Kenapa Tahun Ajaran Dimulai Juli Bukan Januari?

Kenapa Tahun Ajaran Dimulai Juli Bukan Januari?

Kenapa tahun ajaran baru dimulai Juli bukan Januari? Karena Juli itu musim kemarau sedangkan Januari musim hujan. 

Lha, alasannya, kok, aneh banget?! Iya, itu alasan yang dibilang oleh Mendikbud periode 1978-1983 Daoed Joesoef (baca: Daud Yusuf).

Sebelum 1978 tahun ajaran baru dimulai Januari dan berakhir Desember. Baru beberapa bulan menjabat Mendikbud Daoed memundurkan tahun ajaran baru dari Januari ke Juli. Perubahan itu tertuang dalam UU Nomor 0211/U/1978 yang mengatur tentang dimulainya tahun ajaran pada Juli dan berakhir di bulan Juni tahun berikutnya.

Pemunduran tahun ajaran baru itu menuai penolakan, salah satunya dari Mendagri Prof. Soenarjo dan Gubernur DKI Ali Sadikin. Mereka bilang jangan sampai anak sekolah dijadikan kelinci percobaan dengan mengubah sistem pendidikan.

Mendikbud Daoed Joesoef beranggapan kalau tahun ajaran baru di Januari menyulitkan, karena:

1. Kontras dengan akhir tutup buku anggaran sehingga sulit menyusun anggaran pendidikan jika tahun ajaran baru dimulai Januari.

2. Kebanyakan sekolah di luar negeri dimulai Juni. Mendikbud Daoed Joesoef ingin anak-anak Indonesia melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Maka tahun ajaran baru perlu diubah supaya sesuai dengan tahun ajaran baru di luar negeri.

3. Desember adalah puncak curah musim hujan. Kalau tahun ajaran berakhir di Desember, maka anak-anak tidak bisa menikmati liburannya karena terganggu hujan. 

Mendikbud ingin anak-anak menikmati masa liburannya di bulan Juni dengan bermain di tanah lapang, sawah, ladang, dan kegiatan luar ruang lainnya.

Mendikbud Daoed benar. Juni sudah masuk musim kemarau dan anak-anak di desa biasa main layangan di sawah, lapangan, atau pantai. Kalau liburan sekolahnya saat puncak musim hujan, mereka tidak bisa main dan cuma lebih banyak di rumah.

Libur Puasa Sebulan Dihapus


Kontroversi Mendikbud Daoed masih ada. Beliau menghapus libur sebulan penuh di bulan Ramadan. Beliau beralasan bulan puasa adalah bulan ibadah dan sekolah termasuk ibadah jadi tidak perlu diliburkan selama bulan puasa.

Beliau juga bilang kalau libur sekolah sebulan saat Ramadan itu peninggalan penjajah Belanda untuk meninabobokan orang Indonesia. Kalau libur sekolah selama sebulan penuh, anak-anak muslim jadi tertinggal intelektualitasnya dan yang rugi kita sendiri, bukan Belanda. Begitu kira-kira yang dikatakan Mendikbud Daoed Joesoef dalam memoar Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran.

Bagi Menteri Daoed, belajar saat puasa itu sesuai dengan perintah pertama Allah pada umat manusia, iqra yang artinya “bacalah”. Anak-anak Indonesia mesti belajar lebih keras untuk mengejar mutu intelektual yang lebih bagus.

Kebijakan ini ditentang oleh MUI yang mengatakan bahwa libur sekolah selama Ramadan bukan penilnggalan kolonial, tapi kebiasaan di masyarakat yang memang ada sejak jaman kolonial.

Libur Puasa Sebulan Masa Penjajahan 


Pada waktu itu, penasehat bumiputera Dr. N. Andriani berpendapat pemerintah Belanda tidak boleh mencabut "hak Islam" pada pribumi. Makanya anak-anak muslim harus diberi kebebasan dalam beribadah. Urusan sekolah dan hal-hal duniawi tidak boleh menghalangi peribadahan itu.

Maka pemerintah kolonial membuat keputusan meliburkan sekolah selama 39 hari selama puasa dan Idulfitri. Para pekerja kemudian pengin juga libur seperti anak sekolah. Mereka lalu ambil cuti menjelang lebaran.

Karena banyaknya pegawai pemerintahan dan swasta yang cuti, kantor-kantor lalu tutup. Pemerintah Belanda tidak bisa apa-apa karena melarang libur lebaran bisa berakibat rakyat memberontak.

Suratkabar kemudian ikut libur juga beberapa hari menjelang lebaran. Mereka terbit lagi sebelum lebaran untuk mengumumkan bahwa besok Idulfitri tiba. Orang Belanda menyebut lebaran atau Idulfitri dengan Tahun Baru Pribumi.

Kebijakan Daoed Joesoef menghapus libur puasa sebulan penuh bertahan sampai tahun 1999, setahun setelah reformasi. Di masa pemerintahannya yang hanya 21 bulan (1999-2001) Gus Dur meliburkan kembali sekolah selama bulan puasa.

Namun, tidak bertahan lama, libur selama bulan puasa dihapus lagi di pemerintahan Megawati Soekarnoputri sampai sekarang. Di masa ini, anak sekolah menikmati libur puasa hanya di tiga hari pertama Ramadan dan sepekan sebelum Idulfitri.

Meski begitu, sekolah Islam swasta dan madrasah biasanya memberi libur puasa dan lebaran lebih lama kepada peserta didiknya dibanding sekolah negeri.

Tahun Ajaran Dimulai Juli Berakhir Juni

 

Kebijakan Daoed Joesoef yang menggeser tahun ajaran baru dari Januari ke Juli bertahan sampai sekarang.

Karena tahun ajaran baru dimulai Juli maka di Desember anak-anak sedang libur semesteran dan mereka bisa menikmati libur bertepatan dengan orang tua mereka libur Natal dan tahun baru.

Piala Itu Ternyata Bukan untuk Anak Berprestasi, Berkarakter, Elok, dan Terpercaya

Piala Itu Ternyata Bukan untuk Anak Berprestasi, Berkarakter, Elok, dan Terpercaya

Sewaktu wisuda (12/6) kemarin saya harap-harap cemas yang akhirnya berujung pada penguatan bahwa dunia ini memang tidak adil. 

Keadilan hanya didapat setelah kiamat dalam bentuk surga dan neraka, begitu kata orang.

Cemas karena di undangan wisuda tertulis jadwal penghargaan kepada peserta didik dengan nilai Asesmen Sumatif Akhir Jenjang (ASAJ) Terbaik. Harap-harap karena anak saya sejak kelas 4 selalu meraih nilai tertinggi di kelas. Dia juga tidak pernah berulah dan selalu disiplin.

Kalau badan masih bisa jalan dan duduk, sesakit apa pun dia tetap pergi sekolah. Di saat teman-teman hadrohnya memilih tidak berangkat karena kelelahan pascalomba, dia tetap berangkat dan oleh gurunya disebut sebagai murid teladan.

Sayangnya, nilai ASAJ anak saya yang ganteng, putih, pinter, jago futsal, dan jago main keyboard itu memang cuma dua yang dapat nilai 100, yaitu Matematika dan IPA. Namun, dia meraih nilai rata-rata UCO (ujicoba) ASAJ tertinggi di kelasnya dan dapat peringkat 1.

Nilai, karakter, kedisiplinan, dan kerajinan dialah yang lantas membuat saya berharap kalau sekolah tidak menggelar penghargaan untuk peraih nilai ASAJ tertinggi, melainkan kepada anak yang berprestasi dilihat dari nilai rapornya selama 5 semester berturut-turut.

Ternyata, apa yang tertulis di undangan memang tidak keliru. Penghargaan berupa piala yang diumumkan di depan peserta dan orang tua wisudawan itu untuk peserta didik yang nilai ASAJ-nya tertinggi.

Jelas mengecewakan. Gimana gak kecewa kalau 2 dari 3 anak dari kelas 6A yang dapat penghargaan, dua di antaranya cuma bagus di nilai ASAJ-nya saja. Kepandaian akademik dua anak itu sehari-harinya biasa saja dan nilai rapornya pun sejak kelas 4 juga cuma ada di 8 besar, bukan 3 besar.

Kecewa berat dan sakit hati karena merasa sekolah tidak adil tambah saya rasakan karena peringkat pertama diraih oleh anak lelaki yang beberapa kali ketahuan membawa vape dan mencontek saat ASAJ!

Waktu mencontek dia bukannya kepergok oleh guru sekolah sendiri, melainkan oleh guru dari sekolah lain yang kebetulan sedang mengawasi di SD anak saya. Emangnya yang gitu gak malu-maluin, ya?

Bukannya harusnya ada sanksi atau apa, kek, buat orang tua anak itu atau si anak sendiri. Andai sekolah memberi penghargaan kepada siswa terbaik dari prestasi dan karakternya selama sekolah, pasti anak yang berhaklah yang dapat penghargaan. Bukan anak yang sering bawa vape dan ketahuan mencontek!

Sebelum peringkat pertama diumumkan, teman-teman kelas anak saya bahkan sudah berteriak-teriak menyebut namanya sebagai peraih peringkat pertama. Itu membuktikan dia memang sudah dikenal sebagai anak berprestasi.

Bukan cuma pandai di akademik. Dia pernah ikut futsal sebagai penjaga gawang dan dapat juara 3 sekabupaten bersama tim sekolahnya. Juga jadi keyboardis di grup hadroh sekolah dan juara 3 sekabupaten juga.

Kurang berprestasi apa, coba? Kenapa sekolah malah mempertimbangkan nilai ASAJ tertinggi untuk diberi piala dan diumumkan di wisuda. Padahal itu cuma satu ujian saja. Ujian itu juga bukan ujian yang susah karena sudah ada ujian ujicoba yang soal-soalnya cuma dibolak-balik saja.

