Penyebab Utama Orang Malas Baca Blog: Iklan Gila-gilaan

Penyebab Utama Orang Malas Baca Blog: Iklan Gila-gilaan

Orang malas baca blog tidak melulu karena rendahnya minat baca. Penempatan iklan yang gila-gilaan dan ada di tiap paragraf jadi penyebab utama orang malas baca blog.

Sudah iklannya menutupi artikel, tiap kali kita klik muncul iklan pop-up. Sudah muncul pop-up kita dibawa lagi ke situs  lain. Alhasil niat mau baca info di blog kita malah nyasar kemana-mana. Sangat mengganggu dan menghabiskan waktu, menghabiskan kuota juga.

Maka kita kemudian memasang adblocker. Para pembaca memasang adblocker bukan untuk menghalangi blogger mencari  uang yang didapat dari iklan, tapi demi kenyamanan membaca karena mereka benar-benar butuh info dan hiburan yang ada di blog itu.

Tidak kurang akal untuk menghalau adblocker, para blogger kemudian minta pengunjung mematikan adblocker dengan alasan, "Blog dibuat pake waktu dan tenaga, jadi biarkan kami menyuguhi iklan segunung.supaya kami dapat penghasilan." Kasarnya begitu, ya.

Jadinya seperti makan simalakama, deh.

Pengunjung blog yang memakai adblocker terbebas dari iklan yang mengganggu, tapi blogger jadi minim penghasilan karena iklannya tidak tayang di layar pengunjung tersebut. Akan tetapi, kalau blogger pakai script anti-adblock, pengunjung bisa saja membatalkan kunjungannya ke blog tersebut dan mencari blog lain yang iklannya dapat ditolerir.

Masa Jaya Blog dan Blogger


Blogger disebut juga dengan narablog atau diserap kedalam bahasa Indonesia jadi bloger, mengalami masa kejayaan sebelum adanya medsos, yaitu tahun 2005-2015. Di masa itu sudah ada medsos seperti Friendster, MySpace, dan Facebook. Twitter juga sudah ada. Namun medsos waktu itu belum jadi gaya hidup dan baru sedikit orang yang jadi seleb medsos dan influencer.

Di masa jayanya, orang yang punya blog rasanya keren banget. Sama kerennya dengan punya puluhan ribu follower di masa sekarang dan dapat duit dengan meng-endorse produk dan jasa,

Kini masa jaya blog sudah lewat. Orang sudah banyak yang meninggalkan blog dan kalaupun ingin ngeblog, mereka pilih blog publik daripada bikin blog sendiri yang memeras waktu, tenaga, dan biaya.

Related: Beda Content Writer dan Blogger yang Tidak Sama dengan Wartawan

Blog publik seperti Kompasiana, IDN Times, Terminal Mojok, Seword dan lainnya memberi bayaran pada para penulis konten yang mencapai syarat tertentu. Inilah yang jadi daya tarik orang menulis di blog publik selain dari kepraktisannya.

Maka wajar saja kalau menurut konsultan marketing ConvertKit orang yang masih melakoni profesi sebagai blogger adalah mereka yang berusia 35-44 tahun. Mereka sudah tahu apa itu blog dan bisa membedakannya dengan situs berita, forum, medsos, dan sumber informasi lain yang ada di internet.

Penempatan Iklan 

 

Makin banyak blogger memasang iklan, secara hitung-hitungan kasar makin besar pula penghasilannya karena probabilitas orang akan mengklik iklan-baik sengaja atau tidak-juga lebih besar.

Namun faktanya makin banyak iklan yang tidak tayang karena pengunjung menggunakan adblocker. Selain itu orang sudah malas baca blog karena sudah ada medsos yang lebih menghibur sekaligus memberikan informasi hanya yang mereka butuhkan. 

Itu sebabnya banyak perusahaan kemudian mengalihkan belanja iklan mereka dari TV, radio, dan internet ke media sosial. Bayaran blogger dari per klik iklan makin sedikit yang mengakibatkan mereka makin gila-gilaan menaruh iklan di setiap sudut konten. 

Kalau blognya tidak berisi informasi khusus mengenai hal spesifik yang dicari banyak orang (niche), saya pikir blogger tidak perlu menempatkan iklan secara berlebihan dan serampangan. Paling penting adalah kontennya, baru kemudian iklannya. 

Para pembuat algoritma Google juga makin sadar bahwa konten/artikel yang ada dalam blog adalah yang utama. Makanya mereka selalu memperbarui algoritma untuk mencari blog mana yang punya konten berkualitas yang layak tampil di halaman pertama mesin pencari Google.

Full-Time Blogger

 

Profesi sebagai full-time blogger atau narablog penuh-waktu masih dilakoni sebagian kecil orang, Full-time blogger menghabiskan waktu 3-6 jam sehari untuk mengelola blog mereka, entah itu menulis, memeriksa tautan, komentar, dan analitik, mengerjakan kerja sama penulisan artikel, mengecek penempatan iklan, dan lain sebagainya.

