Widget HTML #1

Hati-hati Skema Ponzi di Balik Aplikasi Nonton Drama Dibayar

Kalau kita sedang nonton Drama Cina (Tiongkok) di aplikasi Melolo, IQIYI, WeTV, Viu, atau lainnya, sering ada iklan yang mempromosikan aplikasi nonton drama di mana penontonnya dapat bayaran berupa saldo DANA.

Dijanjikan makin sering kita nonton makin banyak duit yang didapat. Mereka bilang nontonnya juga bisa disambi dengan kegiatan lagi seperti jualan, menunggu anak pulang sekolah, bahkan ngojek. Gokilnya, cuma download aplikasinya saja sudah bisa dapat saldo DANA puluhan ribu rupiah.

Saldo DANA adalah uang atau dompet digital yang tersimpan di dalam akun aplikasi DANA. Saldo ini berfungsi seperti uang di rekening bank atau dompet fisik, tetapi berbentuk elektronik dan digunakan untuk transaksi non-tunai. 

Skema ponzi di balik aplikasi nonton drama dibayar

E-wallet lain yang kita kenal ada Gopay, OVO, ShopeePay, LinkAja, AstraPay, iSaku, Sakuku, DOKU, dan JakOnePay milik Pemda DKI. 

Kelihatannya gampang banget, ya, cuma nonton drama aja kita bisa dapat bayaran yang lumayan buat jajan seblak. Namun, hati-hati, ada aplikasi drama yang mengandung Skema Ponzi. Kalau kita tidak jeli dan termakan janji dapat uang secara mudah, bisa-bisa malah kita yang bangkrut.

Apa Itu Skema Ponzi?

Nama ini berasal dari penipu asal Italia bernama Charles Ponzi yang menggunakan metode ini di Amerika Serikat pada 1920-an. Namanya kemudian diabadikan di masa kini untuk menyebut modus penipuan yang dia gunakan di masa lalu.

1. Investasi Bohongan Skema Ponzi 

Awalnya Skema Ponzi adalah bentuk investasi palsu (bodong) yang menawarkan investasi dengan imbal hasil (return) sangat tinggi, cepat, dan seolah tanpa risiko.

Padahal di mana pun yang namanya investasi pasti ada risikonya. Makin besar imbal hasil, makin tinggi pula risikonya yang dikenal dengan istilah high risk high return. 

Pada tahun 1919, Charles Ponzi mendirikan perusahaan bernama Securities Exchange Company di Boston. Ia menjanjikan keuntungan super besar pada investor di kisaran 50% dalam 45 hari atau 100% dalam 90 hari.

Dalam klaimnya Ponzi mengaku memanfaatkan selisih harga Kupon Balasan Pos International (International Reply Coupons/IRC) di Eropa dan AS. Dia bilang beli kupon murah di Eropa lalu ditukar dengan perangko AS yang bernilai lebih tinggi.

Nyatanya, transaksi IRC itu tidak pernah dilakukan dalam jumlah besar karena rumit secara logistik. Ponzi cuma membayar investor lama menggunakan uang yang disetor oleh investor baru. Itulah Skema Ponzi.

2. Skema Ponzi di Aplikasi Nonton-Drama-Dibayar

Tidak sedikit aplikasi nonton-dibayar yang menggunakan Skema Ponzi. Kita diminta menyetor sejumlah uang untuk bisa mencairkan upah nonton ke saldo DANA. Duit yang kita setorkan di kisaran Rp50.000, sedangkan iming-iming saldo DANA yang akan dicairkan jumlahnya di kisaran Rp100.000. Menggiurkan, bukan?!

Uang yang kita setorkan itu digunakan untuk membayar upah nonton pengguna lain. Pemilik aplikasi dapat laba dari iklan yang masuk ke aplikasinya, sementara uang untuk membayar pengguna berasal dari setoran pengguna lain.

Kalau kita tidak menyetor sejumlah uang, saldo yang ada di akun kita akan mengendap dan tidak bisa dicairkan ke dompet elektronik, dalam hal ini DANA.

Makin Sering Nonton Makin Tidak Sepadan

Meski begitu, ada aplikasi nonton-dibayar yang tidak menggunakan Skema Ponzi dan betul-betul membayar penontonnya, tapi sebelum sampai pada pencairan, kita bakal menyerah duluan. Kenapa? Karena kita diharuskan nonton sekian puluh iklan di sela-sela menonton drama.

