Bystander Effect Saat Kita Enggan Menolong Orang di TKP

Bystander Effect Saat Kita Enggan Menolong Orang di TKP

Ada perempuan yang tiba-tiba jatuh dari motor karena karena dia baru belajar mengendarai motor ditengah jalanan yang basah karena hujan.

Ilustrasi efek pengamat (bystander effect) dibuat dari Microsoft Designer

Apakah kita akan menolongnya? Atau biar saja, deh, orang lain yang nolong daripada saya kena masalah

Ternyata orang yang enggan menolong orang lain saat terjadi kecelakaan dan kesulitan di tempat umum bukan cuma kita saja, melainkan hampir semua orang melakukannya. Itulah yang disebut dengan bystander effect

Bystander effect adalah fenomena psikologis ketika seseorang tidak berkeinginan menolong korban dalam situasi darurat saat disitu sudah ada orang lain yang hadir. Makin banyak orang yang ada di TKP (tempat kejadian perkara) makin banyak juga yang tidak mau menolong.

Awal Mula Fenomena Bystander Effect

 

Bystander (pengamat) dan effect (efek/dampak) terjadi karena ada difusi (penyebaran atau perembesan) sosial dan tanggung jawab. 

Difusi tanggung jawab terjadi ketika makin banyak orang yang ada di satu tempat saat kecelakaan atau krisis terjadi, makin rendah rasa tanggung jawab individu untuk bertindak. Sedangkan difusi sosial terjadi saat orang yang ada di TKP saling tunggu dan mengawasi orang lain untuk menentukan bagaimana harus bertindak.

Istilah efek pengamat (bystander effect) ini pertama kali tercetus oleh pembunuhan Kitty Genovese pada 1964 di luar kediamannya di New York. Kitty amat mungkin selamat kalau 38 tetangganya menelepon polisi atau menolongnya saat perampokan, pemerkosaan, dan penikaman itu terjadi. Tapi mereka cuma melihat dan mendengar tanpa melakukan apa-apa.

Setelah peristiwa itu, mengutip Psychology Today, psikolog sosial Bibb LatanΓ© dan John Darley kemudian melakukan beberapa studi dan percobaan kenapa orang sampai tega ga nolong atau minimal lapor polisi. Dari keduanyalah istilah bystander effect muncul.

Percobaan Sosial yang Mencetuskan Bystander Effect 

 

Eksperimen pertama yang mereka lakukan adalah merekrut mahasiswa untuk jadi peserta dalam diskusi kelompok melalui interkom. Bibb LatanΓ© dan John Darley memberitahu para peserta kalau mereka akan bicara bergantian dengan orang lain yang tidak terlihat dan hanya melalui interkom.

Nyatanya, tidak ada orang di seberang interkom. Para peserta cuma mendengar rekaman suara yang sudah disiapkan. 

Pada suatu titik, salah satu suara pura-pura mengalami kejang epilepsi dan minta bantuan. Bibb LatanΓ© dan John Darley mengukur seberapa cepat dan seberapa sering para peserta mencoba menolong atau minta bantuan orang lain. 

Bibb LatanΓ© dan John Darley menemukan bahwa jika para peserta berpikir bahwa mereka adalah satu-satunya yang mendengar suara itu maka 85% dari mereka menolong dalam waktu satu menit. Namun, kalau mereka berpikir bahwa ada empat orang lain yang juga mendengar suara itu, cuma 31% dari mereka yang menolong dalam waktu satu menit.

Eksperimen kedua yang dilakukan Bibb LatanΓ© dan John Darley ialah meminta para peserta untuk mengisi kuesioner di sebuah ruangan. Selama mereka mengisi kuesioner, asap mulai keluar dari ventilasi di ruangan itu. 

Bibb LatanΓ© dan John Darley mengamati seberapa lama para peserta memperhatikan asap, seberapa lama mereka memeriksanya, dan seberapa lama mereka melaporkannya kepada orang lain. 

Hasilnya, kalau para peserta sendirian di ruangan itu, 75% dari mereka melaporkan asap dalam waktu enam menit. Akan tetapi, saat peserta bersama dua orang lain, yang sebenarnya adalah konfederat yang pura-pura tidak memperhatikan asap, cuma 10% peserta yang melaporkan asap dalam waktu enam menit.

Konfederat adalah orang yang bekerja sama dengan peneliti.

Bibb LatanΓ© dan John Darley membuat percobaan lain dan beberapa studi yang melahirkan bystander effect. Mereka berpendapat ada banyak faktor sosial yang dapat menghambat atau memfasilitasi setiap tahap ini, seperti jumlah orang yang hadir, norma sosial, karakteristik korban, dan karakteristik penolong. 

Mereka juga mengemukakan beberapa konsep untuk menjelaskan mengapa orang kurang bersedia membantu ketika ada orang lain di sekitar, seperti difusi tanggung jawab, penilaian sosial, dan kesesuaian sosial.

Kenapa Orang Diam Saja dan Tidak Menolong Korban?

 

Selain karena kondisi psikologis yang terjadi karena pengaruh orang banyak yang ada di sekitar, yaitu difusi tanggung jawab dan difusi sosial, ada alasan lain yang lebih pribadi yang dirasakan saat menyaksikan kejadian memilukan.

Alasan itu bisa karena:

1. Shock (terkejut). Beberapa dari kita perlu mencerna sejenak apa yang sedang terjadi. Setelah otak mampu mencerna, kita tidak langsung bertindak karena berbagai pertimbangan, dua diantaranya karena difusi tanggung jawab dan sosial itu tadi.

2. Merasa lemah dan tidak berdaya untuk menolong. Situs Simply Psychology mengatakan ada banyak orang yang takut menolong karena merasa tidak berdaya dan lebih lemah dari pelaku atau dari kejadian yang terjadi di depan mata, misalnya kecelakaan mobil atau kebakaran.

