7 Karakter Emak Di Sekolah Anaknya

7 Karakter Emak Di Sekolah Anaknya

Sekolah adalah tempat pendidikan formal yang dirancang khusus untuk mendidik siswa secara akademis dan nonakademis.

Karakter emak

Selain sebagai tempat belajar, sekolah juga jadi berkumpulnya banyak orang dari berbagai latar belakang dan macam-macam karakter, termasuk karakter para emak yang biasanya paling sering bersentuhan dengan sekolah daripada bapak-bapak.

Karakter emak-emak berikut ini adalah yang paling dominan ada di sekolah.

1. Si Ingin Dikenal

 

Karakter orang tua seperti ini wajahnya selalu terlihat seperti sedang senyum dan aura percaya dirinya sering membuat orang lain terbanting. 

Dia juga sering mengantar-jemput anaknya sampai depan kelas dan menyapa guru-guru di sekolah. Paling senang kalau ada kegiatan yang melibatkan berkumpulnya banyak orang.

Bacaan Lain: Biaya Sekolah vs Jalan-jalan 

Si Ingin Dikenal juga akan gembira hatinya bila ada yang bertanya kepadanya tentang guru, sekolah, dan sesama orang tua karena makin banyak orang yang minta pendapatnya makin bahagia hidupnya.

Saat pengambilan rapor, Si Ingin Dikenal akan menyempatkan diri ngobrol sebentar dengan wali kelas untuk menanyakan tempat tinggal atau keluarga sang wali kelas, menyebabkan orang tua lain harus menunggu agak lama sampai Si Ingin Dikenal beranjak dari kursi pengambilan rapor.

2. Si Perhitungan

 

Si Perhitungan paling sensitif terhadap urusan duit. Karena itu dia jadi yang paling ribut kalau ada kebijakan sekolah yang menyangkut duit, baik pembelian buku pendamping, sumbangan komite, atau pembelian LKS/Modul.

Dia akan menanyakan sedetail mungkin kalau harus mengeluarkan uang. Kalau perlu dia akan membandingkan harga beras dengan harga buku sebelum sampai pada kesimpulan bahwa beras harus diutamakan daripada buku sekolah.

3. Si Enggan

 

Ini karakter orang tua yang tidak mau tahu urusan apa pun di sekolah, yang penting anaknya sekolah aja, udah.  

Si Enggan amat enggan bertanya, memberi saran atau kritikan, bahkan untuk ikut mengobrol di grup orang tua saja Si Enggan sangat enggan. 

Kalau ada info yang ingin diketahuinya dia akan menunggu sampai ada pengumumun dari sekolah atau sampai ada orang tua lain yang menanyakannya. Si Enggan juga enggan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang butuh bantuan orang tua. Paling mentok Si Enggan ini akan datang hanya di hari pengambilan rapor.

4. Si Tukang Curhat

 

Saat bertemu dengan orang tua lain, terutama kepada sesama orang tua yang mengantar-jemput anaknya setiap hari, Si Tukang Curhat akan selalu menceritakan kegundahan hati, kesulitan hidup, bahkan kesusahan orang lain pun akan dia curhatkan dengan penuh perasaan.

Saking senangnya curhat, dengan orang yang belum begitu dikenalnya pun Si Tukang Curhat akan curhat tanpa segan dengan gaya ala sinetron Indosiar.

5. Si Pasrah

 

Si Pasrah benar-benar pasrah terhadap apa pun kebijakan sekolah.  Ia jarang bergaul dengan orang tua lain, bahkan walau tiap hari dia mengantar-jemput anaknya.

Si Pasrah juga akan menerima pembagian tugas dari sesama orang tua dengan pasrah tanpa ngedumel di belakang bila ada kegiatan yang membutuhkan bantuannya.

Kalau ada yang tidak disukainya dia akan mempostingnya di status WhatsApp alih-alih membicarakannya dengan sesama orang tua.

Saking pasrahnya, Si Pasrah bahkan tidak akan marah atau banyak bertanya kepada wali kelas andai anaknya tidak naik kelas.

6. Si Ghibah


Karakter orang tua seperti ini rame banget kalau sedang bersama gengnya, tapi cenderung diam kalau bersama orang yang tidak akrab dengannya untuk mencari tahu apa yang bisa dighibahkan dari orang yang sedang bersamanya.

Si Ghibah senang membicarakan apa pun, termasuk yang bukan urusannya. Kalau perlu dia akan mengghibahkan guru-guru dan kepada sekolah. Maka tidak heran kalau Si Ghibah jadi terlihat seperti tong kosong nyaring bunyinya.

7. Si Provokator

 

Selalu diam di forum resmi seperti pertemuan orang tua siswa dengan sekolah, komite sekolah, pembagian rapor, atau pertemuan paguyuban kelas, tapi bersuara lantang di luar forum menentang semua kebijakan sekolah yang tidak sesuai hasratnya, terutama kepada sesama orang tua.

Si Provokator akan terus memprovokasi sampai ada yang tersulut dan bertindak atas nama kelas atau sekelompok orang tua. Setelah itu Si Provokator akan diam terpuaskan.


