Widget HTML #1

Sering Dikira Introvert Padahal Penyuka Gaya Komunikasi High-considerateness

Sering kita temui orang yang tampak diam saja saat orang di sekitarnya bercengkrama dengan ramai dan riuh. Kita lantas menyimpulkan kalau dia introvert yang ingin segera pergi dari situasi ramai itu.

Nyatanya, tidak semua orang yang diam dalam lingkungan riuh itu seorang introvert. Pun tidak selalu orang yang ngobrol dan bercanda riang saat berada di tengah orang ramai adalah seorang ekstrovert. 

Pakar sosiolingutistik Deborah Tannen merumuskan dua gaya komunikasi dari hasil penelitian dan pengamatannya, yakni high-involvement dan high-considerateness. Tujuan dari dua gaya komunikasi itu adalah rapport-talk dan report-talk.

Rapport-talk amat disukai kaum Hawa, sedangkan report-talk biasa diterapkan oleh kaum Adam.

 

Sering Dikira Introvert Padahal Penyuka Gaya Komunikasi High-considerateness

Gaya Komunikasi High-involvement

Disebut juga dengan gaya komunikasi keterlibatan tinggi karena keterlibatan tiap orang yang sedang bercakap-cakap memang tinggi. High-involvement merujuk pada gaya bicara yang saling sambung-menyambung dan tidak ada jeda antar-orang yang bicara. 

Siapa yang mau ngomong, ya, tinggal ngomong. Gak usah nunggu yang lain selesai. Kalau kita nunggu giliran ngomong, malah gak bisa ngomong. 

Saking tidak adanya jeda dalam percakapan high-involvement, orang-orang jadi seperti sedang rebutan ngomong. Makin rebutan dan makin rame berarti makin banyak candaan dan tawa. Makin banyak candaan dan tawa, berarti rapport talk berhasil. 

Rapport talk adalah tujuan komunikasi yang berfokus untuk membangun hubungan (koneksi), menjalin kedekatan emosional, serta menunjukkan empati dan kesamaan. Cara supaya tujuan rapport-talk berhasil adalah dengan gaya komunikasi high-involvement.

Istilah ini dicetuskan oleh ahli sosiolinguistik Deborah Tannen dalam bukunya You Just Don't Understand (1990). Berdasarkan penelitian Deborah, kebanyakan kaum perempuan menyukai gaya komunikasi high-involvement untuk memperkuat ikatan pertemanan atau membangun koneksi dengan kenalan baru. 

I. Ciri Gaya Komunikasi High-involvement 

Menyela, memotong pembicaraan orang lain, dan berebut bicara merupakan ciri khas gaya komunikasi high-involvement. Saling menimpali omongan bagi penuturnya dianggap bukan tidak sopan, melainkan momen menciptakan keakraban dalam interaksi.

Ciri lainnya adalah:

1. Tempo Bicara Cepat
Alur percakapan mengalir deras dengan jeda antarkalimat yang sangat minim karena orang dalam circle bicara saling sambar-menyambar.

Ada sedetik saja keheningan dalam percakapan dianggap sebagai kecanggungan, sehingga tidak akan pernah ada orang yang menunggu orang lain selesai bicara. 

2. Respon Aktif (Backchannel Signals)
Orang-orang yang terlibat dalam high-involvement sering memberikan respon dengan cepat seperti, "Oh ya?" atau, "Terus?!" lalu, "Eh, iya, betul itu!" dan gestur seperti anggukan kepala yang cepat saat mendengarkan.

3. Terbuka (Fast Self-Disclosure)
Tanpa ragu langsung membagikan cerita pribadi atau perasaan untuk mencairkan suasana dan membangun kedekatan meski belum kenal dengan orang yang diajak bicara.

4. Spontan Pindah Topik
Topik pembicaraan selalu melompat-lompat secara spontan dari hal satu ke hal lainnya lalu balik lagi ke topik semula.

