Pasar Tradisional Sepi Pembeli Pascakebakaran, Ini Alasannya

Pasar Tradisional Sepi Pembeli Pascakebakaran, Ini Alasannya

Sekarang sudah tidak ada lagi pasar tradisional yang kumuh. Semua pasar sudah bersih karena lantainya  berkeramik, berventilasi, dan tidak ada lagi bau busuk sampah. Apalagi, pasar yang dibangun ulang pascakebakaran, tampilannya kece seperti mal.

Namun, ada satu hal yang mengganjal. Kenapa hampir semua pasar tradisional yang dibangun ulang setelah kebakaran justru lebih sepi daripada saat masih kumuh? Padahal dengan mengunjungi pasar yang bersih dan moderen, belanja juga jadi nyaman, kan?

Kelas Menengah Kebawah


Walau masyarakat kelas atas banyak juga yang berbelanja di pasar (kadang disebut sebagai pasar moderen), tapi pasar tradisional selalu identik dengan tempat belanja masyarakat kelas menengah kebawah.

Itu karena harga sayuran, makanan, sandang, sepatu, dan semua yang ada di pasar sangat terjangkau oleh kantong mereka. Pasar jadi tujuan utama untuk memenuhi semua kebutuhan mereka,

Maka, untuk mengetahui kenapa pasar yang dibangun ulang jadi lebih bagus malah sepi tidak ada yang belanja, kita lihat dari sudut pandang kelas menengah kebawah yang jadi konsumen utama pasar tradisional.

1. Bangunan pasar terlalu tinggi


Sebelum kebakaran, pasar tradisional paling tinggi hanya dua lantai saja. Setelah pasar itu dibangun ulang ada yang tingginya sampai empat lantai.

Orang-orang enggan naik ke lantai atas dan lebih memilih belanja di lantai paling bawah karena mereka ke pasar hanya untuk membeli barang yang paling diperlukan. Setelah selesai, mereka bakal langsung pulang.

Sementara itu di mal, kebanyakan orang datang ke sana bukan untuk belanja kebutuhan pokok, melainkan sekadar cuci mata, nongkrong bersama teman, nonton bioskop, atau belanja produk terbaru kesukaan mereka.

Jadi, orang yang ke mal memang punya waktu untuk "dibuang", tapi tidak demikian dengan orang yang datang ke pasar. Orang ke pasar karena benar-benar mencari barang yang mereka perlukan, bukan untuk bersantai dan menghabiskan waktu.

Itu sebab makin tinggi bangunan mal, makin senang orang memasukinya karena makin leluasa mereka memilih toko dan resto untuk menghabiskan waktu. Namun, makin tinggi bangunan pasar makin enggan orang ke sana karena buang waktu dan tenaga kalau harus naik ke lantai paling atas.

2. Bermunculan lapak dan toko yang menjual dengan harga sama


Orang tidak akan repot pergi ke pasar hanya untuk beli sayur atau sehelai kerudung jika rumah mereka selalu dilewati penjual sayur dan ada toko yang menjual kerudung dekat rumah.

Makanya, walau lokasi pasar berada di tengah kota yang strategis dan bisa dijangkau dari mana pun, daya tarik pasar memudar seiring makin mudahnya orang mencari kebutuhan harian di lapak dan toko dekat rumah.

Pasar (tradisional) masih ramai dikunjungi kalau orang mau masak besar atau cari baju Lebaran atau butuh barang grosiran. 

3. Uang sewa naik


Karena bangunannya sudah bagus, maka uang sewa yang ditetapkan oleh pengelola pasar juga lebih tinggi daripada ketika pasar masih kumuh. Harga sewa yang naik sementara orang yang datang belanja makin sedikit, menyebabkan banyak pedagang menutup tokonya.

Banyaknya toko yang tutup membuat pasar jadi lengang, terutama yang berada di lantai atas. Pasar jadi kurang ramai karena minim aktivitas jual-beli. Kondisi pasar yang lengang dan sepi membuat orang makin enggan datang ke sana karena mayoritas orang lebih suka berada dalam keramaian daripada kesepian.

Suasana sepi juga dapat memunculkan ketakutan di benak orang tentang kemungkinan ada kejahatan yang terjadi ssat sepi.

***

Di kota besar, pasar tradisional yang dibangun ulang pascakebakaran bakal tetap ramai, malah makin ramai karena dibangun juga bioskop rakyat di lantai atasnya. Pasar Santa di Kebayoran Baru, Jaksel, malahan bermetamorfosis jadi tempat hangout.

Akan tetapi, di luar kota besar, pasar yang bagus dan megah justru dijauhi karena dianggap sama dengan mal. Orang kelas bawah minder memasukinya, sementara kelas atas merasa "gak level' belanja ke pasar tradisional.

Walau tidak lagi seramai dulu, pasar tradisional di suatu daerah tetap punya masa di mana pembeli membludak dan pedagang panen laba. Masyarakat menengah kebawah juga masih butuh pasar karena di situlah tempat mereka belanja dengan bahagia tanpa menguras isi kantong.

Jasa Bangunin Sahur dan Ngingetin Buka Puasa yang Sebenarnya Gak Diperluin tapi Selalu Ada

Jasa Bangunin Sahur dan Ngingetin Buka Puasa yang Sebenarnya Gak Diperluin tapi Selalu Ada

I appreciate the effort to get profit, but never get why people need to be waking up for sahur and breakfasting while they have alarm on their phones already.

Do they live alone in the forest so they need someone else to remind them or what?

Ilustrasi jam weker dari learntimeonline.com

Lima belas tahun lalu jasa bangunin sahur dan ngingetin buka puasa mungkin dicari banyak orang. Sekarang kalau masih ada yang menawarkan jasa tersebut rasanya mau saya ketawain dalam hati karena semua orang sudah punya smartphone yang sudah ada alarmnya.

Walau begitu, bisa saja ada orang yang benar-benar butuh jasa mereka. Orang yang bucin (butuh cinta), misalnya. Saking kesepian sampai butuh ditelepon dan diingatkan sahur.

However, that business still does not make sense to me because the reasons below:

1. Suara pengeras masjid di Indonesia tidak pernah senyap


Apalagi di masjid yang pengurusnya orang NU, hampir selalu berisik karena semua kegiatan yang diadakan di masjid NU hampir pasti menggunakan pengeras suara luar. 

Walaupun di masjid non-NU lebih sepi, tapi mereka juga selalu mengingatkan sahur sejak pukul 03.00 yang diulang pada pukul 04.00. Sebelum heboh suara bising speaker masjid dari Menag Yaqut Cholil Qoumas, banyak masjid bahkan memutar murotal nonstop dari jam 03.00 sampai azan Subuh.

Sekarang masjid lebih sepi sejak dikeluarkannya edaran tentang penggunaan toa oleh Kemenag, tapi masjid pun pasti menggaungkan peringatan bila sudah masuk imsak. Setelah itu azan Subuh berkumandang seperti biasa.

Andaipun ada orang yang rumahnya jauh dari masjid, seperti di Bali atau Manado, misalnya, mereka bisa pakai telepon seluler (ponsel) pintar yang pasti sudah ada alarmnya.

2. Ponsel keluaran 2015 keatas sudah dilengkapi koneksi internet otomatis


Koneksi internet di ponsel terbaru sudah tidak perlu kita setting manual. Jadi, smartphone tanpa simcard tetap bisa menyesuaikan jam tempat mereka tinggal secara otomatis lewat jaringan internet. Ketepatan jam itu bisa digunakan untuk menyetel alarm supaya bangun sahur gak kesiangan.

Jangankan smartphone, ponsel jadul yang bunyinya masih monophonic dan polyphonic juga sudah dilengkapi alarm. Malahan bunyinya keras banget karena tidak ada penyetelan untuk suara lembut.

Kalaupun orang tidak punya ponsel jenis apapun karena sangat miskin. Jam biologis tubuhnya bisa menyesuaikan kapan harus bangun. Bila ingin bangun pagi, mereka akan tidur lebih cepat. Kalau tidak bisa tidur cepat karena harus lembur, mereka akan niat-seniat-niatnya harus bangun sahur.

Lagian orang miskin gak butuh jasa bangunin sahur, gak mampu bayarnya.

3. Tarif 


Paling mencengangkan buat saya, ada yang pasang tarif bangunin sahur dan ngingetin buka puasa seharga HP. 

HP keluaran lokal macam Advan, Evercoss, HiMax, dan Zyrex jadi kelihatan murah banget. Bahkan pula HP Tiongkok seperti Xiaomi, Realme, dan Oppo harganya masih jauh lebih murah dibanding tarif jasa bangunin sahur.

emperbaca.com/istimewa

Tahun 2021 lalu, Choirul Anam asal Kabupaten Magelang sempat viral karena terang-terangan membuat poster menawarkan jasa bangunin sahur. Dia tidak mematok tarif karena permintaan itu datang dari teman-temannya.

Selain menawarkan jasa bangunin sahur, Anam juga membuka jasa menemani makan malam dan diantar sampai rumah, khusus perempuan lajang.

Bisa disimpulkan, jasa bangunin sahur walau sebenarnya gak perlu, ternyata dibutuhkan orang-orang yang kesepian dan ingin merasa jadi orang penting karena dibangunkan waktu sahur.

***

Namanya orang cari duit, ya, apa aja bisa asal halal dan gak merugikan orang. Semoga sukses buat yang jualan jasa bangunin sahur dan ngingetin buka puasa.

Beasiswa PIP Aspirasi Mas Bram, Duit Siapa?

Beasiswa PIP Aspirasi Mas Bram, Duit Siapa?

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud) punya beasiswa dalam bentuk uang tunai bernama Program Indonesia Pintar (PIP) yang dibagikan kepada siswa miskin dan yang rentan miskin.

Nah, duit PIP Kemdikbud inilah yang oleh Mas Bram dibagikan ke peserta didik di Magelang dan Purworejo dengan nama Beasiswa PIP Aspirasi Mas Bram.

Kuat dugaan bahwa itu benar dana PIP milik Kemdikbud karena setiap siswa bisa mengecek langsung data mereka sebagai penerima PIP. Caranya dengan memasukkan nomor NISN dan nama ibu kandung di situs kemdikbud.go.id. 

