, we can communicate what make us uncomfortable to our spouse.

Adopsi dari Panti Asuhan Lebih Baik Dari Adopsi Anak yang Punya Orang tua Kandung

Adopsi dari Panti Asuhan Lebih Baik Dari Adopsi Anak yang Punya Orang tua Kandung

Sudah jamak di negara kita pasangan suami-istri yang mengalami infertilitas "mengambil" anak dari kerabat untuk dijadikan anak adopsi. Ada juga yang mengadopsi dengan maksud "mancing anak" dengan harapan setelah mengasuh anak angkat mereka dikaruniai anak kandung.

Mengapa mengangkat anak dari kerabat sendiri dan bukan dari panti asuhan? Keengganan mereka karena kuatir anak dari panti asuhan punya asal-usul buruk. Misal, ibu si anak diperkosa oleh perampok. Anak dikhawatirkan akan punya sifat buruk seperti ayah kandungnya

Kekuatiran lain adalah soal penyakit genetik. Bila orang tua si anak punya penyakit genetik, maka si anak akan berisiko mengidap penyakit yang sama.

Maka itu pasangan infertil memilih mengangkat anak dari lingkaran keluarga alih-alih mengadopsinya dari panti asuhan.

Lalu, bagaimana dari sisi suami-istri yang anaknya "diambil" jadi anak angkat oleh kerabatnya? Apa mereka bersedia dengan kerelaan? Atau bersedia karena tuntutan keluarga besar?

Dipaksa menyerahkan bayinya

Banyak suami-istri yang diminta menyerahkan bayinya demi kerabat lain yang tidak punya anak, padahal mereka tidak ingin anaknya diadopsi siapa pun.

Saya sendiri pernah melihat bagaimana keluarga besar memaksa paman dan bibi untuk mengambil anak sepupu saya yang baru lahir. Waktu itu mereka sudah 10 tahun menikah dan belum punya anak.

Beruntung si paman dan istrinya menolak karena tidak tega si bayi pisah dari ibunya.
Alasan paman waktu itu adalah si bayi masih butuh ASI. ASI tidak bisa digantikan oleh apapun. Maka selamatlah sepupu saya dari gempuran keluarga besar yang minta dia merelakan anaknya diasuh si paman.

Lima tahun kemudian istri paman meninggal karena kanker payudara. Untung saja mereka tidak jadi mengadopsi anak dari mana pun. Bila mereka jadi mengadopsi, lantas siapa yang mengasuh anak itu sepeninggal si istri. Pekerjaan paman mengharuskannya untuk keluar kota.

Bagaimana bila orang tua si bayi kuasa menolak bila dia dapat gempuran keluarga besar, seperti, "Kamu lagi susah keuangan, lebih baik anakmu diasuh si Fulan biar masa depannya baik. Toh, Fulan masih keluarga kita, kamu bisa nengok anakmu kapan saja."

Bayangkan kalau ada tiga saja anggota keluarga yang terus-menerus mendesak seperti itu, apakah si orang tua tidak terpojok lalu terpaksa menyerahkan anaknya?

Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, kecuali dia kesetanan. 

Orang tua yang kesetanan bisa dihitung dengan jari, dan orang tua yang dipaksa untuk menyerahkan bayinya kepada saudaranya, bukan karena keinginan dia, bukanlah orang tua yang kesetanan.

Terpaksa menyerahkan bayinya

Ada orang tua yang terpaksa menyerahkan bayinya untuk diadopsi karena si perempuan hamil di luar nikah dan belum ingin menikah karena dia dan ayah kandung si bayi ingin melanjutkan sekolah. 

Bayi yang lahir di luar pernikahan itu lantas diserahkan ke kerabat yang ingin mengadopsi atau ke panti asuhan.

Pun ada wanita yang suaminya sudah meninggal dan dia kesulitan membiayai anak-anaknya. Si anak lantas diserahkan ke panti asuhan atau orang lain yang ingin mengadopsinya.

Dalam kondisi yang demikian, orang tua si bayi secara sadar dan tidak dipaksa, punya kerelaan menyerahkan bayinya karena pertimbangan mereka sendiri.