Nilai rapor dan penghargaan memang bukan segalanya, tapi itu jadi penyemangat anak karena dia merasa prestasi, kedisplinan, dan karakter baiknya dihargai.

Pada akhirnya anak saya dipanggil ke atas panggung berjejer bersama anak-anak peraih nilai 100 di ASAJ untuk menerima buket uang senilai Rp100rb. Lumayan buat pelipur lara dia, tapi tidak untuk saya. 

Saya sudah telanjur kecewa berat dengan sekolah sampai lupa bersyukur anak saya dapat nilai 100 di dua mata pelajaran tersulit bagi anak-anak Indonesia - Matematika dan IPA.

Lima Jenis Bullying Menurut UNICEF

Lima Jenis Bullying Menurut UNICEF

Generasi jaman dulu sering main ledek-ledekan dengan memanggil teman memakai nama bapaknya. Pun meledek fisik dengan kata item, cebol, ceking, gendut, dan lain sebagainya yang menjurus ledekan fisik. Begitu kata orang-orang jadul.

Dulu ledekan-ledekan dianggap biasa, tidak ada anak yang sampai depresi apalagi bunuh diri segala. Tahu dari mana kita kalau jaman dulu tidak ada yang depresi diledek terus-terusan begitu?

Arus Informasi Dulu dan Sekarang

 

Zaman generasi 1980-2000, teknologi sudah ada, tapi perkembangan internet di Indonesia belum luas seperti sekarang. Jadi informasi yang diterima generasi masa itu tidak sederas sekarang.

Dulu cuma orang dari kalangan berduit yang bisa mengakses apa pun dari internet karena langganan internet mahal. Paket data dari smartphone juga mahalnya minta ampun dibanding sekarang.

Jadi, arus informasi tidak deras membanjiri generasi 1980-2000. Arus informasi pada masa itu butuh waktu dan datang bertahap untuk sampai ke tangan kita. Contohnya koran. Semua berita dalam koran (suratkabar) sejatinya adalah berita dari peristiwa yang terjadi kemarin. 

Namun, kita tidak menganggapnya basi karena hanya informasi itulah yang kita butuhkan. Orang yang butuh berita dunia wanita akan mencari sumber dari situs atau tabloid wanita. Remaja yang butuh update tentang dunianya akan mencari majalah atau website khusus remaja.

Dengan begitu, informasi yang kita terima hanya informasi yang betul-betul kita perlukan. Otak kita kemudian memproses informasi itu secara bertahap sebelum diserap kedalam memori. Setelah terserap, kita lalu memahami informasi itu secara menyeluruh.

Proses dari menerima sampai menyerap informasi itu tidak kita dapat di era internet seperti sekarang ini. Makanya orang yang hidup di masa sekarang lebih gampang stres dan depresi, bukan cuma anak dan remaja.

Akses internet yang mudah dan murah menyebabkan arus informasi tidak terbendung. Kita dapat semua informasi yang tidak kita butuhkan. Belum sempat otak mencerna dan memahami satu informasi, datang informasi yang lain lagi. Begitu seterusnya sampai kita tidak lagi bisa membedakan mana informasi yang benar dan tidak.

Itulah salah satu yang menyebabkan anak-anak sekarang gampang stres dan mentalnya goyah ketika menerima ledekan dari temannya. Itu cuma salah satu, ya. Sebab lainnya karena zaman berubah.

Jadi, kalau dikatakan mental anak sekarang tidak sekuat dulu itu tidak tepat karena pola pikir dan pola hidup anak sekarang berbeda. Mental anak sekarang digunakan untuk hal-hal kreatif, bukan untuk menerima ledekan apalagi hinaan.

Itulah mengapa ledekan dan candaan yang tidak bikin sakit hati generasi jadul, besar pengaruhnya bagi kesehatan mental anak-anak sekarang.

Berkenaan dengan itu UNICEF telah memberi panduan mana saja yang termasuk bullying-disebut juga dengan perundungan atau penindasan dalam kehidupan sehari-hari.

 1. Perundungan Fisik (physical bullying)

Jenis perundungan ini paling gampang dikenali karena berhubungan dengan fisik seperti memukul, menampar, menendang, dan perkelahian yang dilakukan terus-menerus oleh satu orang kepada yang lainnya.

Mencuri dan merusak barang milik orang lain juga termasuk dalam physical bullying karena merugikan si pemilik barang.

Anak yang sering dicubit dan dijewer oleh orangtua, guru, atau anggota keluarga yang lain artinya anak itu telah mengalami bullying dan harus ditangani supaya mentalnya tidak terganggu.

2. Perundungan Verbal (verbal bullying)
 
Termasuk dalam perundungan verbal adalah mengejek, menjelek-jelekkan, mengancam, dan memberi label kepada seseorang dengan mengatainya si jelek, si bodoh, si sipit, dan lain sebagainya. 

Meledek seseorang dengan sebutan si pintar, si kaya, si tinggi dll yang bertujuan menyindir dan merendahkannya juga termasuk dalam perundungan verbal meski kata-kata itu termasuk kata positif.

Memanggil seseorang dengan nama bapak/ibunya termasuk dalam perundungan verbal kalau ditujukan untuk menghina atau meledeknya.

Sering tidak kita sadari, perundungan verbal juga sering dilakukan orangtua kepada anaknya, entah mereka sadar atau tidak. 

Ada anak yang hampir tiap hari dipanggil dengan sebutan gendut, buntet, ireng, dan sebutan negatif lain. Padahal apa susahnya memanggil anak dengan sebutan yang baik dan penuh pujian, toh itu darah daging si orang tua sendiri, kan.

3. Perundungan Sosial (social bullying)

Perundungan sosial terjadi saat seseorang mengucilkan, merusak nama baik orang lain, dan menjauhkannya dari lingkungan sosial.

Kita mengucilkan seseorang hanya karena dia jelek, miskin, atau bahkan karena terlalu cakep dan pintar, itu termasuk perundungan. 

Pun kalau kita memfitnah orang lain karena iri, dengki, atau dendam, itu juga termasuk perundungan sosial. Mengucilkan seseorang hanya karena dia berbeda juga bagian dari social bullying.

4. Perundungan Psikologis (psychological bullying)

Perundungan psikologis adalah jenis penindasan mental yang dilakukan dengan sengaja dan jahat untuk menyakiti dan mengintimidasi seseorang melalui gerak tubuh, mimik wajah, dan komentar sinis.

Gerak tubuh dan mimik wajah yang termasuk perundungan adalah yang dilakukan berulangkali untuk menghina dan menyakiti seperti melengos, melotot, mendengus, dan

Sama seperti gerak tubuh dan mimik wajah, komentar sinis yang termasuk perundungan juga yang dilakukan berulangkali seperti sindiran dan perkataan negatif yang diucapkan terus-menerus.

5. Perundungan Dunia Maya (cyberbullying)

Cyberbullying adalah penindasan yang dilakukan lewat semua perangkat elektronik yang terhubung ke internet.

Penindasan dunia maya dapat terjadi melalui pesan teks, media sosial, aplikasi, atau forum online. Pelaku cyberbullying melakukannya dengan cara mem-posting atau pengiriman konten berbahaya, termasuk pesan dan foto, serta berbagi informasi pribadi yang membuat seseorang terhina.

Penelitian yang dilakukan oleh Cyberbullying Research Center menunjukkan 15% anak usia 9-12 dan 37% anak usia 13-17 tahun pernah mengalami cyberbullying dalam hidup mereka.  

Pelaku cyberbullying kecil kemungkinannya untuk tertangkap karena sifatnya yang online dalam artian bersembunyi dalam jaringan internet.

Hampir semua orang sekarang memakai ponsel, tablet, laptop, dan komputer setiap hari setiap saat yang membuat kita mudah jadi korban cyberbullying. Tambahan lagi seringnya kita memposting foto dan video di internet bikin kita tambah rentan dimanipulasi untuk jadi korban penindasan dunia maya.

***

Lima jenis bullying diatas adalah versi UNICEF untuk melindungi anak-anak kita dari perundungan. 

Mengenali lima jenis perundungan yang rentan dialami anak, bisa membantu kita memberi pengertian pada mereka dan menyiapkan fondasi bagi mereka menghadapi perundungan di sekolah, di lingkungan rumah, atau di lingkungan pertemanan lainnya.

Keuntungan Menyekolahkan Anak di Sekolah Negeri

Keuntungan Menyekolahkan Anak di Sekolah Negeri

Sekolah negeri, terutama yang dulunya berstatus unggulan, selalu diincar oleh banyak siswa dan orang tua sebagai tempat belajar. Alasannya karena mutu sekolah yang unggul akan membuat para siswa jadi unggul juga.

Betulkah? Secara langsung, iya. Sekolah unggulan biasanya menerapkan cara belajar dan peraturan yang lebih disiplin. Misal, sekolah tidak akan meliburkan siswa kalau tidak ada hal yang sangat mendesak.

Guru-guru di sekolah unggulan, terutama yang berusia muda, juga menerapkan cara mengajar yang lebih bervariasi sehingga siswa lebih cepat mengerti.

Dari Mana Datangnya Istilah Sekolah Unggulan?

Lalu dari mana sekolah negeri dapat predikat unggulan? Dari Kemdikbudristek dan pemerintah daerah setempat. Kemdikbudristek lewat BANSM (Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah) memberikan nilai akreditasi kepada sekolah.

Kalau sekolah itu sudah menyempurnakan 8 Standar Pendidikan Nasional (SPN) maka sekolah itu bisa dapat akreditasi A. Nilai Akreditasi A dimulai dari 91-100. Makin tinggi nilai akreditasi sekolah, makin unggul sekolah itu karena menghasilkan lulusan yang tinggi nilai akademiknya sekaligus berbudi karakter Pancasila.

