Beda Sastra Tinggi, Populer, dan Kontemporer: Contoh, Ciri, dan Peran di Indonesia
Film-film populer seperti Ayat-Ayat Cinta, Dilan 1990, Critical Eleven, Ketika Cinta Bertasbih, Danur, atau Laskar Pelangi diangkat dari novel yang juga lebih dulu populer. Novel yang populer dengan tema keseharian dan bahasa komunikatif disebut sebagai sastra populer.
Meski semua film di atas diangkat dari sastra populer, ada satu yang sering disebut sebagai sastra populer sekaligus sastra tinggi, yaitu Laskar Pelangi.
Tema pendidikan, ketimpang sosial, dan nilai reflektif yang ada dalam novel karya Andrea Hirata itu membuatnya dijadikan bahan kajian di sekolah atau kampus. Karenanya Laskar Pelangi bisa disebut juga sebagai sastra tinggi.
Namun, walau disebut sebagai sastra populer sekaligus sastra tinggi, Laskar Pelangi lebih utama disebut sebagai sastra populer.
Sastra Populer
Sastra populer adalah karya sastra yang ditulis dengan bahasa sederhana, temanya dekat dengan kehidupan sehari-hari, mudah dipahami, tidak menuntut interpretasi kompleks, dan tujuan utamanya untuk hiburan.
Sastra populer penting dalam kesusatraan karena fungsinya sebagai pintu masuk literasi dan penghubung antara masyarakat luas dengan dunia sastra. Orang yang tadinya tidak suka baca bisa jadi punya hobi membaca karena baca genre chic-lit dan teen-lit yang santai dan ringan.
Chick lit adalah sub-genre sastra populer yang berkisah tentang kehidupan perempuan muda, utamanya di kota besar. Tema utamanya tentang persahabatan, percintaan, pekerjaan, dan pencarian jati diri.
Ditulis dengan gaya ringan, humoris, dan penuh hiburan. Genre ini mencapai puncak popularitas pada kurun 1990–2000-an dengan karya seperti Bridget Jones’s Diary dan Shopaholic.
Sedangkan teen-lit adalah genre sastra populer yang ditujukan untuk pembaca remaja usia SMP–SMA. Temanya seputar persahabatan, percintaan remaja, kehidupan sekolah, dan pencarian jati diri.
Genre ini berkembang pesat di Indonesia pada awal 2000-an, seiring dengan tren bacaan ringan yang dekat dengan keseharian anak muda.
Sastra Tinggi
Sastra tinggi adalah istilah untuk karya sastra yang dianggap lebih dari sekadar hiburan karena punya beberapa kualitas. Sebuah karya (novel, cerpen, puisi) disebut dengan sastra tinggi kalau punya kriteria sebagai berikut.
1. Bahasa estetis yang menggunakan simbol, metafora, ritme, struktur yang indah serta menantang akal pembaca.
2. Tema kompleks dan tidak umum. Biasanya mengangkat isu sosial, politik, sejarah, kemanusiaan, identitas, atau filsafat.
3. Nilai reflektif yang membuat pembaca merenung karena isi karangannya bukan cuma terhibur, ada lapisan makna yang bisa ditafsirkan oleh masing-masing pembaca.
4. Kedalaman karakter. Tokoh utama, bahkan beberapa tokoh pendukung, digambarkan dengan psikologi rumit, bukan saklek hitam-putih atau baik-buruk.
5. Pengakuan akademis. Karangan atau buku/novel sering jadi kajian di universitas atau masuk kurikulum dan mendapat penghargaan sastra.
6. Kelekangan. Karya sastra tinggi selalu relevan dibaca l9intas generasi karena tidak lekang oleh tren sesaat.
Karya paling dikenal sebagai sastra tinggi atau sastra serius di antaranya ada:
- Chairil Anwar – Aku
- Pramoedya Ananta Toer – Bumi Manusia
- Ayu Utami – Saman
- Sapardi Djoko Damono – Hujan Bulan Juni
Penilaian apakah sebuah novel termasuk sastra tinggi atau sastra populer dilakukan oleh pihak yang punya otoritas atau pengaruh dalam dunia sastra.
Penilaian itu dilakukan oleh akademisi dan kritikus. lembaga sastra seperti Balai Pustaka, Dewan Kesenian, dan penerbit besar, pembaca umum, dan ketahanan waktu. Sastra populer yang bertahan lintas generasi bisa naik kasta jadi sastra tinggi.