Suami-istri yang ingin mengadopsi anak tidak boleh memaksa orang tua lain untuk menyerahkan bayi mereka agar diadopsi. 

Pada Pasal 12 dan Pasal 13 PP No. 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, disebutkan bahwa syarat anak yang akan diangkat, meliputi:
a. Belum berusia 18 tahun
b. Merupakan anak terlantar atau ditelantarkan
c. Berada dalam asuhan keluarga atau dalam lembaga pengasuhan anak, dan
d. Memerlukan perlindungan khusus

Maka jika keluarga besar atau seseorang memaksa orang lain untuk menyerahkan anak kandungnya padahal si anak tidak terlantar dan tidak perlu perlindungan khusus, maka mereka melanggar hukum.

Pada syariat Islam, anak angkat tidak lantas menjadi anak kandung. Bila anak adopsi tersebut laki-laki, maka si ibu tidak menjadi mahram si anak. Pun jika yang diadopsi anak perempuan, maka anak perempuan itu tidak menjadi mahram bagi si ayah. 
Ilustrasi anak adopsi (emperbaca.com diolah dari Wepik)

Artinya, aurat ibu tidak boleh terlihat oleh anak laki-laki angkatnya ketika anak itu dewasa. Juga aurat anak perempuan tidak boleh terlihat oleh ayah angkatnya ketika anak perempuan itu dewasa.

Jika mengikuti hukum Islam, anak angkat juga tidak mendapat hak waris sebagaimana anak kandung.

Bila ngebet mengadopsi anak


1. Mengadopsi anak dari panti asuhan lebih baik daripada kita mengambil anak dari keluarga sendiri. Bila nekat, Anda telah melakukan kejahatan psikologis dengan memisahkan anak dari orang tua dan saudara kandungnya, bila dia punya saudara kandung.

Bila si anak dewasa dan tahu dia adalah anak angkat yang masih punya orang tua kandung, dia akan marah pada orang tua kandungnya karena menganggap dia ditelantarkan. Padahal kitalah yang memisahkan dia dari orang tuanya. 

2. Bila ingin mengadopsi anak dari panti asuhan atau anak yatim-piatu dan dia punya saudara kandung, adopsi semua saudara kandungnya, jangan hanya dia seorang. 

Memisahkan anak dari saudara kandungnya termasuk kejahatan juga karena anak akan mengalami trauma sampai dewasa. Si anak akan terus memikirkan saudara kandungnya dengan berharap mereka bisa kumpul lagi.

Daripada Anda membuat kejahatan seperti itu, maka adopsi semua bersaudara, tidak hanya satu anak saja.

3. Coba lebih dulu program bayi tabung. 
Kalau Anda punya banyak uang, coba lebih dulu program in vitro fertilization alias bayi tabung. 

Biaya bayi tabung memang tidak murah dan ada risiko gagal, tapi bila gagal kita bisa mencobanya sekali lagi. Bila gagal lagi, barulah pertimbangkan punya anak adopsi dengan cara yang baik.

4. Jadi orang tua asuh
Islam lebih mengutamakan anak asuh dan orang tua asuh daripada adopsi, sebab adopsi dikhawatirkan akan mengacaukan nasab dan mencampuradukkan hak serta kewajiban antara anak kandung dan anak adopsi.

Anak miskin atau anak yatim-piatu yang punya orang tua asuh tetap tinggal bersama keluarganya, tapi semua biaya pendidikannya ditanggung orang tua asuhnya. Dengan begitu dia tidak terpisah dari keluarga kandungnya, tapi tetap punya kehidupan yang layak karena dibiayai orang tua asuh.

Anak juga bakal punya kesehatan mental yang lebih baik karena diberikan banyak kasih sayang, dari keluarga kandungnya dan dari orang tua asuhnya.

***
Punya anak adalah komitmen seumur hidup karena anak bukan tanaman yang diberi makan-minum lalu tumbuh subur dengan sendirinya. Rohaninya harus dipupuk sama baiknya dengan jasmaninya.