Sebetulnya tidak harus 3-6 jam per hari. Blogger yang blognya sudah mapan dalam artian domain authority dan page authority-nya sudah diatas 15 biasanya cuma perlu menulis satu artikel tiap hari (one day one article) untuk menjaga robon mesin pencari aktif merambat di blog mereka. 

Kemudian tidak sedikit full-time blogger yang mengelola 3-4 blog dalam satu waktu untuk memaksimalkan penghasilan dari penempatan iklan. Penghasilan mereka per bulannya ada di angka Rp5 jutaan. Kalau trafik blog sedang turun mereka masih bisa mengantungi Rp2-3 juta per bulan. Penghasilan segitu itu sudah cukup membuat mereka disebut sebagai full-time blogger.

Untuk menambah penghasilan para blogger juga biasanya rajin ikut lomba menulis atau writing competition yang diselenggarakan kementerian atau perusahaan swasta.

Blogger dan Medsos


Di era medsos ini idealnya seorang blogger bukan cuma menulis, dia juga harus meng-update postingan mereka di media sosial dalam bentuk video, podcast, atau ilustrasi yang dibuat sesuai kesukaan pengguna medsos. 

Jadi selain menulis blogger juga harus kreatif di medsos supaya menarik minat orang datang ke situs blognya. Bisa juga dia jadi blogger sekaligus influencer.

Namun sulit bagi blogger untuk aktif menulis di sekaligus jadi influencer yang membuat konten medsos. Sebab membuat artikel/konten di blog saja butuh waktu tidak sebentar apalagi ditambah dengan konten di medsos. Karena itu mereka biasanya hanya melakukan mirroring konten di blog ke akun media sosial.

Mirroring dalam konteks medsos artinya meneruskan tautan (link) yang disertai miniatur halaman (thumbnail) dari blog ke akun medsos blogger atau ke akun medsos mana saja.

***

Walau sudah tenggelam dimakan aneka platform media sosial, keberadaan blog masih relevan selama masih ada orang yang suka menulis dan senang membaca. Apalagi blogger relatif tidak penuh hiruk-pikuk seperti medsos.

Membaca blog selain menambah pengetahuan dan menikmati beragam bacaan menghibur, juga bisa menambah wawasan yang berbeda dari yang ada di medsos.



Asal-usul Istilah Deadline dan Dateline dari Beragam Konteks

Asal-usul Istilah Deadline dan Dateline dari Beragam Konteks

Deadline dengan dateline bila diucapkan oleh lidah orang Indonesia memang sekilas tidak ada bedanya. Makanya banyak yang kemudian menulis dateline padahal yang dimaksud adalah deadline.

Dateline dapat diucapkan oleh lidah Indonesia dengan pengucapan: detlayn. Sedangkan deadline bisa diucapkan simpel dengan menyebut: dedlayn.

Dateline (Garis/Baris Tanggal)

 

Dateline artinya garis tanggal atau baris tanggal. Biasanya ada di surat kabar atau media berita online. Letaknya di kiri atas untuk memberitahukan lokasi berita tersebut berasal dan waktu terjadinya.

Bagian kiri atas yang dilingkari disebut dengan dateline

Kamus Merriam-Webster mengartikan dateline sebagai a line in a written document or a printed publication giving the date and place of composition or issue (sebuah baris dalam dokumen tertulis atau publikasi cetak yang menyebutkan tanggal dan tempat penulisan atau penerbitan).

Bisa juga kita pakai istilah dateline untuk merujuk pada konteks membicarakan tanggal kapan suatu publikasi dibuat. Misalnya saat kita mengerjakan majalah dinding atau  buletin kegiatan, tanggal yang tercantum pada sebelah kiri atas majalah dinding dan buletin itulah yang juga disebut dengan dateline.

Bagian kiri atas yang dilingkari disebut dengan dateline

Dateline juga bisa ditulis terpisah yang terdiri dari dua suku kata, yaitu date line, tapi umumnya media menulisnya dengan dateline dengan satu suku kata.

Darimana istilah dateline berasal dan bagaimana istilah dateline muncul? 

Tradisi garis tanggal dimulai pada masa awal pemberitaan surat kabar, yang disebut juga dengan media cetak, sebelum ada telegraf dan telepon. 

Istilah dateline muncul karena adanya selang/jeda/jarak/rentang waktu dari saat wartawan meliput suatu kejadian sampai saat berita tentang kejadian itu muncul di surat kabar. Pembaca tidak kesulitan mengetahui kapan dan di mana berita tersebut terjadi karena ada dateline yang memberitahukan tanggal dan tempat kejadian.

Deadline (Tenggat Waktu atau Batas Waktu)

 

Sesuai arti deadline yaitu tenggat waktu atau batas waktu, maka makna deadline berhubungan dengan batas akhir suatu pekerjaan harus selesai.