Sementara itu, pemerintah daerah menetapkan sebuah sekolah di wilayahnya sebagai sekolah unggul berdasarkan prestasi akademik dan nonakademik, serta nilai yang dihasilkan lulusannya.

Namun, predikat sekolah unggul tidak lagi dipakai sejak diberlakukannya Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi dan disusul dengan Kurikulum Merdeka.

Berikut Keuntungan Menyekolahkan Anak di Sekolah Negeri.

1. Terbiasa dengan Keberagaman 

Keberagaman merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Negeri kita tercinta punya ribuan suku asli dan enam agama yang diakui negara selain dari ratusan aliran kepercayaan asli Nusantara.

Menurut laman indonesia.go.id kita punya 1.340 suku dengan suku terbesar adalah suku Jawa yang banyaknya 41% dari total populasi.

Sementara itu, negara kita mengakui 187 aliran kepercayaan dan penganutnya (disebut dengan penghayat kepercayaan) berhak mencantumkan nama kepercayaan mereka di KTP (Kartu Tanda Penduduk).

Keberagaman suku dan agama cuma dapat kita temukan di sekolah negeri karena sekolah ini menerima siswa dari agama dan suku apa pun. Lain halnya dengan sekolah dari yayasan agama yang siswanya identik dengan satu agama saja.

2. Menghargai Perbedaan

Anak sekolah negeri yang terbiasa dengan keberagaman akan menghargai perbedaan. Mereka paham kalau perbedaan itu bukanlah sumber perpecahan, melainkan persatuan.

Mereka juga punya tenggang rasa yang lebih besar dari anak yang tidak terbiasa dengan keberagaman. Ini karena mereka selalu melihat persamaan di setiap perbedaan.

Misal, walau si Fulan beragama Islam dan temannya Kristen, Fulan akan melihat persamaan di antara mereka, yaitu sama-sama siswa sekolah A, sama-sama orang Jawa, sama-sama Indonesia, atau kesamaan lain yang membuat mereka selalu ingin berada dalam keadaan rukun.

3. Biaya Sangat Terjangkau

Sekolah negeri tidak memungut biaya bulanan kepada orang tua atau yang kita kenal dengan SPP (Sumbangan Pembiayaan Pembangunan). Jadi pendidikannya semua gratis.

Komite Sekolah hanya menggalang sumbangan dari orang tua untuk membiayai ekstrakurikuler yang tidak cukup dibiayai oleh dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan kegiatan lain seperti outing class, pameran seni, gelar karya, maupun acara wasana warsa (tutup tahun).

Related: Tugas Pengurus Komite Sekolah Sesuai Permendikbud

Biaya yang dikeluarkan untuk membiayai semua kegiatan itu juga sangat terjangkau karena ditanggung secara gotong-royong oleh sesama orangtua/wali siswa. Intinya, biaya di sekolah negeri sangat terjangkau karena milik pemerintah dan tidak berorientasi keuntungan.

4. Reputasi Pintar

Reputasi sekolah negeri sebagai sekolah yang menghasilkan lulusan pandai dari dulu masih terjaga sampai sekarang.

Anak yang belajar di sekolah negeri yang berlabel unggulan akan dapat poin lebih saat dia melamat kerja dibanding dengan anak yang di sekolah swasta, kecuali swasta itu ternama seperti Pelita Harapan, Bina Nusantara, dan beberapa sekolah Kristen/Katolik ternama.

Dengan begitu seorang anak akan dikenal sebagai anak pandai kalau dari SD-SMA dia belajar di sekolah negeri sekaligus melanjutkan ke universitas ternama yang memberlakukan seleksi ketat pula.

Siapa yang Meminati Sekolah Negeri?

Orang-orang kelas menengah ke bawah memilih sekolah negeri karena alasan biaya yang sangat terjangkau. Sedangkan orang kaya memilih sekolah negeri (yang unggulan) karena alasan prestise.

Walau berbeda alasan, tapi orang kaya dan menengah ke bawah punya pandangan sama bahwa lingkungan belajar di sekolah negeri bisa membuat anak-anak mereka punya disiplin, karakter yang baik, dan kemampuan akademis yang lebih tinggi dari sekolah swasta.

Related: Empat Jenis Pola Asuh yang Membentuk Karakter Anak

Beda di kota besar yang cenderung menyekolahkan anak di yayasan berbasis agama seperti sekolah Islam, sekolah Katolik, atau sekolah Kristen, masyarakat yang tinggal di luar kota besar (apa pun agamanya) masih memandang sekolah negeri sebagai sekolah terbaik untuk anak-anak mereka. 

Anak-anak yang SD-nya di swasta pasti meminati SMP negeri. Begitu juga dengan orangtua yang anaknya di SMP swasta setelah lulus pasti berhasrat memasukkan anak mereka ke SMA negeri.

Delapan Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Bisa Dikendalikan tapi Takbisa Disembuhkan

Delapan Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Bisa Dikendalikan tapi Takbisa Disembuhkan

Tidak ada orang tua yang ingin anaknya sakit atau kena gangguan tumbuh kembang. Anak yang menderita gangguan tumbuh kembang biasanya terlahir dengan kelainan pada syarat atau fisiknya. Bisa karena faktor genetik saat terjadinya embrio dikandungan, pola hidup orang tuanya, lingkungan tempat tinggal, atau hal lain yang diluar kuasa manusia.

Delapan jenis gangguan tumbuh kembang anak ini patut jadi pengetahuan kita supaya kita lebih bersyukur kalau anak atau saudara kita tidak mengalami satu diantaranya.

1. Autisme

 

Autisme punya istilah medis Autism Spectrum Disorder (ASD) atau Autism Spectrum Condition (ASC). 

Penyebab autisme diduga sebagian besar diwariskan secara genetik dan dari faktor lingkungan.

Anak yang menderita autisme punya gangguan pada perkembangan sarafnya sehingga dia mengalami kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Mereka juga sering mengulang-ulang gerakan atau tidak tertarik melakukan aktivitas apa pun.

Pada beberapa kasus anak dengan autisme juga mengidap epilepsi, disabilitas intelektual, dan hiperaktif.

Autisme tidak bisa disembuhkan, tapi anak yang mengidapnya harus diterapi untuk membuatnya mandiri, berperilaku, dan berkomunikasi seperti anak normal.

2. Celebral Palsy

 

Celebral palsy atau disebut juga dengan movement diorder (ganguan gerak), adalah gangguan yang memengaruhi gerakan, keseimbangan, dan postur tubuh. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan atau perkembangan abnormal pada otak yang mengatur fungsi otot. 

Gangguan ini biasanya terjadi sebelum, saat, atau sesudah kelahiran. Gejalanya bervariasi mulai dari kesulitan berbicara, makan, berjalan, hingga kelumpuhan. Cerebral palsy tidak bisa disembuhkan, tapi anak yang menderitanya bisa mendapat kualitas hidup dengan terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasi, dan terapi hidrol air.

3. Down Syndrome

 

Down syndrome lebih kita kenal sebagai keterbelakangan mental yang disebabkan kelainan genetik yang terjadi saat pembelahan sel. Saat pembelahan sel abnormal menghasilkan salinan kromosom 21 secara penuh atau sebagian.

Tingkat keparahan down syndrome berbeda tiap anak, tapi sama-sama menyebabkan kecatatan intelektual seumur hidup dan keterlambatan perkembangan.

Anak dengan down syndrom sering juga mengalami masalah jantung dan pencernaan karena kelainan genetik yang dimilikinya.

4. Stunting

 

Stunting atau stunted growth (pertumbuhan terhambat) adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dapat dilihat dari kurangnya tinggi badan sesuai usia. 

Stunting disebabkan oleh ibu hamil yang kurang gizi sehingga melahirkan anak yang kurang nutrisi. Bisa juga disebabkan karena kurang gizi parah dan infeksi berulangkali yang diderita anak saat masih balita.

Lembaga kesehatan dunia (WHO/World Health Organization) menetapkan ciri stunting dengan kurangnya tinggi badan anak dibawah dua devian dari Child Growth Standards yang ditetapkan WHO.

Cara menentukan apakah tinggi badan anak masuk termasuk normal atau tidak adalah dengan memeriksanya di KMS (Kartu Menuju Sehat) yang diisi oleh petugas Posyandu/Puskesmas yang memeriksa anak kita.

Related: Anak Diganggu Teman di Kelas dan Cara Orangtua Bersikap

Anak yang terindikasi stunting bisa ditangani dan tumbuh normal kalau usianya masih dibawah lima tahun. Pengobatan akan lebih manjur kalau usia anak masih dibawah dua tahun. Kalau tidak ditangani, stunting bisa mengakibatkan gangguan perkembangan otak, sering sakit dan kena infeksi, juga rentan kena diabetes dan sakit jantung saat anak dewasa.

5. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

 

ADHD adalah gangguan pada gelombang otak yang membuat anak susah fokus, hiperaktif, mudah lupa apa yang dilakukannya, dan berperilaku impulsif. Perilaku impulsif adalah sikap spontan dan tiba-tiba yang dilakukan tanpa memikirkan akibatnya.

Penyakit yang termasuk gangguan mental ini diduga karena faktor lingkungan saat bayi dalam kandungan seperti terpapar narkotika, alkohol, dan zat beracun lainnya. ADHD umumnya terlihat sejak anak berusia 3 tahun.

ADHD tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tapi dapat dikendalikan dengan psikoterapi (obat-obatan) untuk meredakan gejala dan membantu anak untuk fokus guna belajar membaca, menulis, berhitung, dan bermain.

Sekilas, anak autis dengan anak ADHD terlihat sama karena keduanya susah fokus dan terlihat banyak bergerak. Namun anak dengan autisme hanya melakukan kegiatan atau gerakan yang itu-itu saja berulangkali, sedangkan anak ADHD bergerak tanpa henti kemana saja dan melakukan apa saja.

