Penyebab Paket Hancur Meski Sudah Packing Kayu
Saya menjual telur ayam kampung Elba di lokapasar (marketplace). Berhubung telur termasuk barang mudah pecah, retak, dan hancur, maka telur saya bungkus dengan bubble wrap tiap butirnya. Setelah itu saya taruh di dus yang ukurannya sesuai jumlah telur yang dijual.
Kalau dalam dus masih ada ruang kosong saya tambah dengan bubble wrap lagi atau potongan kertas supaya telur tidak goyang di dalam dus. Dus lalu dilakban berkeliling di tiap sisi, diberi kayu, terakhir ditempel lakban merah bertuliskan Fragile-Mudah Pecah-Jangan Dibanting!

Paket sebelum dikirim ke pembeli (dokumentasi MAW Poultry)
Nyatanya ada paket yang isi telurnya hancur lebur sebelum sampai ke tangan pembeli. Padahal packing itu sudah cukup kuat untuk melindungi, tapi tidak berlebihan hingga merusak telur di dalamnya.
Satu Ekspedisi
Dulu sewaktu marketplace belum sebesar sekarang, penjual bisa menyediakan pilihan ekspedisi untuk dipilih pembeli. Kalau, misal, pembeli memilih TiKi, kita harus mengirim barang lewat TiKi. Andai pembeli memilih JNE, kita juga harus mengirim lewat ekspedisi yang dipilih pembeli.
Sekarang tidak bisa. Lokapasar sudah bekerja sama dengan satu ekspedisi, jadi semua paket harus dikirim lewat ekspedisi tersebut. Penjual dan pembeli tidak bisa memilih layanan ekspedisi kecuali mau menanggung seluruh ongkos kirim.
Dulu, orang yang belanja online tidak masalah harus bayar ongkos kirim. Belanja di toko fisik saja harus keluar biaya parkir dan bensin. Kadang keluar biaya beli es teh juga. Sekarang makin banyak orang enggan keluar uang untuk bayar ongkir.
Karena itulah penjual dan pembeli akhirnya sama-sama menerima kalau mereka cuma bisa pakai ekspedisi yang disediakan marketplace.
Masalahnya, karena jadi satu-satunya ekspedisi, overload paket jadi tidak terelakkan. Satu gudang sortir bisa menangani ribuan paket dalam sehari sehingga label penanganan pun bisa tidak sempat terbaca karena ekspedisi diburu waktu untuk cepat sampai.
Gudang Sortir
Karena bisa menangani ribuan paket dalam satu waktu, petugas di gudang sortir jadi terburu-buru dan paket yang ditempeli label Handle With Care atau Mudah Pecah, misalnya, jadi tidak dibaca. Lama paket berada di gudang sortir antara 6-48 jam.
Paket harus mampir ke banyak gudang sortir kalau alamat pembeli berada jauuhhh dari alamat pengiriman.
Tujuan paket mampir di gudang sortir adalah untuk memudahkan pengelompokkan pengiriman ke daerah yang dituju.
Makin sering paket kita mampir, makin besar pula potensi kerusakannya karena makin banyak tangan yang memperlakukan barang itu. Bisa saja petugas di tempat sortir sebelumnya sudah hati-hati memperlakukan paket, tapi di tempat selanjutnya bisa saja asal dilempar atau terbanting.
Overload Jelang Hari Besar
Menjelang hari besar seperti Idulfitri, Natal, Tahun Baru, atau libur panjang sekolah, lonjakan pengiriman barang bisa terjadi di semua ekspedisi, bukan cuma yang bekerja sama dengan lokapasar. Saat terjadi overload, perlakukan terhadap paket kita bisa sangat ekstrem karena petugas ekspedisi tidak membaca label dalam packing.
Barang bisa dilempar untuk mempercepat sortir, bisa juga terbanting atau tertindih barang lain yang lebih berat.
Saat terjadi menjelang hari besar, pengirim disarankan mengemas paketnya dengan lebih rapat dan kuat.
Hanya saja, pengemasan yang berlebihan untuk barang yang mudah pecah atau rusak justru tidak baik. Barang bisa mengalami tekanan di dalam yang membuatnya bisa hancur, rusak, atau pecah sebelum sampai ke tujuan.
Langkah dasar mengepak dengan bubble wrap, dus, dan kayu sudah tepat untuk mencegah paket rusak saat di perjalanan. Cukup kuat, tapi tidak berlebihan. Namun, kita tidak tahu bagaimana paket kita diperlakukan oleh ekspedisi.
Jadi, sangat mungkin terjadi paket hancur meski sudah packing kayu dan ditempeli lakban merah besar yang bertuliskan paket itu mudah pecah dan gampang rusak.


Posting Komentar untuk "Penyebab Paket Hancur Meski Sudah Packing Kayu"
Posting Komentar