Misal, "Deadline tugas kelompok paling lambat Jumat pekan ini harus dikumpul." atau "Deadline masih dua hari lagi, tapi saya sudah selesai mengerjakan laporan keuangan untuk bos."

Menurut Oxford Languages deadline artinya the latest time or date by which should be completed (waktu atau tanggal terakhir yang harus diselesaikan). Sedangkan menurut Merriam-Webster deadline bermakna:

  1. A line drawn within or around a prison that a prisoner passes at the risk of being shot (garis yang ditarik di dalam atau di sekitar penjara yang dilewati oleh seorang tahanan dengan risiko ditembak).
  2. A date or time before which something must be done (tanggal atau waktu sebelum sesuatu harus dilakukan).
  3. The time after which copy is not accepted for a particular issue of a publication (waktu setelah salinan tidak diterima untuk terbitan tertentu dari suatu terbitan).

Darimana istilah deadline berasal? 

Istilah deadline tidak diketahui asal-usulnya, tapi penggunaan kata deadline awalnya mengacu pada garis yang tidak bergerak yang sering dipakai dalam konteks masa perang saudara di Amerika Serikat.

Kemudian deadline digunakan untuk menyebut garis yang tidak boleh dilewati oleh para narapidana di dalam penjara. Lambat laun istilah deadline digunakan oleh para wartawan surat kabar untuk menyelesaikan berita sebelum batas waktu akhir naik cetak.

sumber: Tipsmake.com

Kini istilah deadline digunakan untuk beragam kepentingan yang juga dapat berarti luas sebagai batas waktu paling akhir untuk menyelesaikan atau mengumpulkan sesuatu.

Banyak orang yang masih keliru menggunakan istilah deadline dengan dateline karena pengucapannya serupa jadi dianggap sama. Walau ada kesamaan dalam konteks surat kabar dan pemberitaan, makna deadline dan dateline sebenarnya berbeda.

Dateline dan deadline tidak ditemukan dalam KBBI karena merupakan kata asing. Jadi kalau mau menggunakan bahasa Indonesia, gunakan saja kata "baris waktu" dan "tenggat waktu" alih-alih dateline dan deadline.

Penulis Artikel yang Menerapkan Ejaan yang Disempurnakan

Penulis Artikel yang Menerapkan Ejaan yang Disempurnakan

Internet telah membuat semua orang bisa jadi penulis. Tinggal ketik apa saja yang ada dalam pikiran lalu terbitkan dalam blog pribadi atau blog publik. Kalau mau menulis yang lebih singkat juga ada Facebook dan Twitter. Menulis sudah semudah membuat membuat pisang goreng.

Tulisan para penulis konten di internet punya jangkauan sangat luas karena internet bisa diakses dari belahan dunia mana pun tanpa terkendala bahasa dengan adanya Google Translate. 

Dengan jangkauannya yang luas itulah para penulis konten bisa berperan besar menjaga bahasa Indonesia sesuai kaidahnya, atau jadi bahasa campur-campur seperti Singlish (Singapore English), Indian English atau Melayu English yang muncul karena masyarakatnya terbiasa melakukan percampuran bahasa aslinya dengan bahasa Inggris dan bahasa percakapan sehari-hari.

Kenapa Harus Melestarikan Bahasa Indonesia? 


Tidak ada yang salah dengan bahasa ibu bercampur Inggris yang menjadi Singlish, Indian English, atau Melayu Inggris karena bahasa berkembang sesuai zaman masyarakatnya. Hanya saja bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang mempersatukan orang Indonesia yang punya ratusan bahasa daerah.

Maka penting bagi kita melestarikan bahasa Indonesia yang tidak seperti Singlish supaya tetap jadi bahasa persatuan yang dimengerti oleh seluruh rakyat Indonesia yang berbhineka tunggal ika.

Salah satu bagian paling besar yang berperan melestarikan bahasa Indonesia selain penulis buku fiksi dan nonfiksi adalah para blogger dan content writer (penulis konten atau dikenal juga dengan penulis artikel).

Related: Beda Blogger, Content Writer, dan Wartawan

Mereka menulis hampir setiap hari dan ada yang mencari nafkah dari menulis. Itu sebabnya tidak sulit, sebenarnya, kalau mereka mau menerapkan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) pada setiap artikel yang ditulisnya.

Penulis Amatir

 

Menurut KBBI amatir artinya kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk memperoleh nafkah, misalnya orang yang bermain musik, melukis, menari, bermain tinju, sepak bola sebagai kesenangan.

KBBI resmi dari kemdikbudristek dapat diakses di kbbi.kemdikbud.go.id

Bila merujuk pada KBBI semua penulis di blog pribadi, blog publik, dan kolom media massa yang bertujuan untuk kesenangan dan tidak mencari uang disebut sebagai penulis amatir. 