6. APD (Auditory Processing Disorder)

 

atau gangguan pemrosesan pendengaran adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan memahami suara, termasuk kata-kata yang diucapkan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Auditory Processing Disorder", Klik untuk baca: https://health.kompas.com/penyakit/read/2022/02/24/090000568/auditory-processing-disorder.


Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

Auditory Processing Disorder adalah gangguan pemrosesan pendengaran yang mana anak kesulitan memahami suara termasuk suaranya sendiri.

Hal ini terjadi karena otak kesulitan memahami suara secara normal. Gejalanya sudah terlihat sejak usia anak-anak yang diduga karena pengaruh gen keluarga, keracunan timbal saat dalam kandungan, kelahiran prematur, penyakit sistem saraf, atau cedera kepala.

Anak yang menderita APD tidak punya masalah pendengaran seperti tuli atau kerusakan gendang telinga. Hanya saja saraf dalam otak mereka sulit memproses suara menjadi informasi sebagaimana otak orang normal.

Makanya gangguan ini tidak bisa disembuhkan, tapi bisa diatasi dengan terapi untuk meningkatkan pendengaran dan konsentrasi. Anak pengidap APD juga harus menggunakan alat bantu pendengaran yang terhubung dengan mikrofon ke arah guru selama belajar di kelas.

7. Gangguan Belajar (Learning Disorder)


Learning diorder atau gangguan belajar berbeda dengan down syndrome yang pengidapnya punya kecerdasannya dibawah rata-rata.

Pada Gangguan Belajar otak tidak bisa memproses informasi yang didengar telinga, dilihat mata, dan dirasakan indera lainnya. Jadi apa yang dilihat, diucapkan, dan didengar anak berbeda dengan apa yang diterimanya.

Beberapa Gangguan Belajar atau learning disorder yang umum diderita adalah:

  • Disleksia: Kesulitan dalam membaca dan memahami kata atau kalimat yang ditulis. Orang dengan disleksia sering salah membaca, mengeja, atau mengartikan huruf, kata, atau kalimat.
  • Disgrafia: Kesulitan dalam menulis dan mengekspresikan pikiran atau ide dalam bentuk tulisan. Orang dengan disgrafia sering salah menulis, mengatur spasi, atau menyusun kalimat.
  • Diskalkulia: Kesulitan dalam berhitung dan memahami konsep matematika. Orang dengan diskalkulia sering salah menghitung, mengingat rumus, atau memecahkan masalah matematika.
  • Dispraksia: Kesulitan dalam melakukan gerakan motorik halus atau kasar. Orang dengan dispraksia sering kaku, canggung, atau tidak terampil dalam bergerak, berbicara, atau bermain.
  • Disfasia: Kesulitan dalam berbicara dan memahami bahasa lisan. Orang dengan disfasia sering salah mengucapkan, mengartikan, atau menyusun kata atau kalimat.
Learning disorder tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tapi bisa diperbaiki dengan bantuan yang tepat sesuai kondisi anak.

8. Conduct Disorder (Gangguan Perilaku)

 

Anak yang kerap berulah dengan melanggar norma sosial, agama, budaya, dan masyarakat secara berulang adalah ciri pengidap Conduct Disorder atau Gangguan Perilaku.

Anak atau remaja yang mengalami conduct disorder biasanya menunjukkan perilaku seperti berbohong, mencuri, merusak, mengintimidasi, berkelahi, menyakiti manusia atau hewan, bolos sekolah, kabur dari rumah, atau melakukan tindakan seksual yang tidak pantas.

Faktor psikologis diduga jadi faktor anak mengalami gangguan perilaku seperti keluarga tidak harmonis, mengalami tekanan pergaulan, stress, merasa rendah diri, dan terpengaruh lingkungan sekitar.

Gejala umum conduct disorder dapat bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin, dan tingkat keparahan gangguan, diantaranya:

  • Agresif terhadap manusia dan hewan seperti menggertak, mengancam, atau mengintimidasi orang lain, berkelahi, menggunakan senjata, melakukan kekerasan seksual, menyiksa atau membunuh hewan.
  • Merusak properti dengan sengaja merusak fasilitas umum, membakar atau meledakkan barang milik orang lain, merusak barang milik diri sendiri atau orang lain.
  • Menipu dan mencuri seperti sering berbohong, mencuri barang di toko, merampok, atau memeras orang lain.
  • Melanggar norma sosial: sering bolos sekolah, keluyuran tengah malam, kabur dari rumah, dan melakukan tindakan seksual yang tidak pantas untuk usianya.
Gangguan Perilaku dapat diobati dengan terapi perilaku kognitif, terapi keluarga, terapi kelompok, terapi perilaku positif, dan obat-obatan (misalnya stimulan, antidepresan, atau antipsikotik). 
 

Berbagai gangguan tumbuh kembang anak itu bisa diketahui sejak dini dengan pengamatan dari orang tua kepada buah hatinya. Dengan begitu efek buruk dari gangguan itu bisa ditekan dan diminimalisir. Hidup anak pun bisa seperti anak normal dan siap menghadapi masa depannya secara mandiri. 

 
Empat Jenis Pola Asuh yang Membentuk Karakter Anak

Empat Jenis Pola Asuh yang Membentuk Karakter Anak

Anak mendapat pendidikan pertama kali dari orang tuanya. Sejak didalam kandungan dia sudah mengenali suara ayah-ibunya atau keluarganya yang lain. Dia juga menyerap kata dan kalimat penyejuk hati yang diucapkan orang tuanya. Pun mendengar bila di tempat tinggalnya sering terlontar makian dan serapah. 

4 jenis pola asuh yang membentuk karakter anak

Saat anak masuk sekolah, pendidikan yang diberikan orang tuanya tidak boleh berhenti, justru saling melengkapi dengan yang diajarkan di sekolah. Sekolah mengajarkan ilmu pengetahuan, orang tua mengajarkan budi pekerti, agama, dan pengetahuan lain yang tidak diajarkan di sekolah.

Meski setiap orang tua sayang pada anaknya, tapi ilmu psikologi menemukan adanya pola asuh otoriter yang ternyata tidak mempedulikan perasaan dan pikiran anak. 

Asal Muasal Pembagian Gaya Pengasuhan


Perkembangan pola asuh pertama kali dicetuskan oleh psikolog perkembangan bernama Diana Baumrind dari University of California di tahun 1960-an.

Diana kemudian mendeskripsikan tiga gaya pengasuhan berdasarkan penelitiannya terhadap anak-anak usia prasekolah. Tiga gaya pengasuhan itu adalah authoritarian, authoritative, dan permissive.

Beberapa tahun setelahnya di tahun 1983 Maccoby dan Martin memperkenalkan gaya pengasuhan yang keempat, yaitu uninvolved parenting. Maccoby dan Martin juga melakukan penelitian pada pola asuh orang dan hubungannya dengan perilaku dan sikapanak ketika remaja.

Merka menemukan uninvolved parenting setelah memperluas tipologi (pengelompokkan berdasarkan tipe atau jenis) dari tiga gaya pengasuhan yang telah dideskripsikan oleh Diana Baumrind.

Berikut empat pola asuh yang diterapkan orang tua ke anak-anak mereka.

1. Pola Asuh Otoriter (Authoritarian Parenting)

 

Authoritarian parenting disebut juga dengan pola asuh otoriter. Otoriter berarti berkuasa sendiri atau sewenang-wenang, Jadi dalam authoritarian parenting, orang tua memberikan larangan dan batasan yang ketat untuk anak.

Anak tidak boleh membantah apa yang dikatakan orang tua, bahkan bila anak mengungkapkan pendapat dan isi hatinya, orang tua akan mencapnya sebagai pemberontak dan tukang melawan.

Alasan Orang Tua Menerapkan Pola Asuh Otoriter

Berikut alasan kenapa orang tua menerapkan pola asuh otoriter terhadap anak.

1. Masih terbawa zaman penjajahan dimana yang muda harus tunduk pada tua apalagi yang berkuasa.

2. Belum mengenal pola asuh selain "anak harus nurut apa kata orang tua" karena menganggap orang tua lebih punya banyak pengalaman hidup dibanding anak.

3. Merasa paling tahu yang dibutuhkan anak karena telah membesarkan anak sejak lahir.

4,. Merasa punya kuasa terhadap anak karena merasa si anak darah daging sendiri maka semua perkataan dan tindakan orang tua harus diikuti.

5. Keinginan masa kecil orang tua tidak tercapai dan ingin anak mencapai apa yang tidak bisa mereka raih. 

Generasi Baby Boomer (kelahiran 1946-1964) dan Gen X awal (kelahiran 1965-1972) merupakan generasi yang paling menerapkan pola asuh otoriter ini. Contoh pola asuh otoriter paling nyata yang diterapkan Baby Boomer dan Gen X awal, misalnya, anak-anak dilarang makan lebih dulu sebelum ayah mereka makan. 

Related: Love Language Orang Tua untuk Hubungan Berkualitas

Alasan lain orang tua menerapkan pola asuh otoriter karena mereka punya trauma masa kecil atau gangguan mental yang tidak disadari, misal gangguan stres, gangguan kecemasan sosial, bipolar, atau gangguan mental lain yang berimbas pada pola asuh.

Psychology Today menyebut bahwa pola asuh otoriter sering disertai dengan kekerasan terhadap anak dalam bentuk bentakan, ledekan, dan makian. Orang tua juga mudah melabeli anak dengan macam-macam sebutan negatif tiap mereka merasa anak tidak menuruti perintah dengan benar.

2. Pola Asuh Otoritatif/Demokratis (Authoritative Parenting)

 

Orang tua yang menerapkan pola asuh otoritatif adalah orang tua yang hangat, penuh kasih sayang, selalu mendukung, tapi juga menetapkan batasan dan disiplin pada anak.