5. Bahasa Tubuh Ekspresif
Kontak mata yang intens, posisi tubuh condong ke depan, dan intonasi suara yang penuh energi untuk menunjukkan keterlibatan emosional.

II. Kekurangan Gaya Komunikasi High-involvement

Meski tujuannya untuk menunjukkan keakraban, high-involvement communication punya kekurangan, salah satunya membuat orang lain merasa lelah secara emosional karena terpaksa harus menerima stimulus percakapan yang tiada habisnya sementara dia sendiri enggan atau tidak bisa mengikuti ritme percakapan yang berlangsung.

1. Dianggap Domineering dan Tidak Sopan
Bagi orang yang tidak biasa dengan high-involvement, kebiasaan menyela pembicaraan dianggap sebagai keegoisan yang ingin mendominasi percakapan meski niat asli penuturnya adalah untuk memberikan dukungan.

2. Membungkam Lawan Bicara
Orang yang terbiasa menunggu giliran bicara akan merasa kesulitan untuk menyela atau masuk ke dalam percakapan secara tiba-tiba. Akibatnya, ide atau sudut pandang mereka jadi tidak tersampaikan.

3. Risiko Memicu Perpecahan Sosial
Makin cepat dan gencar bicara yang bertujuan untuk memancing respon, lawan bicaranya justru makin diam karena merasa tertekan. Pihak high-involvement lalu menganggap lawan bicaranya dingin, pasif, atau tidak tertarik.

Lalu, pihak high-involvement merasa dicuekin karena usahanya cuma dibalas oleh keheningan. Kondisi akan makin parah kalau dua pihak makin mencoba memperbaiki interaksi dengan cara masing-masing.

4. Menimbulkan Kelelahan Mental (Conversational Fatigue)
Tempo percakapan yang cepat, intonasi tinggi, dan arus percakapan yang melompat-lompat bisa membuat lawan bicara merasa lelah dan kewalahan secara emosional.

5. Risiko Mereduksi Kedalaman Pesan
Topik pembicaraan yang cepat berpindah-pindah (rapid topic switching) membuat obrolan jadi cuma di permukaan saja. Tidak menyentuh substansi dan masalah tidak bisa benar-benar tuntas dibahas.

Keunggulan Gaya Komunikasi High-considerateness

Kebalikan dari gaya komunikasi high-involvement ada high-consideration. Gaya komunikasi ini mengutamakan keterlibatan bicara tanpa saling memotong dan mendengarkan secara aktif sebelum tiba gilirannya bicara.

Ini keunggulan gaya komunikasi high-consideratess.

1. Obrolan Berlangsung Nyaman
Orang yang terlibat dalam pembicaraan bergaya high-considerateness akan saling memberikan ruang pada yang lain untuk bicara. Setelah orang selesai bicara barulah yang lain gantian. Percakapan terjadi tanpa ada selaan, samber-samberan, atau orang yang berusaha mendominasi pembicaraan.

Secara umum, high-considerateness disukai laki-laki yang menyukai gaya komunikasi maskulin yang cenderung berorientasi pada penyelesaian masalah (report talk) ketimbang bergosip (rapport talk).

2. Meminimalkan Konflik
Menggunakan bentuk jeda, pertimbangan perasaan, serta artikulasi yang hati-hati untuk menguraikan ketegangan andai terjadi perselisihan dalam obrolan.

3. Meningkatkan Rasa Dihargai
Lawan bicara akan merasa didengarkan dan dihargai karena fokus utama high-considerateness adalah memberikan perhatian mendalam (consideration).

4. Membangun Hubungan Jangka Panjang yang Solid
Cocok untuk membina hubungan interpersonal atau kerja sama yang membutuhkan keharmonisan, kepekaan emosional, dan kepercayaan, misalnya rumah tangga atau mitra dagang.