Anak Diganggu Teman di Kelas dan Cara Orang Tua Bersikap

Anak Diganggu Teman di Kelas dan Cara Orang Tua Bersikap

Anak yang masih duduk di sekolah dasar (SD) dan belum akil-baligh belum bisa berpikir layaknya orang dewasa dan lebih banyak meniru sekitarnya. 

Maka tidak aneh kalau si anak terbiasa melihat kekerasan, perkataan kasar, dan perilaku buruk  lain dari orang tua, keluarga dekat, atau lingkungan tempat tinggalnya, dia akan cenderung melakukan hal serupa.

Pendidikan Pertama Anak di Tangan Keluarga 

 

Sejak lahir, orang yang paling sering dilihat anak adalah orang tua atau keluarga dekat yang mengasuhnya, misal nenek, bibi, kakak, atau pengasuh yang dibayar orang tua.

Perkataan dan perilaku yang dilakukan orang tua atau orang yang mengasuhnya akan ditiru dan diikuti oleh si anak. 

Kenapa pendidikan pertama dan utama anak ada di tangan orang tua, bukan sekolah? 

Karena sebelum masuk sekolah, anak lebih dulu mengenal orang tuanya. Bila kedua orang tuanya bekerja dan tidak bisa menemani anak, mereka tetap bertanggung jawab mendidik dengan cara menggaji pengasuh yang baik perkataan dan perilakunya.

Kalau tidak mampu menggaji pengasuh, orang tua harus memastikan bahwa keluarga yang mengasuh tidak berperilaku buruk yang dapat ditiru anak-anaknya. Pun menjaga agar anak tidak terpengaruh bila para tetangganya ternyata misal, sering berkata kasar, temperamen, merokok, melewatkan waktu salat, atau suka memukul.

Kita sudah mengasuh dan mendidik anak sesuai akhlak agama, tapi ketika masuk sekolah, ternyata ada temannya yang suka mengganggu. Apa yang harus kita lakukan?

Sekali lagi, anak yang belum akil-baligh belum bisa berpikir secara benar layaknya orang dewasa. Apa yang diucapkan dan dilakukannya adalah hasil dari meniru orang-orang disekitar yang sering dilihatnya.

Anak yang sering marah-marah bisa jadi karena melihat ibu atau ayahnya sering meledak-ledak. Pun anak yang sering mencuri uang kemungkinan karena tidak pernah dipenuhi keinginannya dibelikan sesuatu oleh orang tua.

Maka, bila anak memiliki disruptive behavior (perilaku mengganggu) di sekolah, berarti ada yang tidak ideal dari pola asuh yang diterimanya di rumah.

Penyebab Anak Bertingkah di Kelas dan Mengganggu Teman-temannya

 

1. Broken home. Melansir Research Gate, anak yang orang tuanya bercerai cenderung berperilaku agresif karena kehilangan perasaan nyaman dan bahagia akibat orang tuanya tidak lagi bersama.

Dia juga merasa disia-siakan dan tidak diterima oleh ayah dan ibunya, bahkan banyak anak yang merasa bersalah telah menjadi penyebab orang tuanya berpisah, padahal sama sekali bukan salah mereka.

Untuk melampiaskan semua perasaan itu dia jadi agresif dan mengganggu teman-teman di kelasnya supaya segala keresahan di jiwanya hilang.

2. Kurang interaksi dengan orang tua. Orang tua yang utuh bahkan ada di rumah sepanjang waktu juga bisa jadi penyabab anak agresif karena kurangnya waktu bercengkrama dengan orang tua.

Pola pikir orang tua yang menganggap anak harus selalu menurut dan tidak boleh membantah, membuat kemampuan bicara dan mengutarakan perasaan si anak terhambat.

Anak yang tidak dekat dengan orang tua jadi lebih sering meniru lingkungannya. Kalau ada tetangga atau tontonan yang sering memperlihatkan kata-kata kasar dan berperilaku buruk, dia akan mudah mengikutinya karena tidak ada filter yang mestinya diberikan orang tuanya.

3. Ada keinginan yang tidak terpenuhi. Anak yang dijanjikan sesuatu, tapi tidak kunjung dipenuhi juga bisa membuatnya agresif dan mengganggu teman-teman.

Dia merasa dibohongi, tidak dihargai, dan tidak diperhatikan sehingga berbuat ulah dan cari perhatian di kelas.

Maka hindari menjanjikan sesuatu kepada anak kalau kita tahu janji itu tidak bakal bisa dipenuhi. Itu juga melatih kita sebagai orang tua untuk tidak membohongi anak demi membuat dia tidak rewel atau ceriwis.

4. Energi melimpah yang tidak tersalurkan. Energi anak-anak sangat berlimpah dibanding orang tua. 

Itu sebabnya mereka tidak bisa diam dan ingin selalu bergerak. Ada baiknya beri anak kegiatan fisik dan dampingi, misal bermain peran, main sepeda, karambol, atau les keterampilan sesuai minatnya.