Bila suami-istri belum dikaruniai anak, lebih baik perkuat komunikasi, kepercayaan, dan kemesraan. Jangan poligami istri karena dia mandul, pun jangan minta cerai kalau suami mandul. Kebahagiaan bisa kita ciptakan sendiri, dengan atau tanpa anak.

1st Grade Moms Always Eager to Show Their "Self-Esteem"

1st Grade Moms Always Eager to Show Their "Self-Esteem"

As per my experiences facing lots of young mommies whose their kids are in first grade of school, I met my disclosure that they are very eager to show that they want to do anything to support their children at school. In some unusual way. Some want to compete each other, some are eager to make friends, and some are just do not care about other as long as they are having some fun.

Para emak yang anaknya baru masuk kelas satu SD cenderung bersemangat dalam hal mempersatukan kekompakan kelas, Kadang mereka memaksakan sarapan bareng antar-emak seminggu sekali. Kadang makan siang barena sepulang anak mereka sekolah. Kadang sepedaan bareng tiap Minggu. Kadang curhat bareng di depan gerbang sekolah diatas motor matic mereka,  

Soal curhat ini saya dua kali membuat blunder. Karena saya pikir si emak ini orangnya asyik dan bisa dipercaya, maka saya katakan padanya bahwa saya bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu sarapan, makan siang, dan sepedaan bareng emak-emak lain. Esoknya, tanpa mencermati alasan saya untuk tidak melakukan hal tersebut, si emak menyebarkan berita bahwa saya tidak suka gaul dengan emak-emak lain, Emak lain lalu menganggap saya sombong, belagu, dan lain-lainnya.

Alasan yang sebenarnya karena saya tidak bisa mengendarai motor. Sungguh merepotkan datang ke tempat yang tidak punya parkiran mobil hanya untuk sarapan dan makan siang tanpa makna hanya sekedar haha-hihi. Itu sih sudah sering saya lakukan zaman kuliah dan waktu kerja kantoran.

Tidak bisa mengendarai motor ternyata aib besar! Kenapa, sih, tidak belajar motoran aja? Manja banget apa-apa diantar suami. Jadi istri itu harus mandiri apa-apa sendiri termasuk naik motor sendiri.

Well, if I can drive why should I ride?

Jujur, di usia kepala 4 seperti saya ini, manghabiskan waktu hanya untuk bergaul dengan emak-emak lain sudah bukan main goal dalam hidup. Teman pun sudah pilih-pilih yang seirama dan sepemikiran, tidak lagi banyak-banyakin teman biar dibilang populer, 

Ilustrasi: Freepik

Meanwhile, sebagian besar emak-emak itu hanya kuliah sebentar lalu menikah. Banyak yang tidak merasakan dunia kerja apalagi hangout bareng kolega. Beberapa emak yang saya kenal baru berusia 28-29 tahun saat anak mereka masuk kelas 1 SD. Itu berarti mereka menikah di usia 21 tahun.

Jadi, dunia sekolah berarti juga dunia pergaulan bagi para emak ini. Disinilah mereka bisa mengekspresikan diri, melakukan apapun atas nama anak dan sekolah, dan mencari sahabat baru. Bagus juga, tapi saya melihat lama-lama mereka jadi berlebihan dalam mencari self-esteem ini. Mereka yang merasa punya kuasa karena dekat dengan wali kelas (dan kepala sekolah) lantas menggunakan kekuasaannya untuk mengubah kebijakan wali kelas dengan mengatasnamakan wali siswa yang lain.

However, semangat emak-emak ini kelak menurun ketika anak mereka di kelas 3 atau 4 seiring dengan pelajaran sekolah yang makin susah dan kegiatan anak-anak yang bertambah. Intensitas kumpul-kumpul berkurang. Kalaupun ada hanya mereka yang sudah bersahabat saja yang tetap sarapan, makan siangm atau sepedaan bareng. Emak lainnya mulai mengurangi kegiatan karena sadar ada hal lebih penting yang harus dilakukan daripada hanya haha-hihi dengan emak lain.

