Alasan Harry dan Meghan Tidak Melepas Gelar Duke and Duchess of Sussex Meski Sudah Keluar dan Selalu Menyudutkan Kerajaan

Alasan Harry dan Meghan Tidak Melepas Gelar Duke and Duchess of Sussex Meski Sudah Keluar dan Selalu Menyudutkan Kerajaan

Tidak sedikit bangsawan di negara yang masih menganut demokrasi monarki yang keluar dari kerajaan dan pindah keluar negeri serta melepas gelar kebangsawanan mereka dengan berbagai alasan.

Pangeran Harry dan Meghan bersama ibu Meghan dan keluarga kerajaan saat pembabtisan anak mereka Archie Harrison Mountbatten-Windsor tahun 2019.
Hanya saja mereka kemudian tetap fokus pada urusan dan pekerjaan masing-masing alih-alih terus menyudutkan kerajaan.

1. Princess Martha Louise dari Norwegia. Melepas gelar princess setelah tunangan dengan orang Amerika bernama Shaman Durek.

Putri Martha melepas gelarnya karena tidak ingin mencampuradukkan urusan bisnis dengan tugas kerajaannya.

Walau masih bertugas kecil-kecilan membantu kerajaan, Martha Louise sudah tidak punya gelar kebangsawanan lagi dan menjadikan dia sebagai rakyat biasa.

2. Putri Mako dari Jepang.
Keponakan dari Kaisar Naruhito. Putri Mako melepas gelar kebangsawanan dan tidak lagi menerima tunjangan dari kekaisaran setelah dia bertunangan dengan yang orang biasa, Kei Komuro.

Princess Mako dan Kei Komuro bertunangan pada 26 Oktober 2022 dan menikah di tahun yang sama. Sekarang dia tinggal di New York bersama suaminya.

3. Princess Madeleine dari Swedia.
Princess Madeleine kini tinggal di New York bersama suaminya yang orang Amerika keturunan Inggris.

Walau Madeleine sudah tidak pernah mengaitkan dirinya sebagai princess, masih banyak orang di Amerika yang memanggilnya sebagai Princess Madeleine.

Tiga contoh bangsawan diatas bertolak belakang dengan Prince Harry dari Inggris dan istrinya Meghan Markle.

Prince Harry dan Meghan keluar dari kerajaan dan tidak lagi mengerjakan tugas kerajaan karena ingin mandiri secara finansial dari pekerjaan lain.

Ironisnya biaya keamanan mereka selama tinggal di Kanada (sebelum pindah ke AS) dibiayai oleh kerajaan Inggris.

NBC News juga mengungkap kalau Prince Harry menginginkan penjagaan dari kepolisian Inggris tiap kali dia dan keluarganya pulang kampung.

Ini salah satu yang disayangkan banyak warga Inggris. Pangeran Harry sudah pindah ke Amerika, tidak lagi mengerjakan tugas kerajaan, menuduh keluarga kerajaan rasis terhadap Meghan, tapi masih ingin pengamanan seperti anggota kerajaan.

Reuters memberitakan kalau Mahkamah Konstitusi Inggris mengabulkan judicial review Pangeran Harry dan dia sekeluarga akan dapat pengamanan polisi tiap datang ke Inggris Raya, asalkan dia bayar sendiri biaya pengamanan itu.

Di United Kingdom (Inggris Raya) tidak semua anggota kerajaan dapat pengamanan, hanya mereka yang berstatus senior royal dan working royal.

Anggota senior royal dan working royal sekarang tinggal Raja Charles III, Queen Consort Camilla, Princess Royal (Putri Anne), Pangeran Edward, Countess Sophie, Pangeran William, dan Princess Catherine (Metro UK)

Menurut Royal Central, istilah "senior royal" ditujukan kepada bangsawan dari lingkaran terdekat pemegang tahta (sekarang Raja Charles III) yang menjalankan sejumlah tugas atas nama kerajaan dan raja. Makanya mereka juga disebut sebagai working royal.

Princess Eugenie dan Princess Beatrice, walau sama-sama cucu mendiang Ratu Elizabeth II seperti William dan Harry, termasuk minor royal dan bukan working royal.

Menyalahkan Kerajaan


Sejak berhenti dari senior royal dan working royal, Prince Harry dan Meghan merilis beberapa publikasi yang menyuratkan bahwa kerajaan Inggris bersikap rasis terhadap Meghan dan tidak ada kebebasan selama menjadi working royal.

Pertama, mereka membuat biografi berjudul Finding Freedom. Disusul wawancara dengan Oprah Winfrey, serial dokumenter Netflix, dan buku memoar berjudul Spare.

Sebelum perilisan memoarnya, Harry juga melakukan wawancara di ITV dan CBS.

Semuanya wawancara, buku, dan serial dokumenter berkisah tentang kehidupan kerajaan yang mengekang Meghan Markle. Padahal dia, kan, nikah sama pangeran paling tersohor sedunia, terus kenapa heran sama keketatan protokoler, ya. 

Catherine Middleton juga dapat aturan dan protokoler yang sama sebagai istri dari cucu Ratu Elizabeth II, but she never complained.

Keanehan Sedari Awal


Dari awal tunangan aja udah aneh banget. She and Harry keeps holding hands wherever they go, even later in the Queen's Elizabeth II's funeral.

Pasangan yang segitu kasmarannya juga ga sampe pegangan tangan tiap detik.

Menurut pakar bahasa tubuh Jesus Enrique Rosas alias The Body Language Guy, Meghan kentara banget ingin terlihat menguasai Harry.

Tiap Harry bicara dan terlihat menikmati bicara dengan orang lain, Meghan akan mengeluarkan bahasa tubuh yang menyuruh Harry untuk berhenti melakukan yang dia lakukan bersama orang lain.

Bukan cuma Enrique Rosas yang menganalisa bahasa tubuh Harry and Meghan, banyak video serupa yang menganalisa hal sama bahwa Meghan terlihat mendominasi.

Pendapat ahli bahasa tubuh lain mengatakan kalau Meghan sering mengeluarkan bahasa tubuh yang terlihat mendominasi karena dia tidak nyaman berada di keramaian tanpa Harry.

Pastinya banyak video lain di YouTube dari pakar bahasa tubuh yang berbeda-beda yang menyatakan Meghan memang dominan terhadap Prince Harry.

Meghan, Duchess of Sussex Pertama


Pangeran Harry adalah bangsawan kedua yang memegang gelar Duke of Sussex. Gelar itu diterimanya dari Ratu Elizabeth II saat dia menikah dengan Meghan tahun 2018.

William juga dapat gelar Duke of Cambridge saat menikah dengan Catherine Middleton di 2011 sebagai hadiah pernikahan dari mendiang Ratu Elizabeth II.

Related: Queen Consort dan Gelar yang Disandang Setelah Raja Charles lII Berkuasa

Diterimanya gelar Duke of Sussex oleh Harry otomatis menjadikan Meghan Markle sebagai Duchess of Sussex.

Gelar Duke of Sussex sebelumnya dipegang oleh Pangeran Augustus Frederick, anak Raja George III. Gelar itu berakhir saat Pangeran Augustus wafat tahun 1843.

The Washington Post menyebut belum pernah ada yang memegang gelar Duchess of Sussex sebelumnya. Pangeran Augustus Frederick kemudian berpisah dengan istrinya Lady Augusta Murray karena pernikahan mereka tidak disetujui Raja George III.

Perpisahan orangtua menyebabkan dua anak Pangeran Augustus dan Lady Augusta Murray tidak bisa dapat gelar bangsawan. 

Itulah sebab belum pernah ada Duchess of Sussex dan Meghan Markle adalah wanita pertama yang memegang gelar itu.

Mengingat Meghan sangat suka publikasi terutama yang berhubungan dengan kerajaan, maka dipastikan dia dan Harry tidak akan melepas gelar sebagai Duke and Duchess of Sussex. Apalagi Meghan adalah wanita pertama yang jadi Duchess of Sussex. 

Menjadi yang pertama itu hal yang istimewa, makanya sesaat setelah keluar dari kerajaan, Harry dan Meghan bukannya melepas segala gelar kerajaannya malahan membuat akun Instagram dan website bernama Sussex Royal.

Para penggemar Harry dan Meghan (dari Amerika dan Kanada) yang meyakini bahwa ada rasisme di kerajaan Inggris lantas menyebut diri sebagai SussexSquad.

Benci Kerajaan tapi Suka Jadi Bangsawan

 

Meghan juga sering menyebut diri sebagai Duchess of Sussex meski tidak suka berada dalam lingkungan kerajaan. Ini menandakan dia sangat suka jadi bangsawan (yang dipuja-puja), tapi ogah terikat dengan aturan-aturan ala kerajaan.

SussexSquad bahkan selalu menyebut Meghan dengan sebutan Princess Meghan. Lebih ekstrem lagi Queen Meghan. 

Dalam serial dokumenter Netflix, Harry dan Meghan bilang kalau mereka sering dikejar paparazzi. Namun semua foto dan video di teaser yang menggambarkan mereka dikejar paparazzi berasal dari video dan foto milik orang main.

Ada video premier film Harry Potter, foto saat Harry sedang bersama mantannya Chelsea Davy, dan video persidangan Katie Price.

Maka banyak yang bilang kalau mereka ngarep dikejar dan dibuntuti paparazzi seperti dialami Lady Diana dan Catherine. Nyatanya jangankan dikejar, Meghan justru tepergok sedang mondar-mandir di depan kantor berita supaya difoto.

