Widget HTML #1

Makin Paham Makin Bikin Bingung, Mengenal Curse of Knowledge dan Cara Menghindarinya

Sebagai orang yang suka nulis, saya beberapa kali ditanya gimana caranya nulis cerpen? Dulu saya jawab dengan, "Bikin kerangkanya dulu, terus tokohnya mau kayak apa, alurnya mau maju atau mundur, terus, harus ada konfliknya."

Buat kita yang biasa nulis cerpen, jawaban itu basic banget. Mendasar, tapi buat orang yang tidak pernah menulis cerpen, jawaban itu membingungkan. Bisa-bisa mereka batal nulis karena sudah membayangkan bakal pusing duluan.

Mengenal curse of knowledge dan cara menghindarinya

Sekarang, kalau saya ditanya hal sama, saya menjawab, "Langsung tulis aja. Apa pun yang ada di pikiran sekarang langsung tulis aja. Ga usah mikir susunan kalimat, ga usah mikir kaidah bahasa. Langsung tulis aja."

Makin Paham Makin Bikin Bingung

Sewaktu saya memberikan jawaban "... bikin kerangkanya dulu..." saya telah terjebak dalam curse of knowledge karena sudah paham cara menulis sehingga menganggap orang lain juga paham.

Itulah yang dinamakan curse of knowledge atau kutukan pengetahuan. 

Curse of Knowledge atau kutukan pengetahuan adalah sebuah bias kognitif yang terjadi ketika seseorang yang sudah sangat ahli atau tahu banyak tentang suatu hal, secara tidak sadar berasumsi bahwa orang lain juga memiliki pemahaman yang sama dengannya.

Itulah kenapa banyak orang terjebak dalam curse of knowledge. Makin paham seseorang tentang suatu hal amat mungkin makin bikin bingung orang lain.

Secara definisi, curse of knowledge atau kutukan pengetahuan adalah sebuah bias kognitif yang terjadi ketika seseorang yang sudah memahami suatu hal secara mendalam, kemudian secara tidak sadar berasumsi bahwa orang lain juga memiliki pemahaman yang sama dengannya.

Asal Mula Curse of Knowledge

Istilah ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1989 oleh tiga orang ekonom, yakni Colin Camerer, George Loewenstein, dan Martin Weber.

1. Ekonomi Makro 

Colin Camerer, George Loewenstein, dan Martin Weber merupakan pionir dan pakar di bidang Ekonomi Perilaku (Behavioral Economics) dan Psikologi Ekonomi. Mereka menerbitkan sebuah penelitian ilmiah berjudul The Curse of Knowledge in Economic Settings: An Experimental Analysis di jurnal ekonomi bergengsi, Journal of Political Economy.

Dalam teori ekonomi klasik ada asumsi bahwa orang yang punya informasi lebih banyak, dalam artian lebih pintar dan lebih tahu akan selalu diuntungkan dalam mengambil keputusan.

Namun, ketiga ekonom ini menemukan hal sebaliknya. Mereka menemukan bahwa penjual yang tahu kualitas asli barangnya sering kali gagal memprediksi keputusan pembeli yang tidak tahu apa-apa.

Ini karena si penjual sudah terlalu tahu detail produknya sehingga mereka tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi pembeli yang tidak tahu apa-apa. Maka tidak heran kalau strategi penjualannya sering melesat alias tidak laku.

Dari sinilah istilah kutukan pengetahuan muncul. 

2. Akar Psikologi

Meski istilahnya baru lahir tahun 1989 pada ilmu ekonomi, konsep psikologinya sudah diamati jauh sebelumnya oleh para psikolog dengan dua istilah egosentrisme anak dan hindsight bias.

Egosentrisme anak dicetuskan oleh Jean Piaget yang menemukan bahwa anak kecil sering berasumsi orang lain melihat dan merasakan apa yang mereka lihat. Misalnya, seorang anak melihat gambar kucing, dia akan menganggap ibunya yang duduk membelakanginya juga bisa melihat gambar kucing tersebut.

Sedangkan istilah hindsight bias berasal dari Baruch Fischhoff di tahun 1975. 

Hindsight bias sering disebut juga sebagai efek saya sudah tahu dari dulu atau kelihatan kan sekarang adalah bias kognitif yang membuat seseorang merasa bahwa sebuah peristiwa sangat mudah ditebak setelah peristiwa itu benar-benar terjadi.

Padahal, sebelum peristiwa itu terjadi, mereka sama sekali tidak tahu atau bahkan ragu terhadap peristiwa mana yang akan terjadi.