5. Berkebutuhan khusus. Anak dengan diagnosa hiperaktif atau berkebutuhan khusus lainnya harus diterapi dan dibimbing secara khusus pula supaya terampil dan tidak mengganggu anak-anak lainnya.

Bila disatukan dengan anak-anak lain, yang berkebutuhan khusus dan yang tidak malah sama-sama tidak optimal pendidikan.

Bila Anak Terluka Karena Diganggu Teman


Terluka disini bisa berarti fisik atau mental. Anak  yang sering diledek, kesehatan mentalnya bisa terganggu. Kemampuan akademiknya juga bisa menurun dan susah untuk menormalkannya kembali.

Sementara itu terluka secara fisik juga bisa menyebabkan anak trauma. Maka yang harus kita lakukan ketika anak terluka karena diganggu temannya di kelas adalah:

1. Beritahu wali kelas lebih dulu

Wali kelas haruslah jadi orang pertama yang kita hubungi kalau ada kejadian tidak enak yang menimpa anak di sekolah.

Kenapa? Karena "tempat kejadian perkara" ada di sekolah. Secara tidak langsung, wali kelas punya tanggung jawab mengawasi anak-anak yang ada di kelasnya, walau tidak setiap waktu.

Sebisa mungkin tahan diri dengan tidak menceritakan kejadian yang menimpa anak ke sesama orang tua sebelum memberitahu wali kelas.

Memberitahu ke sesama orang tua sebelum wali kelas bisa jadi bumerang. Kalau orang tua anak yang mengganggu tahu, mereka secara agresif dapat menyebarkan berita kalau anaknya hanya membela diri karena diganggu lebih dulu.

Padahal anak kita tidak ngapa-ngapain tiba-tiba dipukul, ditendang, atau dijegal.

2. Bangun mental anak

Anak yang terluka atau habis berkelahi dengan temannya tidak perlu dimarahi apalagi dinasehati sampai berbusa. Mental anak malah akan jatuh karena merasa tidak dipercaya orang tuanya.

Cukup beritahu anak kalau dia harus menghindari temannya yang sering mengganggu. Beri alasan kenapa dia harus menghindar, misalnya supaya si teman tahu kita tidak suka diganggu dan tidak mau berteman dengannya.

Beritahu anak kalau menghindar bukan berarti penakut, tapi karena kita tidak suka dengan perilaku buruk si teman. 

Beri perhatian dan kata-kata lembut lebih banyak dari biasanya supaya anak tidak merasa sendirian menghadapi situasi tidak enak yang terjadi padanya di kelas.

3. Hindari melabrak orang tua dari anak yang mengganggu

Baik lewat WhatsApp atau bicara langsung, melabrak orang tua dari anak yang mengganggu sangat tidak disarankan karena akan membuat posisi jadi terbalik. 

Kita bisa jadi pihak yang malah bersalah bila tidak sengaja melempar ancaman, marah-marah, atau menghina si orang tua.

Walau rasanya ingin ngomel, lebih baik kita sama sekali tidak memberitahu orang tua dari anak itu. Biar wali kelas yang memberitahu supaya efektif dan terhindar dari campur tangan orang tua lain yang seringkali malah memperkeruh keadaan.

Wali kelas sudah terdidik secara akademik untuk menghadapi situasi seperti ini, meski sebelumnya belum punya pengalaman serupa.

4. Tahan diri bergosip dengan sesama orang tua

Ini banyak dilakukan ibu-ibu saat ada waktu di sela menjemput anak. Mereka bisa saling ber-ghibah mengenai anak pengganggu tadi, juga bisa membicarakan orang tua anak itu.

Ghibah sangat tidak disarankan karena bisa menjurus kepada fitnah. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan karena dampaknya bisa berlanjut amat lama.

Jadi, tahan diri sekuat mungkin meski kita jengkel ingin menjelekkan anak pengganggu dan orang tuanya. Paling penting dampingi anak kita supaya kalau terjadi sesuatu lagi padanya, anak kita bisa bercerita tanpa rasa ketakutan terhadap si teman pengganggu.

Solusi Mengawasi Anak Bila Kedua Orang Tua Bekerja

Beritahu keluarga yang mengasuh tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak.

Misal, orang yang mengasuh tidak boleh mengucapkan kata-kata negatif seperti sialan, asu, jancuk, bajingan, dan sebagainya. 

Bila perlu percayakan pada pengasuh profesional seperti babysitter atau nanny. Dengan mereka kita bisa menanamkan pola asuh ideal tanpa rasa canggung.

Bila tidak mampu membayar pengasuh, bicarakan kepada kakek-nenek, paman-bibi, atau siapa pun keluarga yang mengasuh anak di rumah supaya pola asuhnya sama dengan kita dan tidak bertolak belakang. 

Orang yang membantu mengasuh juga harus membatasi akses sinetron, YouTube, TikTok, media sosial, game, dan aktivitas internet lain bila anak sedang mengerjakan tugas sekolah.