Walau amatir dan hanya untuk senang-senang, hasil tulisan para penulis itu terbuka dan bisa dibaca orang di seluruh dunia. Makanya kalau menulis dengan EYD dan tulisan itu dibaca orang, secara tidak langsung mereka akan dilihat sebagai penulis ulung.

Penulis ulung membuat tulisan yang mudah dipahami sekaligus menggunakan EYD untuk membuat artikel jadi enak dibaca karena tertara sesuai kaidah bahasa.

Penulis Profesional

 

Yamg termasuk penulis profesional adalah mereka yang terbiasa menulis dan selalu menerapkan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) pada setiap artikelnya.

Entah itu wartawan, cerpenis, novelis, content writer (penulis konten), ghostwriter, atau blogger (disebut juga narablog) yang terbiasa menulis dengan EYD.

Akademisi dan praktisi yang menulis topik sesuai bidang kerja dan keahliannya juga saya sebut sebagai penulis profesional asal mereka selalu menulis dengan EYD, walau tujuan mereka menulis tidak untuk mencari nafkah.

Arti kata profesional dalam KBBI: bersangkutan dengan profesi, atau memerlukan keahlian khusus untuk menjalankannya.

Tangkapan layar kbbi.kemdikbud.go.id

EYD memandu kita menulis sesuai dengan kaidah bahasa supaya tulisan lebih enak dibaca sekaligus memisahkan mana kata baku, kata asing, dan kata dalam percakapan sehari-hari (bahasa gaul). Menerapkan EYD dalam artikel yang kita secara langsung berarti kita juga melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Jadi saya mendeskripsikan bahwa penulis profesional adalah mereka yang sudah menerapkan EYD dalam setiap artikel yang ditulisnya, apapun pekerjaan dan latar belakang keilmuannya.

Itu artinya seseorang sudah mengerti penempatan tanda baca, huruf kapital, huruf miring, akronim, singkatan, dan lain sebagainya dan menerapkannya langsung pada artikel yang ditulisnya.

Ciri lain seseorang bisa disebut sebagai penulis profesional, terutama di internet, adalah:

1. Tidak malas mencari referensi penulisan dari KBBI dan EYD (bisa dibuka di ejaan.kemdikbud.go.id

2. Menulis tidak cuma berdasarkan pendapatnya, melainkan didukung oleh data penguat dari sumber terpercaya seperti jurnal, keterangan ahli, atau artikel berita dari media massa.

3. Bisa memadukan gaya SEO dengan EYD tanpa mengurangi kenyamanan dan kemudahan pembaca memahami isi artikel.

Bahasa Internet dan Bahasa Indonesia

 

Blogger dan penulis konten sering menulis sesuai dengan SEO untuk keperluan artikel mereka muncul di mesin pencari Google.

Dari sekian banyak mesin pencari baru Google yang digunakan kebanyakan orang di dunia untuk mencari informasi. Maka berada di halaman pertama mesin pencari amat didambakan para penulis artikel.

Karena itu mereka lebih memilih menulis menggunakan gaya SEO (search engine optimization) untuk dapat berada di halaman pertama Google.

Contoh penulisan judul gaya SEO: 5 Cara Jadi Orang Kaya.
Penulisan sesuai EYD: Lima Cara Jadi Orang Kaya.
 
Gaya penulisan SEO juga cenderung mengulang kalimat atau frasa supaya cepat terdeteksi robot Google. Inilah yang membuat artikel SEO kadang tidak enak dibaca. Alih-alih dapat pengetahuan dan informasi, kita malah bingung.
 
Perbedaan penulisan gaya EYD dengan SEO Juga bisa kita temukan di media yang punya cabang online misal Kompas. Gaya bahasa di kompas.id cenderung lebih formal dan mengedepankan EYD dibanding kompas.com yang internet banget.

Tips Buat Penulis Pemula


Semua penulis profesional berawal dari pemula. Jadi jangan ragu menulis kalau kamu suka  menulis. Tulis apa saja yang ada di kepala dan tidak usah mikirin EYD.
 
EYD dan KBBI dijadikan referensi kalau kalau kamu mau beralih jadi penulis profesional, blogger, atau ingin rutin jadi penulis konten di blog publik seperti Kompasiana, IDN Times, Terminal Mojok, atau Medium.
 

Kalau kamu penulis fiksi seperti puisi dan cerpen yang paling dulu dipelajari adalah penempatan tanda baca.


Saya sering menemukan penulis puisi dan cerpen yang menulis tanda kutip terbalik seperti: 
"Dia bergegas pergi ke sekolah karena sudah terlambat".
 
Penulisan yang benar mestinya seperti ini:
"Dia bergegas pergi ke sekolah karena sudah terlambat."
Tanda titik dan koma selalu ditulis lebih dulu daripada tanda kutip.

Penulis fiksi pemula harus lebih dulu belajar EYD dan KBBI daripada penulis nonfiksi karena mereka menggunakan banyak sekali tanda baca untuk menguatkan cerita.