Beda Outing Class, Outbound, dan Piknik Pada Anak Sekolah

Beda Outing Class, Outbound, dan Piknik Pada Anak Sekolah


Jaman
saya masuk SD tahun 1987 sampai lulus SMA tahun 1999, outing class namanya karyawisata atau darmawisata, kemudian disebut dengan piknik.

KBBI mengartikan karyawisata sebagai kunjungan ke suatu objek dalam rangka memperluas pengetahuan dalam hubungan dengan pekerjaan seseorang atau sekelompok orang.

Sedangkan darmawisata adalah perjalanan atau kunjungan singkat dengan tujuan bersenang-senang dan sebagainya, atau perjalanan yang dilakukan untuk tujuan rekreasi sambil mengenal baik objek wisata dan lingkungannya.

Apakah karyawisata dan darmawisata sama dengan outing class? Atau malah berbeda? Sebenarnya kita bisa cari di Google. 

Outing class adalah bahasa Inggris yang kalau diindonesiakan jadi kelas-keluar. Karena merupakan bahasa Inggris wajar saja tidak ada dalam KBBI.

Akan tetapi kalau Anda malas googling untuk mencari tahu apa itu outing class, saya akan merangkumnya untuk Anda sebagai berikut.

1. Laman Dispendik Kabupaten Malang menulis bahwa outing class merupakan kegiatan belajar-mengajar yang diadakan di luar kelas yang tidak dilakukan di dalam kelas pada umumnya.

Outing class merupakan media paling efektif dan efisien dalam menyampaikan pembelajaran yang bukan didasarkan dari teori saja tapi juga pembuktian di lapangan secara langsung.

2. Radar Semarang yang merupakan media satu grup dengan Jawa Pos menulis bahwa outing class memberikan pengalaman siswa untuk belajar dengan alam, belajar dengan object secara langsung, belajar dengan ahlinya, bukan lagi sajian materi-materi pelajaran yang bersumber dari teks book.

3. Situs Kemenag Kota Semarang memuat kegiatan outing class MAN 2 Kota Semarang ke Bank Syariah Indonesia dan mengutip pernyataan wakasek bidang kesiswaan, "... manfaat yang di peroleh dari outing class yaitu menambah ilmu pengetahuan, wawasan, seluk beluk dari bank syari’ah..."

Outing class diharapkan mampu menambah variasi dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi aktif, kreatif, dan inovatif."

4. Dinas Perpustakaan dan Pengarsipan Pangkalpinang memuat kegiatan outing class di situsnya menulis bahwa program pembelajaran outing class diharapkan dapat memperluas wawasan melalui sumber referensi yang tersedia di perpustakaan. 

Google dan mesin pencari lain menyediakan sangat buanyaakkk arti dan manfaat outing class yang secara sekilas ternyata beda dengan karyawisata atau pikni. Itulah sebabnya semua sekolah menamai kegiatan ini sebagai outing class, bukan karyawisata, darmawisata, apalagi piknik. 

Arti Outing Class yang Sebenarnya

 

Kemudian bisa disimpulkan bahwa outing class adalah kegiatan yang dilakukan di luar kelas untuk menunjang pembelajaran di dalam kelas agar siswa lebih memahami suatu objek yang ada hubungannya dengan pelajaran.

Outing class memberikan pengalaman siswa untuk belajar dengan alam, belajar dengan object secara langsung, belajar dengan ahlinya, bukan lagi sajian materi-materi pelajaran yang bersumber dari teks book.

Artikel ini telah terbit di :
https://radarsemarang.jawapos.com/artikel/untukmu-guruku/2021/06/20/outing-class-menciptakan-petualangan-baru-dalam-belajar/

Copyright © RADARSEMARANG.ID

Sejak diberlakukan Kurikulum 2013 istilah karyawisata dan darmawisata sudah tidak dipakai dan diganti dengan outing class. Menurut saya, kemungkinan karena tujuan diadakannya outing class adalah untuk menunjang pembelajaran dan bukan untuk memperluas pengetahuan apalagi bersenang-senang.

Outbond atau Outbound? 

 

Banyak yang menulis dan mengucapkan outbond sebagai akronim dari outdoor bonding yang artinya mengikat siswa jadi lebih dekat satu sama lain dengan kegiatan fisik yang diadakan di luar ruangan (dalam konteks anak sekolah).

Outbound anak TK biMBA AIUEO

Walau outdoor bonding (outbond) tidak bisa dibilang keliru, namun secara terminologi yang benar adalah outbound.

Secara tidak langsung outbound merupakan inovasi ilmu dan ide terapan yang dibuat oleh cendekiawan Jerman Dr. Kurt Hahn. 

Outbound sendiri diperkirakan sebagai akronim dari outward bound, yaitu sebuah organisasi Inggris yang digagas olehnya.

Pada 1941, Lawrence Holt, anak pemilik kapal ekspedisi Blue Shipping, sedang mencari orang untuk melatih para awak kapalnya

Holt bertemu dengan James Hogan yang jadi pengawas di Gordonstoun School. Kepada James Hogan kemudian Holt menceritakan keluhannya terhadap kemampuan bertahan para pelaut muda di kapal miliknya yang lebih sering jadi korban saat kecelakaan perang dibanding para pelaut tua.

James Hogan lalu mengatakan pada Holt bahwa program yang dikembangkan oleh Dr. Kurt Hahn cocok untuk diterapkan pada para pelaut muda. 

Dr. Kurt Hahn (Getty Images via bbc.com)

Inilah cikal-bakal munculnya sekolah “Outward Bound”. Outward bound diambil dari istilah pelayaran yang terjadi saat kapal mulai mengangkat jangkar dan siap untuk meninggalkan dermaga menuju laut bebas.

Terjemahan bebas dari outbound ke dalam bahasa Indonesia menjadi: kegiatan di luar ruangan yang bertujuan melatih fisik dan mental seseorang.

Piknik

 

Ini tujuan utamanya adalah bersenang-senang karena KBBI mengartikan kata piknik sebagai "bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dengan membawa bekal makanan dan sebagainya."

Karena tujuannya hanya untuk senang-senang sekolah tidak mungkin mengagendakan acara memakai istilah piknik atau tamasya karena  dari artinya saja tidak ada unsur edukasi bagi siswa.

Makanya piknik hanya dilakukan oleh keluarga, perkumpulan tetangga, paguyuban tani, atau ibu-ibu arisan yang ingin melepas penat dari kehidupan sehari-hari.

Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat Karena Return Trip Effect

Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat Karena Return Trip Effect

Saat liburan kita pasti sering merasa kalau perjalanan pulang ke rumah terasa lebih lancar dan cepat walau jarak dan waktu tempuhnya sama persis.

Bukan cuma waktu liburan, sering kita rasakan perjalanan pulang dari suatu tempat terasa lebih cepat, walau tempat itu kerap kita datangi seperti rumah orang tua di kota lain, tempat wisata favorit, atau hanya sekadar berkunjung ke rumah bestie yang masih satu kabupaten.

Hal itu karena kita mengalami return trip effect atau efek perjalanan pulang.

Ilusi Mata dan Waktu


Pembuat studi di PLOS ONE melihat sesuatu yang menarik terjadi di antara orang-orang yang mengalami return trip effect.

Peserta studi diminta menonton film simulasi perjalanan satu arah ke suatu tempat. Kelompok pertama berulang kali diminta untuk melapor ketika mereka merasa telah melewati tiga menit (tanpa melihat jam). 

Kelompok kedua diminta menonton simulasi perjalanan bolak-balik untuk menggambarkan bahwa mereka telah sampai ke tujuan lalu pulang kembali.

Dengan ukuran ini kedua kelompok menganggap waktu berlalu dengan kecepatan yang sama.

Perbedaan baru muncul ketika mereka diminta untuk membandingkan kedua perjalanan itu dalam retrospeksi (kenangan kembali/pandang balik).

Otak seseorang secara matematis melacak berlalunya waktu dengan neuron yang menyala pada kecepatan tertentu dan mekanisme yang mencatat berapa kali neuron itu berdenyut dalam periode tertentu. 

Sistem lain di otak yang lebih berbasis bahasa melihat kembali peristiwa sebelumnya dan menceritakan kisah tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Ilusi return trip effect muncul bila sistem saraf yang berbasis bahasa mendominasi pikiran saat peserta mengingat pengalaman perjalanan dalam retrospeksi.

Persepsi Psikologis


Hasil penelitian yang dimuat pada jurnal di National Libraty of Medicine AS, efek perjalanan pulang-pergi hanya disebabkan postdictive atau postdiction.

Postdiction adalah konstruksi dari kondisi masa lampau untuk diandalkan di masa sekarang. Artinya kita akan selalu mengingat pengalaman selama perjalanan berangkat dan mengontruksikannya kembali di perjalanan pulang.

Akan tetapi, karena dalam perjalanan pulang kita sudah merasa santai, tidak terbebani, dan tidak diburu apa pun, maka konstruksi yang kita bangun berdasarkan perjalanan saat berangkat ternyata jadi lebih sederhana.

Secara tidak langsung itulah yang menyebabkan kita mengalami return trip effect.

Hal yang mempengaruhi persepsi psikologis terhadap return trip effect adalah sebagai berikut.

1. Familiar dan akrab

Saat pulang kita melewati jalan pulang yang sama dengan jalan saat berangkat sehingga menjadikan visual di kanan-kiri jalanan terlihat familiar (akrab).

Keakraban ini dihipotesakan oleh para peneliti sejak 1950-an untuk menjelaskan return trip effect atau efek perjalanan pulang. 