Upayakan tetap bercengkrama dengan anak bukan cuma urusan PR dan tugas sekolah. Tentang kesukaannya, film terbaru, atau apa yang sedang disukai teman-temannya.

Mengasuh itu anak itu mudah, asal ada kemauan karena niat saja tidak cukup.

Dekorasi Kelas, Menyemangati atau Mengganggu Konsentrasi?

Dekorasi Kelas, Menyemangati atau Mengganggu Konsentrasi?

Sudah jamak kelas-kelas sekarang punya dekorasi yang wow dibanding zaman orde baru yang warna catnya cuma putih atau krem.

Dekorasi yang ada di kelas juga cuma foto Presiden Soeharto beserta wakilnya, dan nama-nama menteri disertai lambang Garuda Pancasila.

Dekorasi kelas berfungsi untuk menciptakan lingkungan yang nyaman supaya anak semangat belajar sekaligus menstimulasi kreativitasnya.

Itu sebab, dekorasi kelas dibuat semenarik mungkin, terutama di TK untuk mengenalkan aneka warna dan bentuk.

However, seperti apa dekorasi yang efektif membuat anak nyaman dan mendorong semangat belajar dan kreativitasnya? Apakah dekorasi yang ramai, megah, dan penuh warna?

Pengaruh Dekorasi Kelas

 

Riset yang dilakukan Carnegie Mellon University yang dimuat pada jurnal psikologi pada 2014, menemukan bahwa kelas yang didekorasi berlebihan dan tidak sesuai kebutuhan ternyata mengganggu konsentrasi belajar.

Anak-anak juga sering kehilangan perhatian pada guru ketika pembelajaran sedang berlangsung. Motivasi belajar juga menurun dan lebih kecil daripada mereka yang belajar di ruang kelas yang dekorasinya lebih sederhana. 

Contoh kelas dengan dekorasi angkasa luar yang berlebihan (foto: Mazaliee)

Anak-anak yang belajar di kelas dengan dekorasi berlebihan juga cenderung lebih sering mengobrol dengan teman dan melakukan aktivitas selain pembelajaran (off-task behavior).

Meski begitu, pada anak yang lebih besar, kelas 6 keatas, dekorasi yang berlebihan tidak terlalu menganggu karena mereka lebih butuh kondisi yang sepi dan tenang untuk menjaga fokus.

Dekorasi Kelas dan Kurikulum 2013

 

Sebenarnya Kemdikbudristek sudah mengarahkan sekolah-sekolah untuk menggunakan Kurikulum Merdeka. Namun, untuk jenjang SD, baru kelas 1 dan 4 saja yang menggunakannya. Kelas lain masih memakai Kurikulum 2013 atau K13.

Bacaan Lain: Fakta Sekolah Gratis, Makin Banyak Fasilitas dan Prestasi Makin Tidak Bisa Gratis

Di buku Tema K13 ada pelajaran tentang Tema. Tapi, apakah ruang kelas lantas harus di cat gambar dinosaurus aneka jenis hanya karena guru menginginkan dekorasi kelas bertema lingkungan?

Lucunya, gambar aneka jenis dinosaurus itu dilukis tepat di samping papan tulis.

Lalu, pada kelas bertema sains, tembok dan langit-langit kelas dicat gambar ruang angkasa lengkap dengan astronot dan planet-planetnya.

Apakah harus seheboh itu mendekorasi kelas?

Efek Kurikulum yang DIterapkan Salah Kaprah


Pada K13 tidak disebutkan secara eksplisit soal peran orang tua dalam pendidikan anak-anaknya di sekolah. Hanya disebutkan bahwa orang tua terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka dan dapat memberi masukan kepada guru.

Terlibat dalam pendidikan maksudnya yaitu, pendidikan anak di luar sekolah jadi tanggung jawab orang tua. Tidak seperti zaman rikiplik di mana pembentukan akhlak, karakter, dan mental diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Orang tua tinggal bayar SPP dan terima beres.

Didalam K13, keterlibatan orang tua terhadap pendidikan dan sekolah difasilitasi dalam bentuk paguyuban kelas. Pengurus paguyuban dipilih oleh orang tua dan wali peserta didik kelas yang bersangkutan.

Apa yang menjadi aspirasi orang tua terhadap sekolah dapat disalurkan lewat paguyuban.

Namun, yang terjadi, kurikulum yang mendorong keterlibatan orang tua itu justru dimanfaatkan untuk kepentigan dan keegoisan si orang tua. 

Misalnya, menentukan tempat karyawisata yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran atau mengutip banyak iuran kepada orang tua untuk membuat kaus kelas. 

Bacaan Lain: Biaya Sekolah vs Jalan-jalan

Mendekorasi kelas secara berlebihan juga termasuk bentuk keegoisan orang tua yang mengatasnamakan anak.

Lagipula, anak kecil usia TK dan SD belum mengerti dekorasi apa yang mereka butuhkan di kelas. Mereka cuma ingin belajar bersama bapak-ibu guru dan bermain dengan teman-teman.

Maka idealnya kita lebih memprioritaskan kebutuhan belajar anak daripada dekorasi kelas.