Mereka selalu memberikan bimbingan dan mendorong supaya anak-anak mampu mandiri dan berpikir sendiri. Karena selalu berdiskusi dan bertanya pada anak sebelum mengambil keputusan tentang aktivitas, kebutuhan, dan apa yang diinginkan si anak, maka gaya pengasuhan orotitatif sering disebut sebagai pola asuh demokratis.

Ilustrasi: Very Well Mind

Saat anak memutuskan ingin melakukan suatu hal untuk mengisi waktu, mengembangkan bakat dan minat atau untuk meraih cita-citanya, orang tua akan mendukung dengan memberi bimbingan dan dorongan sesuai usia anak.

Orang tua otoritatif juga memilih untuk memberi penjelasan dan pemahaman pada anak sebelum anak berbuat negatif atau melakukan hal yang dilarang oleh norma agama dan sosial. 

Memarahi anak adalah pilihan terakhir bagi orang tua otoritatif. Kalaupun terpaksa memarahi dan memberi hukuman mereka akan memberi alasan dan penjelasan kenapa mereka marah dan memberi hukuman..

3. Pola Asuh Terbuka (Permissive Parenting)

 

Permissive atau permisif artinya terbuka atau membolehkan. Orang tua yang permisif sangat sayang dan sabar pada anaknya karena itu mereka akan memberikan apa yang diinginkan anak tanpa bertanya dan memikirkan manfaat dan risikonya untuk anak.

Selain itu orang tua  permisif juga sangat sedikit memberi bimbingan, aturan, dan tidak pernah menerapkan disiplin pada anak karena tidak ingin anak marah, kecewa, dan menganggap orang tuanya kejam. 

Ilustrasi: Very Well Mind

Orang tua permisif menganggap kebahagiaan anak adalah kebahagiaan mereka juga maka keinginan anak akan sebisanya mereka penuhi.

Para peneliti menemukan kalau anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif cenderung tidak disiplin, manja, kurang empati, banyak menuntut, dan mementingkan diri sendiri.

Namun orang tua yang menerapkan pola asuh permisif punya alasan melakukannya karena:

  1. Ingin memberi kebebasan pada anak.
  2. Membebaskan anak berkreasi dengan kreativitasnya sendiri.
  3. Tidak ingin dianggap sebagai orang tua oleh anak, melainkan teman.
  4. Semua hal adalah kesempatan belajar buat anak sehingga tidak perlu memikirkan risiko dan keselamatan anak.

4. Uninvolved Parenting (Pola Asuh Abai)


Uninvolved parenting sering disebut juga sebagai neglected parenting atau pola asuh abai. Gaya pengasuhan ini disematkan pada orang tua yang cuek apakah anaknya sudah makan, salat, mengerjakan PR, istirahat, dan segala kebutuhan dasar yang diperlukan anak.

Bisa dibilang gaya pengasuhan abai ini kontroversial karena anak dibiarkan tumbuh dan mengurus dirinya sendiri. Mereka bahkan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri tanpa keterlibatan orang tua yang membimbingnya.

Uninvolved parenting terjadi karena orang tua sibuk bekerja dan menyerahkan pengasuhan pada keluarga terdekat mereka. Namun keluarga dekat ternyata juga sibuk atau tidak mengerti bagaimana cara mengasuh anak.

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh abai ini kalau sudah punya anak akan cenderung mengabaikan anak mereka juga. Sebabnya karena mereka hanya mengenal pola asuh ini dan sudah terbiasa sehingga tidak ingin lagi menjalani pola asuh lainnya, terutama authoritative parenting yang dinilai melelahkan.

***

Orang tua bisa saja mengubah pola asuh mereka selagi anak masih dibawah umur dan belum remaja (12 tahun kebawah). Misal yang tadinya menerapkan pola asuh otoriter pelan-pelan mengubahnya menjadi demokratis.

Perubahan pola asuh ketika anak sudah remaja tidak akan berpengaruh terhadap karakter dan perilaku anak karena masa optimal anak menyerap apa yang mereka dapat ada di usia 12 tahun kebawah saat fungsi kognitifnya masih berkembang.

Fungsi kognitif anak baru terbentuk matang saat usianya mencapai 13 tahun. Maka sebelum anak mencapai usia remaja, orang tua bisa mengoptimalkan pendidikan agama, bermusik, olahraga, seni, atau keterampilan lain yang disukai anak.

Pada masa sebelm remaja ini pula pembentukan karakter dan budi pekerti pada anak harus ditanamkan sungguh-sungguh supaya mereka kelak tidak jadi orang begajulan yang terpapar hal-hal negatif.

Tugas Pengurus Komite Sekolah Sesuai Permendikbudristek 75/2016

Tugas Pengurus Komite Sekolah Sesuai Permendikbudristek 75/2016

Di satu sekolah ada yang namanya Paguyuban Kelas dan Komite Sekolah.

Paguyuban Kelas beranggotakan semua orang tua/wali siswa yang ada di kelas tersebut. Paguyuban Kelas ini dibentuk berdasarkan Permendikbud No. 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan.

Related: Tugas Ketua Paguyuban Kelas, Fungsi, dan Efek Sosialnya

Bila Paguyuban Kelas mengurus kebutuhan pembelajaran dan menyalurkan aspirasi orang tua hanya di satu kelas, maka Komite Sekolah mengurus kebutuhan sekolah untuk memajukan kualitas pendidikan di sekolah secara keseluruhan.

Kenapa harus ada Paguyuban Kelas dan Komite Sekolah? Sebab kepala sekolah dan para guru tidak bisa sekaligus mengawasi jalannya pendidikan di sekolah dan mencari dana sambil melakukan kegiatan belajar-mengajar. 

Adanya Paguyuban Kelas dan Komite Sekolah berguna untuk mengawasi, memberi masukan kepada guru dan kepala sekolah bila diperlukan, dan memenuhi kebutuhan tiap kelas dan sekolah yang bersangkutan.

Kapan Komite Sekolah Terbentuk?

 

Komite sekolah sudah ada sejak Kurikulum 2004 diberlakukan. Kurikulum 2004 disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Komite sekolah waktu itu dibentuk berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Kemudian pada 2006 KBK disempurnakan dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengembangan kurikulum dalam KTSP dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. 

Sementara itu, Dewan Pendidikan merupakan lembaga yang ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat daerah setempat, komisi pendidikan pada dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD), pejabat pendidikan daerah, kepala sekolah, tenaga pendidikan, perwakilan orang tua peserta didik, dan tokoh masyarakat. Dewan Pendidikan menetapkan kebijakan sekolah berdasarkan berbagai tentang pendidikan yang berlaku. 

Selanjutnya Komite Sekolah menetapkan visi, misi dan tujuan sekolah dengan berbagai implikasinya terhadap program kegiatan operasional untuk mencapai tujuan sekolah.

Kemudian kurikulum berganti jadi Kurikulum 2013 (K13) dan terbit Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 yang menguatkan peran Komite Sekolah dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan oleh satuan pendidikan. 

Permendikbud ini merevitalisasi peran dan fungsi Komite Sekolah agar dapat menerapkan prinsip-prinsip gotong royong, demokratis, mandiri, profesional, dan akuntabel.

Tugas Ketua Komite Sekolah dan Pengurus Komite Sekolah


Menurut Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 75 Tahun 2016 tugas Komite Sekolah adalah sebagai berikut.

1. Memberikan pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan.

Terkait didalam adalah memberi pertimbangan terkait hal:

  1. Kebijakan dan program sekolah, termasuk bila sekolah perlu mengadakan ekstrakurikuler tertentu yang banyak diminati siswa.
  2. Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah/Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah
  3. (RAPBS/RKAS)
  4. Kriteria kinerja sekolah
  5. Kriteria fasilitas pendidikan di sekolah, misalnya merenovasi perpustakaan dan menambah koleksi bukunya.
  6. Kriteria kerjasama sekolah dengan pihak lain, misalnya mengadakan kampanye anti-bullying. atau kampanye bebas narkoba di sekolah.

2. Menggalang dana dan sumber daya pendidikan lainnya dari masyarakat baik perorangan/organisasi/dunia usaha/dunia industri maupun pemangku kepentingan lainnya melalui upaya kreatif dan inovatif. 

Upaya kreatif dan inovatif yang dimaksud harus memenuhi kelayakan, etika, kesantunan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi tidak boleh dengan cara memaksa, mengintimidasi, dan lainnya yang tidak sesuai etika kelayakan dan kesantunan.

Penggalangan dana dilakukan bila sekolah membutuhkan dana untuk membayar honor guru, mengupah penjaga sekolah, membayar pelatih ekstrakurikuler, atau menambah fasilitas. Sekolah bisa mengajukan permohonan dana ke Komite Sekolah bila dana BOS tidak cukup.

Kemudian Komitelah yang akan menggalang dana dari berbagai pihak, terutama orang tua, supaya kebutuhan sekolah tersebut terpenuhi.

Sekolah sendiri, terutama negeri, tidak boleh meminta sumbangan uang kepada orang tua/wali siswa sebab itu akan jadi pungutan. Pungutan dala bentuk apa pun dilarang oleh Kemendikbudristek. Jadi yang boleh menggalang dana untuk kebutuhan sekolah hanyalah Komite Sekolah.

3. Mengawasi pelayanan pendidikan di sekolah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pelayanan disini bisa berarti cara guru mengajar, mutu makanan di kantin, kualitas pelatih ekstrakurikuler, dan atau ketersediaan seragam dan alat tulis di koperasi sekolah.

4. Menindaklanjuti keluhan, saran, kritik, dan aspirasi dari peserta didik, orangtua/wali, dan masyarakat serta hasil pengamatan Komite Sekolah atas kinerja sekolah.