Tangkapan layar situs Kemdikbud.go.id

Staf Mas Bram juga minta nomor NISN siswa walau mereka tidak bilang NISN itu akan dipakai untuk pengurusan ke Kemdikbud. Orang tua/wali juga diminta datang langsung ke kantor Bu Elfa untuk mengisi formulir disertai fotokopi KTP dan KK.

Umumnya syarat penerima beasiswa dimana pun adalah nilai yang bagus, dibuktikan dengan rapor siswa, piagam, atau lainnya. Logikanya, buat apa memberi beasiswa kepada siswa yang nilainya jelek. Nilai bagus adalah bukti bahwa siswa itu rajin belajar. Rajin belajar berarti dia sungguh-sungguh mempelajari ilmu di sekolah.

Namun, beasiswa Mas Bram tidak butuh bukti nilai, cuma butuh fotokopi KK dan KTP orang tua/wali siswa.

Kemudian, melansir koranpurworejo.com, Mas Bram memperjuangkan dana ini lewat Kemdikbud, artinya duit PIP Aspirasi Mas Bram adalah benar uang negara yang diperuntukkan bagi siswa miskin dan rentan miskin.

Beberapa hal yang menjadi keresahan terkait Program Indonesia Pintar Aspirasi Mas Bram ini, adalah:

1. Duit PIP Kemdikbud seolah-olah milik Mas Bram


Bu Dita dan Bu Elfa selaku staf Mas Bram yang sering disebut namanya di grup wali siswa, tidak pernah memberitahu secara gamblang dari mana uang itu berasal.

Mereka hanya mengatakan "dana aspirasi dari DPR yang diperjuangkan Mas Bram". Dan, karena ada embel-embel "aspirasi" banyak yang mengira dana PIP berasal dari dana aspirasi yang dibagikan DPR ke para anggotanya.

Padahal dana aspirasi berbeda dengan dana PIP. 

Peraturan perundangan-undangan terkait DPR tidak menyebutkan secara eksplisit yang namanya dana aspirasi. Saya kutip dari laman hukumonline.com, dana itu lebih dikenal sebagai dana program pembangunan daerah pemilihan.

Program untuk pembangunan berdasarkan usulan dari masyarakat di daerah pemilihan (dapil) masing-masing anggota DPR RI. Setiap anggota DPR RI tidak memegang dana untuk pembangunan itu sendiri karena bukan pengguna kuasa anggaran.

Maka jelas bahwa uang PIP Aspirasi Mas Bram bukan berasal dari dana aspirasi DPR yang dibagikan ke anggotanya, melainkan dana milik Kemdikbud. Mas Bram minta dana itu ke Kemdikbud untuk dibagikan ke siswa-siswa di Purworejo dan Magelang yang merupakan daerah pemilihan (dapil) tempat Mas Bram terpilih dari Jateng VI.

Kebetulan, Mas Bram duduk di Komisi X DPR RI yang memang membawahi bidang pendidikan. Maka menurut ilmu cocoklogi, Mas Bram mengambil peluang dirinya di DPR yang mengawasi bidang pendidikan dengan mengajukan dana PIP Kemdikbud untuk disalurkan ke dapilnya. 

Akan tetapi, karena tidak ada transparansi, duit itu dikira oleh para orang tua/wali siswa sebagai duit Mas Bram atau duit dari DPR yang memang dibagi-bagi melalui Mas Bram. 

2. Minta komitmen


Staf Mas Bram telah minta komitmen ke orang tua/wali siswa, lewat pesan WhatsApp, agar mendukung Mas Bram di pemilihan 2024. Dukungan diperlukan supaya beasiswa PIP aspirasi Mas Bram dapat terus berlanjut.

Ini artinya ada udang dibalik batu. Ada maksud mendulang suara dari dibagikannya duit PIP Kemdikbud yang memakai embel-embel nama Mas Bram.

Secara tidak langsung, duit yang dibagikan disertai komitmen untuk memilih seseorang pada Pemilu bisa digolongkan sebagai money politic alias politik uang.

Politik uang atau money politic adalah suatu upaya mempengaruhi perilaku masyarakat menggunakan imbalan materi, baik milik pribadi atau partai, untuk mempengaruhi suara pemilih dengan konsep bahwa materi itu dapat mengubah keputusan dan dijadikan wadah penggerak perubahan.

3. Dibagikan ke anak yang orang tuanya punya mobil


Melansir beritadiy.pikiranrakyat.com, siswa yang menerima PIP haruslah yang punya syarat sebagai berikut:

  • Siswa berstatus yatim dan atau piatu termasuk yang berada di panti sosial atau panti asuhan
  • Siswa putus sekolah atau drop out
  • Siswa terkena dampak bencana alam
  • Siswa korban musibah di daerah konflik
  • Siswa berkebutuhan khusus atau disabilitas
  • Siswa di mana orang tua atau walinya berstatus narapidana di lembaga permasyarakatan
  • Siswa berstatus sebagai tersangka atau narapidana

Orang yang punya mobil hampir dipastikan bahwa dia berkecukupan. Walau bukan sultan seperti Raffi Ahmad atau orang terkaya Indonesia versi Forbes, minimal mereka punya uang untuk bayar pajak, biaya bensin dan perawatan mobil, serta cicilan bulanan (kalau dia membeli mobil secara kredit).

***

Selama ini kita cuma tahu kalau money politic itu berupa bagi-bagi sembako dan uang tunai, ternyata ada money politic yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

Berkesinambungan karena peserta didik dapat uang per semester secara rutin. Besarnya variatif antara Rp225.000-Rp450.000 sesuai yang dibagikan pemerintah.

Itu berarti tertancapnya nama Mas Bram makin kuat menjelang Pemilu 2024 sebagai orang yang harus-dicoblos-kalau-mau-dapat-duit-lagi.

Berkelanjutan karena peserta didik yang sebelumnya tidak terdaftar, dapat mengajukan sebagai penerima beasiswa PIP Aspirasi Mas Bram.

Is this categorize as money politic or just generosity?

Alasan Orang Kaya Tetap Kelihatan Kaya Walau ke Bank Cuma Bercelana Pendek dan Bersandal Jepit

Alasan Orang Kaya Tetap Kelihatan Kaya Walau ke Bank Cuma Bercelana Pendek dan Bersandal Jepit

Siapa pun boleh pakai kolor alias celana pendek alias celana santai, apalagi pakai sandal jepit. Boleh banget! Tapi, kenapa orang misqueen kelihatan buluk kalau ke mal dan bank pakai celana pendek dan sandal jepit, sementara orang kaya tetap kelihatan kinclong?

Alasan utamanya karena gaya hidup dan penghasilan mereka beda, jadi penampilannya juga beda walau sama-sama pakai celana pendek dan sandal jepit. 

fashionmumblr.com

Keseharian

Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, orang misqueen lebih banyak jalan kaki dan naik sepeda. Kulit mereka sering terbakar matahari, terolesi debu, dan tertempel polusi dari asap knalpot kendaraan bermotor. Wajah dan kulit tubuh mereka jadi kusam.

Nasib lebih baik dialami oleh orang misqueen pertengahan, yaitu yang tidak misqueen, tapi belum bisa disebut kaya. Mereka kemana-mana naik motor. Kalau mengendarai motor atau membonceng ojek, kulit mereka relatif aman dari matahari, debu, dan polusi karena pakai helm, jaket, masker, dan lebih bagus lagi kalau pakai sarung tangan.

Dari situ kita dapat melihat orang yang sehari-harinya jalan kaki dan naik sepeda berpenampilan lebih kusam dan kelihatan lebih tua daripada orang yang mengendarai motor. 

For your info, di daerah-daerah yang jauh dari Jabodetabek, masih banyak kita lihat orang berjalan kaki dan menggunakan sepeda untuk transportasi, bukan untuk olahraga dan kesenangan belaka.

Sementara itu, dalam kesehariannya, orang kaya selalu menggunakan mobil yang melindungi kulit mereka dari panasnya matahari dan ganasnya debu dan polusi. 

Pada mobil kelas medium dan premium, kaca mobil mereka sudah dilapisi kaca film terbaik yang bisa meredam panas matahari agar kabin tidak ikut kepanasan saat matahari sedang sangat terik. Orang yang ada di dalam mobil jadi dua kali lebih terlindungi dari sinar ultraviolet penyebab kulit kusam dan penuaan dini.

Makanya tanpa perawatan pun kulit orang kaya lebih cerah dan tidak kusam seperti orang misqueen dan misqueen pertengahan.

Harga celana pendek dan sandal jepit

Orang misqueen membeli celana pendek di pasar atau dari pedagang keliling seharga Rp15.000-Rp25.000 yang kadang bisa mereka beli dengan nyicil. Sama juga dengan sandal jepit. Sandal jepit mereka beli di pasar, warung, atau toko serba ada seharga kurang dari Rp50.000.

Orang misqueen pertengahan lebih baik. Mereka bisa beli celana pendek dan sandal jepit di mal seharga Rp150.000-an.

Namun, tahukah berapa harga celana pendek dan sandal jepit sederhana yang dipakai orang kaya? jutaan. Paling murah mereka pakai celana pendek seharga Rp500.000 bila mereka cuma iseng beli di Matahari Department Store. 

Beda dengan mal biasa yang punya Matahari, mal kelas atas biasanya diisi oleh gerai-gerai internasional yang produk ready-to-wearnya sudah tidak ada yang seharga ratusan ribu, melainkan jutaan. 

Kualitas barang seharga puluhan dan ratusan ribu tentu beda dengan yang harganya jutaan. Walau bentuknya simpel dan warnanya cenderung biasa aja, sandal jepit dan celana pendek harga jutaan relatif lebih bagus kualitas bahan dan jahitannya..

Mal dan bank

Bahan celana pendek dan sandal jepit yang berkualitas akan terlihat bagus juga di tubuh pemakainya. Tambahan lagi, kulit orang kaya yang cerah dan tidak kusam, karena kesehariannya bepergian dengan mobil, membuat mereka enak dilihat walau masuk mal dan bank hanya mengenakan celana kolor dan sandal jepit.

Kadang-kadang, orang misqueen pertengahan bisa terdongkrak penampilannya kalau memakai baju atau sepatu mahal. Namun, orang misqueen sulit terdongkrak karena kulit kusam berpenuaan dini mereka yang belum mendukung untuk memakai apapun yang mahal, kecuali keseluruhan penampilan mereka di make-over.