Kemudian mereka mulai heboh lagi saat merencanakan perpisahan anak-anak mereka yang akan lulus dari SD. Ada yang merencanakan perpisahan ke luar negeri (dulu waktu belum ada pandemi). Mengumpulkan sumbangan untuk cenderamata wali kelas dan merancang pesta perpisahan yang yahud.

Dunia sekolah bukan saja dunia yang menyenangkan bagi anak-anak, tapi juga masa-masa yang membahagiakan bagi sebagian orang tua.

PlayDoh dan Fun-Doh Buatan Sendiri Supaya Anak Tidak Main HP Melulu

PlayDoh dan Fun-Doh Buatan Sendiri Supaya Anak Tidak Main HP Melulu

Anak sering nonton YouTube atau main HP, tablet, dan komputer berjam-jam? Iya, soalnya itu yang paling gampang sih. Anak main gadget kitanya bisa ngapa-ngapain tanpa direcokin anak.

Well, itu klise ya. Selain mata bisa cepat minus, kebanyakan main gadget bisa bikin jiwa dan raga anak jadi tidak sehat, tidak kreatif, dan malas gerak. Itu menurut ayahbunda.co.id dan beberapa penelitian lain.

Nah, gimana kalau kita bikin lilin mainan aja. Buat dimainkan anak supaya mereka kreatif dan punya kesibukan, jadi tidak main gadget melulu.

Bahannya gampang :
Tepung (apa saja tapi lebih bagus terigu) 1 cangkir.
Garam 1,5 (satu setengah) sdm
Pewarna makanan
Air sedikit


Cara membuat :
Campur tepung, garam, pewarna makanan. Beri air sedikit-sedikit, aduk sampai kalis (tidak lengket di tangan). Remas-remas, tarik-tarik, gulung-gulung sampai warnanya mulus merata.
Bila masih terasa lengket tambahkan tepung, bila dirasa terlalu keras tambahkan air. Lilin buatan semdiri ini bisa disimpan dan dipakai berulang-ulang. Kalau mengeras tinggal tambah beberapa tetes air.

Takarannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan, yang penting garamnya seperempat dari takaran tepung supaya hasilnya tidak lengket ditangan.

Homemade PlahDoh siap dimainkan. Aman jika tidak sengaja termakan. Bisa dicetak menggunakan cetakan kue atau cetakan PlayDoh/Fun-Doh yang sudah ada.

Happy playing! πŸ™‹

Paguyuban yang Kurang Guyub

Paguyuban yang Kurang Guyub

Paguyuban kelas adalah organisasi yang ada di sekolah selain komite sekolah. Sejatinya, paguyuban kelas dibentuk untuk memajukan kelas berdasarkan kesepakatan antara orangtua murid, guru, dan murid itu sendiri.

Paguyuban bisa dibilang langkah  paling dasar agar kualitas suatu sekolah terjaga atau lebih baik lagi (dikutip dari sekolahdasar.net)

Tapi tidak banyak orangtua yang paham apa sebenarnya fungsi paguyuban. Yang mereka tahu hanyalah saling menanyakan PR, kumpul-kumpul sesama wali murid, arisan, merencanakan tamasya, dan mempercantik kelas.

Banyak orangtua lebih sering mengurusi kepentingannya sendiri daripada hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan anaknya di sekolah. Lha, kebutuhan apalagi? Anak kita sudah punya buku, alat tulis, seragam, uang jajan, sampai tas dan sepatu seharga ratusan ribu rupiah. Iya, itu bener banget, tapi kebutuhan anak yang utama adalah bagaimana mereka nyaman belajar di sekolah, tanpa bullying (perundungan), dan tanpa stres menghadapi pelajaran yang rumit atau guru yang membuat mereka takut.

Kedengarannya sih sepele. Ahh, zaman kita sekolah dulu sering kok ledek-ledekan tapi tidak sampai baper. Zaman kita juga ada guru galak tapi kita fine-fine aja. Iya, bener banget.
Tapi zaman sekarang arus informasi yang diterima anak-anak puluhan kali lebih deras dari saat kita kecil. Berapa kali anak kita nonton YouTube dan main game di ponsel setiap harinya? Dua hal itu termasuk informasi digital yang jadi bagian hidup anak zaman now.