Tapi yang paling penting jangan takut menulis, soal EYD bisa dipelajari belakangan. Menulis saja dulu.
Macam-macam Kata Ulang dan Penggunaannya

Macam-macam Kata Ulang dan Penggunaannya

Kata ulang adalah kata yang terjadi sebagai hasil reduplikasi (pengulangan) kata dasar atau unsur kata dasar.  


Jenis-jenis kata ulang ada tiga, yaitu kata ulang berdasarkan bentuknya, kata ulang berimbuhan, dan kata ulang yang mengubah makna. Kata ulang ini kemudian memiliki beberapa jenis yang mempengaruhi bentuk dan makna dari suatu kata, baik kata untuk menyebut benda, definisi suatu benda, definisi suatu hal, dan lain sebagainya. 

Berikut pembagian dari tiga jenis kata ulang yang kita ketahui.

1. Kata Ulang Berdasarkan Bentuk

 

Jenis kata ulang berdasarkan bentuk terbagi atas bentuk seperti dibawah ini.

1. Kata ulang penuh atau kata ulang murni (dwilingga), yaitu kata ulang yang dihasilkan oleh perulangan unsur-unsurnya secara penuh. Misalnya: rumah-rumah, guru-guru, sekolah-sekolah, dan hutan-hutan.

2. Kata ulang berubah bunyi (dwilingga salin suara), yaitu kata ulang yang mengalami perubahan bunyi pada unsur pertama atau unsur kedua kata ulang. Misalnya: utak-atik, serba-serbi, gotong-royong, dan bolak-balik.

Related: Padanan Kata Inggris ke Indonesia yang Sering Digunakan di Internet dan Medsos

3. Kata ulang tiga kata (trilingga) merupakan kata ulang yang terdiri dari tiga kata dan umumnya berubah bentuk atau bunyi. Misalnya kata dag-dig-dug, dar-der-dor, cas-cis-cus, srak-srek-srok, dan lain sebagainya. 

4. Kata ulang sebagian (dwipurwa), artinya kata ulang yang berasal dari komponen yang semula diulang kemudian berubah menjadi sepatah kata dengan bentuk seperti itu. Contohnya: rerumputan, dedaunan, bebatuan, dan kehijauan.

5. Kata ulang yang kata keduanya berubah bentuk (dwiwasana). Misalnya: pertama-tama, sekali-kali, berkali-kali, dan selama-lamanya.

2. Kata Ulang Berimbuhan (Kata Ulang Bersambungan)

 

Kata ulang berimbuhan adalah bentuk ulang yang bisa terbentuk disertai proses penambahan imbuhan, disebut juga afiksasi. Dilihat dari rangkaian penyusunannya, kata ulang berimbuhan memiliki tiga jenis, yaitu: 

1. Kata ulang progresif. Pengulangan progresif adalah pengulangan bentuk dasar kearah kanan. Misalnya: dorong-dorongan, tarik-tarikan, dan pukul-pukulan. 

2. Kata ulang regresif adalah bentuk ulang yang dapat langsung terlihat atau tampak kata dasarnya. Contoh: desak- mendesak, pukul-memukul, tahan-menahan, tolong- menolong, dan sebagainya.

3. Kata ulang semu merupakan kata ulang keseluruhan dan tidak dapat dipisahkan sehingga saat ada kata tersebut maka dijamin bentuknya berupa kata ulang. Misalnya: kupu-kupu, pura-pura, dan laba-laba.

3. Kata Ulang yang Mengubah Makna 

 

Kata ulang -ang yang sifatnya bisa mengubah ataupun membentuk suatu makna. Jenis ini kemudian terbagi lagi menjadi beberapa, yaitu: 

1. Kata ulang mirip atau memiliki makna yang sama, misalnya kata kemerah-merahan dan kekuning-kuningan. 

2. Kata ulang yang memiliki makna saling, misalnya kata tolong-menolong dan tukar-menukar. 

3. Kata ulang yang memiliki makna intensitas, misalnya kata bertahun-tahun, berkali-kali, dan lain sebagainya. 

4. Kata ulang yang memiliki makna jamak atau menyebutkan banyak benda. Misalnya kata mobil–mobil, buah-buahan, dan lain sebagainya.

Kata Ulang Unik

 

Kata ulang unik adalah kata uang yang tidak memiliki pola tertentu. Contohnya: hilir-mudik, senda-gurau, simpang-siur, dan susah-payah. Kedua bentuk kata pengulangannya sangat berbeda dengan bentuk dari kata dasar. 

