Widget HTML #1

Mereka yang Bingung Siapa Yana Haudy

Saya sudah menulis sejak kelas tiga SD. Tiap pelajaran mengarang dalam Bahasa Indonesia rasanya senang sekali karena bisa bercerita sesuka hati, meski tetap dibatasi tema. Tema paling sering diminta oleh guru kalau tidak Ibu, ya, Liburan.

Anak Jaksel 

Zaman saya SD evaluasi belajar tiap tahun ajaran dilakukan tiap catur (empat) bulan sekali, maka namanya catur wulan. Tiap libur catur wulan selesai pasti kami diminta membuat karangan tentang pengalaman yang didapat selama liburan.

Kakek dan nenek maternal saya tinggal di Jaksel juga makanya 3 dari 5 anaknya pun lahir di Jaksel, termasuk ibu saya. Kakek saya dulu kepala pasar Santa. Kini pasar Santa bertransformasi jadi tempat nongkrong anak-anak Jaksel dan sekitarnya.

Sementara itu kakek dan nenek paternal saya sudah meninggal. Ada dua paman, tapi tinggal di Banjarmasin dan Surabaya sehingga tidak memungkinkan untuk dikunjungi. Lagipula papa saya wartawan, tidak punya banyak cuti seperti kantoran kantoran umumnya. 

Kakak dan nenek maternal asli Tasikmalaya, jadi tiap libur catur wulan saya ikut pulang kampung bersama kakek-nenek. 

Sudah Nulis Sejak Kecil

Tiap berlibur ke Tasikmalaya saya selalu bawa buku untuk menulis cerpen. Buku itu berupa sisa buku tulis  yang saya gabung jadi satu dengan distaples lalu disampul. Bukunya tebal, tapi tidak sampai berat buat dibawa di ransel.

Saat di kelas 4 wali kelas Pak Rahman minta murid mencatat berita di TVRI. Buat banyak anak, menonton dan mencatat berita itu tugas paling nggak banget. Namun, itu justru PR yang paling saya sukai. Saya paling suka nonton berita meski sering tidak tahu artinya karena otak saya juga masih bocil.

Dari PR menonton dan mencatat berita itu saya jadi tambah suka menulis. Siapa sangka kelak Yana Haudy malah jadi esais.

Di SMP beberapa teman minta dibuatkan cerpen untuk mereka baca di kala senggang. Kadang saya dapat bayaran. Tidak pun tidak apa karena saya memang suka. Kebetulan saya juga suka baca. Di SMP saya punya tiga teman yang juga suka baca.

Mereka teman SD saya, tapi kami baru dekat justru saat di SMP. Pulang sekolah sering mampir ke Gramedia Melawai untuk numpang baca buku. Kalau sedang ada uang, masing-masing dari kami beli satu buku, lalu saling pinjam.

SMP saya dekat sekali dengan Gramedia dan Gunung Agung, tapi cuma Gramedia yang dulu membolehkan pengunjung baca buku gratis. Lokasinya tinggal nyebrang dari sekolah. Sekolah kami di SMPN 56 Jaksel memang menempel di pusat perbelanjaan Blok M.

Sekarang sekolah itu sudah dipindah ke Jeruk Purut, jauh dari lokasi lama, tapi masih di Jaksel juga. Kawasan bekas SMP saya sekarang jadi tempat anak muda beraktivitas bernama M Bloc Space.

Dapat Uang dari Menulis di SMU 

Di SMA saya anak IPS tulen karena semua mata pelajaran khusus IPS saya suka semua terutama Sosiologi dan Antropologi.

Guru Antropologi mengajak kami outing ke suku Baduy Dalam dan Luar di Banten. Sepulangnya tentu saja kami harus bikin karya tulis. Anak jurusan IPS sering dapat tugas kelompok membuat karya tulis dan saya kurang suka kerja bareng anak yang males mikir, jadi saya tawarkan saya saja yang bikin semua tugasnya, mereka tinggal bayar dan saya beri tahu kisi-kisinya. 

Dari situ saya dapat tambahan uang jajan. Kalau ada teman yang ulang tahun, saya buka jasa membuat undangan dan membagikannya ke teman-teman sekolah yang diundang. 

Cari Duit dari Nulis Sejak Kuliah

Menerima order membuat karya tulis saya lanjutkan di kampus ketika kuliah. Ndilalah, teman-teman di fakultas ilmu komunikasi juga banyak yang males mikir kalau diminta membuat makalah. Gak heran waktu saya tawarkan "bayar-terima beres" mereka iya-iya aja....wkwkkw.

Saya kuliah di Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi. Nyambung banget sama dunia tulis-menulis, bahkan ada mata kuliah Bahasa Indonesia dan Bahasa Indonesia Jurnalistik. Mahasiswa jurnalistik jadi banyak menulis selain melakukan praktik kerja lapangan di berbagai media massa di Jakarta.
 
