Utak-atik Kata dengan Kerata Basa dan Bakronim
Kita pasti sudah dengar kalau kidal itu kepanjangan dari kiri dari lahir, atau melayat berasal dari melihat mayat. Saat lain kita dengar kata benci sebagai akronim dari benar-benar cinta.
Sementara itu orang-orang Jawa memaknai kata wanito sebagai kepanjangan dari wani ing pranoto (sudah mampu menata). Ada lagi garwo (istri/suami) sebagai kependekkan dari sigarane nyowo (belahan jiwa).
Kata lain kuping (telinga) yang disebut sebagai akronim dari kaku tur jepiping. Atau pada kata gedang (pisang) yang dimaknakan sebagai digeget bar madhang (disantap setelah makan) karena ada masanya pisang jadi hidangan penutup favorit masyarakat Jawa.
Dalam bahasa Jawa, kata yang punya kepanjangan bermakna filosofis itu disebut dengan kerata basa. Sedangkan yang mirip dengan kerata basa dalam bahasa Indonesia disebut dengan bakronim.
Kerata Basa
Kerata basa, disebut juga jarwa dhosok, adalah permainan bahasa Jawa yang menguraikan sebuah kata berdasarkan suku katanya. Kata itu lalu diberi arti baru yang filosofis, kadang kreatif dan humoris. Kerata basa mirip akronim, tapi tidak mengikuti kaidah resmi sehingga lebih bersifat budaya dan kearifan lokal.
Fungsi awal kerata basa digunakan sebagai sarana pendidikan informal, sindiran halus, dan penyampaian nilai budaya.
Seperti pada kata cangkem (mulut) yang dipanjangkan jadi yen ora dicancang ora mingkem bermakna filosofis bahwa mulut haruslah dijaga supaya tidak digunakan untuk bergunjing dan membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Kerata basa berkembang dari kebiasaan otak-atik gathuk dalam budaya Jawa, lalu muncul sebagai tradisi bertutur masyarakat Jawa sejak masa klasik, jauh sebelum ada kamus resmi.
Tidak ada catatan tahun pasti kapan kerata basa muncul, tapi praktik ini sudah hidup dalam naskah-naskah Jawa lama dan diwariskan secara lisan turun-temurun sampai sekarang.
Bakronim
Disebut bakronim karena berasal dari gabungan kata back dan acronym. Acronym (akronim) merupakan singkatan yang dibentuk dari huruf awal atau suku kata yang menjadi kata baru, misalnya SIM, Warkop, Puskesmas, Pilpres, Kades.
Sedangkan bakronim sebaliknya. Kata yang sudah ada diberi kepanjangan seolah-olah kata itu sebuah akronim. Bakronim biasanya dibuat untuk humor, branding, atau memberi makna kreatif pada kata yang sudah populer.
Contoh bakronim lain adalah mudik. Mudik dipanjangkan jadi mulih dilik yang artinya pulang sebentar. Padahal makna kata mudik yang sebenarnya adalah naik, maju ke hulu, atau menuju ke darat.
Bakronim lainnya ada pada kata basa-basi. Basa-basi bukanlah bukanlah kependekkan kata, kata dasarnya memang basa-basi, tapi dipanjangkan jadi bahas sana-sini.
Beda Kerata Basa dan Bakronim
Kerata basa dan bakronim sama-sama tidak diatur secara resmi dalam KBBI dan Kamus Besar Jawa-Indonesia karena lebih dianggap sebagai permainan bahasa dan etimologi rakyat. Meski mirip, di antara kerata basa dan bakronim punya perbedaan.
1. Niat dan Konteks
Kerata basa berfungsi sebagai sarana pendidikan nilai dan cara masyarakat memberi makna filosofis atau nasihat moral pada sebuah kata. Sedangkan bakronim lebih ringan dan sering dipakai untuk hiburan atau strategi komunikasi modern.
Jika kerata basa adalah jembatan antara bahasa dan falsafah hidup, maka bakronim adalah jembatan antara kata, identitas sosial, dan komersial.
2. Metode
Kerata basa menguraikan suku kata lalu memberi makna baru. Sedangkan bakronim membuat kepanjangan dari kata yang sudah ada dan tidak memberi makna baru. 3. Tujuan
|


Posting Komentar untuk "Utak-atik Kata dengan Kerata Basa dan Bakronim"
Posting Komentar