Rahasia Selma



Diresensi oleh : Nisa Ayu Amalia Elvadiani



Sampul
Membaca kumpulan cerita Rahasia Selma rasanya seperti membaca sebuah penuturan. Saya cukup tergelitik dengan judul buku “Rahasia Selma”. Rahasia Selma sendiri merupakan salah satu judul cerita dalam buku ini.

Pada bagian sampul, saya menemukan kemiripan
konsep dengan
sampul buku berjudul Lolita karangan Vladimir Nabokov. Konsep memajang kaki bersepatu memang tidak asing, bedanya Lolita berkesan lebih menyedihkan dengan tampilan hitam-putih daripada Rahasia Selma yang berwarna lebih dinamis dalam pandangan saya. Sampul ini saya katakan sesuai dengan kisah Rahasia Selma yang menggambarkan keingintahuan seorang gadis bernama Selma akan dunia luar. Ia merasa kesepian dan kemudian melakukan perjalanan secara sembunyi-sembunyi. Saya pikir sampul buku ini tidak merepresentasikan isi cerita-cerita yang ada dalam bukunya.


Plot
Penulis buku ini menggunakan alur deskripsi yang kuat. Setidaknya setiap memulai cerita baru atau sub bab baru penulis selalu menuliskan detail suasana dan tempat secara detail meski dengan alur waktu yang maju-mundur.

Ceritanya menggambarkan kisah sederhana, sehari-hari dengan cara yang unik. Pemilihan kata-kata dalam kalimat-kalimatnya pun kaya. Namun entah bagaimana, saya kurang “akrab” dengan cerita-cerita itu. Layaknya cerita harian, cerita-cerita di sana menjadi milik “sendiri”. Sangat aneh rasanya ketika membaca “Pohon Kersen” misalnya saya harus menemukan “kopi robusta” dan “Ham Lam” di tengah jajaran karakter “Mak Sol” atau “Yu Ani”. Atau seperti membaca Rahasia Selma, ketika menemukan karakter Pak Suhana yang muncul dan kemudian muncul lagi nama Wilhelmus. Saya jadi kebingungan menentukan cerita ini mengambil setting di mana?

Nah, kegalauan saya adalah, meski cara penulisannya yang liris, kaya tema dan memiliki jalinan cerita yang kuat, saya selalu tidak paham dengan ending-ending dari tiap ceritanya. Apakah ini berkaitan dengan cerita catatan hati, saya tidak bisa menangkap maksudnya. Butuh pikiran yang tenang untuk paham satu persatu ceritanya, dan pembaca bukan seseorang yang selalu dalam keadaan serius dan penuh fokus saat membaca. Rahasia Selma tampaknya tidak cocok untuk pembaca cepat. Kehilangan satu paragraph saja maka hilanglah jalinan cerita. Berkaitan dengan endorser seperti yang saya kemukakan sebelumnya, hal ini lah yang saya rasa menjadi penyebab mengapa penulis berusaha menarik perhatian pembaca puisi. Cerita yang disuguhkan sarat dengan bahasa symbol yang lekat dengan tema kemanusiaan yang berat, penyajian bahasanya ini lah yang memungkinkan bahwa penikmat puisi atau bahasa syair diharapkan menikmati karya ini.