Kirim Naskah ke Penerbit Mayor, Indie, atau Self-Publishing, Mana Lebih Baik?

Kirim Naskah ke Penerbit Mayor, Indie, atau Self-Publishing, Mana Lebih Baik?

Disebut penerbit mayor (besar) karena selain punya modal besar, mereka punya jaringan dan sistem baku yang mengatur segala hal yang berkaitan dengan penerbitan buku.

Self-published

Niat Membuat Buku


Sebelum mengirim naskah ke penerbit, tanyakan dulu pada diri kita sendiri, apa niat kita membuat buku.

Misal,  niat kita inginnya menginspirasi orang lain agar tidak mudah menyerah dalam menggapai impian. Lalu kita pikir lagi,  supaya orang mau membaca dan terinspirasi, buku itu akan kita bagikan gratis atau orang harus beli?

Kenapa hal gituan aja dipikirin? Yang penting, kan, naskah dan bukunya.

Memikirkan akan dikemanakan buku yang telah kita tulis penting sebagai langkah awal memilih penerbit yang tepat.

Secara umum, ada empat tujuan orang menulis buku.

1. Kenang-kenangan. Menulis buku untuk kenang-kenangan terhadap diri sendiri atau untuk menginspirasi orang lain biasanya dibuat oleh tokoh masyarakat, pemuka agama, atau pemimpin daerah.

Mereka membuat buku untuk menceritakan perjalanan karir atau riwayat hidup yang penuh lika-liku sebelum akhirnya jadi orang sukses.

Kenang-kenangan seperti ini umumnya ditulis dalam bentuk memoar, biografi, dan otobiografi.

Kemudian, bagaimana cara seseorang menginspirasi lewat buku? Apakah buku itu dibagikan gratis supaya orang bisa membaca dan mendapat manfaatnya? Apakah orang harus membeli buku itu, atau bagaimana?

2. Nama dan kebanggaan. Bisa menghasilkan sebuah buku yang ditulis sendiri rasanya sebuah kebanggaan tiada tara. 

Apalagi buku yang kita tulis dipajang di toko buku dan dibeli orang secara suka rela. Rasanya bangga setengah mati.

Buku yang ditulis pendidik atau ASN juga bisa dijadikan nilai tambah untuk kenaikan pangkat dan jabatan.

3. Cari duit. Menulis untuk mendapat uang biasanya dilakukan blogger (narablog) atau penulis yang dalam setahun menghasilkan 2-3 buku.

Tapi blogger tidak menulis buku, melainkan menulis konten untuk blognya yang dimonetisasi. Sedangkan penulis buku yang menulis beberapa buku hanya dalam setahun biasanya karena mata pencaharian utamanya memang dari menulis.

4. Kepuasan batin. Orang dengan niat seperti ini biasanya tidak peduli apakah ada yang membaca bukunya atau tidak.

Yang penting mereka menulis untuk memenuhi hasrat. Orang yang menerbitkan buku untuk kepuasan batin biasanya adalah para penyuka buku yang hobi membaca.

Mereka juga tidak peduli berapa uang yang didapat dari penjualan bukunya karena sudah punya penghasilan lain. Menulis bagi mereka adalah hobi yang memuaskan batin sehingga tidak perlu dikomersialkan.

Penerbit Indie

 

Sesuai namanya, indie adalah kependekan dari independent (mandiri). Disebut independen karena penulis tidak harus mengikuti selera pasar seperti pada penerbit mayor. Juga tidak akan mengalami penyuntingan dan pemangkasan naskah berlebihan, bahkan tidak perlu mengikuti kaidah penulisan PUEBI dan KBBI.

Naskah apa pun boleh kita kirim ke penerbit indie tanpa adanya penolakan seperti yang dilakukan oleh penerbit mayor.

Penerbit indie menetapkan tarif, minimal Rp500.000 sampai jutaan rupiah tergantung kebutuhan penulis. Kalau penulis ingin bukunya dicetak dalam jumlah banyak, maka uang yang harus kita bayar juga besar.