Derasnya arus informasi yang masuk ke kepala mereka membuat mereka terstimulasi secara berlebihan (overstimulated). Anak dihantam informasi yang tidak sesuai usia dan sebetulnya tidak mereka perlukan. Akibatnya mereka jadi gampang stres. Bagaimana anak bisa memahami pelajaran kalau dia stres? Dan apa yang terjadi padanya di masa depan kalau sepanjang waktu sekolahnya lebih banyak stresnya daripada happy

Kenyamanan anak belajar di sekolah dengan meminimalisir stres inilah yang mestinya jadi perhatian utama para pengurus paguyuban kelas.

Jika didapati ada anak yang jadi korban pemukulan atau ledekan dari teman-teman sekelasnya, maka paguyuban harus turun tangan mencari solusi bersama wali kelas. Itu kan fungsi adanya paguyuban?!

Tapi, jangan merengut dulu, tentu boleh emak-emak paguyuban jalan bareng ke mall untuk haha-hihi dan bergosip bersama, tapi bukan sebagai agenda paguyuban melainkan hanya keinginan orang-perorang saja. 

Juga boleh saja para bapak di paguyuban ngopi bareng sambil main forex bersama, tapi tidak dibuat sebagai agenda paguyuban, hanya untuk yang mau saja.

Kita tidak perlu memaksa semua orangtua untuk mengikuti gaya hidup kita lalu mengatasnamakan kesepakatan paguyuban. Karena setiap orang punya kesibukan, prioritas, dan selera hidup yang berbeda-beda.

Cerita Kami Bertiga Tanpa Pembantu Rumah Tangga

Cerita Kami Bertiga Tanpa Pembantu Rumah Tangga

Banyak kerabat dan sahabat yang tidak percaya bahwa saya dan suami mengurus bayi tanpa baby sitter, pembantu, orangtua, dan mertua. Biasanya, yang lazim mereka tahu, setelah menikah pasangan pengantin baru akan tinggal di rumah mertua atau orangtua minimal untuk 1-2 tahun. Tapi sejak hari ke-4 pernikahan, saya sudah diajak suami untuk tinggal mandiri dari orangtua. Karena waktu itu belum ada bayi maka dirumah ya cuma ada saya dan suami. Setelah Fathan lahir barulah segalanya berubah. Tapi semua kehidupan pasti berubah, kan? Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Fathan lahir prematur lebih cepat 2 bulan dari perkiraan sehingga harus menghabiskan 2 minggu di RS. Setelah Fathan pulang ia harus dapat perawatan ekstra melebihi bayi yang lahir cukup bulan. Memang sih, saya dan suami tidak benar-benar sendiri waktu Fathan baru lahir. Ibu saya menginap 2 minggu di rumah kami lalu digantikan ibu mertua selama 2 bulan.

Saat ibu mertua pulang kembali ke Muntilan umur Fathan sudah 3 bulan. Sudah lumayan ilmu yang kami dapat untuk merawatnya.

Salah satu yang termasuk melelahkan adalah memerah ASI. Karena lama di RS dan belum pernah menyusu, jadinya Fathan baru bisa menyusu langsung ke payudara saat usianya 3 bulan. Sebelumnya ia minum ASI Perah melalui botol dot. Selama 2 minggu sejak kepulangannya dari RS, Fathan harus diberi ASI tiap 2 jam sekali agar berat badannya cepat naik. Tak peduli pagi buta atau larut malam. Kalau sudah 2 jam sejak minum ASI terakhir maka ia harus diberikan lagi ASI berikutnya.