Biaya Sekolah Vs Jalan-jalan

Biaya Sekolah Vs Jalan-jalan

Tidak ada sekolah yang gratis. Bukan salah pemerintah karena peserta didik di sekolah negeri sudah tidak dipungut SPP (sumbangan pembiayaan pendidikan) seperti halnya sekolah swasta.

Sekolah swasta, bahkan madrasah swasta pun sekarang sudah dapat bantuan operasional sekolah bernama BOS Afirmasi yang diambil dari amanat UU sebesar 20 persen dari APBN.
 

However, dana BOS sering tidak cukup bagi sekolah unggulan dan sekolah penggerak. Mereka kesulitan memenuhi seluruh kebutuhannya hanya dengan mengandalkan BOS. Makanya mereka minta dana kepada komite sekolah untuk membayar pelatih ekstrakurikuler, pengadaan komputer, atau merenovasi toilet.
 
Nanti, komite sekolah yang akan memungut sumbangan dari wali peserta didik. Soal sumbangan ini yang sering tidak dimengerti orang tua dan wali. 

Mereka menganggap sekolah negeri sudah dibiayai pemerintah jadi orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun.
 
Maka ketika komite minta sumbangan untuk keperluan sekolah yang tidak cukup dibiayai dari BOS, para orang tua ini keberatan.

Mereka beralasan sudah mengeluarkan banyak uang untuk buku teks, buku tulis, alat tulis, seragam, sepatu dan kaus kakinya, juga untuk jajan anak.


Buku Sekolah Versus Jalan-jalan

 
Sering saya melihat orang tua yang paling getol mengajak orang lain untuk kongkow-kongkow, jalan-jalan, dan makan-makan adalah juga orang pertama yang menolak sumbangan yang diminta komite sekolah.

Bukan cuma sumbangan komite, buku teks yang diminta wali kelas pun bisa ditolak mentah-mentah dengan alasan mahal. Padahal, itu bukan buku ajaran terlarang, melainkan buku pengetahuan yang kalau dibaca dapat membuat anak jadi pintar.

Karena banyak protes dari orang tua, akhirnya tidak semua kelas memakai buku teks pendamping buku Tematik. Kelas yang sudah sepakat soal buku pendamping pun dipangkas jadi 2-3 mata pelajaran saja.

Soal buku Modul/LKS saja masih banyak orang tua keberatan membelinya. Padahal, Modul dan LKS itu tidak mahal karena tipis sekali. Fungsinya juga cuma latihan soal untuk mengasah sejauh mana para siswa menyerap materi dari buku Tema.
 

Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka

 
Buku Tema dan Modul atau LKS adalah produk dari Kurikulum 2013 (K13). Sebanyak 2500 sekolah di Indonesia sudah diarahkan untuk menggunakan Kurikulum Merdeka di kelas 1 dan 4.

Kelas lain masih menggunakan K13 yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Artinya, jika sekolah itu perlu buku pendamping, terutama sekolah unggulan yang juga sekolah penggerak, maka sebenarnya orang tua tidak boleh menolak jika diminta membeli buku pendamping.
 
Pada K13, keterlibatan orang tua tidak secara eksplisit diatur dalam peraturan menteri, tapi berupa peran dalam mendukung pendidikan anak di sekolah dan luar sekolah, termasuk menyediakan bila guru membutuhkan LKS/Modul atau buku pendamping yang diperlukan. 

Fasilitas Sekolah


Padahal sekolah unggulan dan sekolah penggerak harus punya faslitas (mendekati) lengkap karena mereka "dituntut" oleh pemda dan masyarakat untuk selalu berprestasi. Bagaimana menciptakan peserta didik yang berprestasi kalau sekolahnya tidak punya fasilitas?
 
Pada pelajaran seni musik, misalnya, semua peserta didik akan mengenal alat musik gitar, keyboard, angklung, gendang sampai kolintang yang ada di sekolahnya. Siswa cuma bisa membayangkan melihat dan memainkan, tanpa menyentuh, kalau sekolahnya tidak punya fasilitas alat musik.
 
Orang tua yang anaknya tidak masuk 10 besar peringkat akademik kelas atau tidak pernah menang lomba apapun pasti bangga juga kalau orang mengenal anaknya sebagai siswa di sekolah (yang sudah dikenal) unggulan.
 

Pendidikan dan Investasi Masa Depan Anak

 
Sekolah adalah salah satu bentuk investasi yang kita berikan untuk anak. Kelak, jika anak berhasil menyerap banyak pendidikan di sekolah, dia akan jadi orang yang mudah diterima kerja, bahkan di bidang yang tidak sesuai latar pendidikannya. 
 
Pun, dia punya bekal akademik yang baik jika ingin berwirausaha. Bukan cuma modal uang, modal nama besar orang tua, apalagi modal dengkul.
 
Lalu, saat jeda semester pasca penilaian tengah dan akhir semester, klub orang tua yang gemar jalan-jalan, tapi menolak bayar sumbangan komite itu kembali mengajak orang tua di kelas anaknya untuk hura-hura, haha-hihi di tempat liburan. 