Apakah Esai Bisa Jadi Sastra Tinggi?
Esai bisa jadi sastra tinggi kalau memenuhi syarat estetika, refleksi, dan kedalaman intelektual. Jadi, meskipun terbit di media populer (media massa atau platform digital), bentuk esai tetap bisa diakui sebagai karya sastra yang bernilai tinggi.
Esai yang dianggap sastra tinggi ditulis oleh:
- Chairil Anwar, esai dan catatan reflektif tentang puisi dan kebudayaan.
- Goenawan Mohamad, kolom Catatan Pinggir di Majalah Tempo yang dianggap sebagai esai sastra karena kedalaman refleksinya.
- Ignas Kleden menulis esai tentang kebudayaan dan masyarakat Indonesia.
- Umar Kayam, menulis tentang kebudayaan Jawa dan humanisme.
- YB Mangunwijaya, dikenal karena esainya yang menulis tentang spiritualitas, filsafat, dan arsitektur.
Sastra Kontemporer
Sastra kontemporer adalah karya sastra yang lahir di era modern, yaitu pada abad ke-20 sampai sekarang. Ciri khasnya ada pada eksperimen bentuk, kebebasan tema, dan relevansi dengan konteks sosial-budaya masa kini.
Yang dimaksud eksperimen bentuk dalam sastra kontemporer adalah cerita tidak harus urut dari awal ke akhir. Alurnya bisa melompat waktu, memakai kilas balik, atau multi-perspektif. Ini ciri lain sebuah karya disebut sebagai sastra kontemporer.
1. Eksperimen Bentuk
- Teks bisa dipadukan dengan gambar, musik, atau bahkan interaktif digital.
- Penggunaan kata-kata yang tidak biasa, puisi yang mematahkan aturan tata bahasa, atau prosa yang menyerupai lirik lagu.
- Novel bisa berbentuk surat, chat, potongan berita, atau fragmen-fragmen yang harus dirangkai pembaca sendiri.
2. Kebebasan Tema
Pengarang sastra kontemporer berani mengangkat isu-isu yang relevan, bahkan tabu, atau yang tidak sesuai zaman. Novelis Dee Lestari pernah dapat protes dari anak-anak muda Buddhis yang merasa ada penyederhanaan ajaran Buddha ketika Dee menafsirkan meditasi atau konsep karma.
Kritik lain juga muncul karena Dee dianggap mengkomodifikasi spiritualitas Buddha untuk kepentingan fiksi, sehingga tidak sesuai dengan ajaran yang lebih ortodoks. Di sisi lain, pembaca umum justru merasa tercerahkan karena lebih mudah memahami konsep spiritual.
Sampai saat ini Dee Lestari dikenal sebagai novelis sastra kontemporer. Tema lain yang biasa diangkat dalam sastra kontemporer:
- Politik. Kritik terhadap kekuasaan, korupsi, atau konflik sosial.
- Gender dan seksualitas. Membicarakan tubuh, identitas, dan relasi yang dulu dianggap tabu.
- Urbanisasi dan teknologi yang menggambarkan kehidupan kota, media sosial, dan dampak digital.
- Identitas personal tentang pencarian jati diri, trauma, atau pengalaman minoritas.
- Spiritualitas modern refleksi tentang makna hidup di tengah dunia yang serba cepat.
Selain Dee Lestari kita mengenal Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, Sutardji Calzoum Bachri, Intan Paramaditha, dan Laksmi Pamuntjak. Laksmi Pamuntjak menulis tiga novelnya dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh penerbit luar.
Laksmi Pamuntjak jadi salah satu penulis Indonesia yang paling berhasil menembus pasar internasional dengan karya berbahasa Inggris, menjadikan sastra Indonesia lebih dikenal dunia lewat tema sejarah, politik, dan kuliner yang dikemas universal.
***
Sastra populer dan sastra tinggi sering dipandang sebagai dua kutub yang berbeda, padahal keduanya saling melengkapi. Sastra populer membuka pintu literasi yang membuat masyarakat luas akrab dengan dunia cerita, sementara sastra tinggi memberi kedalaman refleksi dan nilai estetika yang bertahan lintas generasi.

Posting Komentar untuk "Beda Sastra Tinggi, Populer, dan Kontemporer: Contoh, Ciri, dan Peran di Indonesia"
Posting Komentar