Kulit orang kaya yang cerah dan tidak kusam karena kesehariannya bepergian dengan mobil membuat mereka makin terlihat pantes-pantes aja pake baju apa pun, termasuk cuma koloran dan sendal jepitan.

Itu mengapa orang kaya tetap terlihat keren walau masuk bank dan mal dengan memakai celana pendek dan sandal jepit.

Kepercayaan diri

Orang kaya bercelana pendek dan bersandal jepit sebenarnya mudah dikenali di mana saja. Bukan hanya karena mereka nasabah prioritas bank yang sudah dikenal oleh seluruh karyawan, tapi ketika ada di mana-mana, termasuk mal, ada kepercayaan diri amat tinggi yang mereka pancarkan.

Orang misqueen pertengahan kadang melihat kepercayaan diri yang tinggi itu sebagai kesombongan.

Orang kaya juga cenderung tidak punya beban pikiran tentang uang. Uang adalah salah satu rejeki yang menguras pikiran manusia paling berat. Hidup orang misqueen jadi paling berat karena mereka harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup paling dasar, yaitu makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Uraian diatas menjadi alasan kenapa orang kaya tetap terlihat kaya dan kinclong walau mereka berpenampilan sederhana dengan celana pendek dan sandal jepit.

***


Disclaimer: tidak berlaku untuk orang kaya baru (OKB) karena OKB cenderung norak dan suka pamer dalam memasuki dunia orang kaya setelah meninggalkan dunia kemisqueenan.

Shin Tae Yong dan PSSI yang Enggan Juara

Shin Tae Yong dan PSSI yang Enggan Juara

Kemajuan sepak bola di tanah air bukan di tangan pelatih, melainkan induk organisasi yang menaungi sepak bola. Setahun ganti pelatih sampai sepuluh kali pun kalau PSSI-nya tidak dibenahi, maka kemenangan tim nasional di ajang internasional selalu cuma mimpi.

Bakat alam

Siapa tidak kenal Kampung Tulehu di Maluku Utara. Beberapa pemain timnas dari banyak lini berasal dari Tulehu, seperti Khairil Anwar, Imran Nahumahuri, Ajie Lestaluhu, Ramdani, Hasyim Kipuw, HEndra Bayau, Ricky Sanjaya, dan Alfian Tuasalamony. 

Pelatih timnas Indonesia Shin Tae Yong (prokabar.com)

Pun ada Danone Nations Cup, ajang liga cilik untuk usia 10-12 tahun ini kerap mencetak bakat-bakat jempolan yang malah loyo justru ketika mereka masuk ke ajang profesional. Kenapa? Karena tidak difasilitasi oleh PSSI.

PSSI cenderung ingin serba cepat dengan melakukan naturalisasi, merekrut pemain asing, dan menggaji pelatih dari luar negeri. Padahal prestasi butuh keuletan dan proses. Mencetak bibit-bibit unggul butuh perencanaan matang jangka panjang,

Program pembinaan usia dini PSSI buruk sekali karena tidak berkesinambungan dan ingin hasil cepat. Saat ini PSSI bekerja sama dengan Kemendikbud punya program Gala Siswa. Program ini melatih remaja 12-16 tahun yang akan dipakai untuk squad timnas U-19. Lagi-lagi PSSI maunya serba instan.

Salah satu yang membuat PSSI ingin hasil yang instan karena jajaran pengurusnya tidak benar-benar diisi oleh orang yang mencintai sepak bola. Pengurusnya punya kepentigan yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola.

Kepentingan non sepak bola

Ingat sanksi FIFA yang melarang Indonesia tampil di ajang internasional karena PSSI diintervensi pemerintah? Pada 2015 Kemenpora membekukan PSSI dibawah kepemimpinan La Nyalla Mattalitti karena tetap menggelar Liga Super Indonesia (LSI) dengan menyertakan Arema dan Persebaya yang saat itu mengalami dualisme kepemimpinan.

Kemenpora ingin PSSI membenahi masalah "rebutan" kepengurusan di Arema dan Persebaya sebelum mengiizinkan mereka main di liga. Wajar nanti kalau klub itu menang, klub versi siapa yang menerima piala dan hadiahnya?

Intervensi pemerintah itu membuat Indonesia kena sanksi dilarang ikut pertandingan internasional. Pada 2016 sanksi itu dicabut. Walau dicabut prestasi timnas kita belum juga menanjak, untuk jadi raja di Asia Tenggara saja susahnya setengah mati.

Lebih jauh lagi kita punya Nurdin Halid. Ketum PSSI ini memimpin dari balk jeruji besi akibat kasus impor gula ilegal dan korupsi pengadaan minyak goreng. Nurdin masuk bui pada 2004 dan dapat vonis pada 2005. Dia baru lengser dari PSSI pada 2011.

Siapa orang di belakang Nurdin Halid yang begitu powerfull menjaga dan membujuknya untuk tidak meninggalkan tampuk PSSI, padahal FIFA sendiri telah mengkritik Nurdin Halid?

Shin Tae Yong

Pelatih asal negeri ginseng ini direkomendasikan oleh eks sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria yang mundur dari PSSI pada 13 April 2020 sejak masuknya dia pada 2017. Alasan mundurnya Ratu Tisha dikatakan karena dia ingin berkiprah di bidang lain. Padahal Tisha pernah mengatakan bahwa jika hatinya dibedah, isinya hanya sepak bola. 

Bagaimana mungkin orang yang isi hatinya hanya sepak bola lantas berkarir di bidang lain? Padahal jka ingin berbuat banyak kepada sepak bola, PSSI-lah tempat yang pas karena sebagai induk organisasi PSSI bisa melakukan APAPUN untuk kepentigan sepak bola nasional.

Di SMA Ratu Tisha ikut membangun klub bola di sekolahnya dan sebelum gabung dengan PSSI, dia juga ikut mendirikan LabBola, konsultan statistik sepak bola yang menyediakan data statistik performa tim. Statistik itu bisa digunakan klub untuk mengajukan proposal ke sponsor.

Ratu Tisha jualah yang membawa Shin Tae Yong datang ke Indonesia yang lalu membawa skuat Garuda gemilang di Piala AFF 2021 walau hanya runner-up, tumbang di tangan Thailand.

Sulit dipercaya kalau orang yang membawa Shin Tae Yong ke Indonesia mundur dari PSSI hanya karena "ingin berkiprah di bidang lain". Walaupun kini Ratu Tisha memang ada di bidang lain sebagai komisaris independen PT Electronic City Indonesia, namun kiprahnya yang berniat memajukan sepak bola Indonesia patut diingat.

***

Melihat fakta-fakta diatas rasanya ingin sekali mengatakan kalau PSSI sedari awal enggan menjadikan sepak bola Indonesia maju dan jadi juara di kancah dunia, terutama buruknya pembinaan usia dini.

Tujuan Hidup Bukan Hanya Menikah

Tujuan Hidup Bukan Hanya Menikah

Kutulis ini untuk adikku.

Banyak perempuan gelisah saat  memasuki usia 30 tahun belum punya pacar apalagi menikah. Ada kekhawatiran dibilang perawan tua, tidak laku, sampai takut tidak bisa punya anak karena masa suburnya sebentar lagi selesai. Padahal kekhawatiran itu akibat bullying dari orang-orang sekitar yang menakuti-nakuti mereka sehingga para perempuan itu percaya bahwa hidup single di usia 30-an adalah kesengsaraan.

Akibat perundungan yang dialaminya, para perempuan itu akhirnya menikah dengan “siapa saja” yang mau jadi pacarnya, padahal lelaki itu belum tentu yang terbaik untuknya. Semua hanya demi menyenangkan orangtua, keluarga, dan teman, bukan demi kebahagiaan dia sendiri.

Ini bukan rekayasa imajinasi saya, tapi kenyataan. Saya banyak menemukan perempuan usia 31-46 tahun yang akhirnya menikah karena “sudah berumur” bukan karena mereka ingin bahagia.

Saudara saya menikah dengan lelaki yang pekerjaannya—tidak mengecilkan profesi apapun—dai, tinggal di daerah sejauh 285 km dari Jakarta. Sedangkan saudara saya itu manajer perusahaan swasta dengan gaji lumayan. Sejak awal ia tahu bahwa ia bisa mendapatkan lelaki yang “selevel” dengannya. Akan tetapi, desakan orangtuanya membuat ia akhirnya menikah dengan lelaki yang disodorkan teman ibunya itu. Sekarang ia tetap di Jakarta dan suaminya tetap di daerah. Suaminya menginginkan dia pindah ke daerah untuk mengurus ibunya (mertuanya). Sementara saudara saya itu masih enggan melepas karir di Jakarta. Ia merasa penghasilan suaminya sendiri masih kurang untuk hidup bertiga.

Lalu ada saudara suami saya yang menikah dengan lelaki yang lebih muda 15 tahun darinya, pengangguran, dan sampai sekarang hidup lelaki itu masih ditanggung penuh oleh si perempuan.

Para perempuan berumur tentu bisa hidup sebagai seorang single yang happy tanpa khawatir nelangsa seorang diri sampai mati. Toh jodoh di tangan Allah, Allah menyediakan banyak pilihan jodoh untuk seorang perempuan. Bila diminta, Allah akan memberi jodoh yang paling baik untuknya dan mempertemukannya di tempat yang baik pula (kantor, kampus, seminar, pelatihan, dan tempat baik lainnya). Tapi desakan sosial membuat mereka akhirnya menyerah dan merelakan diri ke pelukan lelaki yang tidak bisa menjadi imam dunia akhirat untuknya.

Tapi diluar sana banyak juga perempuan yang bertahan tetap single sampai mereka benar-benar menemukan lelaki yang tepat. Mereka belum menikah bukan karena mempertahankan karir, bukan juga karena mau bebas, dan mereka juga tidak pilah-pilih lelaki. Mereka “hanya” yakin akan ada lelaki yang tepat untuknya cepat atau lambat.
Guru SMA saya menikah di usia 48 tahun. Saat saya SMA umur beliau sekitar 25-27 tahun. Ia berhijab sejak belum banyak perempuan beejijab seperti sekarang. Ia salah satu guru favorit karena cara mengajarnya mudah dimengerti, dan sering pulang bareng murid-murid naik metromini. Dan setelah menikah beliau bahagia lahir batin. Ia kenalan dengan suaminya (duda 1 anak) di acara yang diadakan PGRI. Darimana saya tahu beliau happy? Dari cerita-ceritanya dan tulisan-tulisan di blognya.