Contoh hindsight bias ada pada, misalnya, Piala Dunia. Kita bingung memilih antara Tim A atau Tim B karena kedua tim sama-sama kuat. Setelah Tim A menang telak 3-0, kita spontan bilang ke teman, "Tuh kan, dari awal taktik Tim A emang jauh lebih unggul, sudah pasti menang mereka!" 

3. Penelitian Ketukan Meja

Eksperimen Ketukan Meja atau Tappers and Listeners adalah salah satu eksperimen psikologi paling terkenal tentang curse of knowledge. Eksperimen ini dilakukan pada tahun 1990 oleh Elizabeth Newton, mahasiswi doktoral di Stanford University.

Ketukan Meja sangat sederhana, tapi hasilnya sangat membuka mata tentang bagaimana manusia berkomunikasi. 

Dalam percobaannya, Elizabeth membagi para peserta ke dalam dua peran.

Satu sebagai penggetuk (tappers) dan satu sebagai pendengar (listeners). Para penggetuk diminta memilih lagu, misal Happy Birthday atau lagu kebangsaan. Lalu mereka diminta mengetukkan iramanya menggunakan jari atau pulpen ke atas meja.

Saat penggetuk mengetukkan iramanya, para pendengar harus menebak lagu apa yang sedang diketuk oleh penggetuk.

Sebelum eksperimen dimulai, Newton mengajukan satu pertanyaan kepada para penggetuk, "Menurutmu, berapa persen kemungkinan si pendengar bisa menebak lagumu dengan benar?"

Para penggetuk dengan percaya diri menjawab, "Sekitar 50 persen," karena yakin melodi yang mereka ketuk sangat jelas.

Dari sekitar 120 lagu yang diketukkan selama eksperimen, ternyata hanya ada 3 lagu yang berhasil ditebak dengan benar. Ini artinya tingkat keberhasilan pendengar hanya 2,5 persen. Angka ini berbanding terbalik dengan perkiraan para penggetuk yang sebesar 50 persen.

Disinilah terjadi curse of knowledge

Saat para penggetuk mengetuk meja, di kepala mereka secara otomatis memutar melodi asli lagu tersebut secara lengkap, dengan lirik dan instrumen musiknya. Bagi mereka, ketukan di meja itu terdengar sangat jelas dan bernada.

Namun, di telinga pendengar yang mereka dengar hanyalah bunyi ketukan aneh, monoton, dan tidak jelas polanya. 

Si penggetuk telah "dikutuk" oleh pengetahuannya sendiri (curse of knowledge). Karena sudah tahu lagunya, mereka tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak tahu lagu tersebut. Mereka berasumsi apa yang ada di kepala mereka otomatis juga ada di kepala orang lain.

Biar Dianggap Keren

Di kehidupan sehari-hari kita sering sengaja melakukan kutukan pengetahuan supaya kelihatan keren atau pintar di bidangnya. Alasan kita sengaja melakukan curse of knowledge:

1. Sebagai Tameng 

Menggunakan istilah-istilah rumit, singkatan keren, atau bahasa asing yang meliuk-liuk itu memberikan kepuasan instan. Kita merasa terlihat lebih pintar, kompeten, dan memiliki otoritas di bidang tersebut.

Padahal sebetulnya kita sedang membangun tameng supaya orang lain sungkan untuk mendebat atau bertanya lebih jauh karena orang itu takut terlihat bodoh.

2. Sindrom YTTA

YTTA atau yang-tahu-tahu-aja sengaja kita gunakan untuk membangun kepuasan diri saat berada di tengah orang yang tidak satu circle.

Kita sengaja menggunakan bahasa atau penjelasan yang rumit untuk mengesankan, "YTTA, ini area khusus orang pintar/ahli. Kalau kamu nggak paham, berarti kamu belum selevel sama saya."

Sindrom ini juga dinamakan gatekeeping syndrome atau sindrom penjaga gerbang. 

Di dunia nyata atau media sosial "gerbang" ini bukan harfiah betul-betul sebuah gerbang, melainkan bahasa, istilah, atau pengetahuan yang kita miliki. 

Ketika kita melakukan gatekeeping intelektual, kita sengaja memakai jargon, kata sandi, bahasa rumit, atau teori tingkat tinggi untuk menjaga eksklusivitas dan kekerenan. Tujuannya supaya orang biasa tidak bisa ikut mengobrol atau masuk ke kelompok mereka. Maka dibungkuslah dengan YTTA - yang tau-tau-aja

Sebabnya karena manusia itu punya ego. Salah satu cara memuaskan ego adalah dengan merasa lebih unggul dibanding orang lain. Maka saat kita menguasai suatu ilmu yang jarang diketahui orang, ada dua pilihan yang bisa kita ambil.