Mereka memilih diam atau pura-pura tidak tahu dan berharap orang lain yang jadi penolong atau melakukan sesuatu untuk menolong.

Betul juga, alih-alih menolong bisa jadi nyawa kita yang terancam. Ini biasanya terjadi di kejahatan jalanan seperti begal, klitih, penjambretan, penodongan, atau tawuran. Orang yang paling berani menolong saat ada kejahatan jalanan biasanya cuma tentara dan polisi.

3. Merasa bukan urusannya. Saat ada orang lain di TKP, kita cenderung cuek dan tidak ingin terlibat karena merasa hal itu bukan urusan kita.

Kita merasa sudah punya masalah dan urusan sendiri dan tidak ingin menambahnya dengan menolong atau mengurusi korban.

Contoh paling nyata ada di kasus KDRT. Keluarga dan tetangga sering tidak menolong karena merasa itu urusan rumah tangga suami-istri dan bukan urusan mereka.

4. Takut dihukum. Di negara kita, alasan hukum juga membuat kita enggan menolong. Sudah bagus kita mau nolong, lha, kok, malah jadi tersangka. Kalaupun tidak jadi tersangka, minimal jadi saksi yang bisa berkali-kali dipanggil polisi untuk dimintai keterangan.

Kejadian ini pernah menimpa Amaq Sinta yang jadi korban begal. Dia melawan dua begal yang mengancamnya dengan senjata dan mau merampas motornya. Amaq sudah berteriak minta tolong, tapi tidak ada warga yang datang. 

Berbekal pisau kecil yang dibawanya, Amaq menikam dua begal yang akhirnya tewas itu. Amaq kemudian melaporkan pembegalan itu ke polisi. Ternyata dia malah jadi tersangka pembunuhan. Untunglah penyidikan dihentikan setelah Kapolri Listyo Sigit turun tangan.

Apakah Bystander Effect Dibenarkan?

 

Efek pengamat bisa dikurangi kalau masyarakat punya empati terhadap korban atau terhadap kejadian memilukan yang terjadi di depan mata. 

Cara meminimalisir bystander effect adalah mengasah empati dan kepekaan sosial. Jadi kita tidak perlu saling tunggu dan pura-pura tidak tahu yang bisa berakibat nyawa korban melayang.

Pelaku Bystander effect bisa dibilang tidak sesuai dengan moral agama karena ajaran agama mengharuskan kita saling tolong-menolong. 

Kalau kita kebetulan ada di situasi yang menyebabkan muncul korban seperti kejahatan jalanan, kecelakaan, KDRT, atau hal lain yang bisa menimbulkan korban, kita bisa menelpon nomor 112. Laporkan kejadian itu kepada operator 112 dan mereka akan meneruskannya ke polisi, pemadam kebakaran, BNPB/BPBD, atau pihak lain yang terkait.

Dengan begitu kita tidak perlu terlibat langsung, tapi bisa meminimalisir kejadian buruk yang bisa menimbulkan korban raga atau jiwa.

Kenapa Ada Orang "Ember" dan Alasan Orang jadi "Ember"

Kenapa Ada Orang "Ember" dan Alasan Orang jadi "Ember"

Kata "ember" sering digunakan oleh generasi yang menjalani masa mudanya di tahun 1980-an dan 1990-an. "Ember" artinya memang benar, betul sekali, iya banget, atau untuk menyatakan kita setuju dengan mereka tentang suatu hal.

Misal, Budi berkata kepada Sinta kalau ujian Bahasa Indonesia hari ini susah. Lalu Sinta menimpali, "Ember!"

Mengingat "ember" digunakan sebagai bahasa pergaulan, maka ia digunakan hanya kepada sesama anak muda di situasi yang santai dan tidak formal, misal di tempat nongki, di rumah teman, pada jam istirahat kelas, dan di semua situasi yang tidak formal.

Jadi walau ada guru, dosen, pak RT, pak camat, atau pak ustaz yang friendly, gaul dan sedang di situasi yang santai, kita tetap tidak boleh bilang "ember" kepada mereka, karena mereka bukan teman sepergaulan.

Kenapa Kita Lebih Sering Pakai Bahasa Pergaulan daripada yang Baku?

 

Bahasa pergaulan disingkat jadi bahasa gaul-dikenal juga dengan bahasa slang alias bahasa sehari-hari yang tidak formal.

Bahasa pergaulan gunanya adalah untuk membuat obrolan terasa lebih santai, akrab, dan penuh canda-tawa. Bahasa gaul juga bermanfaat untuk mencairkan suasana sekaligus mempererat pertemanan terutama bagi anak muda yang baru saling kenal.

Selain itu anak muda biasanya punya kreativitas dan imajinasi yang lebih besar dari orang tua. Salah satu bentuk kreativitas dan imajinasi itu adalah dengan menciptakan bahasa gaul yang digunakan di kalangan merek. Bahasa dan kata-kata gaul itu kemudian menyebar ke sesama anak muda di luar lingkungan dan circle mereka.

Makanya bahasa gaul tiap generasi berbeda-beda karena masing-masing generasi menciptakan bahasa gaul yang sesuai pola pikir dan apa yang sedang hits di zamannya.

Generasi 1980-an dan 1990-an belum mengalami ledakan internet dan sosial media, jadi bahasa gaul yang mereka ciptakan cuma seputar bahasa Indonesia yang kata-katanya disingkat dan dibolak-balik.

Sedangkan generasi 2010 sampai sekarang terpapar arus informasi yang sangat deras sampai tidak bisa menyaring apa yang betul-betul mereka butuhkan. Maka bahasa gaul yang mereka ciptakan pun lebih banyak yang berasal dari bahasa asing, misal jaman now, gamon (gagal move on), bilek (be like), salty, spill, dan masih banyak lagi.

