Widget HTML #1

Memahami Sastra Digital dari Fanfiction, AU, hingga Puisi Visual

Sudah lama kita kenal ada cerita tentang tokoh dan film terkenal yang dikarang oleh penggemar berat mereka. Namanya fanfiction. Lengkapnya, fanfiction adalah karya fiksi yang dibuat oleh penggemar berdasarkan cerita, karakter, atau dunia yang sudah ada sebelumnya.

Mengenal Sastra Digital dari Fanfiction, AU, hingga Fiksi Interaktif

Penulis fanfiction meminjam karakter dan mengembangkan ceritanya sendiri berdasarkan latar dan karakter dari buku, film, serial TV, anime, komik, band, atau penyanyi.

Fanfiction sudah lama beredar di internet daripada dicetak dalam bentuk buku. Maka itu ia termasuk bagian dari sastra digital. 

Apa Itu Sastra Digital?

Sastra digital (digital literature) atau disebut juga dengan cyberliterature (sastra siber), adalah karya sastra yang diciptakan, diunggah, dibaca, dan dikembangkan secara khusus menggunakan media digital atau komputer. Jadi bukan cuma buku yang dipindai jadi file PDF.

Penyampaian cerita dalam sastra digital memanfaatkan fitur-fitur teknologi digital. Pembaca bisa "pencet-pencet sendiri" untuk menentukan alur cerita. Memilih sendiri alur cerita Ini dikenal dengan istilah:

  • Fiksi interaktif
  • Cerita bercabang (branching narrative)
  • Pilih ceritamu sendiri (choose your own story)

Di zaman digital, media untuk sastra juga memanfaatkan fitur multimedia, hyperlink, dan algoritma, dan multimedia, bukan cuma teks di atas kertas.

Ciri Sastra Digital 

Ciri khas dari sastra digital adalah keberedarannya yang membutuhkan internet. Meski tidak semua jenis sastra digital perlu internet, tapi internet jadi penunjang utama kita menikmati sastra digital. Ini ciri lain sastra digital.

1. Memakai gawai karena sastra digital menggabungkan elemen visual, suara, animasi, sampai kode pemrograman.

2. Interaktif. Pembaca bisa memilih alur cerita sendiri atau berinteraksi dengan elemen dan fitur yang ada di layar.

3. Non-linear (hypertext). Pembaca bisa melompat dari satu bagian ke bagian lain melalui hyperlink (tautan/penghubung) karena alur cerita tidak harus selalu dibaca urut dari halaman pertama sampai akhir.

4. Aksesibilitas dan distribusi. Karya dapat diakses secara global melalui internet tanpa terbatas distribusi fisik seperti buku cetak.

Jenis Sastra Digital

Secara umum, kategori sastra digital dapat dibagi berdasarkan sifat interaksinya dan media yang digunakan.

1. Berbasis Interaktivitas dan Teknologi Khusus

Kategori ini tidak akan bisa dipindahkan ke bentuk kertas atau buku cetak karena mengandalkan teknologi komputer untuk bisa dinikmati. Yang termasuk di dalam sastra digital berbasis interaktivitas dan teknologi khusus adalah:

a. Fiksi Interaktif dan Cerita Bercabang (interactive fiction/branching narrative). Pembaca menentukan sendiri alur cerita lewat pilihan atau tombol seperti game fiksi berbasis. Yang begini dikenal juga sebagai genre Choose Your Own Adventure digital.

b. Fiksi Hypertext (Hypertext Fiction). Berupa cerita yang terdiri dari fragmen atau kumpulan teks yang dihubungkan oleh hyperlink. Pembaca lalu mengetikkan kata-kata tertentu untuk melompat ke bagian cerita yang lain. 

c. Puisi Generatif (Generative Poeltry), yaitu puisi yang dibuat oleh pemrograman atau algoritma komputer (termasuk AI) berdasarkan aturan atau kata kunci tertentu.

d. Puisi Kinetik Visual (Kinetic Poetry) adalah puisi berbentuk animasi atau digital di mana teksnya bergerak, beranimasi, atau berubah bentuk saat kursor mengarah kepadanya atau ketika layar disentuh.

e. Fiksi Lokatif (Locative Fiction) kalau cerita itu memanfaatkan fitur GPS pada ponsel, di mana cerita baru terbuka saat pembaca secara fisik berjalan ke lokasi tertentu di dunia nyata.