Dengan nominal Rp500.000 biasanya kita akan dapat layanan penyuntingan naskah,  desain tata letak dan sampul buku, nomor ISBN, 1-2 buku yang dikirim ke alamat kita, dan royalti setiap bulan jika ada pembelian dari toko online si penerbit.

Salah satu penerbit indie yang mudah diajak kerja sama adalah Ellunar Publisher.

Self-Publishing

 

Penerbit atau penyedia layanan self-publshing tidak memungut tarif sepeser pun karena penyuntingan naskah, tata letak, dan sampul buku dilakukan oleh penulisnya sendiri, termasuk menjual bukunya. 

Penulis mengusahakan sendiri penerbitan bukunya secara pribadi, itulah yang dinamakan self-publishing.

Bila si penulis ingin dibuatkan sampul (cover) buku dan pengaturan tata letak, penyedia layanan self-publishing akan memberikan tarif terpisah yang sifatnya opsional, termasuk menyediakan layanan ISBN.

Jadi pada dasarnya kalau kita ingin menerbitkan buku sendiri, kita tinggal kirim naskah yang sudah tertata rapi format penulisannya dan desain sampul ke penyedia self-publishing. 

Berapa harga buku yang dijual juga kita sendiri yang menentukan. Laba atau keuntungan kita dapatkan setelah dipotong biaya pencetakan di penerbit self-publishing.

Penyedia layanan self-publishing akan menjual buku kita di toko online milik mereka dan mereka akan mengutip bagi hasil dari laba penjualan buku.

Misal, laba buku Rp9.000, penyedia self-publishing dapat Rp3.000, kita dapat Rp6.000 per buku yang terjual di toko online mereka. Kalau kita menjual langsung tanpa lewat toko online mereka, maka 100 persen laba akan masuk kantong kita sendiri.

Salah satu penyedia layanan self-publishing yang sudah lama ada adalah nulisbuku.com

Keuntungan Bila Buku Diterbitkan di Penerbit Mayor

 

Menerbitkan buku sekarang semudah menggoreng pisang. Siapa saja bisa membuat buku, menerbitkannya sendiri, lalu mempromosikan dan menjualnya sendiri. Buku sudah dilengkapi ISBN pula.

Akan tetapi, mengirim naskah ke penerbit mayor masih jadi pilihan utama banyak orang karena keuntungan yang didapat sebagai berikut.

1. Seluruh biaya ditanggung penerbit. Kita cuma menyediakan naskah saja. Pengaturan tata letak, desain sampul, penyuntingan naskah, dan penyusunan daftar isi diurus oleh penerbit.

Makanya biaya penerbitan mahal karena selain royalti untuk penulis, banyak orang yang harus dibayar untuk melakukan hal teknis selain penulisan naskah.

2. Buku sudah pasti masuk jaringan toko buku. Dibanding menerbitkan buku melalui penerbit indie dan self-publishing, buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor sudah pasti masuk ke jaringan toko buku online dan toko fisik.

Buku kita jadi terdistribusikan ke seluruh Indonesia dan peluang lakunya jadi lebih besar.

3. Tidak perlu ikut jualan buku. Urusan promosi, distribusi, dan penjualan buku semuanya diurus penerbit. 

Kita tidak perlu jualan buku seperti kalau kita menerbitkan pada penerbit indie dan self-publishing. Tetapi kalau mau buku kita lebih laku, kita boleh saja mempromosikan buku itu dan menyarankan pembeliannya di marketplace (lokapasar) atau di toko buku terdekat.

4. Dapat pengakuan sebagai penulis yang menulis buku berkualitas. Nama penulis yang bukunya diterbikan penerbit indie lebih moncer daripada yang menerbitkan di penerbit indie dan self-publishing,

Ini terjadi karena untuk bisa tembus ke penerbit mayor sangat susah. Penulis yang menembus penerbit mayor dianggap punya kualitas naskah yang bagus.