Orang Ember 


Sementara itu kalau kita kita kembali ke "ember" kata ini sekarang dipakai bukan cuma untuk mengiyakan dan menyatakan setuju dengan perkataan orang lain. "Ember" juga ditujukan kepada orang yang tidak bisa menjaga omongan dan rahasia.

Di sekitar kita pasti ada orang yang rajin membagikan foto, video, dan tangkapan layar chat di status WhatsApp. Saking rajin dan banyak, jumlah statusnya cuma tinggal terlihat titik-titik saja. Selain itu dia juga sering menceritakan hidup orang lain yang diceritakan kepadanya.

Itulah Si Ember. Apa pun yang sampai ke kupingnya akan diceritakan lagi ke orang lain tanpa ragu. Karena itulah Si Ember punya dua sisi mata pisau.

Dia bisa dijadikan corong sebagai humas untuk menyebarkan kesan tertentu, sekaligus bisa digunakan sebagai penyebar berita bohong alias hoax.

Alasan orang jadi ember bisa karena hal sebagai berikut.

1. Kesepian. Orang ember kelihatan punya banyak teman dan jadi orang gaul yang lebih sering beraktivitas di luar rumah.

Sebenarnya dia kesepian makanya dia membocorkan kisah dan informasi tentang orang lain supaya punya teman ngobrol.

2. Wawasan dan pengatahuannya sempit. Mayoritas orang ember tidak berwawasan dan berpengetahuan luas.

Pengetahuan yang mereka punya cuma seputar peristiwa sehari-hari atau seputar circle-nya saja. Kalau disuruh mikir atau ditanya tentang kenapa Indonesia disebut negara maritim, misalnya, dia akan bingung dan malah mengalihkannya ke hal remeh-temeh.

Pepatah tong kosong nyaring bunyinya dan air beriak tanda tak dalam amat tepat ditujukan buat orang yang ember sebab orang yang banyak omong biasanya justru tidak punya cukup pengetahuan tentang banyak hal.

Related: Kenapa Orang Indonesia Tidak Bisa Berenang Padahal Tinggal di Negara Air

3. Senang cerita tentang dirinya sendiri. Si Ember akan menceritakan orang lain kemudian akan menceritakan dirinya sendiri.

Misal dia cerita tentang ibu yang sering kerja lembur sampai jarang bertemu anaknya. Beberapa menit setelah menceritakan si ibu, Si Ember akan bercerita bagaimana dia akan menyempatkan waktu untuk anaknya walau sudah lelah dan sibuk kerja seharian.

Jadi maksud di Ember cerita tentang orang lain adalah supaya dia bisa cerita tentang dirinya sendiri.

4. Tidak betah di rumah. Orang rumahan tidak melulu karena dia kesepian dan tidak punya teman, tapi karena dia lebih menikmati waktu beraktivitas sendirian.

Related: Delapan Keuntungan Jadi Anak Rumahan

Semua orang yang ember pasti tidak betah di rumah karena mereka lebih menikmati ngobrol dengan orang lain di luar rumahnya sendiri.

Meski Si Ember tidak betah di rumah, mereka tidak bisa dibilang ekstrovert karena cuma bergaul, bergosip, dan berghibah dengan orang yang status sosial dan ekonominya sama. Dengan kata lain mereka sebetulnya minder bergaul dengan orang yang lebih pintar, lebih kaya, atau lebih terpandang.

Supaya Tidak Jadi Ember

 

1. Tahan diri untuk tidak membicarakan orang lain kecuali hal yang positif dan membawa manfaat buat kita. Yakinlah bahwa membicarakan orang lain dari sisi negatif tidak ada gunanya buat kita. 

2. Tidak perlu kepo (penasaran terus banyak nanya) terhadap hal yang sedang diomongkan orang lain.  

Misal kita datang ke suatu perkumpulan dan orang-orang sedang membicarakan sesuatu, kita tidak perlu tanya-tanya dan ikut-ikutan bicara.

Dengarkan saja dan baru ngomong kalau ditanya. Kalau obrolan dirasa sudah sangat negatif dan menjelek-jelekkan orang lain, pura-puralah ke toilet dan carilah tempat duduk lain.

3. Sering mengisi waktu dengan melakukan hobi, misal baca buku, berkebun, ngeblog, atau merajut. 

Sering melakukan kegiatan kesukaan bermanfaat untuk mengasah pikiran tetap positif dan meminimalisir ngurusin orang lain.

Kalau kita punya hobi ngoceh dan ngobrol, coba bikin podcast. Kita bisa bebas ngoceh tanpa harus ngurusin orang. Bikin konten TikTok dengan nyanyi-nyanyi dan joget-joget masih lebih baik daripada jadi ember.

4. Perluas wawasan. Kalau pengetahuan dan wawasan kita luas otomatis kita jadi tidak tertarik membicarakan orang.

Hal ini sesuai dengan pepatah seperti padi yang makin berisi makin merunduk. Makin banyak ilmu, pengetahuan, dan wawasan seseorang maka makin rendah hatilah dia.

Karakter Pemakan Bubur Diaduk dan Tidak Diaduk

Karakter Pemakan Bubur Diaduk dan Tidak Diaduk

Bubur enak dimakan saat sarapan atau makan malam karena tidak terlalu membuat kenyang seperti nasi, tapi perut bisa tetap terisi dengan aneka bahan pelengkap (toping) yang bergizi, misalnya suwiran ayam, hati-ampela, atau telur.