Penulisan Kata Ulang Sapaan


Penulisan kata ulang sapaan dalam Ejaan yang Disempurnaka (EYD) versi kelima atau EYD V yang berubah dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) adalah semua memakai huruf kapital. Contoh: 

  1. Selamat pagi, Anak-Anak.
  2. Apa kabar, Teman-Teman.
  3. Terima kasih atas partisipasinya, Bapak-Bapak.


Padanan Kata Inggris ke Indonesia dari Medsos, Internet, dan Multimedia

Padanan Kata Inggris ke Indonesia dari Medsos, Internet, dan Multimedia

Memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan tulisan dan lisan sehari-hari bukan berarti kita tidak menguasai bahasa asing. Presiden Jokowi menguasai bahasa Inggris tapi beliau memlih menggunakan bahasa Indonesia dalam pidato resmi acara kenegaraan di luar negeri. 

Selain karena sudah diamanatkan dalam UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, juga karena sudah ada Perpres Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara. 

Lalu Perpres itu disempurnakan oleh Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia. 

Related: Beda Content Writer dan Blogger yang Tidak Sama dengan Wartawan

Buat kamu yang belum tahu padanan kata asing yang sering kita dengar sehari-hari seperti chatting, browser, atau outbound, emperbaca.com menyusunnya seperti dibawah ini. Makna dari padanan kata ini dibuat seusai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) versi resmi Kemdikbudristek,

1. Outbound, padanan katanya: mancakrida yang artinya pelatihan yang memanfaatkan alam terbuka sebagai media, biasanya berbentuk permainan yang bertujuan untuk mengembangkan karakter diri dan meningkatkan kerja sama antarpeserta.

2. Outing dalam bahasa Indonesia berarti darmawisata. Maknanya yaitu perjalanan atau kunjungan singkat dengan tujuan bersenang-senang dan sebagainya.

Outing atau darmawisata bisa juga bermakna perjalanan yang dilakukan untuk tujuan rekreasi sambil mengenal baik objek wisata dan lingkungannya.

Related: Beda Outing Class, Outbound, dan Piknik Pada Anak Sekolah

3. Startup artinya perusahaan rintisan yang punya makna perusahaan yang baru dijalankan, biasanya memiliki sumber daya dan keuntungan terbatas, dapat dicirikan melalui penjualan produk atau layanan yang belum ada di pasar dengan dukungan teknologi.

4. Browser, padanan katanya: peramban yang artinya perangkat lunak komputer untuk mencari informasi dalam situs internet.

5. Online, padanan katanya: dalam jaringan (daring) yang berarti terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya.

6. Offline berarti luar jaringan/luring yang punya makna terputus dari jejaring komputer.

7. Download dalam bahasa Indonesia artinya unduh, mengunduh, terunduh, dan unduhan yang diambil dari bahasa Jawa. Kata unduh termasuk prakategorial, yaitu kata yang tidak dipakai dalam bentuk dasarnya.

8. Upload, artinya unggah atau menggunggah. Sama seperti unduh, kata ini diambil dari bahasa Jawa.

9. Briefing padanan katanya taklimat yang berarti pertemuan atau rapat yang diadakan untuk menyampaikan informasi tentang isu atau situasi mutakhir. Taklimat diambil dari bahasa Arab yang punya makna pemberitahuan.

10. Awkward, bahasa Inggris yang artinya canggung. Dalam KBBI canggung punya enam makna, yaitu:

  1. Kurang mahir atau tidak terampil dalam menggunakan sesuatu (karena belum biasa mengerjakannya); kikuk; kekok.
  2. Kurang enak dipakai; tidak mudah digunakan.
  3. Merasa tidak senang (tidak bebas); malu-malu (karena belum biasa bergaul, belum mengerti adat kebiasaan yang berlaku).
  4. Kaku (dalam arti kurang mengerti basa-basi, adat sopan santun).
  5. Kurang baik (buatannya, susunannya); agak janggal (tidak semestinya, tidak pada tempatnya)
  6. Dalam keadaan kekurangan (tentang kehidupan, kepandaian, dan sebagainya.

11. Game show kalau diartikan ke bahasa Indonesia jadi candawara, diambil dari bahasa Melayu Malaysia yang bermakna acara televisi berbentuk permainan yang dipertandingkan untuk mendapatkan hadiah.

12. Podcast, padanan katanya: siniar. Dalam bahasa Indonesia siniar bermaksa siaran (berita, musik, dan sebagainya) yang dibuat dalam format digital (baik audio maupun video) yang diunduh melalui internet.

13. AFK singkatan dari away from keyboard yang artinya pamit atau berhenti dari suatu aktivitas di dunia maya, seperti bermain gim atau melakukan obrolan daring. AFK sudah ada di KBBI sejak pemutakhiran April 2023.

14. Chatting dalam bahasa Indonesia artinya obrolan yang bermakna percakapan ringan dan santai; omong kosong.

15. Preorder padanan dalam bahasa Indonesia: prapesan. Kata prapesan belum ada di KBBI dan istilah ini berasal dari Ivan Lanin yang seorang pegiat bahasa Indonesia dan mantan anggota Badan Bahasa Kemdikbudristek.