5. Mendorong Partisipasi Anggota yang Pemalu
Saat kerja kelompok atau diskusi, misalnya, high-considerateness memberi kesempatan orang yang pemalu untuk menyampaikan pendapat tanpa dia merasa terintimidasi. 

Kepribadian Vs Gaya Komunikasi 

Orang sering mengira gaya high-involvement yang suka memotong kalimat dan bicara dengan cepat sebagai ciri ekstrovert. Pun menilai orang yang menunggu giliran bicara dan tidak suka menginterupsi sebagai introvert.

Padahal, introvert dan ekstrovert adalah ranah ilmu psikologi, sedangkan high-cosiderateness dan high-involvement adalah ranah sosiolinguistik. 

Itu berarti orang yang senang menerapkan gaya komunikasi high-involvement belum tentu ekstrovert dan penyuka gaya bicara high-considerateness belum tentu introvert.

Seorang ekstrovert yang dibesarkan dalam budaya yang sangat menjunjung tinggi jeda dan kesopanan bertutur akan menunggu gilirannya dengan sabar tanpa memotong pembicaraan. Meski begitu, secara psikologis dia sangat menikmati interaksi sosial yang ramai. 

Sama saja dengan introvert. Kalau dia tumbuh di lingkungan yang ngomongnya cepat dan saling bersahutan memotong pembicaraan, maka saat bicara dia juga akan melakukan hal sama. Namun, setelah itu dia tetap butuh waktu menyendiri untuk mengisi ulang energi. 

Jadi, orang yang sering dikira introvert padahal sebetulnya cuma penyuka gaya komunikasi high-considerateness ada banyak di sekitar kita. 

Ketika High-considerateness Disangka Introvert

Bentuk miskonsepsi (salah konsep) yang menganggap penyuka gaya komunikasi high-considerateness adalah introvert ada pada persepsi:

1. Menunggu Jeda
Orang
high-considerateness sengaja memberi jeda sebelum merespons untuk memastikan lawan bicara selesai menyampaikan isi pikiran. Dalam percakapan yang serba cepat, misalnya di arisan ibu-ibu, jeda ini sering disalahartikan sebagai rasa canggung, ragu-ragu, atau pemalu.

2. Tidak Nyamber Dianggap Tidak Punya Ide
Saat berada dalam circle yang menerapkan gaya high-involvement, orang high-considerateness jarang bisa ngomong karena percakapaan berlangsung sambung-menyambung tanpa jeda.

Ini sering membuat mereka dianggap enggan bersosialisasi atau tidak mau berkontribusi memberi ide. Padahal mereka cuma sedang menunggu giliran bicara yang, sayangnya, tak kunjung tiba. 

3. Mendengarkan Dianggap Minder
Namanya juga high-consideratess, jadi orang yang melakukannya sangat fokus pada kenyamanan lawan bicara (considerate). Namun, meski mendengarkan dengan saksama, seseorang akan dianggap introvert hanya karena dia gak rebutan ngomong dan gak nyamber pembicaraan orang lain.

***

Introvert dan esktrovert adalah dua tipe kepribadian utama yang menggambarkan bagaimana seseorang mendapatkan energi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh psikolog Carl Jung.

Sedangkan cara orang berkomunikasi, yaitu high-involvement dan high-considerateness berada pada ranah sosiolinguistik yang berfokus pada budaya, kebiasaan, dan norma percakapan yang dipelajari dari lingkungan.

Seorang introvert bisa saja memakai gaya high-involvement jika dibesarkan di lingkungan yang terbiasa bersahut-sahutan. Sebaliknya, seorang ekstrovert bisa memakai gaya high-considerateness jika dibiasakan mendengarkan dengan sabar.

Jadi, sering dikira introvert padahal seseorang bisa saja penyuka gaya komunikasi high-considerateness yang tenang, tidak saling menyela, dan membiarkan orang lain gantian bicara. 

Posting Komentar untuk "Sering Dikira Introvert Padahal Penyuka Gaya Komunikasi High-considerateness"