***

Namun perlu diingat bahwa mengirim naskah ke penerbit mayor sangat amat susah untuk penulis pemula. Kalaupun naskah sudah diterima, kita akan mengalami perombakan besar-besaran yang disesuaikan selera penerbit yang mengacu pada selera pasar.

Selanjutnya soal pembagian royalti. Royalti untuk penulis debutan atau yang belum terkenal hanyalah 5 persen dari harga buku. Penulis sekelas Dewi Lestari dan Andrea Hirata pun cuma dapat 10 persen.

Royalti dibayarkan tiap enam bulan sekali jika kita pilih penerbitan naskah dengan sistem royalti. Kalau kita pilih sistem jual putus, penerbit akan membeli naskah kita seharga Rp3juta-Rp5juta.

Hak cipta sistem royalti ada di tangan penulis, sedangkan hak cipta naskah yang dijual putus ada di tangan penerbit. Andai naskah yang kita jual putus ternyata laku keras, maka kita tidak akan dapat duit sepeser pun. Semua masuk kantung penerbit karena hak cipta ada di tangan mereka dengan cara membelinya dari kita.

ISBN

 

Semua buku yang diterbitkan di penerbit mayor dan penerbit indie sudah pasti ada ISBN. ISBN sifatnya opsional kalau kita menerbitkan secara pribadi atau self-publishing.

ISBN (International Standart Book Numbering) adalah kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik. 

Informasi tentang judul buku, penerbit, dan kelompok penerbit terangkum dalam ISBN. Karena itu satu nomor ISBN untuk satu buku akan berbeda dengan nomor ISBN untuk buku yang lain.

Di Indonesia, wewenang untuk memberikan ISBN ada di tangan Perpustakaan Nasional yang menjadi Badan Nasional ISBN.

Penulis bisa mencetak bukunya tanpa ISBN, tapi buku tersebut tidak akan masuk database Perpusnas dan Perpusda (Perpustakaan Daerah). Buku tanpa ISBN juga tidak bisa dijual di toko buku fisik dan online karena buku dianggap bukan hasil terbitan penerbit yang sah dan terverifikasi.

Penulis yang bukunya tidak ber-ISBN hanya bisa menjualnya melalui promosi di social circle miliknya dan teman-temannya, atau membagikan bukunya secara gratis.

Pajak Penulis

 

Definisi penulis menurut Direktorat Pajak adalah orang pribadi yang bekerja dengan menggunakan keahliannya berupa menulis, menggambar, dan/atau mengarang untuk menghasilkan suatu karya yang dapat dinikmati oleh orang lain.

Penghasilan royalti penulis seringkali dianggap sebagai bukan penghasilan dari kegiatan usaha sehingga menimbulkan penafsiran yang beragam terkait tata cara penentuan nilai penghasilan netonya.

Yang jadi persoalan:

  1. bayaran penulis jauh lebih minim daripada karyawan kantoran. Tidak semua yang menulis dan membuat buku itu dibayar layak. Bisa dihitung jari penulis yang dapat bayaran besar untuk karyanya. 
  2. Penulis sudah bayar pajak dari royalti mereka yang dipotong penerbit untuk pajak pembukuan.
  3. Penulis diharuskan lagi bayar pajak penghasilan (PPh) atas profesinya mereka sebagai penulis.

Inilah yang dipersoalkan Tere Liye karena ribetnya menghitung pajak penulis yang dialaminya di kantor pajak pada 2017 lalu sampai dia memutuskan seluruh kontrak yang tersisa di penerbit mayor.

Padahal penulis tidaklah bekerja seperti karyawan yang digaji rutin tiap bulannya. Penulis terkenal bahkan harus nego keras dengan penerbit mayor soal royalti yang akan mereka terima (saking kecilnya dan dipotong pajak pula).

Menkeu Sri Mulyani kemudian memberi solusi. Pajak penghasilan yang sudah dipungut oleh penerbit atas royalti dapat dijadikan sebagai kredit pajak yg akan menjadi pengurang pajak penghasilan yang terutang.