2. Berbasis Platform dan Media Sosial (Cyberliterature/Sastra Siber)

Karya sastra ini lahir dan berkembang melalui media sosial atau aplikasi penerbitan mandiri, makanya disebut berbasis platform. Termasuk dalam jenis sastra ini adalah:

a. Fiksi Media Sosial atau AU (Alternate Universe)

Kalau kita sering baca screenshot chat WhatsApp di medsos, itu bisa jadi bukan chat asli, tapi dibuat oleh aplikasi pembuat chat palsu seperti Social Dummy atau Fake Chat.

b.  Instapoetry (Puisi Visual)

Puisi visual (sering juga disebut concrete poetry atau puisi konkret) adalah jenis puisi yang keindahan dan maknanya tidak hanya disampaikan lewat kata-kata, tetapi juga lewat tata letak visual atau bentuk grafisnya.

Dalam puisi tradisional, bait dan baris ditulis berurutan dari atas ke bawah. Namun pada puisi visual, susunan huruf, kata, tanda baca, dan tipografi diatur sedemikian rupa hingga membentuk pola atau gambar tertentu yang berkaitan langsung dengan isi puisinya

Contohnya puisi tentang pohon, bait-bait kata disusun berbentuk melebar ke bawah dan mengecil di bagian atas mengikuti bentuk pohon. Contoh lainnya puisi tentang jam dinding. Puisi akan ditulis melingkar seperti angka pada jarum. 

 Jadi, puisi pada sastra digital tidak terikat aturan seperti baris, rima, dan bait.

c. Puisi Mikro

Puisi mikro sama dengan puisi biasa, tapi dipadatkan sampai tersisa beberapa baris atau atau kata saja. Ritme, citraan (imagery), dan kedalaman makna khas puisi tetap ada.

Panjang micro-poetry terdiri dari 1-4 baris saja dan kita mengenal bentuk populer dari puisi ini sebagai Haiku dan Tanka.

Haiku adalah puisi tradisional Jepang dengan pola suku kata 5-7-5, sedangkan Tanka juga puisi Jepang, tapi dengan pola 5-7-5-7-7. Meski Haiku dan Tanka sudah lama ada secara tradisional, tapi popularitas puisi mikro lahir dari budaya digital sehingga termasuk dalam sastra digital.

Contoh puisi mikro:

Malam gerimis
Tidur lelap sampai pagi 
Esok beraktivitas lag

d. Video Fiction

Fiksi video adalah konten video yang menyampaikan kisah, karakter, atau peristiwa rekaan yang berasal dari imajinasi pembuatnya, bukan dokumentasi dari kejadian nyata. 

Jenis video fiction paling kita kenal adalah point of view (PoV). Point of View adalah salah satu teknik bercerita yang sering dipakai pada video fiksi. Bedanya, video fiksi adalah jenis kontennya (cerita rekaan), sedangkan PoV adalah sudut pandang atau cara cerita itu disampaikan.

Sastra Digital Vs Sastra Konvensional

Sastra digital dan konvensional sama aja, sih, bedanya cuma cara bikin dan distribusinya. 

1. Media Utama 

Sastra konvensional membutuhkan pencetakan dalam bentuk buku, majalah, koran, atau buletin. Sedangkan sastra digital butuh perangkat elektronik seperti situs web, aplikasi, media sosial, atau dalam bentuk game. 

2. Bentuk Teks 

Sastra konvensional dibaca urut dari awal hingga akhir (halaman per halaman) atau disebut juga dengan teks linier. Kalau kita bacanya lompat-lompat antar halaman atau bab, dipastikan kita akan bingung.

Bentuk teks pada sastra digital bentuknya non-linier, artinya pembaca bisa melompat antarhalaman melalui tautan (hyperlink) interaktif yang ada di dalam cerita.

3. Multimedia

Sastra digital sudah pasti memadukan teks dengan suara atau musik, animasi, video, dan grafik bergerak. Sedangkan pada sastra konvensional hanya teks dan gambar statis saja. 

Karena sifatnya yang multimedia, maka pembaca bisa berkomentar langsung di dalam cerita, bahkan bisa mengubah alurnya. 

4. Proses Penerbitan

Sastra konvensional, meski diterbitkan independen, tetap harus melalui proses penyuntingan, tata letak, dan proses cetak yang makan waktu tidak sebentar. Sedangkan sastra digital langsung tayang tanpa penerbit mana pun.

Kita bisa langsung menerbitkan cerita di Wattpad, Webtoon, atau blog. 

5. Akses dan Distribusi 

Terbatas secara fisik (harus beli buku, beli ebook, ke perpustakaan, atau pinjam teman. Sedangkan untuk menikmati sastra digital kita cukup modal internet atau kuota data lalu akses situs atau aplikasi yang kita mau, bisa sambil rebahan.

Posting Komentar untuk "Memahami Sastra Digital dari Fanfiction, AU, hingga Puisi Visual"