  1. Membagikannya secara gratis dan mudah supaya semua orang bisa ikut pintar.
  2. Menjaganya tetap rumit supaya kita tetap terlihat wow di mata orang biasa. 

Pada dunia psikologi dan komunikasi, fenomena sengaja melakukan-curse of knowledge-biar-kelihatan-keren ini secara informal dikenal dengan istilah flexing intelektual

Flexing atau pamer intelektual memang memuaskan ego, tapi kalau kita ingin menyampaikan sesuatu dan diterima oleh khalayak awam, baiknya kita menghindari kutukan pengetahuan. Dengan begitu ilmu atau pesan yang ingin kita sampaikan akan dipahami oleh mereka sehingga tidak sia-sia kita ngomong sampai berbusa-busa.

Menghindari Kutukan Pengetahuan

Melawan curse of knowledge membantu kita mempertahankan beginner's mindset. Kita jadi lebih terbuka terhadap kritik dan siap mempelajari kembali dasar-dasar suatu hal. Lebih jauh lagi bisa menghindarkan kita dari kesombongan intelektual.

Dalam agama apa pun sombong itu sangat dilarang ya, Teman-Teman. Makanya kita perlu menghindari kutukan pengetahuan dengan cara di bawah ini.

1. Teknik Feynman 

Cara terbaik untuk tahu apa kita terjebak dalam kepala sendiri adalah dengan menyederhanakan penjelasan. Misal, jelaskan pada diri sendiri ilmu atau keahlian yang kita kuasai seolah kita sedang bicara dengan anak SD atau lansia (orang lanjut usia).

Kalau kita terpaksa berhenti dan berpikir keras untuk mencari padanan kata yang lebih sederhana, artinya kita sedang menghindari curse of knowledge

2. Tahan Diri Menggunakan Jargon dan Singkatan 

Biasanya saat kita sudah ahli di suatu bilang, singkatan dan istilah teknis terasa seperti bahasa sehari-hari. Namun, bagi orang lain kedengarannya justru seperti bahasa dari planet lain. 

Cara menghindarinya adalah dengan mengganti kata-kata internal ilmu kita dengan bahasa manusia biasa. Misalnya, "Sekarang algoritma Google berubah, tapi tetap perlu optimasi SEO supaya robot Google cepat merayap di blog kita."

Ganti dengan bahasa awam yang bukan blogger, "Meski sistem pencarian Google sudah berubah, kita tetap perlu merapikan isi blog. Tujuannya supaya sistem Google mudah menemukan tulisan kita di internet dan menunjukkannya kepada orang yang mencari topik itu."

Jadinya agak panjang, ya, wkwkwkkw, tapi begitulah nyatanya bahasa yang mudah dimengerti orang yang mengerti dunia blogging

3. Metode Zoom Out Sebelum Zoom In 

Orang yang kena curse of knowledge biasanya langsung lompat ke detail teknis yang rumit (zoom in) karena berasumsi lawan bicaranya sudah tahu gambaran besarnya.

Saya pernah hampir "dikutuk" pengetahuan menulis yang saya miliki saat lokakarya literasi untuk anak SD. Untuk menghindarinya saya tanya ke mereka (zoom out), "Kalian tahu gak, kenapa kita sekarang ada di sini? Buat apa?"

Lalu saya tanya lagi, "Ada yang tahu, gak, kenapa kita harus belajar menulis cerpen?" Setelah tahu konteks dan fondasinya, barulah saya jelaskan kenapa mereka harus ikut lokakarya dan harus belajar bikin cerpen.

4. Cari Orang untuk Minta Umpan Balik 

Jangan mengandalkan insting kita sendiri untuk menilai apakah penjelasan yang kita sampaikan sudah jelas atau belum. 

Hindari kutukan pengetahuan dengan cara mengirim draft atau ide ke teman yang tidak sebidang. Tanya ke mereka,  "Dari yang saya jelaskan barusan, bagian mana yang paling bikin bingung?" 

Umpan balik yang jujur dari mereka adalah obat paling manjur untuk kita menghindari kutukan pengetahuan.

Menghindari curse of knowledge terhadap diri sendiri adalah bentuk kerendahan hati intelektual. Ini adalah pengingat bahwa otak kita cepat lupa, perspektif kita bisa bias, dan proses belajar tidak pernah benar-benar selesai. 

Posting Komentar untuk "Makin Paham Makin Bikin Bingung, Mengenal Curse of Knowledge dan Cara Menghindarinya"