Mekanisme Norma Penghitungan

Bagi profesi penulis penghitungan normanya adalah 50 persen dari penghasilannya sebagai penulis (baik royalti maupun honorarium lainnya).

Maksudnya, biaya untuk menghasilkan buku bagi seorang penulis dianggap sebesar 50 persen dari penghasilannya. Artinya, setelah dihitung total penghasilan yang diperoleh oleh penulis selama satu tahun pajak dikalikan dengan 50%, sehingga diperoleh penghasilan netto. 

Sama dengan Wajib Pajak lain, dari penghasilan netto ini dikurangkan dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sehingga diperoleh penghasilan kena pajak. Kemudian, dari penghasilan kena pajak dihitung pajak penghasilan terutang menggunakan tarif pajak progresif sesuai dengan lapisan penghasilan.

Jadi, kawan-kawan yang penghasilannya dari menulis tidak sampai 4,8 miliar per tahun tidak akan dikenakan pajak.

***

pajak penghasilan yang sudah dipungut oleh penerbit atas royalti dapat dijadikan sebagai kredit pajak yg akan menjadi pengurang pajak penghasilan yang terutang.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul "Ini Tulisan Sri Mulyani Tentang Tere Liye Soal Tarif Pajak Bagi Penulis", Klik selengkapnya di sini: https://kabar24.bisnis.com/read/20170911/15/688901/ini-tulisan-sri-mulyani-tentang-tere-liye-soal-tarif-pajak-bagi-penulis.
Author: Andhika Anggoro Wening
Editor : Andhika Anggoro Wening

Download aplikasi Bisnis.com terbaru untuk akses lebih cepat dan nyaman di sini:
Android: http://bit.ly/AppsBisniscomPS
iOS: http://bit.ly/A

Menerbitkan buku di penerbit mayor, indie, dan self-publishing semua ada kelebihan dan kekurangannya. Kita tinggal menyesuaikan dengan selera dan rencana jangka panjang.

Kalau kita punya rencana jangkan panjang untuk terus menerbitkan buku yang dijual di toko buku, maka usahakan agar buku kita tembus ke penerbit mayor. 

Bagaimana Caranya?

 

1. Baca ketentuan yang ada di situs milik penerbit mayor. Jangan kirim naskah sebelum kamu membaca betul-betul syarat yang mereka tetapkan.

Ada kurang lebih 31 penerbit mayor di Indonesia, beberapa diantaranya yaitu Gramedia Pustaka Utama, Mizan, Republika, Grasindo, Loka Media, Tiga Serangkai, Bentang Pustaka, Erlangga, Yudhistira, dan Diva Press.

2. Sesuaikan naskah dengan keinginan penerbit. Jangan kirim naskah novel fiksi ilmiah ke penerbit yang mengkhususkan diri pada penerbitan buku-buku Islam.

Maka sangat disarankan baca dulu ketentuan yang disyaratkan oleh penerbit di situs web mereka.

3. Naskah ditulis sesuai kaidah PUEBI dan KBBI. Naskah yang ditulis rapi membuktikan kamu benar-benar niat menerbitkan buku, bukan sekadar iseng.

Naskah yang penulisan huruf kapital, tanda baca, tanda kutip dan lain-lain yang sesuai PUEBI dan KBBI, apalagi yang tanpa typo, membuktikan kamu layak jadi penulis sekaligus memudahkan editor membaca naskah.

Naskah akan langsung masuk tempat sampah dan dianggap spam bila pada paragraf awal saja sudah banyak kesalahan penulisan.

4. Lakukan penyuntingan (editing) naskah sendiri. Diamkan naskah selama 1-2 hari tanpa dilihat sedikit pun.

Kemudian baca ulang naskah tersebut. Kamu akan lihat betapa banyak yang harus diubah, entah kaidah penulisannya, alurnya, atau pendalaman tokoh. Hal sama berlaku pada naskah nonfiksi.

5. Kirim naskah hanya kalau benar-benar sudah siap. Siap dalam arti halaman sudah rapi (tidak perlu daftar isi) lengkap dengan prakata, prolog, atau epilog bila ada.

