Dekorasi Kelas, Menyemangati atau Mengganggu Konsentrasi?

Sudah jamak kelas-kelas sekarang punya dekorasi yang wow dibanding zaman orde baru yang warna catnya cuma putih atau krem.

Dekorasi yang ada di kelas juga cuma foto Presiden Soeharto beserta wakilnya, dan nama-nama menteri disertai lambang Garuda Pancasila.

Dekorasi kelas berfungsi untuk menciptakan lingkungan yang nyaman supaya anak semangat belajar sekaligus menstimulasi kreativitasnya.

Itu sebab, dekorasi kelas dibuat semenarik mungkin, terutama di TK untuk mengenalkan aneka warna dan bentuk.

However, seperti apa dekorasi yang efektif membuat anak nyaman dan mendorong semangat belajar dan kreativitasnya? Apakah dekorasi yang ramai, megah, dan penuh warna?

Pengaruh Dekorasi Kelas

 

Riset yang dilakukan Carnegie Mellon University yang dimuat pada jurnal psikologi pada 2014, menemukan bahwa kelas yang didekorasi berlebihan dan tidak sesuai kebutuhan ternyata mengganggu konsentrasi belajar.

Anak-anak juga sering kehilangan perhatian pada guru ketika pembelajaran sedang berlangsung. Motivasi belajar juga menurun dan lebih kecil daripada mereka yang belajar di ruang kelas yang dekorasinya lebih sederhana. 

Contoh kelas dengan dekorasi angkasa luar yang berlebihan (foto: Mazaliee)

Anak-anak yang belajar di kelas dengan dekorasi berlebihan juga cenderung lebih sering mengobrol dengan teman dan melakukan aktivitas selain pembelajaran (off-task behavior).

Meski begitu, pada anak yang lebih besar, kelas 6 keatas, dekorasi yang berlebihan tidak terlalu menganggu karena mereka lebih butuh kondisi yang sepi dan tenang untuk menjaga fokus.

Dekorasi Kelas dan Kurikulum 2013

 

Sebenarnya Kemdikbudristek sudah mengarahkan sekolah-sekolah untuk menggunakan Kurikulum Merdeka. Namun, untuk jenjang SD, baru kelas 1 dan 4 saja yang menggunakannya. Kelas lain masih memakai Kurikulum 2013 atau K13.

Bacaan Lain: Fakta Sekolah Gratis, Makin Banyak Fasilitas dan Prestasi Makin Tidak Bisa Gratis

Di buku Tema K13 ada pelajaran tentang Tema. Tapi, apakah ruang kelas lantas harus di cat gambar dinosaurus aneka jenis hanya karena guru menginginkan dekorasi kelas bertema lingkungan?

Lucunya, gambar aneka jenis dinosaurus itu dilukis tepat di samping papan tulis.

Lalu, pada kelas bertema sains, tembok dan langit-langit kelas dicat gambar ruang angkasa lengkap dengan astronot dan planet-planetnya.

Apakah harus seheboh itu mendekorasi kelas?

Efek Kurikulum yang DIterapkan Salah Kaprah


Pada K13 tidak disebutkan secara eksplisit soal peran orang tua dalam pendidikan anak-anaknya di sekolah. Hanya disebutkan bahwa orang tua terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka dan dapat memberi masukan kepada guru.

Terlibat dalam pendidikan maksudnya yaitu, pendidikan anak di luar sekolah jadi tanggung jawab orang tua. Tidak seperti zaman rikiplik di mana pembentukan akhlak, karakter, dan mental diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Orang tua tinggal bayar SPP dan terima beres.

Didalam K13, keterlibatan orang tua terhadap pendidikan dan sekolah difasilitasi dalam bentuk paguyuban kelas. Pengurus paguyuban dipilih oleh orang tua dan wali peserta didik kelas yang bersangkutan.

Apa yang menjadi aspirasi orang tua terhadap sekolah dapat disalurkan lewat paguyuban.

Namun, yang terjadi, kurikulum yang mendorong keterlibatan orang tua itu justru dimanfaatkan untuk kepentigan dan keegoisan si orang tua. 

Misalnya, menentukan tempat karyawisata yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran atau mengutip banyak iuran kepada orang tua untuk membuat kaus kelas. 

Bacaan Lain: Biaya Sekolah vs Jalan-jalan

Mendekorasi kelas secara berlebihan juga termasuk bentuk keegoisan orang tua yang mengatasnamakan anak.

Lagipula, anak kecil usia TK dan SD belum mengerti dekorasi apa yang mereka butuhkan di kelas. Mereka cuma ingin belajar bersama bapak-ibu guru dan bermain dengan teman-teman.

Maka idealnya kita lebih memprioritaskan kebutuhan belajar anak daripada dekorasi kelas.

0 komentar

Posting Komentar