Makan Bubur Diaduk


Orang yang sedang sakit atau sedang tidak enak badan biasanya makan bubur. Tekstur bubur yang lembek menjadikannya mudah ditelan dan dicerna lambung.

Bahan pelengkap bubur juga disesuaikan dengan kondisi atau kesukaan si sakit yang biaanya kehilangan nafsu makan. Maka itu, orang sakit cocok makan bubur dengan cara diaduk. Dengan mengaduk, bubur jadi lebih cepat encer dan berair sehingga suwiran ayam, daging, dan bahan pelengkap juga jadi cepat layu dan mudah ditelan.

Selain sakit, alasan orang mengaduk buburnya sebelum dimakan supaya semua bahan pelengkap bubur tercampur rata dan mudah dinikmat.

Makan bubur diaduk atau tidak juga dipengaruhi oleh pengalamannya di masa lalu. Bisa jadi sewaktu kecil keluarganya makan bubur diaduk dan dia terbawa pada kebiasaan itu. 

Bisa juga karena dia sering melihat bestie-nya makan bubur tidak diaduk lalu dia ikutan. Cara makan kita berasal dari lingkungan tempat kita berada dan seberapa kuat kita ingin mengikuti atau meninggalnya.

Hal itu mirip dengan kebiasaan orang Indonesia di mana kita biasa makan menggunakan tangan. Namun di Barat makan menggunakan tangan dianggap jorok dan tidak higienis.

Kebiasaan kita makan bubur bisa berubah, yang tadinya makan bubur diaduk jadi tidak diaduk lagi dan sebaliknya.

Karakter Umum Pemakan Bubur Tidak Diaduk


Pemakan bubur tidak diaduk memakan buburnya dari pinggir. Kalaupun ingin mencampur buburnya, mereka melakukannya sedikit-sedikit dari sisi pinggir, jadi tidak langsung diaduk sampai semuanya tercampur di mangkuk.

Berikut karakter yang dimiliki orang yang buburnya tidak diaduk.

1. Menyukai kehangatan. Bubur yang tidak diaduk lebih tahan kehangatannya karena panas yang ada di bagian tengah dan bagian dalam bubur tidak cepat menguap. 

Pada bubur yang diaduk, panas akan cepat hilang dan bubur jadi cepat dingin. Makin sering diaduk bubur suhu bubur akan sama dengan suhu ruang yang menyebabkan bubur jadi encer.

Itu sebabnya orang yang suka kehangatan makan buburnya tidak diaduk supaya dia bisa merasakan kelezatan bubur dalam kehangatan.

2. Teliti dan mendekati perfeksionis. Orang yang makan buburnya tidak diaduk tidak pernah buru-buru dalam mengerjakan sesuatu.

Dia selalu mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Kalaupun ada tugas mendadak, dia akan memeriksa dan mengeceknya berulangkali supaya minim kesalahan.

3. Tidak mudah membebek. Pemakan bubur tidak diaduk tidak gampang ikut-ikutan tren medsos yang sedang viral. 

Mereka juga tidak mudah terbawa isu dan opini dari media sosial dan media massa meski isu itu sedang ramai dibicarakan.

Kalau ingin ikut komentar, mencerca, atau mendukung mereka akan membaca-baca lebih dulu sampai yakin tahu tentang topik yang akan dikomentarinya. 

4. Cermat dan detail. Bila pemakan bubur diaduk cenderung punya kepribadian simpel dan sederhana

Kebanyakan pemakan bubur tidak diaduk sangat cermat dan memerhatikan detail pada banyak hal yang mereka lakukan.

Bila ingin travelling, misalnya, mereka akan menghitung dengan cermat waktu keberangkatan, spot wisata, sampai biaya tidak terduga mereka hitung betul-betul.

5. Menganggap penampilan adalah bagian dari jati diri. Jarang pemakan bubur tidak diaduk yang berpakaian asal-asalan. 

Mereka juga akan menghindari memakai baju dan aksesori yang warna dan motifnya saling tabrakan. Karena menyukai barang berkualitas tinggi, pemakan bubur tidak diaduk juga rela menabung untuk mendapatkan barang berkualitas yang mereka inginkan.

6. Punya selera seni bagus. Walau cuma buat dimakan, menata makanan juga termasuk seni.

Di Jepang, presentasi visual makanan termasuk penting disamping cita rasa, dinamakan mukimono atau seni makanan. 


Makanan juga merupakan bagian dari filosofi Yin dan Yang di Tiongkok. Di Jawa filosofi bubur punya beberapa makna. Contohnya bubur merah putih yang dibuat untuk menyambut kelahiran bayi atau orang yang berganti nama.


Merah melambangkan keberanian dan putih berarti suci.


Apakah makan bubur merah-putih lantas diaduk diublek-ublek? Ambil setengah sendok bubur putih yang gurih dan setengah sendok bubur merah yang manis. Suap sendok itu ke mulut. Rasakan kegurihan dan kemanisan dalam bubur yang menyatu padu.


Mangkuk dan piring di Jepang bahkan tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran, bukan cuma bundar dan oval karena menyesuaikan dengan hidangan dan dekorasinya.


Makan soto diaduk, kok bubur nggak? 

 

Satu hal yang sering dinyatakan oleh pemakan bubur diaduk adalah: makan bubur sama dengan soto, harus diaduk supaya semua rasanya tercampur rata. Makannya juga sama-sama pakai mangkuk, berarti sama-sama diaduk dong!

Pertama, soto itu pake kuah, guys! Secara otomatis semua bahan makanan yang ada di mangkok sudah kecampur duluan tanpa diaduk.

Bubur juga ada yang pake kuah, tapi kuahnya tidak sebanyak soto, jadi menyamakan makan bubur dengan soto itu gak apple to apple, ya, alias gak nyambung!