Juga siap dalam arti tidak ada lagi kata yang typo (salah ketik), tanda baca yang berantakan dan penulisan huruf kapital yang keliru.

***

Menulis itu mudah, menerbitkan buku pun gampang, tapi bukan berarti semua prosesnya dianggap gampang. Proses menulis dan menerbitkan buku kadang bisa amat sulit, tapi hasilnya kelak akan sepadan dengan kesulitannya.

Parafrasa, Cara Termudah Menulis Artikel Tanpa Dianggap Plagiat tapi Minim Etika

Parafrasa, Cara Termudah Menulis Artikel Tanpa Dianggap Plagiat tapi Minim Etika

Banyak orang yang menulis ulang isi artikel dari media berita online untuk dijadikan artikel blog, terutama di blog publik. Dengan menulis ulang, isi berita media mainstream, orang tidak perlu repot mencari referensi. Peluang artikel kita dibaca banyak dibaca orang juga sangat besar karena topiknya sedang populer.

Yang begitu dinamakan parafrasa.

Cara gampang menulis

Secara formal, parafrasa (paraphrase) adalah bentuk pengungkapan kembali suatu kata, bahasa, kalimat atau pernyataan dengan menggunakan diksi (pemilihan kata) yang lebih sederhana, tapi tidak dengan mengubah makna dari bahasa tersebut.

Alasan Orang Menggunakan Parafrasa


1. Mudah ditulis tanpa dianggap plagiat. Walaupun isi artikelnya sama persis dengan yang ada di berita mainstream, seorang yang menulis parafrasa tidak dapat dianggap melakukan plagiarisme karena kalimat dan diksinya berbeda dengan yang ada di berita.

Itu artinya secara teknis si penulis parafrase tidak menjiplak artikel orang lain. Tetapi secara etika dia tidak pas disebut sebagai penulis.

2. Tidak perlu membuat artikel panjang. Isi artikel parafrase mirip dengan artikel berita sehingga hanya perlu memuat 5W+1H (why, when, where, who, what, how). Dalam bahasa Indonesia disebut adiksimba.

Bacaan Lain: Pronomina Kata Ganti Saya dan Aku

Karena itu penulisnya tidak perlu repot melakukan riset data seperti bila menulis artikel opini, atau bahkan tidak perlu memuat analisis para pakar bila dia menulis topik tertentu.

3. Jaminan dapat pembaca. Parafrasa banyak digunakan di topik yang terbaru atau yang sedang populer. Karenanya ketika seseorang mengetikkan kata kunci dari topik yang sedang ramai, kemungkinan artikel si penulis parafrasa muncul di halaman pertama Google juga lebih besar.

Peluang tambah besar bila si penulis menulis parafrasa di blog publik/blog sosial seperti Kompasiana, Seword, Terminal Mojok, atau Konten Pengguna Kumparan.

Parafrasa dan Etika Penulisan


1. Kata kunci dan SEO. Seorang blogger (narablog) sejatinya menghindari penulisan artikel parafrasa walau secara SEO, kata kunci yang digunakan dalam parafrase bisa menjaring banyak traffic.

Kalau sering menulis parafrase, suatu blog jadi tidak punya keunikan karena hanya memuat pengulangan berita tanpa ada pengetahuan baru yang dicari pembaca.

2. Mementingkan duit. Melihat poin pertama diatas, tidak heran kalau seseorang yang menulis parafrase kelihatan kental sekali mengutamakan materi, tanpa memedulikan kualitas artikelnya.

3. Plagiarisme terselubung. Dari sisi etika, parafrase adalah plagiarisme terselubung karena memuat topik, makna, dan bahasa yang sama, yang membedakan cuma kalimatnya saja.

Tidak ada kreativitas mengolah kata-kata, apalagi memuat opini dari sudut pandang lain. Suatu artikel jadi tidak punya orisinalitas karena penulisnya hanya menulis ulang dari artikel yang sudah ada.

Bisakah orang yang hanya menulis parafrasa disebut penulis atau narablog?