16. Presale dapat diartikan sebagai prajual atau prapenjualan. Sama seperti prapesan, istilah prajual juga berasal dari Ivan Lanin dan belum ada di KBBI. 

Dalam bisnis, prajual berarti proses yang terjadi sebelum penjualan produk atau layanan. Tujuannya memberikan informasi pada calon pembeli/pelanggan untuk memahami dan menghargai nilai dari produk atau suatu layanan bisnis.

***

Bahasa Indonesia terbentuk karena pengaruh dari bahasa Arab, Jawa, Melayu, Portugis, Inggris, Belanda, dan beberapa bahasa lain yang diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata-kata baru.

Kalau dulu bahasa Indonesia sangat mirip dan identik dengan bahasa Melayu Malaysia (karena berasal dari rumpun yang sama), sekarang tidak lagi. Dari logat, kosakata, dan penyerapan, bahasa Indonesia sudah banyak berbeda dari bahasa Malaysia.

Orang Malaysia pun kini lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, terutama di perkotaan.

Hal sama terjadi juga di Amerika Serikat di mana bahasa Inggrisnya sudah berbeda dengan bahasa Inggris asalnya.

Makanya bukan cuma bahasa Indonesia yang sering mengalami perubahan. Bahasa bangsa lain pun sama. Itu karena semua bahasa di dunia saling mempengaruhi seiring dengan makin luasnya interaksi antar-manusia dari lintas negara.

Cara Mudah Menulis Novel Dimulai dari Tokoh Utamanya

Cara Mudah Menulis Novel Dimulai dari Tokoh Utamanya

Suka banget nulis dan rajin bikin cerpen dan puisi? Sekarang saatnya kamu melangkah untuk menulis novel.

emperbaca.com

Ahh, susah! Novel kan panjang banget karena kita harus nulis puluhan bab dengan ratusan halaman. Enggak sesusah itu, Sobat! Karena menulis novel ternyata semudah kamu curhat ke bestie, lho!

Membuat karakter tokoh utama lebih dulu termasuk salah satu cara gampang menulis novel seperti saat kamu ngobrol dengan bestie. Karakter bestie dan kamu bisa digabung jadi karakter si tokoh utama novel. Dari satu tokoh utama kita bisa menciptakan para tokoh pendukung dan mengembangkan alur cerita.

Saat menulis alur cerita biasanya novelis lebih banyak menggunakan imajinasinya baru kemudian menggunakan data pendukung. Data pendukung ini berguna untuk membangun unsur plasibilitas dalam novel. 

Unsur Plausabilitas

 

Walau cerpen dan novel adalah karya fiksi yang mengandalkan imajinasi penulisnya, tapi kejadian yang ada dalam cerita haruslah masuk akal. Inilah yang disebut sebagai unsur plausibilitas, yaitu kejadian yang membentuk adegan apakah sesuai dengan logika kenyataan atau tidak.

Contoh dari unsur plausibilitas ketika kita menulis adegan soal Tono yang mengajak Tini menikmati bubur ayam di depan klenteng di Muntilan pada malam hari. Tono mengajak Tini makan bubur ayam di depan kleteng pada malam hari tidak masuk akal karena bubur ayam bukan makanan favorit orang Magelang, melainkan mi goreng.

Itu sebabnya tidak ada penjual bubur ayam di malam hari (pagi pun jarang), yang banyak adalah penjual mi goreng. Kalau Tono mengajak Tini makan mi goreng di depan klenteng Muntilan, ceritanya jadi masuk akal dan pembaca akan merasakan suasana yang lebih alami mengalir dari kalimat demi kalimat.

Hal itu dimungkinkan karena di dunia nyata mi goreng merupakan makanan favorit orang Muntilan dan kecamatan di Magelang ini sudah tersohor banyak penjual mi goreng khas Jawa yang lezat.

Jadi kalau kita ingin menulis novel yang punya adegan tentang lokasi dan kebiasaan masyarakat di wilayah yang bukan tempat tinggal kita, baiknya lakukan riset data dulu di internet. Lebih valid lagi kalau kita bertanya langsung kepada orang yang tinggal di wilayah yang ingin kita tulis itu.

Unsur plausibilitas juga diperlukan kalau kita menulis adegan jarak. Misal, jarak 150 km dari Jakarta berarti ada di Cianjur, Bogor, Purwakarta, dan Bandung yang ada di Jawa Barat. Itu artinya yang tinggal di lokasi itu adalah orang Sunda. 

Kalau kita menceritakan banyak kebudayaan Jawa di lokasi 150 km dari Jakarta, maka pembaca akan merasakan keganjilan. Kenapa yang diceritakan semua budaya Jawa padahal lokasinya didiami mayoritas orang Sunda.

Kalau kita menjauhkan jarak itu dari 150 km ke 300 km maka cerita dalam novel akan mengalir masuk akal karena 300 km sudah masuk wilayah Jawa Tengah di mana penduduknya menang berbudaya Jawa.