Disamping orang tua yang seperti itu, saya juga beberapa kali bertemu orang tua kalangan ekonomi pas-pasan yang demi apapun kebutuhan sekolah anaknya, dia rela tidak beli beras. Buat mereka yang penting semua buku anaknya terbeli, makan urusan nomor dua.
 
Untuk orang tua yang menomorsatukan pendidikan anak, saya angkat topi dan berdoa semoga Anda dilancarkan rejeki, panjang umur, dan sehat selalu. Aamiin!


Beasiswa PIP Aspirasi Mas Bram, Duit Siapa?

Beasiswa PIP Aspirasi Mas Bram, Duit Siapa?

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud) punya beasiswa dalam bentuk uang tunai bernama Program Indonesia Pintar (PIP) yang dibagikan kepada siswa miskin dan yang rentan miskin.

Nah, duit PIP Kemdikbud inilah yang oleh Mas Bram dibagikan ke peserta didik di Magelang dan Purworejo dengan nama Beasiswa PIP Aspirasi Mas Bram.

Kuat dugaan bahwa itu benar dana PIP milik Kemdikbud karena setiap siswa bisa mengecek langsung data mereka sebagai penerima PIP. Caranya dengan memasukkan nomor NISN dan nama ibu kandung di situs kemdikbud.go.id. 

Tangkapan layar situs Kemdikbud.go.id

Staf Mas Bram juga minta nomor NISN siswa walau mereka tidak bilang NISN itu akan dipakai untuk pengurusan ke Kemdikbud. Orang tua/wali juga diminta datang langsung ke kantor Bu Elfa untuk mengisi formulir disertai fotokopi KTP dan KK.

Umumnya syarat penerima beasiswa dimana pun adalah nilai yang bagus, dibuktikan dengan rapor siswa, piagam, atau lainnya. Logikanya, buat apa memberi beasiswa kepada siswa yang nilainya jelek. Nilai bagus adalah bukti bahwa siswa itu rajin belajar. Rajin belajar berarti dia sungguh-sungguh mempelajari ilmu di sekolah.

Namun, beasiswa Mas Bram tidak butuh bukti nilai, cuma butuh fotokopi KK dan KTP orang tua/wali siswa.

Kemudian, melansir koranpurworejo.com, Mas Bram memperjuangkan dana ini lewat Kemdikbud, artinya duit PIP Aspirasi Mas Bram adalah benar uang negara yang diperuntukkan bagi siswa miskin dan rentan miskin.

Beberapa hal yang menjadi keresahan terkait Program Indonesia Pintar Aspirasi Mas Bram ini, adalah:

1. Duit PIP Kemdikbud seolah-olah milik Mas Bram


Bu Dita dan Bu Elfa selaku staf Mas Bram yang sering disebut namanya di grup wali siswa, tidak pernah memberitahu secara gamblang dari mana uang itu berasal.

Mereka hanya mengatakan "dana aspirasi dari DPR yang diperjuangkan Mas Bram". Dan, karena ada embel-embel "aspirasi" banyak yang mengira dana PIP berasal dari dana aspirasi yang dibagikan DPR ke para anggotanya.

Padahal dana aspirasi berbeda dengan dana PIP. 

Peraturan perundangan-undangan terkait DPR tidak menyebutkan secara eksplisit yang namanya dana aspirasi. Saya kutip dari laman hukumonline.com, dana itu lebih dikenal sebagai dana program pembangunan daerah pemilihan.

Program untuk pembangunan berdasarkan usulan dari masyarakat di daerah pemilihan (dapil) masing-masing anggota DPR RI. Setiap anggota DPR RI tidak memegang dana untuk pembangunan itu sendiri karena bukan pengguna kuasa anggaran.

Maka jelas bahwa uang PIP Aspirasi Mas Bram bukan berasal dari dana aspirasi DPR yang dibagikan ke anggotanya, melainkan dana milik Kemdikbud. Mas Bram minta dana itu ke Kemdikbud untuk dibagikan ke siswa-siswa di Purworejo dan Magelang yang merupakan daerah pemilihan (dapil) tempat Mas Bram terpilih dari Jateng VI.

Kebetulan, Mas Bram duduk di Komisi X DPR RI yang memang membawahi bidang pendidikan. Maka menurut ilmu cocoklogi, Mas Bram mengambil peluang dirinya di DPR yang mengawasi bidang pendidikan dengan mengajukan dana PIP Kemdikbud untuk disalurkan ke dapilnya. 

Akan tetapi, karena tidak ada transparansi, duit itu dikira oleh para orang tua/wali siswa sebagai duit Mas Bram atau duit dari DPR yang memang dibagi-bagi melalui Mas Bram. 

2. Minta komitmen


Staf Mas Bram telah minta komitmen ke orang tua/wali siswa, lewat pesan WhatsApp, agar mendukung Mas Bram di pemilihan 2024. Dukungan diperlukan supaya beasiswa PIP aspirasi Mas Bram dapat terus berlanjut.