Penelitian lain menyebut bahwa mengalami rangsangan asing dapat membuat kita menganggap waktu bergerak lebih lambat. Itu juga yang terjadi kalau kita berada di lingkungan baru dengan orang-orang baru. Waktu juga akan terasa lebih lambat berlalu dibanding kalau kita sedang bersama keluarga atau teman-teman.

Namun, percobaan pada 2011 menunjukkan bahwa keakbaran pada sesuatu bukan alasan paling utama terjadinya return trip effect. 

Para peneliti meminta beberapa pengendara sepeda melakukan perjalanan pulang-pergi standar, dengan rute yang sama bolak-balik. Pengendara lain diinstruksikan untuk mengambil rute berbeda yang belum pernah mereka lewati.

Anehnya, kelompok pesepeda dengan rute familiar dan rute yang asing sama-sama menilai perjalanan pulang mereka makan waktu lebih cepat.

2. Sering melebih-lebihkan berapa lama perjalanan pulang

Psikolog Belanda Niels van de Ven pernah membuat analisis di tahun yang sama, bahwa orang sering melebih-lebihkan waktu perjalanan pulang sehingga seolah waktu perjalanan pulang jadi lebih cepat, semisal, "Ahh, kayaknya bakal macet nih, hari terakhir libur sekolah."

Niels van de Ven juga menjelaskan bahwa return trip effect tidak terjadi pada rute yang setiap hari kita lewati (rumah-kantor atau rumah-sekolah) karena orang tidak pernah melebih-lebihkan waktu pada perjalanan yang jadi rutinitas harian.

3. Kuatir tidak tepat waktu

Psikolog Dan Zakay, seperti dimuat pada British Psychological Society, berpendapat kalau return trip effect terjadi karena kekuatiran yang muncul saat berangkat bahwa kita tidak akan tiba tepat waktu di tujuan.

Kekuatiran itu terutama terjadi kalau kita sudah memesan kamar hotel, menuju tempat wisata dengan jam buka pagi, atau sudah janjian akan tiba di rumah orang tua atau saudara pada hari sekian dan jam sekian.

Memiliki janji membuat otak kita mencurahkan lebih banyak sumber daya untuk mengkhawatirkan waktu. Maka waktu pun terasa berjalan lebih lambat. 

Jadi meskipun jarak tempuh saat pulang persis sama, waktunya terasa lebih singkat karena kita tidak lagi mengkhawatirkan apa pun sehingga perhatian kita tidak lagi tercurah pada waktu.

Return trip effect sebenarnya tidak merugikan kita, malahan cenderung positif andai kita mengalaminya.

Sisi Positif Mengalami Return Trip Effect


1. Terhindar dari kelelahan fisik berlebihan

Karena perjalanan pulang rasanya lebih cepat, walau sampai di rumah sudah malam, kita masih punya sisa tenaga untuk menaruh koper ke kamar, mencuci muka dan ganti baju sebelum tidur, serta sedikit bercengkrama bersama anggota keluarga.

Dengan begitu pulang liburan membuat keluarga jadi tambah akrab. Ibu juga tidak kemrungsung saat bangun esok harinya karena koper dan sisa liburan tidak berserakan di ruang tamu seperti kapal pecah.

2. Liburan jadi lebih menyenangkan dan berkesan

Karena perjalanan pulang rasanya lebih cepat, liburan rasanya jadi lebih seru dan berkesan walau saat berangkat kita sempat nyasar dan kena macet panjang.

Anak-anak juga akan mengingat liburan itu sangat menyenangkan karena perasaan gembira yang mereka bawa dari tempat liburan ke rumah lebih lama menempel di memori.

3. Lebih termotivasi untuk bekerja dan belajar giat

Perjalanan pulang yang terasa lebih cepat membuat kita bersemangat untuk liburan lagi. Dorongan yang tinggi untuk berlibur cenderung membuat kita lebih semangat untuk bekerja dan belajar karena perasaan termovitasi memperoleh liburan yang menyenangkan lagi ketika masa libur tiba.

Puasa Sampai Mati dan 4 Cara Bunuh Diri yang Dibolehkan Di Luar Indonesia

Puasa Sampai Mati dan 4 Cara Bunuh Diri yang Dibolehkan Di Luar Indonesia

Berpuasa sampai mati alias berhenti makan dan minum secara suka rela (Voluntarily Stop Eating and Drinking (VSED) banyak dilakukan oleh manusia lanjut usia di Amerika Serikat dan Kanada.

Alasan mereka melakukan VSED adalah untuk mempercepat kematian. Mereka telah merasakan kebikmatan hidup selama puluhan tahun lalu tiada lagi yang ingin dilakukan di dunia, maka berhenti makan dan minum secara sadar adalah pilihannya.

Apakah VSED termasuk bunuh diri? Ya, menurut pemeluk Islam. Manusia diharuskan menjaga kesehatan dengan makan dan minum yang halalan toyyiban (halal dan baik). Sengaja tidak makan dan minum adalah bentuk menyakiti diri sendiri.

Lebih jauh lagi, VSED dilakukan untuk mempercepat kematian diri sendiri yang sama saja dengan bunuh diri. Bunuh diri sangat dilarang dan berdosa besar jila melakukannya karena kelahiran dan kematian di tangan Allah. 

Segala bentuk mengakhiri hidup amat sangat dilarang, haram, dan tidak dibolehkan bagi penganut agama Islam.

Namun, menurut LSM Compassion & Choice yang membantu lansia berpuasa sampai mati, VSED adalah hak untuk mengakhiri hidup demi mencegah manusia menderita berkepanjangan. 

Catatan Compassion & Choice mengungkap bahwa selain lansia, orang yang mengalami hal berikut ini juga memilih VSED.

  1. Sakit yang sudah tidak bisa disembuhkan, misalnya kanker stadium 4A dan 4B.
  2. Pengobatan tidak menunjukkan tanda kesembuhan meski sudah lama dilakukan.
  3. Kesulitan menelan akibat penyakit tertentu.
  4. Gastro-intestinal obstruction atau penyumbatan yang menghalangi makanan melewat usus kecil dan usus besar (kolon0
  5. Ketidakmampuan tubuh menyerap obat dan memproses pengobatan.
  6. Demensia tahap awal dan sedang.

Ritual puasa sampai mati juga dilakukan penganut Hindu di India untuk membersihkan diri dari karma buruk dan mencapai moksha.

Moksha adalah pelepasan dari siklus kelahiran kembali. Manusia terus akan terlahir kembali untuk menebus perbuatan buruknya di kehidupan lampau. Bila sudah mencapai kesempurnaan dan tidak lagi harus menanggung karmaphala, maka jiwa manusia akan moksha.

Praktik puasa sampai mati yang dilakukan penganut Hindu India dinamakan santhara.

Berikut cara mengakhiri hidup yang dibolehkan dan diakui hukum (legal) di luar negeri.

1. Euthanasia (Suntik Mati)

Euthanasia dibolehkan untuk orang yang menderita sakit berat dan tidak dapat disembuhkan. Suntik mati harus dilakukan oleh dokter dan dengan bukti rekam medis bahwa orang yang ingin disuntik mati benar-benar sakit.

Negara-negara yang membolehkan suntik mati per tahun 2022 adalah Kolombia, Spanyol, Belanda, Belgia, Luxemburg. Kanada, Selandia Baru, dan Australia (hanya di negara bagian Victoria dan Australia Barat). Sedangkan di AS, euthanasia hanya dibolehkan di negara bagian Oregon, Washington D.C., Hawaii, Washington, Maine, Colorado, New Jersey, California, dan Vermont.

2. Medical Assistance in Dying (MAiD)

Medical Assistance in Dying atau bantuan medis dalam kematian adalah proses pemberian obat-obatan secara oral (diminum langsung) atau intravena melalui infus yang dilakukan oleh dokter dan perawat.

Dokter dan perawat akan terus mendampingi selama proses pemberian obat sampai pasien dinyatakan meninggal dunia.

3. Physician-assisted Suicide

Physician, dalam terminologi kedokteran Barat, adalah dokter umum yang belum melanjutkan pendidikan spesialisasi. 

Dokter umum boleh memeriksa kondisi pasien dan memberikan resep obat, tapi belum boleh melakukan operasi atau tindakan medis untuk pasien. Semua tindakan medis dilakukan oleh dokter spesialis.

Pada physician-asisted suicide, pasien dibolehkan mengakhiri hidup kalau dia telah terbukti punya penyakit kronis yang membuat usianya maksimal tinggal enam bulan lagi.

Dokter akan meresepkan obat kepada pasien untuk mempercepat kematian dan si dokter tidak dapat dituntut untuk itu.

4. Voluntary-assisted Dying

Pasien memprakarsai dan memutuskan sendiri pemberian obat untuk mempercepat kematian. Bahkan prosesnya pun dilakukan sendiri tanpa bantuan dokter, perawat, atau keluarga.

Namun, hanya mereka yang sudah sekarat karena penyakit,atau kondisi medis yang tidak dapat disembuhkan secara lanjut dan progresif, yang dapat mengakhiri hidup secara suka rela tanpa pendampingan.

Keluarga tidak bisa ikut campur dalam voluntary-assisted dying karena, sesuai namanya-voluntary, pengakhiran hidup harus diputuskan dan dilakukan semua oleh si pasien.

***

Negara-negara Timur tidak melegalkan bunuh diri karena bangsa Timur percaya bahwa kematian adalah urusan Tuhan. Orang berpenyakit berat bisa saja sembuh dengan kuasa Allah lewat doa dan berobat.

Sementara kalau sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia, dia akan mati tanpa harus menderita sakit berat atau apa pun.


Quiet Quitting, Untuk Kebahagiaan Hidup atau Kurang Motivasi?