Kedua, pada soto tidak berlaku cara makan diaduk dan tidak diaduk. Cara makan yang berlaku bagi pemakan soto adalah nasi dicampur ke dalam mangkuk soto atau nasi dipisah dari soto. 

Pada orang yang menyukai makan soto terpisah dari nasi, mereka akan menuang soto ke dalam piring nasi sebelum disuap ke mulut.

Sebaliknya, orang yang menyukai soto campur nasi akan menaruh nasi ke dalam mangkuk supaya bisa dimakan bareng sotonya.

Ketiga, soto dan bubur adalah dua menu yang berbeda karena bahan, bumbu, dan cara pengolahannya tidak sama.

Dari tiga hal diatas dapat disimpulkan bahwa makan bubur tidak bisa disamakan dengan makan soto. Valid no debate.

Last but not least, karena berbeda karakter dan filosofi memandang hidup, orang yang makan bubur diaduk dan tidak diaduk tidak bisa jadi bestie (sahabat).

Mereka tetap bisa berteman dengan sangat asyik, tapi lebih dari itu tidak bisa. 

Perbedaan karakter antara dua orang sebenarnya baik untuk saling melengkapi, tapi perbedaan dengan  orang yang makan bubur diaduk dan tidak diaduk lebih kepada perbedaan prinsip dan visi hidup.

Maka, lebih baik cari pasangan hidup yang sama-sama makan buburnya diaduk atau tidak diaduk.

Beda Remote Working dan Digital Nomad Dari Cara Kerja Sampai Tempat Tinggalnya

Beda Remote Working dan Digital Nomad Dari Cara Kerja Sampai Tempat Tinggalnya

Di masa pandemi Covid-19 kita mengenal istilah work from home atau bekerja dari rumah karena kantor ditutup untuk mencegah penyebaran virus Corona penyebab penyakit Covid. Para karyawan tetap menunaikan tugasnya, tapi pekerjaan itu mereka selesaikan di rumah masing-masing, tidak di kantor sebagaimana normalnya.

Related: Social Loafing Orang yang Rajin tapi Malas Kerja Kelompok

Sebetulnya tidak harus dari rumah. Karyawan bisa kerja dari mana saja asal terhubung ke internet yang akan menyambungkannya ke jaringan kantor. Hanya saja kalau bekerja di kafe atau di perpustakaan daerah hitungannya lebih boros karena harus mengeluarkan uang transportasi dan beli kopi.

Pekerja yang bekerja di mana saja, termasuk sambil keliling kota/dunia, lebih pas disebut sebagai digital nomad daripada remote working. Remote working sama dengan work from home, tapi berbeda dengan digital nomad walau sama-sama tidak butuh datang ke kantor.

Asal Istilah Digital Nomad dan Remote Working

 

Nomad (bahasa Inggris) artinya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dan tidak pernah menetap. Dalam bahasa Indonesia disebut sebagai nomaden.

Jadi digital nomad berarti orang yang sering bepergian ke banyak tempat sambil bekerja menggunakan teknologi digital seperti internet, perangkat komunikasi, dan kamera bila diperlukan (tergantung pekerjaan yang sedang mereka jalani).

Sementara itu remote working adalah mengerjakan pekerjaan kantor yang tidak dilakukan di kantor alias kerja jarak jauh. Remote working sering disebut juga dengan telework, telecommuting, dan work from home.

Istilah itu populer sejak tahun 2020 atau saat awal pandemi Covid-19 melanda dunia.

Sama-sama bekerja jarak jauh (remotely), menggunakan internet dan perangkat komunikasi, lalu apa bedanya remote working (pekerjanya disebut worker) dan digital nomad?

Tempat Kerja dan Tempat Tinggal


Remote worker lebih banyak bekerja di rumah daripada di kafe, taman kota, atau perpustakaan yang menyediakan wifi. Itulah mengapa seseorang yang melakukan remote working sering disebut sedang melakukan work from home.

Remote worker sesekali ngopi sambil kerja menggunakan wifi di kafe atau di rumah saudaranya yang punya internet, tapi itu jarang. Mereka hampir selalu bekerja dari rumah karena sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk meeting atau ditelepon kantor.

Remote worker tidak pernah pindah kota selagi bekerja, sedangkan digital nomad selalu berpindah-pindah. Bulan ini kerja di Denpasar, bulan depan di Jakarta, enam bulan kemudian mereka bisa saja sudah pindah negara.

Remote working dari rumah (Foto: Forbes India)

Digital nomad juga tidak punya rumah atau tempat tinggal tetap karena selalu berpindah-pindah selama bertahun-tahun. Kalau pulang ke kota atau negara asalnya mereka akan pulang ke rumah orang tua atau saudaranya sebelum melanglang buana lagi sambil bekerja.

Remote worker kebanyakan karyawan tetap di suatu perusahaan sedangkan digital nomad kebanyakan pekerja lepas, pekerja kontrak, atau bekerja mandiri (self employee).

Pekerjaan yang Ditekuni

 

Status karyawan tetap yang disandang remote worker berarti lingkup kerja mereka formal, entah di kementerian, lembaga negara, atau seputar perusahaan negara, pribadi, dan publik. 

Digital nomad (Foto: CEO Magazine)

Mengutip dari Glints digital nomad bekerja di bidang yang lebih kasual seperti:

  • Freelancer seperti penulis lepas, web programmer, atau admin sosial media yang mengurus aset klien dengan membuat online campaign/konten.
  • Profesional yang bekerja mandiri dengan membuka konseling, akuntan, atau bantuan hukum.
  • Enterpreneur yang mengatur timnya menggunakan tools online.
  • Seseorang yang menjual produk digital seperti e-book, panduan, desain website, atau print art.
  • Kreator konten seperti YouTuber dan TikToker yang mendapat uang dari jumlah views, subscriber, Live, dan promosi bisnis.
  • Influencer medsos yang dibayar untuk melakukan endorsement produk dan jasa.