Pada poin ini Komite Sekolah dapat ditafsirkan menjadi jembatan bagi siswa, orang tua/wali siswa dengan sekolah, termasuk mencari jalan keluar terbaik bila ada permasalahan dan keluhan terhadap sekolah.

Masyarakat yang keberatan dengan sekolah yang siswanya sering tawran juga bisa mengaspirasikannya ke Komite Sekolah.

Masa Jabatan Pengurus Komite Sekolah

 

Permendikbud No. 75/2016 memberi aturan masa jabatan pengurus Komite Sekolah selama tiga tahun dan dapat dipilih lagi untuk satu kali masa jabatan berikutnya.

Itu berarti masa jabatan ketua, wakil,  sekretaris, bendahara, dan semua pengurus Komite Sekolah paling lama enam tahun saja. Kalau lebih dari enam tahun berarti melanggar Permendikbud No. 75/2016.

Akan tetapi seseorang bisa saja jadi pengurus Komite Sekolah selama 10-13 tahun berturut-turut karena diangkat dari unsur berbeda-beda.

Misal, awalnya dia diangkat dari perwakilan orang tua siswa selama enam tahun selama anaknya ada di kelas 1-6 SD. Kemudian tiga tahun berikutnya dia diangkat dari unsur tokoh masyarakat dan dilanjutkan sampai 3 tahun berikutnya.

Itu berarti dia sudah 12 tahun ada di satu sekolah sebagai pengurus Komite Sekolah. Seseorang yang sudah terlalu lama memegang jabatan sosial seperti itu rentan berada dalam konflik kepentingan atau memanfaatkan posisinya untuk menguntungkan diri dan kelompoknya.

Apalagi Komite Sekolah termasuk kerja sosial yang tidak dapat upah apalagi gaji, jadi amat mungkin kalau dia tidak bisa menghindari menggunakan posisinya demi memperoleh keuntungan finansial.

Pro Kontra Keberadaan Komite Sekolah


Apa yang didapat bila seseorang jadi pengurus Komite Sekolah? Paling mungkin adalah prestige atau gengsi dan status sosial. Dia akan dipandang sebagai orang penting di sekolah dan dihormati oleh guru dan orang tua/wali siswa.

Makanya kalau yang bersangkutan menyanggupi jadi ketua, wakil, atau pengurus komite sekolah, seyogyanya dia berkomitmen menjalankan tugas dan fungsinya demi kepentingan nama baik sekolah, peserta didik, dan guru di sekolah tersebut.

Walau rentan berhadapan dengan konflik kepentingan, sebisa mungkin seseorang tidak menyalahgunakan jabatan sosialnya sebagai Komite Sekolah untuk mengambil keuntungan pribadi.

Selain itu bila melakukan tugas dengan baik tanpa memanfaatkan jabatannya sebagai pengurus Komite Sekolah, yang bersangkutan insyaallah dapat pahala dari amal ibadahnya membantu sekolah. 

Pada Rancangan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang sedang digodok DPR-RI, ada usulan menghapus Komite Sekolah karena dianggap arogan dan hanya mengumpulkan uang. 

Namun penghapusan Komite Sekolah masih diwarnai pro dan kontra karena keberadaannya dinilai masih dibutuhkan untuk mengawasi jalannya pendidikan di tiap satuan pendidikan.

Masyarakat dapat mengajukan usul pada RUU Sisdiknas lewat situs Kemdikbudristek di SINI.

Sepuluh Keuntungan Tidak Menikah Muda

Sepuluh Keuntungan Tidak Menikah Muda

Percayalah, para gadis, menikah memang indah, tapi tidak seperti dongeng Cinderella dan Putri Salju yang bertemu pangeran tampan lalu bahagia selamanya.

Kita bisa bahagia dalam pernikahan, tapi harus ada komitmen besar dari suami dan istri untuk sampai pada pernikahan yang bahagia. Komitmen itu sering dilupakan yang akhirnya berujung pada kurangnya komunikasi, rasa saling tidak percaya, dan akhirnya rumah tangga jadi tidak harmonis.

Usia Minimal Menikah


Usia minimal yang dibolehkan menikah bagi laki-laki dan perempuan di Indonesia adalah 19 tahun.

Hal itu sesuai dengan Pasal 7 ayat 1 UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun.

Usia menikah minimal bagi perempuan di Kompilasi Hukum Islam (KHI) adalah 16 tahun dan 19 tahun bagi laki-laki. Namun, karena KHI mengikuti UU Perkawinan Nomor 1/1974 yang telah berubah dan diganti oleh UU Nomor 16/2016, maka usia menikah minimal juga mengikuti UU Perkawinan, yaitu 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan.

Meski begitu BKKBN menyebut kalau usia minimal orang menikah adalah 21 tahun buat perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Ini berkaitan dengan sistem reproduksi perempuan dan kesiapan mental mereka menjadi ibu.

Sepuluh Keuntungan Tidak Menikah Muda

 

Walau sudah diizinkan menikah oleh negara dan agama, usia 19-21 bagi perempuan bisa digunakan untuknya melakukan banyak hal positif alih-alih menikah muda. Bukan berarti menikah tidak positif, ya. 

Maksudnya daripada buru-buru menikah karena takur berzina, lebih baik tolak lamaran pacar kalau dia belum punya pekerjaan atau usaha tetap dan malah menjauhkan kamu dari keluarga besar.

1. Bisa Kuliah

Perempuan harus kuliah supaya pola pikirnya berkembang dan punya keahlian yang bisa digunakannya kelak selama berumahtangga.. Menikah sambil kuliah telah dilakukan beberapa perempuan. Kadang kita juga melihat mereka membawa anak ke kampus yang dibantu pengasuh. 

Kalau suami kamu kaya raya dan mampu mmbiayai kuliah sampai lulus, boleh saja kamu menikah di usia 19 atua 20 tahun. Tapi lebih baik selesaikan dulu kuliahmu sampai jadi sarjana atau master, lalu menikah.

Gunanya supaya kamu fokus pada kuliah dan bisa menghasilkan nilai yang bagus tanpa terdistraksi oleh pernikahan. Ilmu di bangku kuliah kelak bisa kamu gunakan kalau anak-anak sudah beranjak besar dan kamu punya waktu luang berlebih.

2. Bisa Membiayai Diri Sendiri

Banyak pekerjaan bisa didapat andai tidak mampu kuliah. Di usia 19-21 tahun kamu bisa buka usaha atau bekerja sambilan atau kursus keterampilan kerja.

Dengan bekerja menghasilkan uang, kamu bisa menabung atau uangnya bisa digunakan untuk kebutuhan pribadimu.

3. Bisa Membahagiakan Orang Tua

Uang yang kamu kumpulkan dari gaji atau laba usaha bisa kamu pakai buat beliin martabak untuk orang tua. Kalau uangmu banyak kamu bisa ajak mereka jalan-jalan.

Kalau kamu nikah muda kamu memang bisa memberi cucu buat orang tua yang bisa juga bikin mereka happy, tapi kalau membahagiakan mereka pakai uangmu itu rasanya priceless. Kita serasa bisa membalas budi kepada orang tua atas pengasuhan mereka selama ini walau cuma beliin martabak.

4. Tidak Menyusahkan Orang Lain

Banyak pasangan muda yang menikah, tapi minta modal dari orang tua untuk pesta pernikahan, sewa rumah, mobil, dan kebutuhan anak.

Daripada menikah dan gaji suami kamu kecil sampai harus minta subsidi orang tua atau saudara, lebih baik tunda menikah muda.

Menikahlah saat kamu dan suami sudah benar-benar mampu untuk tidak menyusahkan orang lain.

5. Bisa Mencari Banyak Pengalaman

Sebelum usia 30 kamu masih bisa ganti-ganti pekerjaan. Saya sendiri pernah mengalaminya. Gak cocok jadi wartawan ganti jadi sekretaris, lalu pindah jadi corporate communication di perusahaan asuransi ternama. Terakhir jadi social media analyst di startup Singapura dan sekarang jadi blogger dan content writer.

Selain gonta-ganti kerjaan kamu juga bisa ikut kelas senam, kursus bahasa isyarat, atau hal lainnya yang bisa menambah pengalaman hidupmu.

6. Bisa Puas Melakukan Hobi

Punya hobi masa kecil yang belum sempat terlaksana? Bisa kamu lakukan daripada meratapi jodoh yang belum datang. 

Misal kamu pengen bisa masak kamu bisa mencoba aneka resep bahkan menciptakan resep sendiri.

Melakukan hobi bisa membuat kamus selalu positif dan terhindar dari stres berkepanjangan.

7. Bisa Mencari Teman dan Relasi Baru

Teman dan relasi baru bisa didapat di tempat baru atau di tempat lama. Tergantung apa yang kamu kerjakan.

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu butuh orang lain. Punya teman dan relasi baru juga bisa mengasah kemampuan komunikasimu dan membantu menghadapi orang dengan berbagai karakter.

Hal ini berguna kalau kamu jadi ibu. Kamu bisa membimbing anak-anakmu bagaimana cara menghadapi orang rese bahkan perundung di sekolah dengan cara positif.

8. Bisa Membantu Keuangan Keluarga

Adik bungsumu ingin kuliah sampai lulus, tapi ayah keburu pensiun. Disini kamu bisa bantu adikmu jadi sarjana dengan mengurangi beban orang tua membayar biaya kuliah.

Bisa juga kamu kakak yang sedang kesulitas uang karena suaminya kena PHK. Kamu bisa bantu kakakmu dengan memberi sedikit gaji ke dia. Atau ada sepupu yang butuh modal juga bisa kamu pinjami. 