Meski demikian, novel tidak perlu memenuhi unsur plausibilitas kalau genre (jenis cerita) ceritanya 100 persen fantasi.

Contoh novel yang mengandalkan imajinasi, tapi tetap terasa masuk akal adalah Ender's Game.

Novel ini berkisah tentang pertempuran dengan mahkluk dari planet serangga. Lima puluh tahun lalu bumi menang lawan serangan alien serangga ini, tapi situasi belum aman karena sewaktu-waktu alien serangga ini bisa menyerang lagi.

Di dunia nyata mana ada alien yang menyerang bumi. Namun karena sedari paragraf awal di bab awal kita tahu itu novel fantasi, maka pikiran kita akan mengikuti novel itu sebagai novel fantasi yang 100 persen isinya khayalan belaka. Dengan begitu pembaca tidak lagi mempermasalahkan ceritanya masuk akal atau tidak.

Pengembangan Tokoh Utama

 

Sebelum mulai menyusun novel. Buatlah dulu si tokoh utama secara utuh dan lengkap dimulai dari hal berikut.
 
1. Nama. Buat nama si tokoh utama. Boleh dengan nama panjangnya atau nama panggilan saja. Tokoh utama yang cuma punya nama panggilan juga gak masalah, yang penting konsisten di semua bab dia cuma punya nama panggilan saja tanpa nama lengkap.
 
2. Penampilan fisik. Deskripsikan penampilan tokoh utama. Tinggi dan berat badannya, bentuk wajah, model rambut, dan ciri lain yang mau kamu tampilkan di novel.

3. Karakter. Bagaimana karakter si tokoh utama, apa dia pemalu, periang, jenius, pemurung, mudah bergaul, menderita gangguan kecemasan, bipolar, atau apa pun.

Karakter dan sifat apa saja boleh kamu buat untuk tokoh utama asal sifat dan karakter itu tidak kontradiktif di semua bab.

Kontradiktif maksudnya, di bab 1 kamu tulis si Menul periang, tapi di bab 2 kamu tulis si Menul orangnya minder. Lalu di bab 3 kamu bilang Menul pemalu, tapi di bab 4 kamu tulis si Menul galak.

Kalau kamu mau mengisahkan si tokoh utama mengidap gangguan mental yang membuat kepribadiannya berubah-ubah, sifat kontradiktif seperti itu boleh dimasukkan dalam alur di tiap bab. Namun kalau tokohnya normal, buat sifat dan karakter yang konsisten di tiap bab.

4. Latar belakang. Apakah si tokoh berasal dari keluarga bahagia, broken home, atau yatim-piatu.

Ungkapkan juga masa lalu si tokoh kalau dirasa perlu. Bagaimana masa lalu si tokoh kemudian mempengaruhi sifat dan karakternya di masa datang.
 

Tokoh Utama dan Adiksimba

 

Setelah si tokoh terbentuk, lalu kita buat kisah yang menyertai tokoh utama sesuai rumus umum menulis berita dan cerita, yaitu 5W+1H (what, where, why, who, when, dan how). Pada bahasa Indonesia disebut adiksimba (apa, di mana, kenapa, siapa, kapan, bagaimana).

1. Siapa. Dengan siapa saja si tokoh utama bergaul. Tulis nama-namanya. Nama ini tentu saja karangan kamu sendiri.

2. Apa. Apa saja yang dilakukan tokoh utama dengan para tokoh pendukung. Apakah mereka merusuh bersama, tertawa bersama, membuat konspirasi bareng, atau merencanakan apa saja yang sesuai imajinasi kamu.

3. Di mana. Di mana saja tokoh utama bertemu dan berhubungan dengan para tokoh pendukung. Apakah di rumah, di kampus, sekolah, kantor, jalan raya, depan kantor polisi, atau di mana saja.

4. Kapan. Ini mirip seperti di mana. Kamu juga harus menentukan kapan si tokoh utama bertemu dengan para pendukung.

Apakah saat tokoh utama berusia balita, dewasa, remaja, saat sudah tua, kemarin, hari ini, lusa, atau besok dari sudut waktu si tokoh utama.

5. Mengapa. Mengapa tokoh utama bisa akrab, bermusuhan, menjalin cinta, atau sama-sama meraih sukses dengan para tokoh pendukung.

6. Bagaimana. Bagaimana para tokoh pendukung berpengaruh terhadap kesuksesan, kesedihan, keberhasilan, dan kebahagiaan tokoh utama.

***

Itulah cara mudah menulis novel untuk pemula. Jadi gak usah banyak mikir, tulis saja dulu karakternya sesukamu. Setelah itu baru pengembangan cerita dan kisah para tokoh pendukungnya.

Kalau sudah menyusun tokoh utama dan tokoh pendukung, barulah kita membuat alur dan ceritanya. Namun sebelum menulis tentukan dulu kita mau nulis genre apa. Mau genre romansa, horor, petualangan, atau bahkan fantasi.