Untuk mencukupi kebutuhannya, maka saya harus memerah ASI 3 jam sekali, termasuk tengah malam. Sebenarnya ini bukan saran dokter, bidan atau siapapun. Hanya saja kami ingin memberikan ASI Eksklusif untuk Fathan sehingga apapun dilakukan supaya Fathan dapat cukup ASI. Alhamdulillah soal ASI Eksklusif ini suami yang paling menyemangati. Kalau yang lain sih paling bilang, "Minumin susu formula aja biar kenyang." Ada lagi menyarankan, "Kasih pisang aja biar beratnya cepet naik." Yeaa, itu mah jaman dulu bayi umur 2 minggu udah dikasih pisang. Sekarang no way lah ya. Lalu ada pula yang menyarankan, "Biasain minum sufor supaya gampang kalo diajak jalan-jalan." What?? Jalan-jalan kemana? Saya dan suami sepakat kalau Fathan belum setahun kami tidak akan mengajaknya kemana-mana kecuali silaturahim ke tempat keluarga. Itupun jarang-jarang, sangat jarang. Yang paling sering tentu jalan-jalan keliling komplek trus mampir jajan. Berhubung di Ciputat-Pamulang-BSD dsk belum ada Seven Eleven jadi ya mentok di Indomaret atau Alfamart aja deh.

Balik ke urusan ASI, berdasarkan kesimpulan AIMI, suami yang punya pengetahuan tentang ASI Eksklusif lebih besar dukungannya untuk keberhasilan istri memberi ASI Eksklusif untuk bayinya. Terbukti. Suami saya selalu membelikan dan memastikan kalau susu khusus ibu menyusui selalu tersedia. Juga membelikan vitamin peslancar ASI. Ia mengingatkan jadwal memerah ASI, ikut menemani tengah malam saat saya memerah ASI, sampai mengganti popok atau memberikan ASI Perah untuk Fathan kalau saya malas bangun malam-malam. Pokoknya kalau malam hari tiba suami yang ambil alih mengurus Fathan. Pernah Fathan bangun malam lalu begadang sampai subuh. Karena saya tidak kuat melek maka suami yang timang-timang, padahal paginya ia juga harus kerja lho.

Ketika Fathan berusia 6 bulan ia sudah harus makan makanan selain ASI. Karena itulah saya berhenti bekerja. Tiap pagi saya buatkan bubur sayuran campur telur ayam kampung, daging, atau keju. Selingannya biskuit atau buah. Kebetulan saya dihadiahi food processor dan segala macam keperluan masak-memasak makanan bayi oleh teman-teman kantor jadi lancar deh. Thanks much ya Achmad Pradipta, Ferlina Wirianti, lin Farentine Tanzil, Ivana Felicia, Astri Wijanarko, Ahmad Junaidi, Wiwid Safitri, and Suharti Raharjo! Ngg.. Kantor saya itu lokasinya di Singapura, jadi staf Indonesia semua kerjanya di rumah karena ga mungkin bolak-balik Jakarta-Singapura tiap hari. And the most touching moment adalah when I did exit interview with the office manager, dia bilang, "Yana, if your baby grown up and you have time to work, you can contact me or Dipta (Achmad Pradipta si country manager-red) to come back. We are glad to have you back." Kira-kira gitu kata si office manager yang namanya Narinder Kaur. Wow, many thanks, I really appreciated it :)

Nebeng Orangtua vs Ngontrak Berdua

Nebeng Orangtua vs Ngontrak Berdua

Dua saudara saya sebentar lagi akan menikah tapi mereka masih bingung akan tinggal dimana setelah menikah nanti, apakah tetap bersama orangtua atau mertua atau pisah mandiri. Salah satu saudara untuk sementara waktu ingin tinggal di rumah kontrakan terpisah dari orangtua dan mertua sampai mampu membeli rumah sendiri. Tapi mertuanya tidak ingin anak gadisnya hidup susah di rumah kontrakan, maka sang calon mertua menawari pasangan itu tinggal di rumahnya. Lagipula daripada uang dipakai untuk bayar kontrakan lebih baik ditabung, begitu kata sang calon mertua.