Menjadi perempuan itu berat. Dan kalau Anda perempuan maka berhentilah menanyakan, “kapan nikah, anak gue aja udah tiga nih,” kepada perempuan yang Anda tahu belum menikah. Kalau tetap melakukannya Anda bisa dibilang melakukannya bullying/perundungan. Juga jangan coba-coba menawarkan perjodohan dengannya dengan menjadi mak comblang kalau tidak diminta olehnya.

Tidak ada salahnya sibuk mengurus hidup kita sendiri daripada mengurusi hidup orang yang belum menikah.

.
Sistem Zonasi PPDB : Ketika Si Pintar Kalah Dari Si Miskin

Sistem Zonasi PPDB : Ketika Si Pintar Kalah Dari Si Miskin

Orang miskin tidak lagi dapat diskriminasi hanya karena mereka tidak punya uang. Mereka sudah diberi kemudahan hidup lewat SKTM. SKTM adalah Surat Keterangan Tidak Mampu yang diterbitkan kelurahan atas pengantar dari RT dan RW dimana orang miskin yang mengajukan SKTM itu tinggal.

Pemilik SKTM bisa dapat pengobatan gratis di Puskesmas dan rumah sakit daerah jika ia belum punya BPJS atau tunjangan kesehatan lain dari pemerintah. Ia juga akan dapat jatah beras dan diberi kemudahan masuk sekolah negeri.

Soal kemudahan masuk sekolah negeri ini –tiap tahunnya—  membuat polemik karena (calon) murid pemegang SKTM lebih diprioritaskan untuk masuk sekolah negeri unggulan meskipun nilainya dibawah mereka yang orangtuanya mampu.

Mereka yang tidak datang dari keluarga miskin ini yang merasa prioritas yang diberikan kepada pemegang SKTM sebagai bentuk ketidakadilan. Anak mereka yang sudah giat belajar dan mendapat nilai bagus tidak bisa diterima masuk sekolah negeri unggulan karena sekolah mengutamakan menerima anak yang rumahnya paling dekat dengan sekolah dan dari keluarga miskin daripada anak yang nilainya bagus. Ketidakadilan ini yang menjadikan banyak orangtua membuat SKTM agar anaknya diterima di sekolah negeri favorit, meskipun mereka kaya raya.

Kok orang kaya ngotot masuk negeri, swasta kan banyak yang bagus.

Sekolah negeri di daerah berbeda dengan di kota-kota besar. Di daerah, sekolah negeri benar-benar punya kualitas yang bagus yang ditandai dengan mayoritas lulusannya yang tidak hanya pintar secara akademik, tapi mampu berpikir sistematis dengan kepribadian yang baik pula.

Lalu kenapa sekolah tidak lagi memperhatikan nilai bagus dan memprioritaskan anak yang rumahnya dekat dan pemegang SKTM?

Biang keroknya adalah peraturan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaa Nomor 14 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), atau Bentuk Lainnya yang Sederajat.  Dimana salah satu pasalnya mengatur tentang kewajiban sekolah untuk memberikan minimal 20 persen kursi di sekolahnya bagi siswa miskin yang berada di dalam zonasi.

Angka minimal 20% ini lumayan besar. Jika satu sekolah punya lima kelas yang masing-masing terisi 40 murid, maka 20% berarti 80 murid miskin yang bisa langsung diterima walaupun nilai mereka rendah.

Banyaknya murid yang kemampuan akademiknya rendah tentu berisiko bagi sekolah unggulan. Sekolah unggulan biasanya menerapkan standar proses belajar-mengajar yang tinggi, guru yang kompetensinya baik, dan hasil akhir yang tinggi pula. Murid yang kemampuan akademiknya pas-pasan akan menghambat murid lain yang kemampuan akademiknya bagus.

Dengan memiliki banyak murid yang akademiknya dibawah standar sekolah, maka akan menurunkan kualitas sekolah itu sendiri (dalam hal ini diukur melalui KKM—Kriteria Ketuntasan Minimal—)

Jadi, daripada memaksakan murid miskin yang kemampuan akademiknya pas-pasan, lebih baik arahkan saja mereka masuk SMK. SMK mengutamakan keterampilan, cocok untuk anak yang bakatnya non-akademis. Semua anak punya bakatnya masing-masing, jadi tidak semua anak harus sekolah di SMA yang memang mengutamakan nilai akademis.
Terpenjara di Sekolah

Terpenjara di Sekolah

Sekolah dasar swasta di Jakarta saya ketahui jam belajarnya sampai jam tiga atau empat sore lalu dilanjutkan dengan ekstrakulikuler sampai jam lima sore. Sabtu dan Minggu mereka libur. Pun demikian dengan beberapa sekolah negeri.

Sementara itu, di Amerika Serikat, yes USA, jam belajar SMP – SMA rata-rata mulai 07.30 dan berakhir pada 13.30 lalu dilanjutkan ekstrakulikuler sesuai minat siswa. Ada lima belas menit yang disediakan sekolah untuk jam istirahat pertama dan tigapuluh menit untuk istirahat makan siang. Ketika jam mata pelajaran berakhir ada istirahat lima menit sebelum memulai mata pelajaran berikutnya.

Lho, kok membandingkannya dengan Amerika sih? Jauh banget! Yaaa, orang kita kan masih Amerika-minded, apa-apa yang datang dari Amerika dianggap wow. Jadi sekalian saja perbandingannya dengan Amerika Serikat.

Karena sekarang saya tinggal di Magelang, bukan Amerika, maka kita lihat sekolah di sini. Semua sekolah, swasta dan negeri, punya jam belajar sampai Sabtu.  Pada SD – SMP Islam favorit (favorit ya, bukan unggulan), jam belajar mulai 7.00 sampai 15.30 WIB dari Senin – Sabtu. Resminya jam belajar sampai pukul dua siang lalu lanjut dengan materi agama Islam dan ekstrakulikuler. Jam belajar seperti ini cocok untuk anak yang kedua orangtuanya bekerja full time. Tapi buat saya, yang lebih mementingkan kecerdasan otak daripada nilai akademik, jam belajar seperti itu sungguh menyiksa anak.

Memang di sekolah mereka diajarkan banyak hal, kegiatan ekstrakulikulernyapun beragam dari hafizd Alquran, robotik, sampai mata pelajaran olimpiade MIPA.

Bagus sekali, bukan? Agama pintar, mata pelajaran umumpun pandai.

However, kegiatan anak hanya berkisar di sekolah dan bergaulnya dengan teman yang itu – itu saja. Apabila anak – anak saya minat dengan, misal, bermain piano atau biola atau olahraga lain yang tidak ada dalam ekstrakulikuler, bagaimana menyalurkannya? Jam belajar di sekolah sudah tidak memungkinkan mereka untuk berkegiatan di luar sekolah dan mengenal orang lain selain lingkup sekolah. Belum lagi kalau mereka harus mengerjakan PR, berarti jam belajar mereka bertambah. Kreativitas mereka hanya berdasarkan apa yang diatur oleh sekolah.

Kenyataan lain adalah, banyak ilmu yang dipelajari di sekolah kurang berpengaruh pada dunia kerja atau wirausaha.

Bila kurikulum pendidikan diubah dengan orientasi kekinian yang mengutamakan stimulasi bakat dan minat anak, mungkin saja jam belajar yang gila – gilaan itu berguna. Tapi itu tidak mungkin. Mustahil dalam satu lingkungan sekolah untuk mengakomodir satu persatu minat dan bakat anak didik yang jumlahnya ratusan. Maka solusinya adalah perpendek jam belajar di sekolah dan biarkan anak dengan bimbingan orangtuanya mengeksplorasi bakat dan minat mereka di tempat yang sesuai.

Coba lihat jam belajar di Amerika tadi. Itu negara maju tapi kenapa jam belajar di sekolahnya tidak segila di Indonesia? Itupun sekarang ini ada gerakan untuk memundurkan jam sekolah menjadi lebih siang (dengan jam pulang yang tidak berubah) agar anak – anak sekolah punya waktu tidur malam yang cukup.

Tapi, kenapa orangtuanya harus capek – capek membimbing dan mengajari anak lagi, kan sudah bayar ke sekolah?

Simple, itu anak kita, pendidikan anak terutama ada pada orangtuanya. Saat mereka bayi, balita, dan sebelum memasuki usia sekolah anak – anak lebih dulu bergaul dan berinteraksi dengan orangtuanya di rumah. Kecuali si orangtua super-duper sibuk dan hanya menyerahkan si anak kepada pengasuh berbayar, itu lain soal.

Anak cerdas dan pintar itu bukan diukur dari seberapa bagus nilai rapor mereka, tapi bagaimana mereka paham apa yang sedang mereka kerjakan ketika melakukan sesuatu.
Anak soleh juga bukan diukur dari berapa banyak hapalan Alquran mereka, tapi bagaimana mereka menghormati orang lain dan memperlakukan orang lain secara proporsional.
Relevansi Ningrat Zaman now

Relevansi Ningrat Zaman now



Pada saat masyarakat di Pulau Jawa mengalami masa feodalisme (kekuasaan sosial dan politik ada ditangan para bangsawan dan keluarganya. Kehormatan didapat berdasarkan pangkat dan jabatan, bukan atas prestasi kerja), orang-orang yang berdarah ningrat atau punya hubungan kekerabatan dengan keluarga raja harus dihormati dan di"sembah" supaya tidak melarat dan kualat. Selain itu masyarakat zaman itu percaya bahwa keberkahan pada hidup mereka akan datang dari para bangsawan itu. Itulah sebabnya rakyat jelata sampai menunduk dan menangkupkan tangan tanda hormat sekaligus takut setiap kali bicara pada para bangsawan. Posisi badan harus selalu lebih rendah dari sang ningrat. Apa yang sudah diperintahkan penguasa wilayahpun harus dilakukan.

Ini tidak terjadi di Indonesia saja. Eropa juga pernah mengalami masa feodalisme dimana kekuasaan dikendalikan para bangsawan dan tuan tanah.