Ini artinya ada udang dibalik batu. Ada maksud mendulang suara dari dibagikannya duit PIP Kemdikbud yang memakai embel-embel nama Mas Bram.

Secara tidak langsung, duit yang dibagikan disertai komitmen untuk memilih seseorang pada Pemilu bisa digolongkan sebagai money politic alias politik uang.

Politik uang atau money politic adalah suatu upaya mempengaruhi perilaku masyarakat menggunakan imbalan materi, baik milik pribadi atau partai, untuk mempengaruhi suara pemilih dengan konsep bahwa materi itu dapat mengubah keputusan dan dijadikan wadah penggerak perubahan.

3. Dibagikan ke anak yang orang tuanya punya mobil


Melansir beritadiy.pikiranrakyat.com, siswa yang menerima PIP haruslah yang punya syarat sebagai berikut:

  • Siswa berstatus yatim dan atau piatu termasuk yang berada di panti sosial atau panti asuhan
  • Siswa putus sekolah atau drop out
  • Siswa terkena dampak bencana alam
  • Siswa korban musibah di daerah konflik
  • Siswa berkebutuhan khusus atau disabilitas
  • Siswa di mana orang tua atau walinya berstatus narapidana di lembaga permasyarakatan
  • Siswa berstatus sebagai tersangka atau narapidana

Orang yang punya mobil hampir dipastikan bahwa dia berkecukupan. Walau bukan sultan seperti Raffi Ahmad atau orang terkaya Indonesia versi Forbes, minimal mereka punya uang untuk bayar pajak, biaya bensin dan perawatan mobil, serta cicilan bulanan (kalau dia membeli mobil secara kredit).

***

Selama ini kita cuma tahu kalau money politic itu berupa bagi-bagi sembako dan uang tunai, ternyata ada money politic yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

Berkesinambungan karena peserta didik dapat uang per semester secara rutin. Besarnya variatif antara Rp225.000-Rp450.000 sesuai yang dibagikan pemerintah.

Itu berarti tertancapnya nama Mas Bram makin kuat menjelang Pemilu 2024 sebagai orang yang harus-dicoblos-kalau-mau-dapat-duit-lagi.

Berkelanjutan karena peserta didik yang sebelumnya tidak terdaftar, dapat mengajukan sebagai penerima beasiswa PIP Aspirasi Mas Bram.

Is this categorize as money politic or just generosity?

Fakta Sekolah Gratis, Makin Banyak Fasilitas dan Prestasi Makin Sekolahnya Susah Gratis

Fakta Sekolah Gratis, Makin Banyak Fasilitas dan Prestasi Makin Sekolahnya Susah Gratis

Spanduk bertuliskan Sekolah Gratis banyak kita temui ditempel di pagar sekolah-sekolah negeri dengan harapan menarik minat orang tua menyekolahkan anak mereka di sekolah itu tanpa terbebani biaya pembelajaran. 

However, spanduk seperti itu tidak bakalan kita temukan di sekolah berakreditasi A, apalagi yang berstatus sekolah model dan sekolah unggulan. Selain itu ada yang namanya Sekolah Penggerak.

Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi literasi, numerasi, dan karater, diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru).

Walau Mas Menteri Nadiem telah mengatakan bahwa Sekolah Penggerak bukanlah sekolah unggulan, tapi telanjur ada persepsi sejak lama bahwa sekolah unggulan otomatis jadi Sekolah Penggerak. Itu terjadi karena sekolah unggul mutunya dianggap bagus karena peserta didik yang masuk kesana bagus-bagus (intelejensi, hasil tes masuk, dan kantong tebal orang tua).

Standar Nasional Pendidikan (SNP)


Adanya SNP secara otomatis melebur sekolah model, sekolah inti, dan sekolah unggulan, faktanya masih ada sekolah model, sekolah unggulan, dan sekolah penggerak.

Sebutan sekolah model, menurut definisi Kemdikbud, adalah sekolah yang dijadikan sebagai sekolah percontohan bagi sekolah lain yang akan menerapkan penjaminan mtu pendidikan secara mandiri.

Sekolah model punya tanggung jawab untuk mengimbaskan praktik penerapan mutu pendidikan kepada lima sekolah di sekitarnya. 

Karena harus jadi sekolah yang dicontoh dan harus mengimbas, maka sekolah model yang juga adalah sekolah unggulan harus punya fasilitas penunjang selain kegiatan belajar-mengajar rutin di sekolah.

Satu sekolah disebut telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan bila berhasil mencapai delapan standar, yaitu standar kelulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, standari pendidikan dan ketenagapendidikan, standar pembiayaan, standar pengelolaan, dan standar sarana dan prasarana.

Apa itu standar sarana dan prasarana?

Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007, standar sarana dan prasarana mengatur jumlah rombongan belajar dalam satu kelas, keselamatan bangunan termasuk penerangan dan tingkat kebisingan. 

Peraturan Menteri itu juga mengatur tentang prasarana yang harus dimiliki oleh sekolah, yaitu ruang kelas, UKS, perpustakaan, toilet, laboratorium, gudang, ruang pimpinan, tempat bermain, dan tempat beribadah atau berolahraga.