Sang gadis juga nampaknya keberatan kalau hidup di rumah kontrakan karena berarti ia harus mengerjakan sendiri urusan dari membayar tagihan listrik, air, telepon, sampai iuran sampah dan keamanan dilingkungan rumah. Belum lagi kebutuhan dapur dan mandi seperti beras, sabun cuci, gula dan lainnya, sampai urusan cuci-setrika-bebenah rumah. Hmm, kedengerannya kok ribet banget ya. Saya dan suami kan berdua kerja kantoran, mana sempat ngurus rumah. Kalo gitu nebeng orangtua dulu deh. Begitu pikir calon istri saudara saya. Akhirnya saudara saya itu mengalah dan nanti setelah menikah akan tinggal bersama mertuanya.

Benar memang, kalau setelah menikah tinggal dengan orangtua/mertua, tiap hari terasa seperti bulan madu karena pagi berangkat kerja bareng, pulang sore sama-sama. Mau makan malam diluar atau di rumah terserah saja. Apalagi sudah ada pembantu gajian orang tua yang mengurus pekerjaan rumah. Tiap weekend bisa plesiran berdua atau kumpul dengan teman-teman. Lebih lagi kalau sudah punya bayi, sehari-hari kita bisa fokus di kantor karena bayi kita dijaga orangtua sehingga tidak perlu capek ganti popok, memberi ASI, memandikan, mengganti bajunya atau sekedar menggendongnya sepanjang hari.

Eits, tampak luar memang lebih mudah hidup di rumah orangtua. Memang menyenangkan buat kita tapi buat pasangan kita, mereka mengakui atau tidak, pasti menderita beban mental. Idealisme rumah tangga tidak bisa dibangun karena harus mengikuti pola rumah tangga mertua. Kitapun tidak bisa bebas ngapa-ngapain karena harus tunduk pada "aturan" orangtua. Apalagi jika kita punya anak yang dititipkan pada orangtua, anak itu akan diasuh mengikuti pola orangtua, bukan kita sndiri. Sungguh sayang kebanyakan kita menitipkan anak untuk diasuh orang lain pada masa golden age 0 sampai 2 tahun, dimana pembentukan sel-sel otak, kerpibadian, dan karakter tumbuh maksimal. Jika si anak kurang mendapat "nafkah batin" seperti kasih sayang dan nilai-nilai spritual, maka ketika besar nanti si anak akan tumbuh menjadi pribadi yang "apa adanya". Sayang bukan?!

Rumah Tangga Tanpa Pembantu? Jangan Ragu

Rumah Tangga Tanpa Pembantu? Jangan Ragu

"Sekarang susah cari pembantu ya."
Begitu keluhan ibu-ibu rumah tangga di banyak kesempatan. Mereka saling menyesalkan betapa langkanya pembantu rumah tangga yang tidak mainan HP, pacaran, dan bawa lelaki ke rumah.

Ya memang begitulah faktanya. Sebagaimana saya pernah menulis bahwa distribusi pembantu sekarang dikuasai banyak mafia berkedok yayasan atau agen, tumbuhnya ekonomi di banyak daerah juga salah satu penyebab susahnya mencari pembantu yang cekatan, jujur, dan tidak neko-neko.

Namun sebelumnya saya ingin menyentil banyak orang yang mengubah istilah pembantu rumah tangga (PRT) menjadi asisten rumah tangga (ART), saya tetap menggunakan kata "pembantu" karena kalau asisten (asal kata assist>assistance>assistant>membantu) berarti dia punya kewenangan, walau tidak besar, untuk mewakili atau berbicara atas nama majikan saat si majikan berhalangan. Maukah Anda kalau si mbak mengurus pembayaran sekolah anak, listrik, telepon, atau kartu kredit sementara Anda asyik shopping di mal? Jika Anda menjawab ya berarti Anda belum paham hidup berumah tangga. Dengan demikian istilah pembantu rumah tangga lebih tepat jika Anda perlu orang untuk bersih-bersih, mencuci, menyetrika dan lainnya. Anda boleh menyebut ART jika Anda mau bergantian dengan si mbak mengurus rumah, tapi jika Anda menyerahkan sepenuhnya urusan tetek bengek memasak, menyapu-mengepel lantai, mencabut rumput di pekarangan juga membersihkan debu dan kotoran didalam rumah dan lainnya maka Anda baiknya menyebutkan dengan PRT.