Quiet Quitting, Untuk Kebahagiaan Hidup atau Kurang Motivasi?

Gaya kerja quite quitting disebut ingin melawan efek buruk dari etos kerja hustle culture yang membuat karyawan terpenjara dalam pekerjaan mereka. 
 
quiet quitting

 
Quiet quitting diyakini akan membuat karyawan terhindar dari stres yang diakibatkan tekanan pekerjaan.
 
Dengan begitu para karyawan akan lebih bahagia karena tidak harus bekerja berlebihan yang membuat mereka tidak ada waktu untuk melakukan hobi, kumpul bersama teman, atau melakukan aktivitas sosial lainnya. 
 

Apa Itu Quite Quitting 

 
Quite quitting adalah sikap serius dalam melakukan pekerjaan, tapi tetap dalam batas-batas uraian kerjanya (job description).
 
Seorang karyawan yang menerapkan gaya kerja quiet quitting tidak akan lembur atau melakukan pekerjaan lain hanya karena disuruh bos.
 
Misal, pada jobdesc-nya tidak tertulis tugas "memfotokopi hasil rapat". Maka dia tidak akan memfotokopi hasil rapat yang diminta bosnya, walau cuma dia sendiri dan si bos yang menghadiri rapat bersama klien.

Meskipun namanya "quitting" tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan berhenti bekerja atau resign. Justru quitting disini berarti tidak keluar dari pekerjaan.
 

Dipopulerkan di TikTok

 

Pada Maret 2022 lalu video unggahan pengguna bernama Brian Creely viral dan disukai lebih 100.000 akun dengan lebih dari 4000 komentar.

Brian mengutip artikel di majalah Insider yang ditulis koresponden senior Aki Ito. Tajuk dalam artikel bertuliskan, "Muak dengan jam kerja yang panjang, banyak karyawan diam-diam (quiet) memutuskan santai di tempat kerja daripada berhenti dari pekerjaan mereka (quit)."

Brian meringkas artikel itu jadi, "Lebih banyak orang berhenti diam-diam daripada berhenti (quiet quitting).
 
Sejak videonya viral dan jadi rujukan bagi orang-orang untuk bekerja apa adanya, Brian menegaskan kepada Insider kalau yang dia maksud dengan quiet quitting bukanlah malas atau bekerja asal-asalan.
 
Brian bilang, "Bukan malas atau melakukan pekerjaan yang buruk. Quiet quitting berarti memulihkan keseimbangan yang sehat dalam karier dan pekerjaan. Dengan kata lain kita melakukan persis sesuai jobdesc dan menetapkan batasan yang tegas."

Pelaku Quiet Quitting

 
Menurut poling dari Axios dan Generation Lab sebanyak 82% dari Generasi Z atau Gen Z yang ikut dalam poling meyakini bahwa quiet qutting di kantor adalah sesuatu yang sangat menarik untuk mempertahankan pekerjaan mereka.
 
 
Sebanyak 15% dari 82% Gen Z yang berpartisipasi dalam poling mengaku telah melakukan quiet quitting.
 
Gen Z menganggap mereka bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Jadi melakukan pekerjaan seminimal mungkin di tempat kerja bagus untuk mencegah kebosanan dan ketidakseimbangan hidup. 
 
Melihat Gen Z yang menyukai quiet quitting amat wajar karena mereka baru memasuki dunia kerja setelah lulus kuliah dan belum banyak terlibat di dalamnya. Mereka juga telah melihat bagaimana Milenial dan Gen X telah menjadi robot tanpa kehidupan selain dunia kerja.

Gen Z tidak mau terperangkap pada hustle culture dan lebih menyukai quiet qutting karena dirasa dekat dengan kehidupan mereka di kampus sebelum masuk ke dunia kerja yang serius.

Bila Gen Z melakukan quiet quitting karena sesuai dengan gaya hidup mereka yang dinamis dan tidak mau terkungkung, sebagian Milenial melakukan quiet quitting karena kecewa.
 
Mereka telah bekerja keras selama pandemi, tapi tidak dapat pengakuan atau penghargaan dari atasan sebagaimana yang mereka kira layak didapat.
 
Secara keseluruhan, quiet quitting dilakukan oleh orang yang tidak bisa resign (keluar dari pekerjaan) karena usia, pendidikan, dan alasan lainnya, sekaligus tidak mau dipecat.

Kontroversi Quiet Quitting 

 

Seorang guru bernama Maggie Perkins dalam wawancara di CNBC mengatakan kalau dia telah menerapkan quiet quitting sejak 2018, sebelum quiet quitting populer lewat TikTok.
 
Dia melakoninya karena sadar kalau karirnya sebagai guru tidak bisa bisa berkembang alias mentok. Tidak ada kenaikan pangkat dan jabatan. Walaupun seorang guru telah mendapat penghargaan Teacher of the Year, gaji dan tunjangan yang didapatnya tetap sama dengan guru yang tidak.

Jadi, Maggie tidak pernah lembur dan tidak melakukan pekerjaan selain mengajar di tempatnya bekerja. Meski begitu banyak yang bilang kalau Maggie adalah guru yang baik.
 
Konsultan karir Kelsey Wat mengatakan, orang yang ingin gajinya naik dan dapat pengakuan harusnya melakukan kerja yang berprestasi melebihi rekan-rekannya.
 
Kalau kita kerja cuma biasa-biasa saja, standar, dan alakadar, mana mungkin kita dapat kenaikan gaji atau jabatan.
 
Pete Hinosoja dari kantor konsultan personalia Insperity bilang kalau quiet quitting bisa menimbulkan konflik di kantor. Sebabnya pekerja yang betul-betul menyukai pekerjaannya di kantor, termasuk yang bersedia lembur, kerap berseberangan ide dan sulit bekerja sama dengan pekerja yang melakukan quiet quitting.

Jadi Pete berpendapat quiet quitting tidak bisa diterapkan terus-terusan di kantor. Ada waktu yang tepat untuk quiet quitting disaat kita sudah benar-benar lelah dan butuh penyegaran.

Kantor butuh pekerja yang menyukai tugasnya dan lembur bila diperlukan karena berimbas pada efisiensi dan efektivitas perusahaan secara keseluruhan.

Meski disebut bagus buat keseimbangan antara pekerjaan kantor dengan kehidupan pribadi, quiet quitting disebut lebih jelek dari yang digembar-gemborkan tentang keseimbangan hidup di dunia nyata. 
 
Itu karena kebanyakan pelaku quiet quitting tetap melakukan kewajiban mereka di kantor dengan baik, namun cenderung menganggap remeh kehidupan sosial, bahkan enggan terlibat di dalamnya.
 

Quiet Quitting yang Positif


Selain pada profesi guru, quiet quitting lebih cocok diterapkan di pekerjaan yang kenaikan gaji dan jenjang karirnya mentok seperti tukang bangunan, buruh pabrik, atau karyawan kontrak dan outsourcing.

Penting untuk sesuaikan etos kerja dengan kepentingan pekerjaan. Boleh jadi ada kantor atau pekerjaan yang butuh kerja keras dari karyawannya sebelum dipromosikan ke jabatan dan gaji yang lebih tinggi. 

Dan ada juga kantor yang menerapkan kenaikan gaji dan jabatan berdasarkan lama kerja, bukan prestasi, sehingga kita bisa saja menerapkan quiet quitting.

Apa Itu Fotosensitivitas, Jenis, dan Cara Meminimalisir Gejalanya

Apa Itu Fotosensitivitas, Jenis, dan Cara Meminimalisir Gejalanya

Photosensitivity atau fotosensitivitas adalah kondisi sensitivitas ekstrim terhadap sinar ultraviolet (UV) dari matahari dan sumber cahaya lainnya semisal lampu neon dalam ruangan dan warna silau dari layar.

Fotosensitif

Penggunaan layar ponsel dan laptop di luar ruangan juga dapat memicu fotosensitif pada penderitanya karena layar itu memantulkan ultraviolet dari matahari. Menurut alodokter.com, bahaya ultraviolet yang terpantul dari layar gawai justru berisiko lebih besar memicu kanker kulit daripada yang terpapar dari kertas putih.

Penderita fotosensitif dapat mengalami ruam, kulit mengelupas, atau luka bakar bahkan dengan hanya sedikit kena sinar matahari.

Pada penderita yang punya penyakit lupus atau epilepsi, fotosensitif bisa membuat mereka sakit kepala dan demam.

Jenis-jenis Fotosensitivitas


Beberapa bahan kimia (dalam obat) dapat menyebabkan seseorang menjadi peka terhadap sinar matahari. Kepekaan terhadap sinar matahari terbagi jadi dua jenis.

1. Phototoxic atau fototoksik. Reaksi fototoksik disebabkan ketika bahan kimia yang baru masuk ke tubuh berinteraksi dengan sinar ultraviolet matahari. 

Obat-obatan seperti doksisiklin dan tetrasiklin adalah penyebab paling umum dari jenis reaksi fototoksik.

Jenis reaksi fototoksik berupa ruam kulit yang terlihat seperti terbakar sinar matahari parah. Biasanya terjadi dalam waktu 24 jam setelah terpapar sinar matahari.

2. Photoallergic atau fotoalergi. Selain muncul dari efek samping obat, reaksi fotoalergi juga dapat timbul dari produk kecantikan (makeup dan skincare) dan tabir surya.

Jenis reaksi ini muncul dalam waktu beberapa hari setelah terpapar sinar matahari. 