Bisa, tapi kompetensinya sebagai penulis amat rendah, kalau tidak disebut meragukan. Penulis parafrasa hanya menulis ulang dengan kalimat yang berbeda dari artikel yang sudah ada. Walau kalimatnya beda, tapi tidak ada kreativitas mengolah kata dan kalimat karena dia hanya menceritakan kembali.

Itu mirip seperti anak SD yang diminta menceritakan kembali isi film yang ditontonnya. 

Penulis parafrasa cukup membaca berita terkini atau artikel lain yang ingin ditulis ulang. Setelah selesai membaca dia tinggal menulis ulang apa yang sudah dia baca. 

Tidak perlu riset pustaka, tidak perlu beropini, tidak perlu mencari referensi data, dan cuma perlu ditulis dengan bahasa sederhana.

Maka dari itu, kompetensi seorang penulis parafrasa bahkan ada di bawah cerpenis dan penyair yang memikirkan sendiri tema, diksi, dan kalimat yang ditulisnya menjadi rangkaian kalimat-kalimat yang menggugah.

Menulis di Blog Pribadi atau Blog Publik? Ini Perbandingannya

Menulis di Blog Pribadi atau Blog Publik? Ini Perbandingannya

Memangnya masih ada orang yang baca blog? Semua, kan, sudah beralih melihat YouTube, TikTok, dan Instagram.

Data dari Statista menunjukkan jumlah pengguna internet aktif di Indonesia pada 2022 ada 210 juta. Jumlah itu diprediksi meningkat pada tahun 2026 menjadi 293 juta pengguna. Itu berarti makin banyak orang Indonesia tahu kegunaan internet, termasuk membaca blog untuk mencari bacaan ringan dan mendapat opini yang sehaluan.

Harus diakui, walau masih banyak orang yang membaca blog, tapi persentasenya lebih kecil dari yang menonton platfrom berbagi video. Pemasang iklan dari jenama ternama juga lebih memilih pasang iklan di situs berita arus utama daripada blog.

Pada tren iklan di internet, cost per click (CPC) dan cost per mile (CPM) AdSense pada blog dan website lebih rendah dari CPC dan CPM di YouTube. Bila seorang narablog (blogger) ingin CPC lebih besar, maka dia harus menulis blognya dalam bahasa Inggris.

Ini bukan karena sok nginggris atau tunduk pada asing, melainkan karena bahasa Inggris adalah bahasa paling mendunia yang dimengerti oleh orang di banyak negara. Maka jangkauan blog berbahasa Inggris lebih luas daripada yang berbahasa Indonesia.

Keuntungan Menulis di Blog Pribadi 


Keuntungan paling utama punya blog pribadi adalah kepuasan batin. Namanya saja blog sendiri, kita bebas saja mau mengisi dengan konten apa saja, asal tidak melanggar UU ITE dan hak karya cipta intelektual.

Berikut keuntungan mengelola blog pribadi.

1. Bebas mendesain dan mengatur tata letak sesuka hati

Terlepas dari keperluan SEO, kita bebas gonti-ganti header, warna blog, bahkan template sesuai selera. Kita juga bisa posting video bersamaan dengan artikel atau membuat meme dan mempostingnya di blog.

2. Bisa bikin konten tanpa terikat syarat dan ketentuan dari blog publik

Pengelola blog publik biasanya menerapkan berbagai syarat dan ketentuan untuk menjaga blog itu bebas spam dan penyebaran hoaks. Syarat dan ketentuan itu juga untuk menghindarkan dari tuntutan hukum pihak lain walau sudah ada disclaimer setiap konten adalah tanggung jawab penulisnya, bukan pengelola blog.

Blog juga bisa kita fungsikan sebagai buku harian dengan identitas anonim untuk mengeluarkan segala keresahan hati.

3. Bisa dimonetisasi

Blog pribadi dapat kita monetize dengan AdSense, Admob, Adsterra, Optad360, AdNow, atau Yllix. Banyaknya uang yang kita dapat tergantung dari seberapa serius kita mengelola blog dengan satu niche dan penerapan search engine optimization alias SEO.