Beberapa kawan saya yang hidup di luar negeri pernah berbagi cerita. Mereka sewaktu tinggal di Indonesia mau apa-apa tinggal perintah dilayani pembantu, tapi ketika hidup di luar negeri, boro-boro tinggal perintah, semua harus dikerjakan sendiri. Kalau didiamkan ya tidak selesai-selesai, malah menumpuk. Kenapa demikian? Karena upah pembantu di luar negeri sangat mahal, sekitar 80 - 100 dolar perjam, jadi kalau bukan orang kaya ya harus bisa mengurus rumah tangga tanpa pembantu. Ekonomi mereka, untuk ukuran orang barat, bukan termasuk kaya raya.

Berburu Pembantu

Berburu Pembantu

Mencari PRT (Pembantu Rumah Tangga) sejak  tahun 2000-an memang susah. Kalau zaman ibu saya dulu pembantu loyal sekali kepada majikannya. Satu pembantu bisa mengabdi di rumah majikan selama belasan tahun, bahkan sampai usianya sepuh. Sekarang boro-boro belasan tahun, betah setahun saja sudah bagus.

Alkisah, meskipun saya kerja di rumah tapi pekerjaan saya tetap punya jam kerja dan deadline susah ditebak kapan datangnya. Untuk itulah saya harus fokus selama jam kerja berlangsung. Sementara itu, karena telah punya bayi maka mengerjakan pekerjaan rumah tangga terasa berat. Belum lagi harus begadang mengurus si kecil. Akhirnya sayapun mencari pembantu.

Suami saya mencari lewat pamannya di Purworejo. Sang pamanpun minta tolong kerabat dan kenalannya untuk mencari calon PRT ke pelosok kampung. Namun sayang, tidak ada satupun yang mau jadi PRT karena mereka lebih suka bekerja di pabrik atau menjadi penjaga toko.

Kemudian ada kandidat lain, usianya 15 tahun lulusan SMP tidak melanjutkan ke SMA kerena tidak ada biaya. Si anak mau jadi PRT di rumah saya namun orangtuanya tidak mengizinkan karena jauh. Orangtuanya hanya mengizinkan jika ia bekerja di (paling jauh) Jogya.

Melahirkan Prematur 31 Minggu

Melahirkan Prematur 31 Minggu




Banyak orang bertanya kenapa saya melahirkan prematur di usia kandungan 31 minggu (usia melahirkan normal adalah 37 - 40 minggu). Tak jarang yang mengira saya kecapekan atau habis jatuh sehingga pecah ketuban dini dan melahirkan prematur. Padahal saya sama sekali tidak kecapekan. Saya kerja di rumah dengan aktivitas bebenah rumah banyak dilakukan suami. Tiap weekendpun kami jarang keluar rumah kecuali untuk belanja keperluan bulanan. Orangtua saya mengira karena saya sering naik motor, padahal jarang sekali, kalaupun naik motor selalu sama suami dan dia mengemudikannya lambat-pelan-selamat.

Kronologinya begini, Minggu dinihari, 19 Februari pukul 01.00 WIB sewaktu akan tidur tiba-tiba saya merasa keluar cairan dari kemaluan. Tidak terasa seperti air seni, tiba-tiba keluar begitu saja. Saya dan suami mengira itu ketuban yang bocor. Tapi karena hanya sedikit saya dan suami mengira kandungan masih baik-baik saja. Pukul 02.00 WIB panggul dan pinggang mulai terasa pegal dan ngilu. Waktu subuhpun tiba dan saya sholat sambil duduk karena tidak kuat kalau harus berdiri, pinggang dan pinggul terasa ngilu. Pukul 08.00 WIB kami ke bidan untuk minta obat penguat kandungan. Tadinya kami akan ke RS Buah Hati Pamulang tempat biasa kontrol kehamilan,  namun karena dokter Rohati tidak praktik hari Minggu maka kami memutuskan ke bidan saja karena tidak ada pikiran bahwa saya akan melahirkan.