Saya pernah bekerja jadi wartawan meski cuma setahun. Lalu pindah jadi sekretaris eksekutif, jadi staf corporate communication, dan terakhir jadi social media analyst. Semua pekerjaan itu membutuhkan keterampilan menulis.
 
Siapa Yana Haudy
 

Pegiat Bahasa dan Sastrawan

Ivan Lanin bukan seorang sastrawan, melainkan pegiat bahasa. Saya juga bisa dibilang sebagai pegiat bahasa karena beberapa kali menulis soal kebahasaan. Itu artinya semua penulis, apa pun genrenya, bisa jadi juri di FLS3N, FTBI (kalau dia berbahasa Jawa), dan lomba kepenulisan lainnya. 
 
Tidak harus dia seorang cerpenis, novelis, dan sastrawan. Keberadaan juri genre selain cerpen atau novel di lomba menulis cerita bisa memperkaya penilaian.  
 
Bisa saja juri cerpenis atau novelis atau sastrawan, tidak melihat soul di sebuah cerita, tapi juri esais, misalnya menilai cerita itu punya karakter kuat. Kenapa ada dua penilaian untuk satu cerita?
 
Karena cerita fiksi itu subjektif, ditulis berdasarkan unsur intrinsik dan eksentrik penulisnya. Beda dengan tulisan nonfiksi yang harus sesuai fakta dan data. Maka juri yang menilainya pun bisa punya subjektivitas berbeda.
 
Untuk memperkecil subjektivitas pada juri maka dibuatlah indikator penilaian. Indikator itu berupa Kesesuaian Cerita dengan Tema, Bahasa, Kepaduan Menyusun Cerita, dan Kreativitas. 
 
Jadi, seorang esais, penulis konten, bahkan citizen journalist bisa jadi juri di lomba menulis cerita meski sehari-harinya dia tidak menulis cerpen, novel, dan puisi.

Jadi Blogger

Kemudian datang zaman internet yang juga memunculkan tren ngeblog di kalangan anak sekolah, termasuk Raditya Dika yang waktu itu masih SMP. Rumah Raditya Dika kebetulan tidak jauh dari rumah saya, masih satu kelurahan Rawa Barat.
 
Saya juga membuat blog di Blogspost pada 2006 lalu pindah ke Wordpress. Sekarang balik lagi ke Blogspot dengan nama emperbaca. Tadinya saya selalu buat blog dengan domain yanahaudy, tapi karena blognya bukan tentang Yana Haudy, jadi aneh kalau domainnya pakai nama sendiri.

Portofolio

Saya tulis dengan sok lagak nano-otobiografi supaya mereka yang bingung siapa Yana Haudy bisa terinformasikan dan tidak menebak-nebak belaka. 
 
  1. Penulis konten di kompasiana.com
  2. Pemenang Best in Opinion Kompasiana Awards 2022.
  3. Ghostwriter (penulis bayangan) untuk memoar perjuangan veteran, novel aksi, novel romansa, pelatihan sepak bola, dan memoar kepala sekolah.
  4. Exclusive Writer untuk Adira Finance, JNE, PT GNI, Astra, Sinotif, dan Krom Bank 2021-2025 via Kompasiana.
  5. Partisipasi di 4 buku antologi berjudul Kejutan Terindah di Hari Kemenangan, Sejarah Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, 150 Kompasianer Menulis untuk Tjiptadinata Effendi, dan Diamond Wedding Anniversary Tjiptadinata dan Helena Roselina.
  6. Pembimbing menulis SDN Muntilan untuk lomba artikel Hardiknas PWI Kabupaten Magelang 2022. SDN Muntilan meraih 5 piala.
  7. Juara 1 kompetisi menulis tema Kurikulum Merdeka diselenggarakan Kemdikbudristek dan Kompasiana 2023.
  8. Narasumber webinar Implemetasi Kurikulum Merdeka oleh Kemdikbudristek dan Kompas.com 2023.
  9. Juri MAPSI cabang Lomba Karya Tulis Islami 2023. Wakil Muntilan meraih juara 3 tingkat Kabupaten Magelang.
  10. Pembimbing menulis cerpen SDN Gunungpring 3 Muntilan dalam rangka Bulan Bahasa Oktober 2024.
  11. Juri cabang Menulis Cerita Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Kota Magelang 2025.  
  12. Juri cabang Menulis Cerita FLS3N tingkat Kota Magelang 2026
  13. Juri cabang Menulis Cerita FLS3N tingkat Kabupaten Magelang 2026. 

Posting Komentar untuk "Mereka yang Bingung Siapa Yana Haudy"