Jadi ada baiknya kalau mencoba merek kosmetik dan skincare baru tunggu sehari setelah pemakaian pertama sebelum menggunakannya untuk kedua kali. Kalau ada reaksi fotoalergi berarti kita tidak cocok memakai merek tersebut. 

Penyebab Photosensitivity


Fotosensitif dapat disebabkan karena efek samping obat antibiotik, kemoterapi, dan diuretik. Kondisi medis yang diderita seseorang seperti penyakit lupus, erupsi cahaya polomorf, epilepsi, dan prurigo aktinik juga dapat membuat penderitanya mengidap fotosensitif.

Kita harus memeriksakan diri ke dokter untuk tahu apakah mengidap fotosensitif atau hanya terbakar matahari biasa, Tidak bisa hanya dari pemeriksaan online atau menduga-duga gejalanya.

Dokter akan memeriksa riwayat kesehatan dan obat-obatan yang pernah diminum selain memperhatikan perkembangan pola ruam dan paparan sinar matahari.

Bila perlu dokter akan merekomendasikan biopsi kulit untuk memastikan apakah seseorang mengidap fotosensitivitas atau tidak.

Pemicu Fotosensitivitas

 

Orang yang punya fotosensitivitas akan merasakan gatal, ruam, dan perih pada kulitnya kalau terpapar hal berikut. Pada pengidap epilepsi, lima hal dibawah ini diduga, melansir epilepsy.com, dapat membuat penyakit mereka kambuh.

  1. Kedipan cahaya dari layar televisi, komputer, dan ponsel yang berkedip-kedip secara cepat.
  2. Kilatan cahaya dalam efek film atau game.
  3. Pola warna yang berganti secara cepat dalam layar.
  4. Cahaya matahari yang terpantul di air, cermin, atau bilah pepohonan.
  5. Lampu strobo dari ambulans, bus, dan mobil polisi.

Selain ruam kulit dan gatal, sebagian penderita fotosensitivitas juga mengalami sakit kepala dan demam terlalu lama terpapar atau kena cahaya panas matahari dan cahaya layar yang menyilaukan.

Selain ruam kulit dan gatal, sebagian penderita fotosensitif juga mengalami sakit kepala dan demam kalau terlalu lama terpapar sinar matahari dan cahaya layar yang menyilaukan.

Menjaga Agar Fotosensitif Tidak Mudah Kambuh

  1. Selalu memakai lengan panjang, topi, dan kacamata hitam saat berada di luar ruangan,
  2. Pakai topi atau payung saat matahari sedang panas-panasnya.
  3. Tidak berada terlalu lama dibawah sinar matahari atau terpapar cahaya lampu yang sangat terang di dalam ruangan.
  4. Menonton televisi atau menatap layar tidak terlalu dekat untuk menghindari kilatan dan kedipan cahaya dari layar.
  5. Pemakaian obat-obatan harus dalam pengawasan dokter.

Fotosensitif digolongkan sebagai penyakit kulit dan dikategorikan sebagai penyakit langka karena hanya satu dari 100.000 orang yang menderitanya, seperti dilansir National Library of Medicine AS.

Queen Consort dan Gelar yang Disandang Selama Raja Charles III Berkuasa

Queen Consort dan Gelar yang Disandang Selama Raja Charles III Berkuasa

Kate Middleton sekarang telah bergelar Princess of Wales, menggantikan gelar ibu mertuanya Lady Diana yang dapat gelar itu saat menikah dengan King Charles III saat beliau masih jadi Prince of Wales.

Queen Consort

 

Gelar Queen Consort atau Permaisuri secara otomatis jadi milik Camilla Parker setelah wafatnya Queen Elizabeth II dan Charles naik tahta dengan nama King Charles III (dibaca: King Charles the third).

Mestinya Camilla juga bergelar Princess of Wales sebelum Kate Middleton, tapi dia memilih tidak mengambilnya karena kontroversi pernikahannya dengan Charles. Camilla bahkan telah selingkuh dengan Charles saat Charles dan Diana masih terikat pernikahan.

Jadi, gelar Princess of Wales tetap ditangan Lady Diana sampai Charles naik tahta dan gelar itu jatuh ke tangan Kate MIddleton.

Kenapa harus ada embel-embel consort di depan queen?

Pertama, gelar Queen hanyalah untuk Queen Elizabeth II. Kedua, gelar queen hanya untuk istri raja yang terlahir ningrat.

Maksudnya, andai Princess Diana masih hidup dan tidak bercerai dengan Charles, maka ketika Charles jadi raja, dia akan jadi queen, tanpa consort. Gelarnya akan jadi Queen Diana atau Ratu Diana. Sedangkan Camilla saat ini bergelar queen consort alias permaisuri.

Itu karena Diana terlahir ningrat dan bergelar Lady sebelum menikah dengan Charles. Ayah Diana adalah Earl yang merupakan salah satu gelar bangsawan Inggris. Setelah ayah Diana wafat, gelar Earl itu diteruskan ke anak lelakinya yang merupakan adik Diana.

Sedangkan Camilla Parker bukanlah ningrat dan tidak bergelar bangsawan apapun sebelum menikah dengan Charles. Jadi, ketika Charles jadi raja, gelar yang dipakainya adalah queen consort.

Queen consort diberikan kepada istri raja kalau istri raja tersebut bukan bangsawan. Sedangkan gelar queen diberikan untuk ratu yang memimpin kerajaan dan kepada istri raja kalau si istri sudah bergelar bangsawan sebelum menikah dengan si raja.

Duke of Cornwall

 

Setelah Charles jadi King Charles III dan Camilla jadi Queen Consort, maka Gelar Duke and Duchess of Cornwall otomatis diturunkan kepada William dan Kate. 

Wills dan Kate juga ketambahan satu gelar lagi, yaitu Duke and Duchess of Rothesay. Sehingga secara resmi nama mereka akan jadi His Royal Highness William Duke of Cornwall and Cambridge dan Her Royal Highness Catherine Duchess of Cornwall and Cambridge.

Kenapa William dan Kate bisa menyandang tiga gelar bangsawan sekaligus?

Gelar Duke of Cornwall secara otomatis dipegang oleh putra tertua raja atau ratu Inggris. Maka, William sebagai putra tertua otomatis mewarisi gelar itu dari ayahnya yang raja.

Selanjutnya gelar Duke of Rothesay dipegang oleh pewaris tahta. Anak tertua belum tentu jadi pewaris tahta karena bisa saja dipegang anak kedua. Karena itu gelar Cornwall dan Rothesay tidak otomatis dipegang oleh satu orang.

Teruntuk William, karena dia adalah anak tertua sekaligus pewaris tahta, maka dua gelar itu jatuh kepadanya sekaligus.

Lalu, gelar Duke dan Duchess of Cambridge diberikan oleh mendiang Queen Elizabeth II kepada Wills dan Kate ketika keduanya menikah pada 2011. Mendiang ratu juga memberikan gelar duke dan duchess kepada Harry dan Meghan ketika keduanya menikah tahun 2018.

Prince dan Princess of Wales


Gelar lain yang melekat pada William dan Kate adalah Prince dan Princess of Wales. Gelar ini sebenarnya tidak otomatis diturunkan seperti Cornwall dan Rothesay, tapi harus dengan maklumat penguasa tahta.

Kalau raja atau ratu belum bermaklumat mengangkat anaknya jadi Prince of Wales, maka si anak belum sah jadi pewaris tahta. 

Kini William sudah diberikan mandat untuk memegang gelar Prince of Wales. Kate pun kini resmi menjadi Princess of Wales.

Prince dan Princess of Wales bersama anak-anak mereka George, Louis, dan Charlotte (sumber: BBC NEws)

Gelar itu akan membuat anak-anak mereka di sekolah sekarang dipanggil dengan nama George of Wales, Charlotte of Wales, dan Louis of Wales.

Bagaimana dengan anak kedua King Charles III , yaitu Pangeran Harry dan istrinya Meghan Markle? Apakah gelar bangsawan mereka juga berubah?

Pada 8 Januari 2020, Harry dan Meghan memutuskan untuk mundur dari pekerjaan sebagai working royals karena ingin mandiri secara finansial dan mendapat privasi pribadi.

Duke and Duchess of Sussex 

 

Karena tidak lagi menjadi bekerja untuk dan mewakili kerajaan, Harry dan Meghan tidak lagi bergelar His Royal Highness dan Her Royal Highness. 

Namun, gelar Duke dan Duchess of Sussex tetap mereka pegang karena Harry tetaplah ningrat cucu ratu yang berhak menyandang gelar kebangsawanan. Pun Meghan yang jadi istri Harry berhak punya gelar mengikuti kebangsawanan suaminya. Kalau di Jawa seperti gelar KRMT atau Raden Mas yang disandang semua ningrat, meski mereka tidak tinggal di Yogya atau Solo.

Bila Harry dan Meghan tidak mengalami perubahan gelar, maka anak-anak mereka, yaitu Archie dan Lilibeth akan mendapat gelar Prince dan Princess karena kakek mereka sudah jadi raja. Mereka akan bergelar His Royal Highness Prince Archie of Sussex dan Her Royal Highness Princess Lilibeth of Sussex.

Namun, bukan Harry dan Meghan namanya kalau tidak buat sensasi. Mereka mungkin akan bicara sana-sini kepada pers, bikin drama, sebelum akhirnya menerima (atau menolak) gelar bangsawan untuk anak-anak mereka.

Menurut Keputusan Raja George V Tahun 1917, dilansir CNN, bahwa cucu dari pemegang monarki otomatis mandapat gelar Prince dan Princess. Anak pertama dari cucu pemegang tahta yang jadi calon pewaris tahta otomatis bergelar Prince.