Bisakah Seorang Remote Worker Jadi Digital Nomad?

 

Sangat bisa, tergantung dari jenis pekerjaannya. Kalau pekerjaan itu menuntut jam kerja tetap dari pagi sampai malam maka remote worker tidak bisa jadi digital nomad. 

Sebaliknya kalau pekerjaan kita cuma butuh hasil kerja dan hasil karya tanpa aturan jam kerja maka kita bisa kerja sebagai digital nomad.

Remote Working dan Hybrid Working

 

Ada istilah lain yang menggambarkan kerja jarak jauh, namanya hydbrid working. Karyawan remote dan hybrid tidak perlu datang dan menunjukkan diri di kantor untuk menyelesaikan tenggat waktu pekerjaan. Bedanya remote worker tidak perlu datang ke kantor sedangkan hybrid worker harus datang ke kantor dengan porsi, misal, 3 hari ngantor 2 hari kerja dari rumah.

Dalam waktu 8-10 tahun mendatang pakar pekerja Alicia Tung memperkirakan para karyawan akan membagi waktu mereka sebesar 40 persennya untuk bekerja di luar kantor secara hybrid

Namun asosiasi personalia profesional atau The Chartered Institute of Personnel and Development yakin kalau perusahaan lebih suka karyawannya datang ke kantor untuk bekerja daripada melakukan remote atau hybrid working.

Elon Musk telah melakukannya saat 30% perusahaan di AS masih memberlakukan work from home selama status pandemi belum dicabut oleh WHO.

The Guardian memberitakan kalau Elon mewajibkan seluruh karyawannya untuk ngantor. Karyawan boleh bekerja remote setelah mereka melaksanakan kewajiban ngantor minimal 40 jam per pekan. Kalau keberatan dengan peraturan itu mereka boleh mengundurkan diri dari SpaceX dan Tesla.

Di Indonesia sendiri perusahaan seperti Gojek yang sewaktu pandemi memberlakukan work from home tanpa sekali pun karyawannya harus ke kantor, sekarang sudah mewajibkan work from office kembali.

Meski begitu ada perusahaan yang pekerjanya berstatus berstatus karyawan tetap (bukan kontrak dan alih daya), tapi mayoritas bekerja remote. Yang ngantor cuma karyawan HR dan administrasi. Itu dimungkinkan karena perusahaan butuh karyawan dari banyak negara dan tidak berkepentingan mendatangkan karyawan ke kantor mereka.


Empat Jenis Tugas Kelompok

Empat Jenis Tugas Kelompok

Kita tidak akan pernah lepas dari yang namanya tugas atau kerja kelompok sebab hal itu bagian dari menyelesaikan tugas atau persoalan dengan lebih mudah dan cepat. Ringan sama dijinjing berat sama dipikul, begitu pepatah tentang menyelesaikan pekerjaan berat bersama-sama lebih baik dari sendirian.


Meski begitu, ada orang yang menganggap kerja kelompok cuma buang waktu karena tiap orang dalam kelompok semua mau menang sendiri, lebih senang menyuruh, dan memaksakan kehendak. Jadinya yang seorang itu kadang menawarkan diri  untuk mengerjakan semua dan anggota yang lain membiayai atau menyediakan bahan yang diperlukan.

Manfaat Kerja Kelompok
  1. Melatih diri untuk tidak egois.
  2. Melatih cara berkomunikasi dengan banyak orang
  3. Melatih bekerjasama dengan berbagai macam karakter orang.
  4. Berlatih menjadi pemimpin 
  5. Mengisi kebutuhan dasar manusia untuk bersosialisasi

Kerja kelompok merupakan salah satu cara yang melatih kita menjadi pribadi yang tidak menang sendiri dan terampil dalam berhubungan dengan banyak orang. 

Walau begitu banyak juga orang yang sering melakukan kerja kelompok, tapi tetap egois, malas, suka mengatur, merasa paling pintar, dan tidak mau ikut mengerjakan tugas. Bagaimana kalau kita dapat teman tugas kelompok yang seperti itu? 

Terus, bagaimana membangun chemistry dengan teman kelompok yang tidak se-circle? Paling penting kita netralkan dulu hati dan pikiran untuk tidak merasa paling pintar dan paling benar. Selebihnya biarkan komunikasi mengalir sesuai situasi dan kondisi di dalam kelompok.

Empat  Jenis Tugas Kelompok

Ada Empat jenis tugas kelompok yaitu collaborative learning, cooperative learning, group work, problem-based learning, dan team-based learning.

1. Collaborative Activity

 

Collaborative learning sering disebut juga dengan collaborative activities atau teori pembelajaran/aktivitas kolaboratif.

Teori Pembelajaran Kolaboratif dicetuskan oleh Lev Vygotsky (1896-1934) seorang psikolog dari Uni Soviet. Lev terkenal karena membuat kerangka perkembangan psikologis anak yang disebut dengan Zone of Proximal Development.

Pada collaborative learning, semua peserta dalam kelompok mau tidak mau harus bekerja sama untuk memecahkan masalah supaya tugas mereka selesai tepat waktu. Contoh dari pembelajaran kolaboratif adalah mencocokkan, menyortir, memberi peringkat, atau memasang.

Jenis tugas kelompok collaorative learning membuat anggota kelompok harus bekerja bersama-sama dalam satu waktu. Bila tidak dikerjakan bersama dalam waktu yang bersamaan, tugas tidak akan selesai tempat waktu.