Tapi di abad milenium ini, dimana budaya berubah seiring dengan majunya teknologi, maka berubah pula cara berpikir manusia.

Keturunan bangsawan tidak lagi dihormati berlebihan kecuali jika orang itu sukses secara materi yang didapat dengan cara baik, punya kecakapan memimpin, atau punya ilmu keagamaan yang mumpuni.

Coba bayangkan bila kita ternyata punya seorang office boy di kantor yang ternyata seorang Raden yang keturunan bangsawan, apa kita lantas harus bersimpuh membungkuk memohon padanya untuk minta tolong dibelikan makan siang? Ya nggak bakalan.

Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat adalah anak Raden Ajeng Kartini (gelar Raden Ajeng berubah jadi Raden Ayu setelah perempuan bangsawan menikah). Ayahnya bupati Rembang yang sudah pasti seorang Raden Mas.

Soesalit adalah pejuang kemerdekaan yang mengusir penjajah Belanda. Pada sejarah Komando Daerah Militer IV Diponegoro, nama Soesalit tercatat sebagai panglima kedua mereka, setelah Gatot Soebroto, dengan pangkat Mayor Jenderal.

Akan tetapi, Soesalit tidak pernah menggunakan keningratan dan statusnya sebagai anak
tunggal dari Ibu Kita Kartini. Beliau tidak pernah membawa-bawa nama besar ibunya untuk keuntungannya. Bahkan setelah kemerdekaan beliau tidak pernah mengambil fasilitas yang menjadi haknya. Karenanya bisa dibilang bahwa beliau adalah salah satu jenderal yang wafat (tahun 1962) dalam keadaan melarat. Anaknya, Raden Mas Boedy Setia Soesalit, selalu mengingat pesan ayahnya yaitu, "Jangan suka menonjolkan diri sebagai keturunan Kartini."

Back to zaman now, masih banyak orang (diluar lingkungan keraton) yang memakai gelar kebangsawanan macam Raden Mas, Raden Ajeng, atau Raden Roro didepan namanya. Tapi tanpa prestasi mereka tetap dianggap bukan siapa-siapa, bagaimanapun nyatanya mereka memang keturunan raja-raja Majapahit dan Mataram.

Pada wilayah terbatas seperti Keraton Yogya dan Solo, masyarakat disana masih menghormati raja dan keluarganya sama seperti zaman dulu, hanya saja tidak sampai harus bersimpuh dan menangkupkan tangan bila berhadapan dengan mereka, kecuali mungkin dilakukan oleh para abdi dalem.

Bagi masyarakat disana keraton dianggap juga sebagai cerminan budaya adiluhung Jawa, sehingga menghormati keluarga keraton berarti juga melestarikan budaya Jawa yang penuh falsafah kehidupan.

Menurut saya, selain keluarga keraton, gelar ningrat pada keturunan bangsawan tidak relevan lagi untuk mendongkrak status sosial seseorang. Karena masyarakat tidak lagi melihat siapa dia, tapi apa yang dia lakukan.
Rakyat Sudah Cerdas Tapi Takut

Rakyat Sudah Cerdas Tapi Takut

Tahun 2018 adalah tahun politik dimana ada pemilihan gubernur, bupati, dan walikota yang dilakukan serentak di sejumlah daerah.

Dalam beberapa berita ada pernyataan dari partai politik pengusung calon kepala daerah yang mengatakan, “Rakyat sudah cerdas, tidak akan terpengaruh isu SARA dan hoax.”
Bagi saya pernyataan itu cuma untuk menghibur diri sendiri atau untuk membohongi orang lain.

Pada setiap kampanye, dimanapun di dunia ini, pasti ada isu SARA yang disebarkan secara diam-diam lewat pesan instan seperti grup WhatsApp atau terang-terangan lewat media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Jadi pernyataan yang mengatakan kalau rakyat sudah cerdas dalam memilih calon pemimpin adalah penyataan imajinatif.

Contoh nyata (dan sudah berulang-kali disampaikan banyak pengamat politik) adalah menangnya Anies Baswedan sebagai gubernur DKI karena menggunakan Almaidah ayat 51 untuk memaksa rakyat Jakarta supaya tidak memilih Basuki Tjahaja Purnama.

Warga Jakarta sudah cerdas. Tapi mereka juga takut karena semua TPS dijaga sekelompok orang yang memelototi mana-mana saja orang yang kira-kira akan mencoblos Basuki.

Orang yang sebelum sampai ke TPS sudah yakin akan memilih Basuki bisa jadi berubah mencoblos Anies karena ngeri dan takut akan keselamatannya.

Rakyat memang cerdas karena tahu bahwa agama dijual untuk kepentingan golongan. Mereka yang tidak terpengaruh kampanye hitam bisa berubah pikiran kalau merasa keselamatan diri dan keluarganya terancam.

Kejadian serupa di DKI bisa terjadi di daerah yang tahun ini menggelar pemilihan kepala daerah jika daerah itu dinilai strategis untuk kepentingan kelompok tertentu.

Apalagi alumni yang berhasil memenangkan Anies di DKI sudah mengklaim akan melakukan aksi serupa di daerah jika ada calon pemimpin yang seperti Basuki.

Itu artinya kalau agama tidak mempan untuk warga di daerah tertentu, maka apapun akan dilakukan supaya calon yang didukungnya menang.

Jadi ketimbang terus mengulang pernyataan bahwa rakyat sudah cerdas bla bla bla, untuk menghibur diri, lebih baik bikin saja tim khusus media sosial. Bayar tim itu untuk menghalau isu negatif sang calon dan mengupayakan agar program – program si calon dibaca target pemilih.

Spanduk tetap perlu tapi tujuannya cuma untuk mengingatkan bahwa, ini lho, si ini nanti bakal jadi bupatimu. Karena sekarang hampir semua orang punya telepon seluler untuk mengakses informasi. Spanduk kurang efektif lagi kecuali untuk manula miskin yang tidak punya ponsel dan tinggal di pedesaan.

Jangan malas juga berkawan dengan pendukung lawan supaya mudah mematahkan isu jelek yang ditujukan pada calon yang kita dukung.

Semoga calon yang Anda dukung menang.

Krisis Pekerja Sawah

Krisis Pekerja Sawah


Makin lama orang yang mau bekerja di sawah makin sedikit. Hanya orang-orang tua (rata-rata 50 tahun keatas) yang masih mau melakukannya. Anak-anak muda dari ekonomi lemah lebih memilih bekerja di toko, pabrik, atau jadi pekerja bangunan.

Pekerja sawah diupah 50rb perhari. Tenaga mereka dibutuhkan untuk membajak sawah, mengairi, menanam benih, memupuk, menghalau hama (jika diperlukan), memanen, dan memperbaiki irigasi yang mengaliri sawah (jika diperlukan).

Masih manual? Pakai teknologi pertanian dong. Modernisasi pertanian gitu. 

Sudah. Traktor termasuk salah satu teknologi pertanian (dulu membajak sawah pakai sapi atau kerbau). Mesin pemanen padi juga sudah ada. Padi langsung dipotong, dirontokkan dan masuk karung jadi gabah kering, tidak perlu lagi tenaga manusia memakai arit untuk memanennya. Tapi, mesin pemanen dan penanam padi sulit digunakan di lahan sawah yang landai dan berbukit-bukit. 

Mesin-mesin seperti itu mudah digunakan dilahan pertanian yang rata (tidak berbukit) dan membentang luas. Lahan sawah yang berbukit masih memerlukan tenaga manusia.

Sama seperti membangun gedung, bagaimanapun canggihnya alat konstruksi tetap memerlukan tenaga manusia untuk melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan mesin.
Mesin-mesin itu bisa didapat dengan cara sewa kepada kelompok tani atau perusahaan penggilingan padi, atau perorangan. Pada sawah tadah hujan, petani harus menyewa mesin penyedot air seharga Rp100rb – Rp150rb perjam untuk mengaliri sawah.

Jadi petani itu, seperti halnya semua pekerjaan di dunia ini, tidak gampang. Tidak sekedar menanam lalu duduk manis sampai panen. Ada banyak usaha agar bulir padi yang dihasilkan bagus dan menghasilkan nasi yang enak.

Orang yang punya lahan sawah berhektar-hektar tentu mendapat laba yang besar saat panen (setelah dipotong biaya dan upah), sementara pemilik yang cuma punya lahan 1500 – 2500 meter persegi laba bersihnya berkisar Rp2.500.000 – Rp4.000.000 tergantung kualitas padi yang dipanen.

Orang-orang yang berteriak-teriak soal cara kuno petani dalam mengelola lahan dan mengeluhkan harga beras yang mahal adalah orang-orang yang tidak paham bagaimana mekanisme dari mulai padi ditanam sampai distribusi ke tangan pemakan nasi. 

I personally agree kalau pemerintah impor beras terbatas untuk cadangan nasional. Kalau terjadi gagal panen karena banjir, kemarau panjang, dan hama, maka rakyat tidak sulit mencari beras.

Karena bagaimanapun makanan pokok mayoritas Indonesia itu ya nasi. Mau diganti pakai kentang atau ubi tetap carinya nasi.

Karena Orang Miskin Tidak Boleh Diremehkan

Karena Orang Miskin Tidak Boleh Diremehkan

Banyak orang menjadi miskin bukan karena mereka malas. Ada yang karena orangtuanya miskin lantas tidak bisa menyekolahkan mereka lalu mereka ikut miskin karena tidak mendapatkan pekerjaan atau berwirausaha dengan penghasilan tinggi. Banyak juga yang menjadi miskin karena kebijakan pemerintah, juga terbatasnya informasi yang bisa mereka akses. Ada juga -bagi umat Islam- menjadi miskin bisa merupakan ujian hidup dari Allah SWT.
Sebelum memandang rendah orang miskin kita samakan persepsi dulu bahwa orang miskin, menurut standar Badan Pusat Statistik, diantaranya adalah penghasilannya kurang dari Rp600rb perbulan, hanya mampu membeli satu stel pakaian setahun sekali, dan tidak memiliki tabungan atau barang yang mudah dijual senilai Rp500rb.