Percayalah, kamu jauh lebih bermanfaat dengan tidak buru-buru menikah seperti teman-temanmu yang punya anak di usia 23 tahun lalu serba nanggung. Jadi ibu rumah tangga nanggung, wanita karir nanggung, jadi mama muda pun nanggung.

9. Bisa Membangun Karir

Cita-cita masa kecilmu bisa diwujudkan disini. Setinggi apa pun cita-cita tidak mustahil diwujudkan kalau kita berusaha.

Kalau menikah muda, akan sangat sulit bagimu mewujudkan cita-cita karena prioritas adalah suami dan anak-anak.

10. Bisa Beramal dan Bersedekah Sepuasnya

Karena pakai uang sendiri kita tentu tidak perlu izin suami atau orang tua kalau mau bersedekah, berinfak, atau meminjamkan duit ke sanak saudara dan teman.

Kita juga bisa ikut pengajian, organisasi sosial, atau organisasi keagamaan tanpa terikat dengan kewajiban pernikahan. Dengan begitu kita jadi bisa berbuat banyak dengan uang dan waktu yang kita miliki.

***

Berapa usia ideal perempuan menikah? Di masa kini usia ideal bagi perempuan menikah ada di rentang 25-30 tahun. Pada umumnya kematangan jiwa laki-laki dan perempuan lebih cepat datang karena arus informasi yang silih berganti datang dengan cepat.

Namun kematangan mental dan pola pikir justru terlambat karena otak terlalu banyak menerima stimulasi informasi. Maka di usia 25-30 tahun reproduksi perempuan masih subur, tapi secara psikologis mereka sudah siap berumahtangga.

Related: Mengharmoniskan Suami-Istri yang Beda Karakter dan Pola Pikir

Jangan takut telat menikah dan jadi perawan tua sebab manusia sudah diberi jodoh masing-masing. Jodoh itu bukan cuma satu dan kamu akan menikah kalau waktunya sudah tepat tanpa harus menunggu jadi tua. 

Dan kita bisa memilih jodoh mana yang akan membawa kebahagiaan lahir-batin dan dunia-akhirat.

Tugas Ketua Paguyuban Kelas, Fungsi, dan Efek Sosialnya

Tugas Ketua Paguyuban Kelas, Fungsi, dan Efek Sosialnya

Paguyuban kelas sudah ada sejak Kurikululum 2013 (K13) yang menggantikan Kurikulum 2006. Kedudukan paguyuban kelas ini dikuatkan lagi oleh Permendikbud Nomor 30 tahun 2017 sebagai bentuk pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan.

tugas ketua paguyuban kelas

Gen Z dan geriatric millennial yang lahir antara tahun 1970-1985 pasti kenal POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru) di zaman mereka sekolah. Paguyuban kelas mirip seperti POMG, hanya saja sekarang fungsi dan tujuannya lebih luas daripada sekadar mengumpulkan sumbangan.

Paguyuban Kelas di Sekolah


Paguyuban kelas ada di tiap kelas yang ada di SD/sederajat sampai SMA/sederajat. Jadi kalau di kelas satu, misalnya, ada empat kelas (1A, 1B, 1C, dan 1D) maka paguyuban kelasnya juga ada empat. Begitu pun kalau di kelas delapan punya tujuh kelas, paguyuban kelasnya ada tujuh juga.

Beberapa hari setelah tahun ajaran baru dimulai wali kelas akan mengundang orang tua/wali untuk membentuk pengurus paguyuban. Orang tua yang ingin jadi ketua bisa mencalonkan dirinya sendiri dan mendapat suara secara aklamasi.

Orang tua/wali yang mau jadi sekretaris dan bendahara juga boleh mengajukan diri. Kemudian untuk posisi wakil ketua, sekretaris II, bendahara II, dan humas boleh ada boleh tidak karena posisi yang penting hanyalah ketua dan bendahara.

Jadi susunan pengurus paguyuban kelas yang sederhana sebagai berikut:

1. Ketua
 
2. Bendarahara. Di paguyuban kelas posisi bendahara lebih penting dari sekretaris karena dialah yang mengumpulkan iuran bulanan dari orang tua, juga mengumpulkan sumbangan untuk komite sekolah.
 
3. Sekretaris. Biasanya sekretaris membuat notulen bila ada pertemuan paguyuban dengan wali kelas dan kepala sekolah atau antara paguyuban dengan komite sekolah.
Tidak setiap hari ada rapat dan pertemuan, jadi tugas sekretaris lebih ringan daripada bendahara.

Kalau untuk bagi-bagi jabatan supaya banyak orang tua siswa yang terlibat, susunan pengurus boleh ditambah menjadi:

  1. Ketua
  2. Wakil Ketua
  3. Bendahara I
  4. Bendahara II
  5. Sekretaris I
  6. Sekretaris II
  7. Humas I
  8. Humas II

Sebetulnya posisi sekretaris harus ada dalam struktur kepengurusan paguyuban, tapi cuma formalitas karena kenyataannya ketua bisa merangkap jadi sekretaris kalau ingin menyampaikan hasil rapat dengan sekolah dan komite. 

Tiap tahun ajaran baru kepengurusan paguyuban boleh ganti boleh tidak, tergantung aspirasi orang tua/wali di kelas tersebut. Biasanya ketua dan bendahara tidak pernah ganti sampai si anak lulus kecuali kalau ada kejadian force majeur atau mereka mengundurkan diri dan disetujui oleh anggota paguyuban.

Paguyuban kelas dibentuk untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar di kelas sekaligus wadah orang tua/wali untuk saling berbagi. Tidak mudah menyatukan isi pikiran seluruh orang tua yang ada dalam satu kelas. 

Itulah gunanya ketua paguyuban yang salah satu tugasnya membuat orang tua/wali tetap guyub dan rukun apa pun isi kepala mereka.

Tugas Ketua Paguyuban 


Orang tua yang jadi ketua paguyuban tidak dibayar karena termasuk kerja sosial. Ketua paguyuban yang supel dan luwes bergaul bisa merangkul semua orang tua/wali. Dengan begitu dia bisa jadi jembatan bagi kompaknya orang tua dalam satu kelas. 

Program kelas yang dirancang guru juga akan sukses terlaksana ditangan ketua yang komunikatif dengan guru dan sesama orang tua.

Berikut tugas ketua paguyuban selama dia menjabat.

1. Mengenal semua orang tua/wali dalam satu kelas.
 
Sudah sewajarnya orang tua mengenal semua orang tua di kelas anaknya tanpa kecuali karena ditangan dialah jembatan utama komunikasi orang tua dengan guru dan sekolah berada.
 
Ketua yang hanya mengenal segelintir orang tua tidak akan bisa membuat kelasnya guyub karena dia jadi tidak netral dan cenderung mengutamakan kelompoknya sendiri. 


2. Memperjuangkan apa yang jadi aspirasi orang tua/wali. 
 
Misalnya mayoritas orang tua keberatan dengan adanya buku pendamping seperti di Kurikulum 2013, maka ketua paguyubanlah yang menjadi jembatan dengan guru kelas.
 
Kalau semua orang tua menghubungi guru untuk mengutarakan keberatannya, bisa dipastikan banyak waktu guru yang terbuang hanya untuk meladeni orang tua saja. Maka ketua paguyubanlah yang bicara mewakili para orang tua.
 
3. Menginformasikan kebijakan wali kelas, komite, dan sekolah kepada seluruh orang tua/wali siswa.
 
Komite sekolah kadang perlu membuat pertemuan dengan para ketua paguyuban untuk membicarakan program sekolah atau menggalang sumbangan.
 
Nanti para ketua paguyubanlah yang meneruskan informasi hasil rapat tersebut ke para orang tua lewat grup WhatsApp atau media lainnya. Kalau ada orang tua/wali yang keberatan dengan program komite, maka ketualah yang menjelaskan sampai si orang tua paham.
 
Kalau si orang tua tetap ngeyel, keras kepala, dan menolak mentah-mentah, barulah ketua paguyuban minta si orang tua untuk langsung menghubungi kepala sekolah.

Namun ketua paguyuban tidak hanya sendirian membuat guyub kelas yang dipimpinnya. Orang tua lain juga punya peran untuk menyukseskan program kelas dan menjalin kekompakan dengan orang tua lain.
emperbaca.com
Sumber dari repositori.kemdikbud.go.id

Tugas Anggota Paguyuban Kelas

 

Selain yang tercantum pada tabel diatas, anggota paguyuban kelas juga punya tugas untuk mendukung dan memperlancar kegiatan belajar anak-anaknya di kelas seperti dibawah ini.

1. Datang ke pertemuan dengan sekolah. 
 
Pertemuan ini bisa tentang kegiatan belajar-mengajar, seminar parenting, atau pertemuan dengan komite sekolah.
 
Pertemuan dengan sekolah selalu penting karena disinilah kita bisa akan mengerti bagaimana cara mengajar wali kelas, tahu apa saja program kelas yang disusun guru, dan apa saja kegiatan sekolah selain belajar-mengajar.
 
Kita bisa saja tidak datang lalu bertanya ke sesama orang tua, tapi informasi yang kita terima tidak akan utuh karena bisa saja si orang tua itu lupa, kurang mengerti, atau tidak sreg-tapi tidak berani bilang langsung di pertemuan. Jadi sangat berguna kalau kita datang langsung ke tiap pertemuan yang diadalan sekolah.

2. Membayar iuran paguyuban. 
 
Besarnya iuran harus disepakati oleh mayoritas orang tua/wali siswa karena merekalah yang membayar.
 
Kalau satu kelas mayoritas hanya mampu Rp5.000 per bulan maka ketua dan pengurus paguyuban tidak boleh memaksakan iuran yang lebih besar.
 
Iuran paguyuban ini akan dibelikan sapu, pel, kemoceng (sulak), alat tulis, perangkat tugas kerajinan tangan, atau apa pun yang diperlukan siswa dan guru untuk menunjang pembelajaran di kelas.
 