Collaborative activities bermanfaat untuk melatih keterampilan memimpin dan berkomunikasi lisan juga mengembangkan higher-level thinking atau kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini meliputi pembentukan konsep, penggambaran konsep, visualisasi, pemecahan masalah, berpikir kritis, berpikir praktis, aktif, dan kreatif.

2. Cooperative Activity


Cooperative activities atau aktivitas kerja sama efektif dilakukan pada kegiatan terstruktur yang dilakukan kelompok kecil terdiri dari 2-5 orang.

Yang dimaksud dengan kegiatan terstruktur adalah kegiatan yang semuanya sudah ditentukan oleh guru, dosen, manajer, supervisor, ketua RT, dan siapa pun yang memberi tugas. Tiap kelompok tinggal menjalankan apa yang jadi kewajiban dan batasan untuk menyelesaikan suatu tugas.

Cooperative activity bermanfaat untuk membangun rasa saling percaya antar anggota kelompok.

3. Problem-based Learning

 

Problem-based learning disebut juga dengan pembelajaran berbasis masalah. Ini cocok diterapkan pada sekelompok pelajar supaya mereka memahami suatu materi secara lengkap dan mendalam, caranya dengan melakukan tugas kelompok.

Sebelum bekerja berkelompok, tiap anggota kelompok harus lebih dulu membaca dan mengerti materi yang akan mereka kerjakan sebelum dicari penyelesaiannya dalam kerja kelompok.

Problem-based learning selalu berorientasi pada kelompok sehingga bermanfaat untuk melatih siswa menyisihkan waktu diluar jam sekolah untuk mengerjakan proyek kelompok mereka.

4. Team-based Learning 


Team-based learning disebut juga dengan pembelajaran berbasis tim/kelompok. 

Siswa, mahasiswa, atau siapa pun anggota kelompok diharapkan membaca dengan teliti serangkaian materi persiapan yang dapat berupa bacaan, slide presentasi, audio, atau video. Setelah itu baru menyelesaikan tugas bersama-sama dengan memadukan pengetahuan tiap anggota kelompok terhadap suatu materi.

Delapan Keuntungan jadi Anak Rumahan

Delapan Keuntungan jadi Anak Rumahan

Orang yang sering keluar rumah untuk berkegiatan dan beraktivitas dianggap orang yang punya banyak teman dan relasi. Kalau teman dan relasinya sedikit mana mungkin tiap hari ada saja kegiatannya di luar rumah.

Sebaliknya, orang yang lebih sering di rumah kuper (kurang pergaulan) dan tertutup karena tidak punya teman untuk diajak berkegiatan diluar rumah.

Bagi orang yang sering keluar rumah, entah untuk berkegiatan, ngopi-ngopi, mengerjakan tugas kuliah dan kantor, atau sekadar arisan,  jadi anak rumahan adalah sesuatu  yang membosankan dan tidak akan mereka lakukan kalau tidak terpaksa.

Alasan Orang Sering Keluar Rumah

 

1. Jadi aktivis sosial. Aktivis sosial termasuk didalamnya karang taruna, PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), Dasawisma (dawis), kelompok senam, dan perkumpulan kajian agama.

Apa beda PKK dengan Dawis? Dasawisma adalah sekelompok anggota PKK yang terdiri dari 1 ibu-ibu yang berada dalam satu RT. Dawis bisa juga dibilang sebagai kelompok terkecill dari PKK.

Kalau seseorang senang melakukan kegiatan sosial dia akan senang hati melakukan apa yang dibutuhkan masyarakat di sekitarnya. Walau tidak dibayar dan lebih sering nombok, beraktivitas sosial dapat membuatnya bahagia.

2. Rumah sepi dan tidak ada fasilitas. Biasa dialami oleh ibu rumah tangga yang suaminya kerja kantoran dan anak-anaknya sekolah dan kuliah sampai sore.

Supaya tidak gabut dan beogong sendirian, mereka biasanya shopping, saling berkunjung ke rumah teman, ikut arisan, atau sekadar ngebakso bareng sembari menunggu jadwal menjemput anak.

Anak-anak muda yang rumahnya sepi juga lebih sering keluar rumah. Apalagi kalau dirumahnya tidak ada fasilitas hiburan seperti internet, alat musik, konsol game, perlengkapan hobi, atau hewan peliharaan, jadinya mereka lebih pilih keluar rumah.

3. Rumah sempit dan ramai. Sering dialami orang yang rumahnya kecil, sempit, berada dalam gang, dan dihuni banyak orang.

Orang dengan kondisi rumah seperti itu cenderung lebih suka berada di luar rumah untuk melepas kesumpekan. Tidak jauh, mereka biasanya duduk-duduk di luar rumah untuk ngobrol dengan tetangga atau nongkrong di warung terdekat.

Menurut Very Well Mind, tinggal di rumah kecil sebenarnya membantu mereduksi stres karena rumah lebih mudah dibersihkan dan tetap rapi yang membuat perasaan jadi tenang. Akan tetapi, kalau rumah kecil itu diisi lebih dari 4 orang, apalagi dihuni bersama mertua dan ipar, maka stres lebih cepat menghampiri.

Jadi rumah kecil ideal dan nyaman bikin tenang kalau dihuni 1-2 orang, tapi kalau dihuni banyak orang malah bikin stres.

4. Keluarga kurang harmonis. Ayah, ibu, dan anak-anak yang jarang bercengkrama dan bercanda bisa dibilang kurang harmonis sebab tidak ada kedekatan di hati satu sama lain.

Bila berkumpul dirumah pun masing-masing ada di dalam kamar atau sibuk melakukan aktivitas sendiri-sendiri. Karena itu suasana rumah jadi kurang nyaman dan penghuninya ingin selalu beraktivitas diluar rumah.