Orang miskin tidak bisa melamar pekerjaan kantoran karena pendidikan mereka tidak tinggi. Paling bagus mereka kerja dikantor sebagai office boy atau cleaning service. Sementara orang miskin lainnya kerja serabutan, jadi buruh, atau pekerjaan informal lain seperti mengamen atau mengojek. Itulah kenapa penghasilan mereka sedikit. Karena penghasilannya sedikit mereka jadi kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Bila kita biasa ngopi-ngopi cantik di kafe seminggu sekali. Duit didompet mereka belum tentu cukup untuk beli kopi bubuk di warung. Bila anak-anak kita biasa makan di restoran saat main di mall, orang miskin sudah merasa mewah makan lauk telur dadar seminggu sekali.

Bila kita bisa santai meski punya utang di bank karena penggunaan kartu kredit, orang miskin pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana melunasi utang di tukang sayur.
Sungguh tidak pantas kita jadi orang terhormat bila merendahkan dan meremehkan orang hanya karena baju mereka lusuh, muka mereka kusam, dan kelakuan norak mereka bila masuk ke mall.

Hidup mereka sehari-hari sulit dan itu membuat mereka tertekan. Tak ada apa-apanya tekanan yang kita terima saat diputuskan pacar atau dimarahi bos dikantor. Tak ada apa-apanya tekanan yang dihadapi agen asuransi untuk mencapai target bulanan mereka dibanding tekanan yang dialami orang miskin untuk bertahan hidup.

Itulah kenapa orang miskin tidak boleh diremehkan karena mereka juga bertahan hidup untuk mengisi kehidupan di dunia yang sama seperti kita. Tidak ada alasan untuk melecehkan orang miskin.

Masih tidak mengerti kenapa orang miskin harus dipandang sama seperti orang kaya? Bila penat cobalah cari hiburan selain nonton TV kabel, ke bioskop dan mall, kafe dan restoran, supermarket, theme park, hotel berbintang, atau pusat kebugaran. Lalu cobalah makan hanya dengan tempe, tahu dan sayuran tiap hari. Kemudian jauhkan diri dari aktivitas diinternet, media sosial dan gosip. Lakukan itu selama sebulan saja, maka Anda akan tahu bagaimana rasanya hidup sebagai orang miskin.
Urus-urus di Kantor Kepala Desa

Urus-urus di Kantor Kepala Desa

Urus-urus administrasi di kelurahan sekarang tidak serumit dan sepungli dulu.

Waktu suami saya mau urus KK (Kartu Keluarga) milik ayahnya, staf kelurahan di Desa Keji, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, berbaik hati menjelaskan soal KK format baru dan kelengkapan yang dibutuhkan untuk membuat KK baru. Setelah selesai staf itu menolak diberi "tip" atau "untuk uang kas", katanya yang begitu-begitu sudah tidak ada lagi. Semua bebas biaya. Hal itu diamini juga oleh kepala desanya. Suami saya bilang staf kelurahannya murah senyum dan ramah, padahal waktu itu banyak warga yang datang untuk minta berbagai pelayanan.

Saya ingat lima tahun lalu saat mengurus perpanjangan KTP di Kelurahan Gandaria Utara, Jakarta Selatan, dilempar dari satu meja ke meja lain. Belum lagi pak lurahnya susah ditemui. Kantor kelurahan pagi-pagi belum ada orang, selepas makan siang sudah tidak ada orang. Tapi saya yakin disana sudah berubah. Disini saja sudah lebih baik apalagi di Jakarta.

Disini ada yang "unik", tulisan di papan adalah "Kantor Kepala Desa" tapi warga menyebutnya "kantor kelurahan". Begitupun jabatan resmi pemimpinnya adalah kepala desa tapi tetap warga menyebutnya bu lurah (kepala desanya perempuan), bukannya bu kades. Saya tanya sama suami dia bilang, "Ya memang begitu dari dulu." Hoo, jawaban yang "menggemaskan".

Ada lagi yang menurut saya "unik". Setahu saya selama tinggal di ibukota, hanya ada RT dan RW, tapi disini ada tiga perangkat warga, yaitu RT, RW, dan kepala dusun. Surat pengantar pembuatan KTP, KK, dan lainnya diberikan oleh kepala dusun (tidak melalui RT). Posisi kepala dusun dan RW sejajar. Sedangkan RT ada dibawah RW sekaligus kepala dusun. Jadi fungsi RW apa kalau begitu ya? Ini perangkat resmi yang diakui kelurahan.

Tapi masih ada yang mengganjal, karena sudah tiga tahun tinggal di Magelang, kami berniat mengubah data e-KTP dari domisili Tangerang Selatan menjadi Kabupaten Magelang, belum bisa karena perlu mencabut dulu e-KTP dari Tangsel. Kami harus urus dulu pencabutan data di disdukcapil Tangsel. Duh, rumit amat yak! Padahal teorinya ubah data e-KTP bisa langsung di disdukcapil (dinas kependudukan dan catatan sipil) setempat. Tapi faktanya pihak kelurahan sini tidak bisa memproses pengubahan data e-KTP kalau tidak ada surat pencabutan dari disdukcapil tempat e-KTP sebelumnya berasal.

However, meski saya masih menjadi orang Jakarta yang ber-KTP Tangerang Selatan tapi berdomisili di Magelang, saya senang yang karena punya presiden yang beneran kerja buat rakyat. Urus administrasi kependudukan gak serumit dulu. Ditambah lagi gubernurnya juga lumayan bener.

Kalau begini lumayan happy lah. Belum happy banget tapi lumayan happy 😁

Konteks

Konteks

Beberapa tahun lalu selagi saya masih bekerja di perusahaan riset dan branding komunikasi Singapura, saya selalu dihadapkan dengan konteks. Apapun yang saya analisa harus dilihat konteksnya berhubungan dengan klien atau tidak. 

Misal klien dari Kacang Garuda, setiap ada kata "garuda" dari kalimat yang muncul di internet tidak bisa langsung saya simpulkan itu positif atau negatif untuk Kacang Garuda. Harus dibaca keseluruhan berita, artikel, opini, atau perbincangan media sosial untuk mengetahui apakah itu sesuai konteks berhubungan dengan Kacang Garuda atau tidak. Jika ternyata isi lengkapnya soal lambang NKRI "Garuda" atau timnas "Garuda" atau maskapai "Garuda", maka artikel itu menjadi irrelevant untuk Kacang Garuda. Karena irrelevant maka tidak bisa masuk dalam laporan hasil analisa.

Begitu pula semestinya dalam masalah penistaan agama Islam yang menimpa Basuki Tjahaya Purnama, gubernur (saat ini non-aktif) DKI Jakarta.

Kalau kita menonton video yang sudah dipotong menjadi 2 menit tersebut tentu kita yang beragama Islam akan "panas" merasakan kekurangajaran Basuki mengutip ayat suci Al Quran seenaknya sementara dia beragama Kristen. Tetapi, kita tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dari video yang sudah dipotong. Bila menonton video aslinya yang berdurasi lebih dari sejam akan terlihat dalam konteks apa Basuki sampai mengucapkan "jangan mau dibohongi pakai Al Maidah 51". Konteksnya adalah Basuki mengajak warga Pulau Pramuka yang ragu memilih pemimpin non-muslim supaya jangan memilih dirinya, tapi jangan mau diperdaya oleh politikus yang memanfaatkan Al Maidah 51 demi
fanfiction.net
kepentingan politik.

Video yang sudah dipotong (yang diduga diedarkan pertama kali oleh Buni Yani di Facebook) itulah yang menyebar dan menimbulkan masalah penistaan Islam oleh Basuki. Video yang sudah dipotong tentu akan menghasilkan konteks yang berbeda dari video aslinya. Karena sudah keluar dari konteks maka masyarakat menganggap Basuki menghina agama Islam bahwa Al Maidah ayat 51 itu bohong.

Politik
Sulit untuk tidak memikirkan bahwa pengadilan Basuki tidak berkaitan dengan pemilihan gubernur DKI. Karena konteks pidato di Kepulauan Seribu, DKI, bukan dalam konteks agama tapi budidaya ikan kerapu dan ajakan untuk tidak memilihnya jika takut akan masuk neraka karena memilih pemimpin Kristen. 

Jika Basuki dijebloskan ke penjara tentu akan mudah bagi lawan politiknya mengambil kursi gubernur DKI yang mentereng itu.

Sebelum aksi Bela Islam 411, Pak Beye dari Partai Demokrat menggelar jumpa pers menangkis segala tuduhan terhadapnya. Padahal tidak jelas juga siapa yang menuduhnya, kapan tuduhan itu terjadi, dan di media mana tuduhan itu disampaikan.
Pelapor utama Basuki adalah FPI, ormas Islam yang dikenal dengan sweeping-sweeping anarkisnya dibanding dakwah Islam rahmatan lil alamin-nya. Jadi sulit untuk menghilangkan kesan ada "udang dibalik batu" atas pelaporan Basuki sebagai penista agama Islam.

Agama
Unfortunately, para pemuka agama yang sering tampil di televisi ikut berenang di arus yang menganggap Basuki menista Islam. Saya tak tahu apakah mereka sudah menonton video asli yang utuh atau belum sebelum memutuskan Basuki menista Islam. MUI juga saya anggap terburu-buru menghasilkan fatwa karena Basuki tidak diundang dulu untuk mengklarifikasi ucapannya. Entah MUI menonton video aslinya atau video potongan sebelum membuat fatwa Basuki menghina Islam.

Pemuka agama yang sering tampil di televisi ini punya potensi membawa jamaah yang tidak tahu apa-apa untuk terjun ke dalam arus yang yakin Basuki menghina Islam. Too bad karena harusnya para pemuka agama ini menyejukkan, bijak, dan tidak asal menolak orang-orang non-muslim yang berbuat salah.

Back to context, kalau kita tidak melihat konteks dari tulisan atau ucapan seseorang secara utuh maka kita akan mengambil kesimpulan yang salah. Kesimpulan yang salah tidak membuat kita tambah bijak. Kalau tidak bijak kita akan mudah ikut arus yang tidak jelas.



