Material Doctors

Pernah nonton serial televisi ER atau Grey's Anatomy? Rasanya senang ya lihat para dokter berdedikasi, ulet menggunakan ilmunya untuk menolong dan merawat pasien serta tidak mementingkan duit. Alangkah puasnya kita bila pelayanan dokter di RS sini seperti yang ada di serial itu. Namun sungguh sayang kita bagai pungguk merindukan bulan.

Dokter di Indonesia kebanyakan lebih senang mendiagnosis seadanya dengan hanya melihat gejala umum, memberikan obat paten padahal efeknya berbahaya, malas ditanya-tanya, dan memberikan penjelasan sepotong-potong bila ditanya mengenai suatu gejala penyakit. Kenapa profesi dokter terkesan angkuh ya, mereka seolah bebas memperlakukan pasien seenak mereka tak peduli mereka melakukan malpraktik. Memang tidak semua dokter, but mostly.

"Angkuhnya" dokter mungkin karena sejak dulu sampai sekarang profesi dokter memang prestisius. Zaman saya kecil bila ada pertanyaan tentang cita-cita 5 dari 10 anak pasti menjawab ingin jadi dokter, sisanya menjawab mau jadi insinyur atau profesi lain. Kenapa prestisius? Ya, karena "perjalanan" untuk menjadi dokter sungguh panjang dengan biaya yang amat mahal, hanya sedikit orang yang mampu meraihnya. Karena itulah, ada isu yang mengatakan bahwa lebih banyak dokter yang matre daripada yang sosialis karena mereka ingin cepat "balik modal" untuk mengganti biaya kuliah yang mahal.

Salah satu cara mempercepat balik modal itu adalah dari "fee" yang diberikan produsen atau sales atas penjualan obat paten oleh dokter.

Obat paten (obat dengan nama dagang dan menggunakan nama yang merupakan milik produsen obat yang bersangkutan) sebenarnya tidak jauh beda dengan obat generik. Obat generik adalah obat yang masa patennya sudah habis dan diproduksi oleh banyak perusahaan, biasanya dinamai dengan nama bahan kimia aktifnya. Dosis suatu bahan kimia pada obat paten biasanya lebih tinggi dari generik atau telah ditambahkan zat kimia lain, itulah salah satu penyebab harganya mahal dan pasien lebih cepat sembuh.
Obat dengan dosis seperti itu bekerja langsung ke pusat syaraf dengan cara "memaksa" syaraf memerintahkan organ untuk sembuh. Sementara itu pada generik obat bekerja menuntaskan penyakit "satu-persatu" didalam tubuh sehingga lebih lama dari obat paten. Istilah "obat paten" sebenarnya agak salah karena apanya yang dipatenkan? Mereknya atau zat obatnya? Maka itu untuk selanjutnya mari kita sebut obat paten dengan obat bermerek dosis tinggi.

Nah, karena obat bermerek dosis tinggi bekerja lebih cepat dari generik karena itulah saat ini banyak dokter lebih sering memberi obat jenis ini daripada menyarankan orangtua supaya mengistirahatkan dan memberi ASI atau susu lebih banyak kepada anaknya. Salah satu alasan dokter memberi obat paten adalah mereka tidak mau direpotkan oleh klaim pasien soal kenapa anaknya lama sembuh atau menderita sakit lain akibat efek samping obat.

Anak yang panas tidak selalu karena ia sakit. Contohnya Fathan, anak saya yang berumur 7 bulan. Badannya hangat kalau ia kurang tidur. Penyebab ia susah tidur bisa karena ototnya ada yang kecetit, kecapekan, udara panas atau karena ia kangen neneknya. Lain halnya dengan tiga keponakan saya. Sejak bayi mereka sudah diberi obat bermerek dosis tinggi dari dokter spesialis anak langganan orangtuanya. Akibatnya mereka jadi gampang sekali batuk, panas, pilek atau radang tenggorokan seolah antibodi dalam tubuh mereka tidak sekuat anak-anak lainnya.