Keluarga kurang harmonis bisa juga terjadi karena orang tua sering bertengkar, dan terlalu memaksakan kehendak dan sering melarang anak.

5. Jenuh bekerja. Ada banyak orang kantoran yang memilih jalan-jalan, nongki bersama teman, atau melakukan kegiatan yang memeras adrenalin ketika mereka libur kerja.

Mereka beranggapan sayang sekali waktu kalau cuma digunakan untuk tidur di hari libur. Bagi mereka me-recharge energi dan kejeuhan adalah dengan melakukan aktivitas kesukaan di luar rumah.

Delapan Keuntungan Jadi Anak Rumahan

 

Seseorang jadi anak rumahan biasanya terjadi atas kemauan dan kesadarannya sendiri. Alasannya bisa karena menikmati kesendirian, ingin meluangkan waktu bersama keluarga, atau terlalu lelah karena selalu punya circle yang toxic.

Anak rumahan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah homebody.

Sebagian besar anak rumahan berkepribadian introversion (kita biasa menyebutnya dengan introvert) dan pastinya anak rumahan berbeda dengan orang yang menghindari dunia luar karena depresi. 

Anak rumahan menyukai aktivitas yang dilakukan didalam rumah. Sedangkan orang stres dan depresi berada di rumah karena takut dan cemas berhadapan dengan orang selain keluarganya.

Berikut keuntungan jadi anak rumahan yang bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan raga.

1. Puas melakukan eksplorasi hobi. Banyak hobi yang bisa dilakukan di rumah dengan modal alakadar seperti memasak, menulis, berkebun, membaca, mengutak-atik elektronik, berolahraga, bahkan membersihkan rumah juga termasuk hobi, lho!

Eksplorasi hobi yang kita lakukan bisa membuat kita jadi menguasai bidang tersebut. Nantinya hobi itu bisa jadi uang atau membuat kita jadi ahli yang mana keahlian itu akan dibutuhkan banyak orang.

Connect Health mengungkap bahwa melakukan hobi dapat membuat kita bahagia yang baik bagi kesehatan memtal.

2. Bisa menerapkan gaya hidup sehat. Saat berada di rumah kita bisa memasak resep baru atau mencoba resep buatan sendiri dengan bahan sederhana yang sehat tanpa vetsin, makanan kaleng. atau yang berpengawet.

Tidur yang cukup juga bisa kita terapkan saat berada di rumah untuk menjaga kesehatan.

3. Terhindar dari penuaan dini akibat paparan sinar matahari dan kosmetik. 

Walau keluar rumah mengendarai mobil yang kacanya sudah anti-UV, tapi kita masih bisa terpapar saat keluar dari parkiran atau saat matahari sedang terik-teriknya menembus kaca film mobil dan mengenai kulit kita.

4. Menghemat bahan bakar dan mengurangi polusi udara. Kendaraan yang dipakai orang Indonesia masihlah yang berbahan bakar bensin yang dibuat dari fosil dinosaurus.

Bahan bakar dari fosil merupakan energi tidak terbarukan dan bisa habis dengan cepat bila semua orang boros memakainya. Dengan jadi anak rumahan, kita bisa menghemat bensin.

Pun kita tidak ikut-ikutan bikin polusi dari ojek, taksi, motor, dan mobil pribadi yang kita pakai untuk keluar rumah.

5. Terhindar dari keinginan mengikuti segala tren yang sedang viral atau dikenal dengan istilah fear of missing out (FOMO).

Related:  FOMO dan JOMO Ketakutan dan Kegembiraan Atas Keterlibatan Tren Sosial

Seringkali orang yang terjebak FOMO menghabiskan waktu dan uang dengan percuma karena tidak ingin dikatakan kudet (kurang update). Anak rumahan tidak ambil pusing pada apa yang sedang tren dan viral sebab hal itu belum tentu bikin mereka bahagia.

6. Menghemat pengeluaran karena tidak perlu ngopi cantik di kafe, ngebakso, atau nongki di  mall bersama teman-teman yang bisa bikin boros.

Ada juga, sih, anak rumahan yang sering pesan GoFood dan GrabFood dibanding masak sendiri, tapi itu biasanya anak rumahan jadi-jadian atau yang sedang capek kemana-mana. Anak rumahan yang asli lebih suka memasak daripada pesan makanan.

Kalau mau sering pesan juga tidak apa-apa, yang penting pengeluaran harus selalu lebih kecil dari pemasukan. Jangan tergoda PayLater atau pinjol karena itu sama saja berutang pada rentenir.

7. Suka menerima dan menjamu tamu. Menjadi anak rumahan bukan berarti anti-sosial. Kebanyakan anak rumahan lebih senang dikunjungi daripada mengunjungi orang lain.

Anak rumahan akan senang hati mengajak orang main ke rumahnya dan menjamu mereka sebaik mungkin.

8. Menghargai hal kecil yang dilakukan orang lain. Anak rumahan sering memberi apresiasi kepada hal positif yang dilakukan orang lain seperti tersenyum pada penyapu jalan, memuji anak yang sopan, memborong dagangan penjual lampu merah, atau memberi sedekah secara spontan.

Semuanya terjadi karena anak rumahan tidak sering berada di tengah orang banyak sehingga terbiasa menghargai orang dan memperhatikan tiap detail yang menarik perhatiannya atau yang terlintas di depan matanya.

Ada orang yang tadinya senang beraktivitas di luar rumah kemudian jadi anak rumahan. Ada juga yang tadinya anak rumahan sekarang jadi gampang bosan di rumah dan lebih suka bepergian. 

Jadi tidak selamanya seseorang jadi anak rumahan terus dan tidak selalu orang yang suka keluyuran tidak bisa jadi anak rumahan. Semua tergantung kondisi orang dan keluarga yang bersangkutan.