Petikan sumber :
http://m.liputan6.com/news/read/2676750/ahok-saya-mengutip-al-maidah-51-ditujukan-ke-oknum-politikus?siteName=liputan6
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia/2016/10/161016_indonesia_mui_politikpraktis
http://m.beritasatu.com/nasional/391135-nusron-wahid-tak-satu-pun-kalimat-ahok-menistakan-alquran.html
https://m.detik.com/news/berita/d-3318150/mui-nyatakan-sikap-soal-ucapan-ahok-terkait-al-maidah-51-ini-isinya
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/10/08/07473141/pengurus.nu.jakarta.ahok.tak.bilang.ayat.yang.membohongi.tetapi.membohongi.pakai.ayat
http://www.nu.or.id/post/read/72586/kiai-said-jika-ada-atribut-nu-saya-pastikan-itu-bukan-warga-nu
Go Rio Go!

Go Rio Go!

Saat ini nama Rio Haryanto jadi tenar karena ia pebalap Indonesia pertama yang berlaga di F1. Ia juga satu-satunya pebalap Asia di balapan F1 musim ini. Ia pemeluk Islam yang taat. Sebelum balapan ia biasa tahajud dan melafalkan ayat kursi. Rio mengaku ibunyalah yang selalu mengingatkan agar selalu membaca ayat kursi. Bahkan pada mobil balapnya di ajang GP2 tertempel ayat kursi. Selain itu ia kaya raya karena orangtuanya pemilik pabrik buku tulis Kiky yang terkenal itu. Siapa bilang orang Islam tidak bisa tajir dan go international?

However, selain kebanggaan, cibiran juga membayangi karirnya. Ia dicemooh karena bayar mahal sebagai pay driver ke Manor Racing untuk bisa membalap di F1. Padahal karir balap Rio di GP2 (setingkat dibawah F1) juga bagus. Lagipula pebalap F1 sekelas Michael Schumaker dan Fernando Alonso juga mengawali karir sebagai pay driver.

Sayang perjalanan karir balap Rio di F1 tidak mulus. Mobil yang dikendarainya dua kali bermasalah kebocoran oli. Ini mengakibatkan Rio harus berhenti di lap ke-18 saat seri GP Australia di sirkuit Albert Park Melbourne. Padahal di lap ke-10 Rio sempat menyusul ke urutan 18 dari posisinya di urutan 22.
Sebelumnya Rio harus menghadapi hukuman karena mobilnya bersenggolan dengan Roman Grosjean dari tim Haas saat keluar dari pit lane di sesi latihan ketiga. Ia kena pinalti 2 poin dan start mundur 3 grid, menyebabkannya harus start diurutan paling buncit. Tapi mantan pebalap F1 asal Malaysia Alex Yoong, komentator resmi F1 David Croft juga para wartawan Indonesia yang meliput balapan ini bilang bahwa senggolan itu bukan salah Rio karena Rio sulit melihat ke arah kiri. Mestinya itu tugas kru Manor yang harus mengawasi dan memberitahu Rio bahwa ada mobil sedang melaju sehingga senggolan bisa dihindari. Bandingkan dengan rekan setimnya, Pascal Wehrlein, yang bisa dibilang tidak pernah bermasalah.

Satu lagi masalah duit yang harus disetor ke Manor Racing masih kurang 7 juta Euro dari total 15 juta Euro. 

Sampai detik ini cuma Pertamina yang benar-benar menggelontorkan duit, yang lain masih "we will see". Keluarga Rio sendiri mengeluarkan 3 juta Euro. Tambahan duit 5 juta Euro dari Pertamina menjamin Rio aman di Manor sampai separuh musim sebelum, mungkin, akhirnya digantikan oleh pebalap pengganti jika Rio tak bisa melunasi pembayarannya.

Diluar masalah teknis mobil, Rio pastinya bisa mengabaikan ekspektasi tinggi dari sebagian kecil orang Indonesia yang ingin Rio naik podium. Rio naik podium adalah mission impossible.

Rio balapan untuk Manor Racing, tim kecil yang anggarannya kecil. Dengan anggaran yang kecil tak bisa diharapkan mobil balap Manor akan secepat dan secanggih tim Mercedes, McLarren atau Ferrari. Bisa finish di tiap seri sudah merupakan hasil bagus buat Rio. Lebih bagus lagi kalau dia bisa mengalahkan Pascal Wehrlein. Itu saja target buat Rio, si rookie, pebalap yang baru pertama kali terjun di F1.

Jadi punya pebalap Indonesia di ajang balap prestius sedunia saja sudah membanggakan. Berikan waktu untuk Rio sebelum dia bisa mencapai kelas Kimi Raikkonen bahkan Lewis Hamilton. 
Go, Rio, go!
Susahnya Orang Pinggiran Cari Angkutan

Susahnya Orang Pinggiran Cari Angkutan

Sekarang macet terjadi tak cuma di Jakarta saja. Di Bandung, Bogor, Medan, Denpasar, bahkan lalu-lintas dibeberapa kota di Kalimantan juga sudah padat. Karena itu tanpa menunggu waktu lebih lama, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sudah membangun Mass Rapid Transit (MRT) dan monorail. Pembangunan dua moda transportasi ini digeber supaya warga yang tadinya naik mobil dan motor mau pindah ke transportasi umum saat beraktivitas. Dengan demikian kemacetan Jakarta bisa hilang, minimal berkurang.

Tingginya mobilitas warga Bodetabek yang ke Jakarta untuk bekerja, belanja, dan aktivitas lainnya, dituding sebagai salah satu penyebab macet. Akan tetapi soal transportasi, sebenarnya warga yang tinggal di pinggiran jauh lebih sulit dalam melakukan mobilitas pergi-pulangnya. Bus TransJakarta hanya melayani jalanan seputar DKI saja. Setelah turun dari TransJakarta harus naik angkot lagi, kena macet pula.
Bisa saja untuk menuju Jakarta dan sebaliknya warga pinggiran naik bus Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus TransJakarta (APTB) yang rutenya langsung ke pusat kota Jakarta, misalnya Bekasi - Thamrin atau Ciputat - Kota. Namun waktu tempuh bus APTB tak bisa ditebak karena macetnya lalu lintas. Maka itu orang memilih memakai mobil atau motor daripada angkutan umum. Perjalanan bisa ditempuh paling lambat 2,5 jam, sementara pakai angkutan umum 3-4 jam. 

Bayangkan saja, dari Lebak Bulus (Jakarta Selatan) ke Pasar Ciputat (Tangerang Selatan) yang jaraknya hanya 8 km bisa ditempuh selama satu jam! Padahal tanpa macet bisa ditempuh hanya 15-20 menit saja.
Jika nanti MRT selesai dibangun pada 2018, kapasitasnya yang mampu mengangkut 20.000 - 30.000 orang sekali jalan akan signifikan mengatasi kemacetan Jabodetabek, terutama di jam-jam masuk dan pulang kantor.

Melihat tingginya mobilitas warga Bodetabek ke Jakarta dan sebaliknya, mungkin seharusnya gubernur Jawa Barat dan Banten bersinergi dengan gubernur DKI -difasilitasi Kemendagri dan Kemenhub- untuk menciptakan angkutan murah nan nyaman, bukan hanya terintegrasi dengan TransJakarta saja. Kalau bisa buat angkutan TransPerbatasan dengan jalur khusus yang tersambung dengan jalur TransJakarta. APBD Bodetabek tak sedikit, urunan saja, atau minta DKI mengeluarkan dana paling besar untuk infrastrukturnya. Selama gubernurnya dijabat Joko Widodo, opini saya berpendapat beliau mau demi terciptanya kepentingan umum. 

Kalau bersinergi begini, menciptakan transportasi antar perbatasan yang nyaman, aman, dan bebas macet insya Allah bisa. Hanya saja mereka yang duduk di singgasana pemerintahan mungkin berpikir, ngapain repot-repot, nambahin kerjaan aja, nanti saya dapat fee berapa, nih?! Wallahualam.

Mobil Murah vs Transportasi Umum

Mobil Murah vs Transportasi Umum

Pemerintah melalui kementerian perindustrian sudah mencanangkan program mobil murah dibawah Rp100jt agar masyarakat makin berkesempatan membeli mobil. Aneh, kenapa tidak mencanangkan program swasembada beras, kedelai, palawija, dan rempah-rempah saja ya?! Rakyat kan lebih butuh makan daripada mobil.

Berkenaan dengan mobil murah ini Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sudah menolak konsepnya karena Jakarta sudah padat. Akses jalan yang ada tidak sebanding dengan jumlah kendaraan. Alih-alih bikin mobil lagi beliau ingin agar transportasi massal dibenahi dulu. Kalau transportasi sudah bagus, bus banyak, terintegrasi dengan KRL, rutenya strategis, penggunanya aman dan nyaman, maka orang yang punya mobilpun tak malas naik kendaraan umum. Kemacetan bisa ditekan, polusi diminimalisir, dan kesemrawutan jalan berkurang. Dan sekarang yang macet bukan di Jabodetabek saja tapi Surabaya, Bandung, bahkan Samarinda, Bontang, dan Balikpapan juga sudah padat. Di jalanan tiga kota terakhirpun banyak berseliweran mobil mewah.

Kontra dengan Joko Widodo, Menteri Perindustrian MS Hidayat bilang rakyat dengan penghasilan rendah berhak beli mobil, karena itu diciptakan mobil murah. Sudah 68 tahun Indonesia merdeka rakyat kok belum bisa beli mobil, katanya. Salah besar, Pak! Kalau penghasilannya rendah bagaimana kepikiran beli mobil? Bayar sekolah anak saja mungkin susah. Iya sudah 68 tahun kita merdeka, tapi kok belum punya mobil bikinan sendiri? Masih saja merek-merek asing yang dijual. Tiap kali putra bangsa membuat mobil nasional, tiap kali pula ATPM melalui menteri-menteri yang telah disuap mencekik pengembangan mobil nasional sampai mati. Lihatlah Esemka. Uji emisinya tidak lulus-lulus. Setelah luluspun tidak dapat inentif apalagi subsidi.

Nyawa Kita Bukan di Tangan Preman dan Geng Motor

Nyawa Kita Bukan di Tangan Preman dan Geng Motor

Jika Anda masih ingin hidup tenang, aman, dan nyaman maka hindarilah berurusan dengan para preman dan anggota geng motor. Kalau mobil atau motor Anda disalip atau disenggol dua atau lebih motor lain sebaiknya biarkan saja selama Anda tidak mengalami luka fisik atau psikis. Kalau "cuma" kaget, selama tidak jantungan, lebih baik minggir dan biarkan mereka lewat.