Namun, pada 2012, Queen Elizabeth II merevisi keputusan George V dan memutuskan bahwa semua anak dari pewaris tahta berhak bergelar Prince dan Princess.

Karena itulah semua anak Prince William dan Kate Middleton bergelar Prince dan Princess, bukan cuma George sebagai anak pertama.

Pekerjaan Paling Cocok Untuk Orang Berkarakter Lone Wolf

Pekerjaan Paling Cocok Untuk Orang Berkarakter Lone Wolf

Secara kiasan lone wolf adalah seseorang yang meminimalisir campur tangan orang lain dalam urusannya dan sekuat mungkin menyelesaikannya sendiri.


Menyendiri beda dengan mengisolasi diri. Lone wolf tetap berteman, bekerja, dan beraktivitas seperti orang normal. 

Sedangkan mengisolasi diri berarti tidak ingin berkomunikasi dengan siapa pun kecuali keluarga inti, tidak sekolah, tidak bekerja, dan amat jarang keluar rumah. Tindakan mengisolasi diri seperti itu dikenal dengan istilah hikikomori.

Bacaan Lain: Hikikomori dan Mental yang Goyah dari Kesenjangan dan Budaya Tinggi Ekspektasi

Arti Kata  


Dalam bahasa Inggris lone wolf artinya serigala penyendiri. Istilah lone wolf disematkan kepada orang yang lebih suka sendiri dalam hal pekerjaan, bersenang-senang, sampai menyelesaikan masalah.

Serigala adalah hewan yang selalu hidup berkelompok. Sangat jarang serigala mencari mangsa dan berkelanan sendirian tanpa kelompok. Serigala yang sendirian biasanya karena kalah bertarung memperebutkan posisi di kelompoknya. 

Manusia juga dikenal sebagai makhluk sosial yang hampir butuh orang lain dalam segala aspek kehidupan. Maka manusia yang lebih senang sendirian dalam banyak hal disebut lone wolf, sama dengan individualis.

Bacaan Lain: Lone Wolf, Dikaitkan Pada Teroris Padahal Individualis

Walau istilah lone wolf di Indonesia erat dikaitkan dengan teroris, tapi orang yang menjadi lone wolf di dunia jumlahnya terus bertambah. Bukan karena ingin jadi teroris, tapi sejak pesatnya kemajuan di bidang internet, banyak pekerjaan baru yang memungkinkan seseorang menjadi lone wolf.

Penyebab Orang Memilih Jadi Lone Wolf

 

Seseorang sengaja memilih menyendiri bukan karena mereka kesepian dan tidak punya teman, melainkan karena:

  1. Ingin fokus pada apa yang hendak diraihnya.
  2. Tidak tahan dengan tuntutan sosial yang menginginkannya jadi orang hebat. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak orang sukses.
  3. Tidak kunjung menemukan sekelompok orang yang punya minat sama.
  4. Lelah dengan kepalsuan di social circle.
  5. Sudah tidak ingin menerima penolakan jika minta bantuan atau mengajak orang lain.

Pekerjaan yang Cocok Untuk Lone Wolf

 

Seorang lone wolf lebih nyaman bekerja sendiri untuk menuangkan ide dan kreativitasnya tanpa gangguan dari orang lain. Ini pekerjaan yang cocok bagi lone wolf.

1. Web Designer atau Web Developer. 

Seorang web designer dan developer bekerja dalam tim, namun untuk mengerjakan algoritma dan bahasa pemrograman tidak perlu banyak campur tangan dari orang lain.

4. Gamer dan Pro Player. 

 Orang yang memainkan gim untuk tujuan komersil dinamakan gamer. Mereka biasa melakukan streaming di YouTube dan Twitch dan dapat uang dari monetisasi akunnya.

Gamer juga bisa memainkan suatu gim dan ketika level gim itu sudah tinggi, dia akan menjual akun gim itu dengan harga mahal.

Sedangkan pro player adalah gamer yang bermain untuk klub esport dan digaji profesional.

3. Penulis atau Pengarang

Orang yang membuat karangan fiksi seperti novel, cerpen, dan puisi disebut pengarang. Sedangkan orang yang membuat artikel atau karya nonfiksi disebut penulis.

4. Petani

Seorang lone wolf yang memilih jadi petani masih bisa jadi anggota kelompok tani dan mengikuti pelatihan khusus dari dinas pertanian setempat. Namun, semua keputusan memilih bibit, pupuk, dan pestisida ada ditangannya, tidak butuh orang lain untuk mencampuri pertaniannya.

Dia juga bebas menggunakan metode tanam mutakhir seperti hidroponik, tabulampot (menaman buah menggunakan pot), vertikultur, vertical garden, polybag, atau budikdamber (budidaya ikan dan sayuran) tanpa harus bekerja secara tim.

Bacaan Lain: Jus Lezat dari Sayuran Hidroponik

6. Trader Saham, Forex, dan Indeks Berjangka

Mencari penghasilan dari saham, foreign exchange, dan indeks sekarang sudah bisa dilakukan di rumah melalui komputer atau smartphone

Keputusan menginvestasikan uangnya ada ditangan si lone wolf sendiri dengan membaca analisis teknikal dan fundamental, bukan atas saran orang lain.

7. Buka Usaha Sendiri atau Bekerja di Startup

Seorang lone wolf bisa merasakan kenyamanan bekerja di startup, tapi tidak di pemerintahan atau perusahaan besar.

Ini karena birokrasi di pemerintahan amat panjang hanya untuk pengambilan satu keputusan saja dan tentu melibatkan banyak orang dengan bermacam karakter. Sementara di perusahaan besar, kerja sama dan rapat tim lebih sering dilakukan dan membuat lone wolf tak nyaman.

Maka bekerja di startup atau berwirausaha adalah pilihan yang cocok untuk lone wolf.

Beda Lone Wolf Dengan Introvert

 

Lone wolf hanya bersosialisasi seperlunya dan tidak berusaha menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Introvert bisa bersosialisasi dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan terlihat supel.

Seorang introvert juga bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama orang yang sama sekali tidak punya kesamaan apapun dengannya. Setelah menghabiskan waktu bersama banyak orang, introvert perlu menyendiri untuk mengembalikan energinya.

Namun, lone wolf tidak bakalan menghabiskan waktu dengan orang yang tidak punya minat, pandangan, dan kesukaan yang sama dengannya. Dia juga tidak akan basa-basi dengan orang lain kalau dirasa tidak ada gunanya.

Bisakah Lone Wolf Tidak Lagi Jadi Lone Wolf?

 

Bisa saja, tapi amat jarang karena lone wolf merupakan karakter yang melekat karena kekecewaaan pada proses sosialisasi yang dialami seseorang.

Namun, seorang ekstrovert bisa saja jadi lone wolf kalau dia merasa lelah dengan orang banyak atau menghadapi kekecewaan besar dalam hidupnya yang dikarenakan campur tangan orang lain.
FOMO dan JOMO, Ketakutan dan Kegembiraan Atas Keterlibatan Tren Sosial

FOMO dan JOMO, Ketakutan dan Kegembiraan Atas Keterlibatan Tren Sosial

JOMO merupakan akronim dari Joy of Missing Out. Kalau diterjemahkan secara bebas berarti ga ngaruh mau ketinggalan info, kegiatan, atau apa pun yang lagi viral, hidupku tetap menyenangkan dan aku tetap gembira (joy).

Kebalikan dari JOMO adalah FOMO, yaitu Fear of Mission Out di mana seseorang takut ketinggalan informasi dan tren terbaru baik makanan, fashion, dan gaya hidup.


Awal Mula Kemunculan FOMO

 

Riset dari University of Glasgow, Skotlandia pada 2019 terhadap 467 responden mengungkap bahwa para responden merasakan tuntutan sosial untuk selalu ada, dalam artian ada di medsos, ada di komunitas, dan ada untuk mengikuti tren yang sedang viral.

Itu sebabnya FOMO dianggap muncul berbarengan dengan tumbuhnya video games. Paling besar yang mempengaruhi seseorang menjadi FOMO adalah media sosial.

Terbaru, riset dari Journal of Social and Personal Relationships yang menyurvei 400 orang dari seluruh Amerika Serikat (AS), menemukan kalau paparan media sosial yang menyebabkan FOMO sudah meluas menjadi kecemasan.

Kecemasan itu diakibatkan kepercayaan diri yang rendah dan tidak menyayangi diri sendiri. Akibatnya seseorang merasa tidak rela atau sangat khawatir kalau orang lain bersenang-senang tanpa dirinya.

Menurut John M. Grohol, pendiri sekaligus pemimpin redaksi Psych Central, FOMO menyebabkan seseorang terus mencari teman baru supaya tidak ketinggalan tren, tapi mengabaikan teman lama. 

Awalnya diperkirakan empat dari sepuluh anak muda di AS dilaporkan mengidap FOMO. Kini orang berusia 14-47 tahun dianggap jadi usia paling rentan mengidap FOMO, terutama ketakutan ketinggalan sesuatu di lingkaran sosial mereka.

Beda FOMO dengan JOMO

 

JOMO adalah kebalikan dari FOMO. Semua yang dilakukan seorang FOMO tidak akan dilakukan JOMO.

Bila FOMO sangat peduli dan ingin selalu tahu dan terlibat dengan hal yang tren dan viral, JOMO hanya menikmati melakukan yang disukainya walaupun itu kuno.

Bagi seorang FOMO punya banyak teman itu penting. Walau tidak ada satu pun teman yang jadi bestie tidak apa-apa, yang penting temannya banyak. Itu sebab FOMO cenderung kesepian dan sering cemas memikirkan apa kata orang lain tentang dirinya.