Anak kami (saya dan suami) bersekolah di SD Negeri malahan punya studio IT mini. Sebabnya karena makin banyak lomba dalam bentuk digital, seperti mading digital, vlog, pekan TIK, dan aneka lomba yang diadakan secara virtual sejak pandemi Covid-19 merebak.

Orang tua/wali diminta sumbangan sukarelanya untuk membuat studio IT itu. Selain studio, sekolah anak-anak kami juga membangun kamar untuk penjaga sekolah, toilet untuk siswa putra, dan ruang musik dan karawitan.

Kenapa sampai perlu ruang musik dan karawitan? 

Lagi-lagi karena sebagai sekolah model, sekolah penggerak, dan sekolah unggulan (walau sejak sistem zonasi diberlakukan tidak ada lagi istilah sekolah unggulan), sekolah anak-anak kami selalu diundang dan diminta untuk mengikuti macam-macam lomba, termasuk lomba yang sering diadakan yayasan-yayasan swasta.

Dari mana sekolah negeri bisa memenuhi semua itu kalau dana BOS cuma cukup untuk membayar guru honorer, karyawan tata usaha, dan operasional sekolah? Dari sekolah gratis?

Dana BOS dan Sumbangan Wali Siswa melalui Komite Sekolah


Semua hal diatas tidak dicukupi hanya dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dikucurkan pemerintah. Maka sekolah minta kepada komite supaya menghimpun dana dari orang tua/wali siswa agar fasilitas sekolah terpenuhi.

Andaipun dana BOS cukup, bila komputer, laptop, overhead projector, dan segala alat-alat penunjang pembelajaran dibeli dari dana BOS, maka alat itu harus dikembalikan ke dinas pendidikan setempat bila nilai asetnya menyusut atau tidak digunakan dalam tahun ajaran berjalan. 

Akibatnya sekolah harus beli lagi alat-alat itu bila sewaktu-waktu memerlukannya. Malah jadi pemborosan anggaran.

Lain halnya bila dibeli dari uang komite alias uang orang tua/wali siswa, maka alat-alat tersebut sepenuhnya jadi milik sekolah dan sekolah tidak perlu melaporkan penggunaannya ke dalam laporan BOS. 

Menurut Kemdikbud yang dilansir beritasatu.com, komite sekolah tidak boleh memungut uang dari orang tua/wali, tapi boleh menerima sumbangan dalam bentuk penggalangan dana sukarela.

Pada sekolah unggulan karena inputnya dianggap unggul, maka komite sekolah biasanya tidak kesulitan menghimpun dana untuk memenuhi fasilitas sekolah, termasuk membayar honor pelatih ekstrakurikuler.

Sekolah Gratis

Jadi, apa maksudnya spanduk sekolah gratis yang dipasang di pagar sekolah negeri? 

Yang gratis adalah biaya iuran pendidikannya. Dulu disebut sebagai SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan). Sekarang sekolah dilarang memungut uang dari orang tua/wali untuk alasan apa pun karena kebutuhan operasional sekolah dianggap sudah cukup dipenuhi lewat dana BOS.

Faktanya, bagi banyak sekolah, dana BOS tidak pernah cukup. Sebagian karena harus membayar upah para guru honorer, tenaga tata usaha, dan penjaga sekolah, sebagian untuk bayar listrik dan internet, dan sisanya untuk pengadaan buku-buku perpustakaan.

Maka itu, sekolah dibolehkan bekerjasama dengan komite sekolah. Nanti komite sekolah akan meninjau urgensitas fasilitas yang diminta sekolah. 

Jika komite menolak, sekolah boleh mengajukan lagi ke komite di tahun ajaran berikutnya. Bila komite setuju, komite akan menghimpun dana dari orang tua/wali siswa untuk pengadaaan fasilitas yang diminta sekolah.

Di tingkat kelas, kebutuhan dana itu dipenuhi oleh paguyuban. Paguyuban menghimpun dana untuk membeli modul (dulu namanya LKS-Lembar Kerja Siswa), perlengkapan kelas seperti spidol, penghapus whiteboard, kemoceng, sapu, dan lainnya, juga bahan-bahan prakarya untuk mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya.

Orang tua/wali akan membayar iuran paguyuban yang besarnya sesuai kesepakatan bersama. Uang hasil iuran paguyuban juga bisa digunakan untuk keperluan non-sekolah, misal uang duka keluarga siswa, sumbangan bagi orang tua atau anak yang sakit, dan apa saja sesuai kesepakatan orang tua/wali.

Sekolah gratis sudah terwujud dan sudah terbukti membantu banyak anak mendapat pendidikan yang layak. Namun, sekolah yang benar-benar gratis tanpa orang tua/wali keluar duit sepeserpun hanya bisa terjadi di sekolah negeri yang hanya punya 1-2 kegiatan ekstrakurikuler (ekskul), cuma punya perpustakaan alakadar, dan hampir tidak pernah ikut lomba antarsekolah.