Selain memberikan obat bermerek dosis tinggi, banyak dokter yang praktik tidak hanya di satu RS sehingga konsultasi pasien tidak optimal. Satu orang dokter bisa praktik di 3 - 4 tempat sementara ia hanya punya waktu 2 jam untuk "mengobati" pasien di poliklinik. Sering dokter-dokter ini terlambat praktik karena lalu lintas macet atau jarak antar RS yang jauh padahal ia sudah ditunggu puluhan pasien. Hal ini membuat ia seolah terburu-buru ketika menerima pasien dan hanya mendiagnosa seadanya.

Pendapatan dokter bila hanya dari satu RS memang "kecil". Di poliklinik RS menengah, pasien membayar tarif dokter sebesar Rp90.000 - Rp120.000. Kalau tiap hari sang dokter melayani 10 pasien dari beberapa RS coba  hitung berapa penghasilannya sebulan. Lebih dari cukup.

Saya dan saudara-saudara sering mendapati dokter -padahal tarif dokternya mahal- yang malas menjelaskan soal kebutuhan medis pasien. Banyak dokter hanya menjawab seadanya ketika pasien bertanya sementara kebanyakan pasien tidak tahu apa yang harus ditanya karena mereka buta soal penyakit atau gejala medis tertentu. Sedikit menjawab dan sering meresepnya obat bermerek dosis tinggi meskipun sebenarnya si pasien hanya butuh istirahat dan cukup makan.

Hal menyebalkan datang ketika sebenarnya terjadi malpraktik namun dokter malah menyalahkan kita sebagai pasien. Contoh kasus terjadi pada Cindy Claudia Harahap, penyanyi era 90-an ini . Dokter dokter salah mendiagnosa penyakitnya sehingga ia hampir tewas karena salah operasi. Pun begitu dengan ibu saya. Ia pernah di diagnosa mengalami pergeseran tulang bahu dan harus dioperasi. Begitu terus diagnosanya meski sudah datang ke tiga dokter. Setelah konsultasi ke (almh) Prof.Hembing Wijayakusuma ternyata ibu saya hanya mengalami pengapuran tulang dan tak perlu dioperasi. Ia akhirnya rutin menjalani terapi di klinik Prof.Hembing dan Alhamdulillah sembuh tidak pernah kambuh lagi.

Malpraktik terjadi mungkin karena dokter kurang melakukan pemeriksaan intensif dan berdialog lebih dalam dengan pasien. Dokter kerap terburu-buru melakukan diagnosa agar ada tindakan sehingga fulus yang masuk lebih cepat dan besar. Ketika terjadi malpraktik jaraaaaang ada dokter yang divonis bersalah dan dipidana, yang ada malah si pasien yang dituntut balik oleh dokter dan RS seperti Prita Mulyasari dengan RS Omni Internasional Alam Sutra.

Diluar hal kematerialistisan dokter kita sebagai pasien harus cermat kalau  berhadapan dengan dokter matre. Jika dokter meresepkan obat, mintalah obat generik karena mengandung bahan kimia yang rendah dibanding obat bermerek dan tidak membahayakan syaraf. Namun demikian biasanya di RS jarang ada stok obat generik sehingga Anda harus menebusnya di apotek. Kemudian bila si dokter pelit bicara maka Andalah yang harus rajin bertanya sampai Anda yakin penyakit apa yang diderita dan bagaimana penyembuhan yang tepat. Kalau sang dokter masih juga pelit bicara baiknya ganti dokter atau pindah RS.

Meski kita rela membayar mahal demi kesembuhan suatu penyakit tapi apa kita mau kesehatan malah tambah terganggu hanya gara-gara si dokter salah diagnosa atau sering meresepkan obat paten? Tidak dong ya

4 komentar

  1. ...seperti gwa deh sis, akibat salah mendiagnosa akhirnya harus kehilangan pendengaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astagfirullah! Yg bener? Mo nuntut jg susah ya, dokter selalu bener katanya.

      Hapus
  2. lah, kan waktu itu gwa pernah cerita (_ _')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haaa.. eh iya ya.. maaf lupa, xixixi!

      Hapus


EmoticonEmoticon