Begitupula kalau Anda kebetulan pulang larut malam. Usahakan jangan berhenti dalam keadaan apapun sebelum sampai rumah. Meski ada yang berteriak memberitahu bahwa ban Anda kempes. Kalau kebetulan kena lampu merah jangan buka jendela atau pintu meski ada yang menghampiri. Kalau Anda pengendara motor langsung saja tancap gas (hati-hati tapi ya) meski lampu masih menyala merah. Biasanya kalau sudah larut malam, lalu lintas relatif aman untuk diterabas.

Kenapa harus begitu?

Sebab bisa jadi ada geng motor atau preman yang sedang cari mangsa. Aksi jahat preman dan geng motor yang makin brutal merampas, merampok, menjambret bahkan memerkosa makin membuat masyarakat cemas. Di jalan raya, kalau sedang bergerombol, ada pengendara motor yang menyalip mereka bisa ngamuk dan menghunuskan senjata tajam. Karena itu menghindar adalah cara paling bijak supaya tidak jadi korban.

Ulah mereka juga makin nekat karena melempari sejumlah gereja, di Pekanbaru dan Makassar, dengan bom molotov.

Mereka Bilang Lebih Enak Zaman Pak Harto

Mereka Bilang Lebih Enak Zaman Pak Harto


Kalau saya kebetulan ngobrol dengan orang-orang tua yang umurnya 40 - 60 tahun tentang keadaan sosial ekonomi politik saat ini, hampir semua bilang hidup setelah reformasi ternyata lebih sulit. Orang-orang ini golongan menengah kebawah lho ya. Bukan orang kota yang terkontaminasi negativisme globalisasi. Bukan juga aktivis pergerakan atau wiraswastawan.

Kenapa mereka bilang begitu? Bukannya zaman orde baru adalah era ketakutan dimana orang bisa tiba-tiba hilang, diculik, disiksa, dan sebagainya? Kebebasan berekspresi dan berpendapat nol besar, KKN dimana-mana, dan militer lebih berkuasa dari sipil. Tapi mereka bilang hidup lebih sejahtera di zaman Pak Harto. Kalau soal penculikan, KKN, militer dll itu tak berhubungan dengan rakyat. Mereka tahunya mau berobat lebih gampang, beras mereka laku mahal, anak bisa sekolah, dan hidup terasa tentram.

Satu hal yang membuat orang-orang itu nyaman hidup di era orde baru adalah kemudahan bagi petani mendapatkan bibit dan pupuk. Koperasi Unit Desa (KUD) benar-benar aktif diberdayakan untuk membantu petani. Dengan harga bibit dan pupuk yang murah, harga jual tinggi, dan tidak dikuasai mafia maka petani bisa mengandalkan hidup dari hasil pertanian. Pada zaman Pak Harto, Indonesia biasa memproduksi 2 juta ton kedelai pertahun tapi sekarang 800 ribu ton saja sudah bagus. Kondisinya makin mengenaskan karena petani harus serba berjuang sendiri. Pupuk mahal, KUD mati suri, mafia dimana-mana, saat bencana datang pemerintah diam saja, maka kehidupan petanipun terpuruk.

Lalu soal pendidikan. Kejadian sekolah ambruk ada tapi jaraaaaang, kalau bukan karena bencana ya tidak ambruk. Pun Buku sekolah bisa diteruskan dari kakak kepada adik kelasnya sehingga mengh. Meskipun kurikulum orde baru tidak bisa dibilang berhasil karena mengutamakan hafalan daripada pemahaman namun lebih baik daripada kurikulum sekarang yang -niatnya mengadopsi pendidikan barat namun gagal- membombardir murid dengan mata pelajaran yang overload dan gagal membangun karakter.

Pemilihan Kepala Daerah
Keluhan soal banyaknya pemilihan kepala daerah (Pilkada) nyatanya membuat capek rakyat. Baru selesai satu Pilkada ada lagi yang lain. Untuk memilih walikota atau bupati saja pakai Pilkada. Kata politikus Pilkada adalah proses demokrasi supaya terhindar dari KKN karena dipilih oleh rakyat. Padahal di Pilkada juga tetap kental KKN. Contohnya di Tangerang Selatan dimana Walikota Airin masih kerabat dekat Gubernur Banten Ratu Atut. Pilkada untuk memilih bupati dan walikota juga suatu pemborosan karena. biaya kampanye, logistik, dan pengawasan yang dikeluarkan parpol, perseorangan, KPUD, sampai Banwaslu/Panwaslu.

Keamanan masyarakat
Siskamling (sistem keamanan lingkungan) populer dengan Hansip (pertahanan sipil) sebagai ciri khasnya. Selain hansip warga juga bergantian melakukan ronda untuk menjaga keamanan lingkungan. Dengan adanya ronda, kata mereka, warga jadi saling kenal, dan merekapun paham anggota lingkungan mereka, sehingga kalau ada sesuatu yang tidak beres mudah terdeteksi.

Petrus
Alias penembakan misterius, memang terdengar kejam. Seorang preman tahu-tahu ditemukan tewas dalam karung dengan luka tembakan. Zaman dulu orang bertato diidentikkan dengan berandalan dan pelaku kejahatan karena, ndilalah, orang yang kriminal selalu bertato. Dulu Petrus dinilai melanggar HAM tapi sekarang dengan banyaknya pemalakan di bus, pemerkosaan di angkot, perampokan di siang bolong, dan pencurian dimana-mana, warga seolah "benci tapi rindu" dengan kehadiran Petrus karena dinilai bisa memberikan mereka rasa aman.

Koruptor Tak Perlu Dibui, Tapi...

Koruptor Tak Perlu Dibui, Tapi...

Ya, tak usah repot-repot memenjarakan koruptor. Tempatkan mereka sendrian minimal 5 tahun di desa miskin di daerah asalnya. Buatkan mereka rumah sangat sederhana yang tidak terbuat dari bata dan beton juga dengan perabot ala kadarnya tanpa kulkas, televisi, springbed apalagi AC. Larang mereka membawa gadget dan elektronik. Suruh mereka menjalani keseharian layaknya warga disana, seperti bercocok tanam, memelihara ternak, ambil air di gunung, atau berjualan. Beri mereka modal sama seperti pendapatan rata-rata warga di tempat itu. Kalau sakit harus berobat sebagaimana berobatnya warga disana. Larang berobat keluar kota atau memanggil dokter pribadi.

Angelina Sondakh yang orang Manado, bisa ditempatkan di sebuah desa di Sulawesi Utara. Juga Andi Alfian Mallarangeng yang orang Makassar, wajibkan ia menjalani hidup di daerah miskin di Sulawesi Selatan. Kalau si koruptor tak punya kampung maka tempatkan ia di Kalimantan, Maluku atau Papua.

Sanak kerabat handai taulan yang menjenguk hanya dibolehkan sekali dalam sebulan dan dilarang membawa apapun termasuk makanan.

Bagaimana kalau si narapidana korupsi melarikan diri? Langsung tembak mati. Akan ada lurah atau kepala desa atau kepala dusun yang mengawasi si narapidana. Berikan mereka insentif bulanan minimal Rp5juta supaya tidak disuap oleh narapidana (duitnya darimana? Ya dari harta koruptor yang disita, kan koruptornya sudah dimiskinkan). Si kepala dusun akan lapor ke tentara terdekat kemudian tentara yang langsung menembak mati narapidana korupsi dimanapun mereka ditemukan. Jangan lapor polisi karena polisi mata duitan. Salah-salah mau lapor napi lari malah rugi.

Kenapa hukuman untuk pelaku korupsi alias koruptor harus seperti itu? Nanti melanggar HAM, kan koruptor juga manusia apapun kesalahannya. Lha, mereka itu merampok duit negara yang harusnya jadi hak rakyat supaya dapat hidup layak. Uang yang tadinya bisa untuk membangun saluran air, jalan raya, jembatan, subsidi pupuk dan bibit, pusat kesehatan, sekolah, dan lainnya jadi hilang dan rakyat tetap melarat. Bukan melanggar HAM namanya kalau si koruptor hanya disuruh jadi bagian dari puluhan juta orang yang hidupnya melarat.

Selain itu pada 2011 Indonesia menempati peringkat ke-4 sebagai negara terkorup di Asia. Jadi sudah darurat koruptor dan harus diberantas tanpa alasan. Korupsi kebanyakan dilakukan kepala daerah, anggota DPR, juga PNS. Kalau dilakukan oleh kepala daerah dan anggota DPR/DPRD itu karena mereka ingin balik modal 10x lipat dari biaya yang dikeluarkan saat kampanye selain harus setoran ke partai politik. Dan kalau dilakukan oleh PNS karena mereka mau kaya raya dengan cepat dan mudah.

Itulah kenapa korupsi adalah perbuatan terlarang karena merugikan banyak orang dalam waktu cepat dan bersamaan. Saya jelaskan hal ini karena masih banyak yang belum bisa mengenali apa itu korupsi. Banyak juga yang pura-pura tidak tahu apa itu korupsi seperti Presiden SBY

Saya kenal suami-istri yang suaminya pegawai swasta sementara istrinya PNS di Kemenkeu. Si suami gajinya sudah tinggi tapi ia sering menyindir si istri yang dianggapnya tidak "kreatif". Take home pay yang didapat istri perbulan Rp10juta (bersih tanpa korupsi) tapi si suami bilang dengan pangkat yang dimiliki istrinya harusnya mereka bisa dapat lebih banyak dari 10juta tiap bulannya, mengingat si istri bekerja di direktorat yang sama seperti Gayus Halomoan Tambunan (link). Nah, si suami berarti mendorong istrinya korupsi. Tidak ada alasan, suami telah mendorong istrinya melakukan korupsi.

Tidak heran kalau banyak suami dan istri yang saling mendukung korupsi karena presidennya saja pendukung korupsi. Dimana-mana rakyat akan mencontoh pemimpinnya. Dan karena pemimpinnya welas asih terhadap korupsi maka hukuman untuk koruptor selalu ringan. Rata-rata mereka dihukum penjara hanya 2 - 5 tahun. Sementara pembunuh saja bisa 10 - 15 tahun. Anyway, logikanya kalau seseorang toleran terhadap korupsi berarti ia pelaku korupsi juga donk?! Ga tau deh.

Siapkah Indonesia membasmi korupsi?