Sedangkan bagi JOMO, yang penting adalah kualitas pertemanan, bukan kuantitas. Maka tidak masalah bagi JOMO kalau cuma punya segelintir teman.

FOMO selalu melihat media sosial sesering yang dia bisa, sebalknya JOMO amat jarang. Medsos hanya digunakan si JOMO kalau ada hal penting saja. Karena itu FOMO juga paling sering membuat konten daripada JOMO.

Kepercayaan diri seorang FOMO timbul kalau dia berhasil melakukan hal yang sedang tren dan sudah mengetahui sesuatu yang viral. Sedangkan si JOMO tidak pernah mau tahu apa saja yang sedang tren dan viral karena kepercayaan dirinya tetap sama tingginya.

Supaya Tidak Jadi FOMO

 

1. Minimalisir penggunaan media sosial. Medsos diyakini menjadi penyebab awal munculnya FOMO, maka membatasi melihat medsos adalah cara paling baik supaya terhindar jadi FOMO.

Kita boleh punya semua akun medsos, tapi batasi melihatnya sering-sering walau hanya untuk upload foto. Kalau tahan, batasi diri dengan hanya punya 1-2 akun medsos saja.

Silaturahmi dengan kerabat dan teman lama dapat dilakukan dengan bertelepon, SMS, atau via WhatsApp alih-alih lewat medsos.

2. Punya hubungan dengan orang lain. Profesor psikologi dari Washington State University Chris Barry menyarankan punya hubungan dekat dengan orang lain untuk menghindari perasaan terisolasi akibat Fear of Missing Out.

Hubungan ini bisa dengan keluarga inti, suami atau istri, anak, teman lama, atau tetangga sebelah rumah.

3. Kurangi minder. Yakinlah bahwa semua yang ada di dunia ini tidak sempurna. Punya kekurangan bukan aib, melainkan kodrat manusia. 

Dengan menerima kekurangan mau tidak mau kita jadi lebih menghargai dan menyayangi diri sendiri.

4. Kurangi baperan. Kalau ada celetukan-celetukan, misal, "Itu, kan, lagi viral, makanan dikasih nitrogen, masak gak tahu, sih?!" biar saja, tidak usah baper.

Kalau kita dibilang kudet dan kuper, biar saja. Mereka yang bilang begitu seringnya cuma ingin dirinya terlihat gaul.

5. Cari circle lain. Kalau kita sudah tidak nyaman dalam satu circle, kurangi bergaul dengan orang-orang di circle itu sebelum benar-benar meninggalkannya.

Cari lingkaran sosial lain yang membuat kita nyaman dan bisa jadi diri sendiri.

Konteks FOMO

 

FOMO dan JOMO yang dibahas emperbaca.com adalah dalam konteks psikologi. Pada bisnis dan metaverse dikenal juga istilah FOMO, tapi konteknya bukan dengan kepribadian.

FOMO pada manajemen bisnis digunakan supaya tidak ketinggalan tren kompetitor dan strategi marketing. FOMO juga digunakan untuk memilih investasi mana yang paling menguntungkan sesuai minat si investor.

Sedangkan pada perdagangan mata uang kripto (cryptocurrency), FOMO digunakan untuk mencermati turun-naik nilai kripto dan bagaimana membaca analisis teknikal dan fundamental supaya tidak terombang-ambing isu di forum kripto.

Bacaan Lain: Cara Belanja dan Makan dengan Cryptocurrency

FOMO, JOMO, dan Istilah missing out Lain

1. FOBO (Fear of Better Option).  Ini istilah untuk seorang yang sulit memilih diantara salah satu dari banyak hasil yang dia terima. 

2. ROMO (Reality of Missing Out). Ini mungkin biasa dialami para fan yang tergabung di fandom (fans kingdom). ROMO adalah perasaan takut kehilangan suatu hal fantastis yang kita tahu tidak bakal jadi bagian di dalamnya.

3. FOMOMO (Fear of the Mystery Of Missing Out). Ini versi parah dari pengidap FOMO. FOMOMO sudah tidak bisa lepas dari ponsel dan medsos sedetik pun.

4. MOMO (Mystery of Missing Out). Mengacu pada paranoia yang muncul ketika seseorang mendapati teman-temannya tidak memposting apa pun di media sosial. Dia jadi kehilangan informasi dari teman-temannya itu. Bisa juga paranoid kehilangan suatu info tentang mantan atau musuh.

5. FOJI (Fear of Joining In). Ketakukan kalau dia memposting sesuatu di medsos, tidak ada orang yang me-like.

6. BROMO. mengacu pada saat teman-teman seseorang (bros/brothers)saling melindungi dari merasa kehilangan atau ditinggalkan.

Contoh BROMO adalah jika teman-teman seseorang menahan diri untuk tidak memposting foto kegiatan bertiga, berempat orang yang ada dalam geng yang sama karena takut membuat siapa pun dalam geng itu merasa ditinggalkan

7. NEMO (Nearly but not fully Missing Out). Istilah ini bukan Nemo nama ikan, melainkan merujuk pada orang yang selalu online di internet, tapi justru jarang ngecek internet.

8. SLOMO (Slow to Missing Out). Mengacu pada perasaan bertahap yang datang pada seseorang kalau dia akan kehilangan sesuatu.

***

Munculnya macam-macam bentuk ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran seperti disebut diatas di dunia psikolog termasuk dalam mental yang tidak sehat.

Orang yang mengidap missing out harus berkonsultasi ke psikolog atau berobat ke psikiater bila tidak mau dan mampu mengatasinya sendiri supaya tidak jadi gangguan mental.


Hikikomori: Mental yang Goyah dari Kesenjangan dan Budaya Tinggi Ekspektasi

Hikikomori: Mental yang Goyah dari Kesenjangan dan Budaya Tinggi Ekspektasi

Hikikomori adalah sindrom gangguan mental di mana seseorang sengaja menarik diri dari lingkungan sosial dan tidak berinteraksi dengan siapa pun kecuali dengan keluarga inti.

Pemerintah Jepang mulai menyadari hikikomori di akhir 1990-an sampai kemudian jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun.

Berdasarkan sensus pemerintah Jepang pada 2016, orang yang mengisolasi diri di kamar dan rumah mereka ada 540.000 jiwa. Jumlah ini meningkat pada 2019 menjadi 800.000 orang. Mayoritas laki-laki berusia 15-39 tahun.

Melansir The Conversation, saat ini diperkirakan sudah 1,2 persen dari total penduduk Jepang yang mengidap hikikomori. Artinya sudah jutaan orang Jepang mengisolasi diri dalam jangka waktu lama.

Dari Mana Istilah Hikikomori Berasal?

 

Istilah hikikomori dicetuskan oleh psikiater Jepang Tamaki Saito pada tahun 1998, atas tanggapan terhadap krisis yang terjadi di kalangan pemuda Jepang. 

Pada masa itu sudah banyak anak muda menghindari sekolah dan acara sosial, sering tinggal di rumah selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tanpa berkomunikasi dengan keluarga atau teman-teman.

Hikikomori diperburuk oleh kecanduan internet dan game, serta kemajuan teknologi yang memungkinkan orang tidak perlu berinteraksi di luar rumah untuk menjalankan hidup.

Ciri Seseorang Mengidap Hikikomori

 

  1. Para pelajar tidak mau berangkat ke sekolah. Orang yang punya pekerjaan tidak mau lagi berangkat bekerja.
  2. Sulit berinteraksi dengan orang di luar anggota keluarga.
  3. Menghindar dari lingkungan, situasi, dan interaksi sosial selama enam bulan berturut-turut.

Pengidap hikikomori dapat mengisolasi diri di rumah selama bertahun-tahun tanpa ada keinginan keluar rumah atau melakukan kontak dengan teman.

Penyebab HIkikomori

 

Sebelum mengisolasi diri, para pengidap hikikomori sering merasa tidak disukai, menganggap dunia tidak adil terhadapnya, kecewa terhadap suatu hal, takut berbuat salah, atau karena perundungan.

Ada juga yang melakukan hikikomori sebagai bentuk hukuman terhadap diri sendiri yang gagal memenuhi harapan orang tua, masyakarat, atau lingkungan sosial.

Misal, anak seorang chef ternama yang diharap mampu meneruskan usaha kuliner orang tuanya, ternyata tidak berbakat masak karena dia lebih tertarik menjadi penari. 

Tidak tahan pada desakan banyak orang (termasuk media massa dan orang tuanya sendiri) yang menginginkannya jadi chef dan pengusaha kuliner andal, lantas memicu anak melakukan hikikomori. Mengisolasi diri alih-alih berkarya di bidang lain dan tidak memedulikan perkataan orang.

Produk Budaya atau Lemah Mental?


Kita tahu dulu Jepang punya jam kerja panjang yang mana para pekerjanya bekerja 12-14 jam sehari. Selain jam kerja yang panjang, perekrutan tenaga kerja yang tertutup dan kesenjangan karir di Jepang juga lebar. 

Di Indonesia, lulusan SMA sederajat dapat menjadi manajer sampai kepala cabang kalau dia berprestasi dan sudah melanjutkan kuliah sembari bekerja.

Di Jepang, pada masa lalu, tidak begitu. Lulusan perguruan tinggi pasti berkarir moncer dengan berbagai tunjangan dan fasilitas. Kesempatan bekerja dan berkarir seperti itu tidak didapat mereka yang cuma lulusan SMA, mengakibatkan mereka cuma bekerja sebagai pegawai rendahan atau di sektor informal.