Iklan muncul di dalam episode drama. Baru semenit kita nonton sudah disuguhi iklan berdurasi 30-40 detik. Iklan itu harus diklik untuk bisa ditonton, kalau tidak, rupiahnya tidak dihitung. Awalnya kita senang mengklik dan menonton iklan karena bayangan dapat duit dengan mudah, tapi lama-lama rasa jenuh dan logika pun mulai jalan.

Pada setiap episode drama kita harus mengklik 4-5 iklan. Durasi satu episodenya berkisar 2-3 menit, sedangkan durasi iklannya 30-60 detik. Itu berarti menonton iklannya saja harus menghabiskan waktu minimal 150 detik atau 2,5 menit. 

Dengan begitu, berapa banyak waktu terbuang hanya untuk mengklik iklan? Belum lagi kalau kita pakai kuota, bukan Wifi. Meski kita pakai Wifi, tetap saja waktu yang terbuang tidak sepadan dengan rupiah yang dijanjikan aplikasi.

Memangnya nonton drama dan klik iklan tidak bisa disambi masak, misalnya, atau sambil nunggu ada pembeli di warung, atau sambil bengong?

Nonton Drama Sambil Ngapa-ngapain?

Percayalah, gak bisa. Walaupun pakai aplikasi klik otomatis, tetap tidak bisa disambi ngapa-ngapain karena durasi tiap iklan dalam drama berbeda. Pun bukan cuma sekadar iklan, ada tanda x yang harus diklik manual karena tanda itu letaknya pindah-pindah. Iklan juga harus diklik manual supaya rupiahnya terhitung. 

Sementara itu, aplikasi yang memakai Skema Ponzi tidak mewajibkan pengguna mengklik puluhan iklan karena mengandalkan setoran dari pengguna baru untuk membayar pengguna lama. Meski begitu kita tetap diharuskan menonton banyak iklan karena pendapatan utama aplikasi drama, ya, dari iklan.

Kenapa Semua Aplikasi Nonton Dibayar Pakai DANA?

Ada beberapa alasan teknis dan bisnis mengapa pengembang aplikasi nonton drama menggunakan DANA daripada Gopay, OVO, atau ShopeePay.

1. Ekosistem dan Fleksibilitas Transfer

DANA punya sistem API (Application Programming Interface) pembayaran keluar yang sangat mudah untuk pengembang aplikasi pihak ketiga, termasuk dari luar negeri. DANA mempermudah pengiriman uang secara otomatis (mass payout) dalam jumlah pecahan berapa pun.

API payout di DANA punya otomisasi pencairan yang lebih mudah dengan syarat kemitraan korporat yang tidak seketat Gopay atau dompet elektronik lainnya. 

Artinya, pengembang aplikasi dari negara Tiongkok (dan negara mana pun) bisa memakai DANA tanpa regulasi ketat untuk mengirim uang ke pengguna yang berhasil menonton sejumlah iklan yang disyaratkan. 

2. Nominal Pencairan (Micro-transactions)

Aplikasi drama sering membolehkan pengguna mencairkan nominal sangat kecil, misal Rp10.000, Rp15.000, atau Rp20.000 tanpa ada potongan biaya admin dari si DANA ke pengembang aplikasi nonton drama.

3. Syarat Akun Pengguna

Kalau untuk sekadar menerima saldo receh, DANA tidak mensyaratkan harus langsung mengunggah foto KTP. Jadi akun DANA kita bisa langsung digunakan untuk menerima bayaran dan membayar apa pun. Hal ini memudahkan pengguna anak sekolah atau remaja yang belum memiliki KTP untuk langsung menggunakan akun DANA.

Dengan memakai DANA akan lebih banyak orang yang tertarik menonton drama-dibayar, lalu penasaran, dan akhirnya terjebak dalam Skema Ponzi yang mengharuskan mereka terus menyetor uang sebagai syarat pencairan saldo DANA.

*** 

Tidak ada yang serba mudah di dunia, apalagi uang. Logiknya uang gak mungkin didapat segampang itu cuma dengan nonton drama di aplikasi. Kalau beneran segampang itu semua orang Indonesia sudah kaya. Gak akan ada guru honorer atau orang yang jualan tisu di lampu merah.

Kita memang bisa dapat uang dari nonton drama, tapi butuh waktu, kuota/Wifi, dan kesabaran untuk mengklik iklah yang jumlahnya gak ngotak sebelum kita bisa mencairkan upah nonton ke DANA.

Posting Komentar untuk "Hati-hati Skema Ponzi di Balik Aplikasi Nonton Drama Dibayar"