3. Terlibat percakapan di grup WhatsApp. 
 
Tidak apa-apa terlibat dalam percakapan di grup WhatsApp dengan orang tua lain walaupun Anda amat sangat jarang bertemu mereka.
 
Tidak usah malu, risih, dan terganggu oleh percakapan-percakapan remeh-temen di grup orang tua karena itu salah satu bentuk mencapai keguyuban kelas.
 
Percakapan remeh-temeh saol seragam kotor, isi tas anak, atau bahkan masakan justru bisa mencairkan kekakuan dan membentuk ikatan supaya antar-orang tua jadi akrab. Jadi interaksi dengan sesama orang tua/wali tidak cuma kalau ambil rapor di sekolah saja.

*** 

Zaman sudah berubah di segala bidang, termasuk pendidikan. Udah gak jamannya lagi orang tua cuma terima beres soal pendidikan di sekolah. Orang tua dilibatkan, tapi tidak untuk mencampuri hak prerogatif guru dan sekolah.

Salah satu bentuk keterlibatan orang tua di sekolah tercipta dalam bentuk paguyuban kelas. Disinilah orang tua bisa saling berbagi tentang pengasuhan anak atau soal pelajaran yang tidak anak mereka kuasai, terutama orang tua yang anaknya masih SD.

Dari kacamata religi, ketua paguyuban adalah kerja sosial yang manfaatnya akan dipetik di kemudian hari, baik di dunia maupun akhirat. 

Karena merupakan kerja sosial tidak jarang banyak ketua paguyuban yang akhirnya tidak peduli dengan keguyuban antar-orang tua karena merasa dia jadi ketua karena dipaksa, bukan kemauan sendiri. Maka berbahagialah ketua paguyuban yang sudah melaksanakan tugas sosialnya sebaik mungkin.

Seringkas Merdeka Belajar Episode 20-24

Seringkas Merdeka Belajar Episode 20-24

Kurikulum Merdeka sudah diterapkan secara bertahap sejak tahun ajaran 2021/2022. Diimplementasikan secara bertahap supaya para tenaga pengajar memahaminya tahap demi tahap secara mendalam dan utuh. 

emperbaca.com

Makanya penyebutan Kurikulum Merdeka dalam praktik sehari-hari disebut sebagai IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka). Sejak 2021 sudah ada 19 episode Merdeka Belajar hasil dari penjabaran Kurikulum Merdeka untuk diterapkan secara adil dan merata di seluruh jenjang pendidikan.

Merdeka Belajar episode 1-19 dapat dilihat di situs kemdikbud.go.id, namun pada episode episode 20-24, emperbaca.com merangkum dan meringkasnya sebagai berikut.

Merdeka Belajar Episode 20: Praktisi Mengajar


Dalam episode ke-20 ini menteri Nadiem Makarim mengajak para profesional dan ahli di berbagai bidang untuk ikut memajukan pendidikan Indonesia bergabung dan bergerak bersama menjadi praktisi mengajar.

Data ILO (International Labour Organization) menunjukkan bahwa terdapat 13,4 juta profesional di Indonesia. Sekitar 50 persennya tertarik untuk mengajar di kampus jika ada undangan, waktu yang wajar, dan insentif yang adil. 

emperbaca.com
(kemdikbud.go.id)

Makanya “Praktisi Mengajar” yang ada di Merdeka Belajar Episode 20 diciptakan untuk mempercepat mahasiswa memasuki dunia profesional melalui kerja sama perguruan tinggi, dosen, dan praktisi di dalam kelas.

emperbaca.com
(sumber: kemdikbud.go.id)

Orang-orang dari perusahaan besar bisa mengajar di kampus dan berbagi pengetahuan tentang dunia kerja yang ada di perusahaan mereka.

Merdeka Belajar Episode 21: Dana Abadi Perguruan Tinggi


Peluncuran Merdeka Belajar Episode 21 telah dilangsungkan pada 27 Juni 2022 oleh Kemdikbudristek Nadiem Makarim.

Saat ini dana abadi perguruan tinggi yang dikelola LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) ada Rp7 triliun untuk disalurkan kepada perguruan tinggi negeri badan hukum (PTN-BH).

Penyaluran dana abadi ini diharapkan memotivasi perguruan tinggi untuk membangun dana abadinya sendiri dari bunga yang berasal dari sumber dana abadi LPDP Rp7 triliun tersebut.

Dana abadi adalah dana (uang) yang dikumpulkan dari berbagai sumber sampai terkumpul dalam jumlah tertentu. Hasil dari pengelolaan dana itu digunakan untuk kepentingan (dalam hal ini perguruan tinggi) tanpa mengurangi nilai pokok dana tersebut.

Maksud dari Merdeka Belajar Episode 21 ini utamanya mendorong kampus kreatif mencari tambahan dana selain dari pemerintah dan biaya dari mahasiswa.

Merdeka Belajar Episode 22: Transformasi Masuk Seleksi Perguruan Tinggi Negeri


Episode 22 rilis pada 7 September 2022 dan mengatur tentang seleksi di PTN.

Mas Menteri Nadiem mengatakan transformasi seleksi masuk PTN ada tiga jalur.

1. Seleksi nasional berdasarkan prestasi. Seleksi ini mengambil hasil dari rapor siswa dari nilai dan kompetensinya.

Jadi siswa SMA/sederajat auto diterima di PTN favorit kalau nilai rapornya bagus di semua mata pelajaran, berprestasi di kegiatan ekstrakurikuler, dan budi pekerti serta perilakunya bagus juga.

emperbaca.com
(sumber: kemdikbud.go.id)

Bagus disini dalam seri seusai dengan profil pelajar Pancasila. Kalau yang tukang berantem, suka tawuran, dan nge-bully, itu gak sesuai dengan profil pelajar Pancasila

Jadi walau nilainya outstanding dan juara basket, misalnya, dia gak akan diterima dari jalur prestasi kalau perilakunya jelek.

2. Seleksi nasional berdasarkan tes. Seleksi ini berfokus pada pengukuran kemampuan penalaran dan pemecahan masalah. 

Tes ini terdiri dari potensi kognitif, penalaran matematika, literasi dalam bahasa Indonesia, dan literasi dalam bahasa Inggris. 

Soal-soal pada tes ini akan menitikberatkan kemampuan penalaran peserta didik, bukan hapalan.

3. Seleksi mandiri oleh PTN. 

Seleksi ini diatur pemerintah supaya lebih transparan dengan mewajibkan PTN melakukan beberapa hal sebelum dan sesudah pelaksanaan seleksi secara mandiri:

  • PTN wajib mengumumkan jumlah calon mahasiswa yang akan diterima masing-masing program studi/fakultas.
  • Metode penilaian calon mahasiswa yang terdiri atas tes secara mandiri, kerja sama tes melalui konsorsium perguruan tinggi, memanfaatkan nilai dari hasil seleksi nasional berdasarkan tes, dan/atau metode penilaian calon mahasiswa lainnya yang diperlukan.
  • Besaran biaya atau metode penentuan besaran biaya yang dibebankan bagi calon mahasiswa yang lulus seleksi.

Sesudah pelaksanaan seleksi secara mandiri selesai, PTN diwajibkan:

  • Mengumumkan jumlah peserta seleksi yang lulus seleksi dan sisa kuota yang belum terisi.
  • Masa sanggah selama lima hari kerja setelah pengumuman hasil seleksi.
  • Tata cara penyanggahan hasil seleksi.

Mendikbudristek juga mengajak masyarakat ikut terlibat dalam proses pengawasan, sehingga seleksi mandiri dapat terlaksana secara transparan dan akuntabel. 

Masyarakat dapat melaporkan melalui kanal pelaporan whistleblowing system di situs Kemdikbudristek.

Merdeka Belajar Episode 23: Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi Indonesia


Pemilihan dan perjenjangan buku dipilih berdasarkan kriteria buku bacaan bermutu, yaitu buku yang sesuai dengan minat dan kemampuan baca anak.



Makin banyak baca makin banyak tahu. Tidak suka baca jadi tidak tahu.

Merdeka Belajar Episode 24: Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan


Episode ke-24 rilis pada 23 Maret 2023 dengan tujuan menciptakan transisi dari PAUD ke SD dengan tidak membuat siswa stres karena terbebani harus bisa calistung (baca-tulis-berhitung).

Tiga target capaian dari Episode 24:

Pertama, satuan pendidikan perlu menghilangkan tes calistung dari proses PPDB pada SD/MI/sederajat karena setiap anak memiliki hak untuk mendapat layanan pendidikan dasar. 

Tes calistung juga sudah dilarang melalui PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dan Permendikbudristek Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru.

Kedua, satuan pendidikan perlu menerapkan masa perkenalan bagi peserta didik baru selama dua minggu pertama. Pihak PAUD, SD/ MI/sederajat dapat memfasilitasi anak serta orang tua untuk berkenalan dengan lingkungan belajarnya supaya anak merasa nyaman dalam kegiatan belajar. 

Ketiga, PAUD dan SD/ MI/sederajat perlu menerapkan pembelajaran yang membangun enam kemampuan fondasi anak.

emperbaca.com

Kemampuan fondasi tersebut dibangun secara berkelanjutan dari PAUD sampai kelas 2 SD.

***

Kalau kita lihat Kurikulum Merdeka ini lebih lengkap, mudah dipahami, dan tidak membebani siswa dan mahasiswa untuk menghapal banyak pelajaran.

Paling penting dalam implementasi Kurikulum Merdeka ini adalah penguasaan siswa/mahasiswa terhadap suatu materi pembelajaran dan kelak punya kemampuan akademis dan kompetensi di tingkat global dengan perilaku yang berbudi luhur sesuai falsafah Pancasila.

Think local act global.