Sektor usaha informal adalah sektor usaha yang tidak punya izin usaha serta usahanya tidak terdaftar pada lembaga pemerintah. Jenis usaha ini adalah UMKM seperti warung sembako, warteg, ibu rumah tangga yang menjual asinan, dan sejenisnya.

Bila generasi Jepang yang lampau memilih mengakhiri hidup karena tekanan pekerjaan dan hidup, generasi yang lebih muda memilih hikikomori.

Disamping budaya Jepang yang punya jam kerja panjang, ada kebiasaan yang membudaya pada masa lalu bahwa seorang ibu haruslah sayang kepada anaknya, terutama anak laki-laki tertua.

Nyatanya, rasa sayang berlebihan malah jadi kemanjaan. Si anak tidak mandiri karena si ibu terlalu melindungi. Alih-alih mengatasi segala rintangan yang menghampirinya, si anak malah menyerah.

Bibit hikikomori biasanya sudah terlihat sejak usia dini di mana anak tidak mampu menyelesaikan masalah sederhana di sekolah, dengan teman, atau sangat tersinggung jika ditegur guru.

Kenapa Hikikomori Disebut Gangguan Mental?

 

Normalnya, manusia adalah makhluk sosial yang selalu butuh berinteraksi dengan sesama manusia. Orang yang punya kesulitan untuk berperilaku dan berpikir seperti manusia normal menandakan ada  yang tidak sehat pada mentalnya.

Maka itu dinamakan gangguan mental. Hikikomori secara sengaja mengisolasi diri hanya karena tekanan yang bagi orang normal dianggap wajar dan bisa diatasi. Pengidap hikikomori memilih mengisolasi diri daripada menyelesaikan masalahnya, dan karenanya termasuk gangguan mental.

Karena itu orang yang mengetahui ada kerabat atau teman yang mengidap hikikomori harus minta bantuan psikolog dan psikiater karena penderitanya tidak bisa hanya sekadar diajak curhat.

Walau termasuk gangguan mental, hikikomori berbeda dengan social anxiety (kecemasan sosial) yang mana penderitanya sangat takut bertemu dengan orang di tengah keramaian. Pun tidak sama dengan beberapa jenis fobia yang berhubungan dengan orang banyak dan lingkungan sosial.

Dampak Hikikomori Bagi Jepang


Hikikomori yang diidap generasi mudanya mengakibatkan Jepang kekurangan tenaga kerja. Usia produktif melimpah, tapi sangat jarang dari mereka yang bekerja.

Karena itu Jepang terpaksa mengimpor banyak ekspatriat atau tenaga kerja asing berpendidikan tinggi dan digaji besar.

Populasi negeri sakura itu juga terus menurun. Menurut Nikkei Asia, penduduk Jepang berkurang 644.000 jiwa di 2022, terbesar dalam 26 tahun terakhir.

Hikikomori memperburuk penurunan populasi Jepang karena mereka tidak menikah dan tidak punya anak.

Beban Orang tua dan Negara

 

Seorang hikikomori hanya diam di rumah dan tidak melakukan apa pun untuk menghasilkan uang. Mereka juga sama sekali tidak produktif menghasilkan suatu karya. Tidak pula mengurus atau merawat apapun dan siapa pun.

Karena tidak punya penghasilan, hikikomori hidup dari gaji atau uang pensiun orang tua. Bila ODGJ tidak mampu bekerja karena kehilangan akal kewarasannya, hikikmori tidak mau bekerja karena memilih mengisolasi diri.

Di mata Jepang, hikikomori juga merugikan karena tidak punya penghasilan untuk bayar pajak, tidak punya asuransi kesehatan, tidak berpartisipasi dalam aktivitas sosial, dan malah menghabiskan uang orang tua.

Bagaimana Seorang Hikikomori Menghabiskan Waktu?

 

Berada di kamar atau di rumah sepanjang waktu amat membosankan. Bahkan seorang introvert dan solitude juga perlu berkegiatan di luar rumah walau tidak bergabung dengan kelompok sosial mana pun, hanya sekadar menghirup udara segar.

Namun, pengidap hikikomori betah menghabiskan seluruh waktunya dengan bermain game, berselancar di internet, membaca buku, memasak sendiri, atau aktivitas lain yang tidak mengharuskannya ke luar rumah.

Pengidap hikikomori amat jarang pernah keluar rumah walau untuk ke warung membeli kebutuhan sehari-hari. Kebanyakan mereka memesan bahan makanan dan kebutuhan harian via online,  

Apakah Hikikomori Hanya Terjadi di Jepang?

 

Yang jelas hikikomori tidak bakal terjadi di Indonesia. Walau para tetangga dan netizen di negeri ini julid, nyinyir, dan merasa paling benar, tapi di rumah kita masih punya mertua, ipar, menantu, anak, dan pekerja rumah tangga yang membuat kita tidak sendirian menghadapi tekanan hidup.

Bila tekanan datang dari keluarga, orang Indonesia masih bisa mencari pelarian dengan curhat di medsos, jadi selebgram, atau YouTuber kontroversial.

Sementara itu, hikikomori juga menjalar ke anak-anak muda di Amerika Serikat, India, Korea Selatan, Prancis, dan Spanyol.

YOLO "You Only Live Once" Antara Hidup Penuh Kesenangan dan Totalitas Ibadah

YOLO "You Only Live Once" Antara Hidup Penuh Kesenangan dan Totalitas Ibadah

You Only Live Once, akronim dari YOLO, adalah istilah dan gaya hidup yang menekankan bahwa manusia hanya hidup satu kali saja. Maka wajar bila mendahulukan kesukaan, kebutuhan, dan kesenangan diri sendiri daripada yang lain.

YOLO juga digunakan untuk memaksa seseorang melakukan hal berbahaya dan menantang adrenalin supaya dia berani. Misalnya memanjat tebing, kebut-kebutan, atau yang lebih buruk, mabuk-mabukkan.

Terminologi YOLO

 

Seorang leksikografer (orang yang ahli dalam penyusunan kamus)  bernama Ben ZImmer, menemukan penggunakan kata you only live once (ditulis dengan huruf kecil) pada sebuah merek peralatan yang sedang mengajukan merek dagang pada 1993. 

Penemuan Ben ZImmer itu ditengarai sebagai yang pertama kalimat YOLO muncul sebelum dipopulerkan oleh rapper Kanada, Drake.

Pada 2011, Drake membuat album lagu The Motto yang mana salah satu lagunya berjudul You Only Live Once dengan akronim YOLO. Sejak itu istilah YOLO populer sebagai bagian dari gaya hidup hedon

Sudut Pandang YOLO


Makin hari, pendapat soal YOLO meluas bukan saja soal kesenangan hidup, tapi dilihat dari sisi akademis dan religi.

YOLO menurut kaum hedonis adalah refleksi menikmati hidup karena sia-sia kalau hidup tidak dinikmati. Kalau sudah mati kita tidak bakalan bisa mengulang hal yang belum pernah kita lakukan dalam hidup.

YOLO bagi kaum hedonis sudah pasti bersenang-senang. Makin gila dan ramai makin kita menikmati hidup dan memaknai YOLO dengan tepat.

Bacaan Lain: Luxury Influencer, Gaya Hidup Mewah Demi Iklan

Pendapat lain datang dari kalangan akademisi yang berpendapat bahwa YOLO sebaiknya digunakan untuk mencapai prestasi dan keilmuan semaksimal mungkin.

Pada situs Internet Public Library yang memuat ratusan makalah dan esai dari kalangan akademisi AS, banyak analisa mengatakan bahwa YOLO sebaiknya disemangati untuk mencapai aktualisasi diri yang jauh dari kata-kata bersenang-senang.

YOLO dan Agama Samawi

Agama samawi atau agama yang turun berdasarkan wahyu dan kenabian seperti Islam, Kristen, dan Yahudi hanya mengenal hidup sekali saja sebelum manusia ke surga atau neraka. 

Makanya, pak ustaz sering bilang, "Kita hidup cuma sekali, perbanyaklah beribadah." Ibadah bagi umat Islam termasuk ibadah kepada sesama manusia (hablumminannas), supaya semua yang kita lakukan bukan cuma bermanfaat di dunia, melainkan jadi bekal di akhirat.

Konsep yang sama juga dikenal penganut Kristen dan Yahudi. Semua kebaikan akan bermuara ke surga dan kejahatan pasti tersungkur ke neraka.

YOLO dan Reinkarnasi

 

Walau diyakini oleh penganut agama samawi, "hidup hanya sekali" tidak berlaku bagi penganut Hindu dan Buddha karena ajaran mereka meyakini manusia hidup berkali-kali melalui konsep reinkarnasi atau terlahir kembali.

Pada agama dan kepercayaan yang menganut konsep reinkarnasi, semua kebaikan dan kejahatan yang kita lakukan di kehidupan sekarang, akan dapat ganjarannya di kehidupan masa datang ketika kita terlahir kembali.

Bila saat ini kita sering mengalami kesulitan hidup, bisa jadi sebagai akibat dari banyaknya keburukan yang kita lakukan pada kehidupan yang lampau. Umat yang percaya reinkarnasi mengenalnya sebagai karmaphala. 

Maka amat wajar tidak ada umat Hindu dan Buddha di mana pun yang mencetus atau membahas soal you only live once.

***

Uniknya, YOLO dikenal cuma oleh dua golongan yang justru bertolak belakang. Yaitu, mereka yang tidak percaya adanya surga-neraka dan mereka yang betul-betul percaya bahwa manusia akan berakhir, kalau tidak di surga, ya, neraka.