Blog publik juga memberi insentif kepada penulisnya, tapi jumlahnya kecil dan kita harus memenuhi beberapa syarat dulu sebelum menerima bayaran.

Pendapatan dari blog pribadi bisa puluhan kali lipat lebih banyak dari insentif yang kita dapat di blog sosial, termasuk dari content placement.

Kelebihan Menulis di Blog Publik


Blog publik disebut juga blog sosial atau blog keroyokan karena penulisnya banyak dan bisa berasal dari semua kalangan, usia, dan latar belakang.

Blog publik paling terkenal saat ini adalah Kompasiana, Indonesiana, Mojok, Seword, dan IDNTimes. Namun, IDNTimes sudah bertransformasi jadi blog informatif, bukan lagi blog yang memuat opini dan jurnalisme warga.

Berikut adalah keuntungan dan kelebihan menulis di blog keroyokan.

1. Jaminan dapat pembaca

Para penulis di blog sosial akan saling membaca artikel satu sama lain. Itu artinya kita sudah pasti dapat pembaca walau tidak sampat seratus orang. 

Ide jadi tersampaikan dan ada kepuasaan saat tulisan kita dibaca dan dapat komentar positif dari orang lain.

Kalau mau artikel lebih banyak dibaca, kita harus membaca artikel orang lain lebih dulu kemudian memberi komentar. Dengan begitu penulis lain di blog publik akan balik berkunjung ke artikel kita.

2. Tidak direpotkan oleh SEO

SEO, domain, hosting, dan pengelolaan blog sosial sudah diurus oleh pengelola atau admin. Kita tinggal menulis, pilih gambar pendukung, lalu posting. Selesai.

Kita tidak perlu susah-susah menerapkan on-page SEO kalau menulis di blog publik. Tidak perlu pakai riset kata kunci segala seperti yang dilakukan banyak narablog supaya dapat pembaca dari mesin pencari.

3. Dapat bergabung di komunitas

Blog sosial biasanya juga menyediakan grup Telegram atau WhatsApp untuk para penulisnya ngobrol dan berbagi informasi.

Di Kompasiana komunitas itu sudah makin banyak dan spesifik. Ada komunitas khusus penyuka traveling, film, perempuan, kerohanian, bahkan komunitas ghibah.

Bergabung di komunitas dapat membuat kita tidak merasa kesepian sekaligus menambah wawasan tentang banyak hal.

Punya Blog Pribadi Sekaligus Menulis di Blog Publik?


Boleh saja. Banyak narablog yang juga menulis di blog publik, terutama mereka yang blognya ber-niche dan menghasilkan uang, tapi ingin menulis hal lain.

Supaya tidak menganggu niche (topik khusus) blognya, para narablog yang ingin menulis topik lain mempostingnya di blog publik.

Karena alasan itu juga, tidak ada narablog yang copy-paste artikel blog pribadi ke blog publik atau sebaliknya. Walau artikel milik sendiri yang ditulis sendiri, perbuatan itu tetap dianggap sebagai plagiat yang melanggar etika hak cipta.

Bacaan Lain: Riset Keyword dan Konten Evergreen 

Alasan lain orang punya blog pribadi, tapi menulis di blog publik adalah untuk memposisikan blognya supaya dikenal, terutama mereka yang baru merintis blog pribadi.

Apapun alasannya, punya blog pribadi sekaligus menulis di blog sosial tidak ada yang melarang. Yang penting si penulis selalu membuat artikel yang berbeda untuk tiap blog karena artikel termasuk hak atas kekayaan intelektual yang dilindungi oleh UU No. 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Wartawan Media Cetak Tidak Boleh Merangkap Jadi Wartawan Media Online, Ini Alasannya!

Wartawan Media Cetak Tidak Boleh Merangkap Jadi Wartawan Media Online, Ini Alasannya!

Wartawan media cetak adalah wartawan yang bekerja di surat kabar, bisa koran, majalah, atau tabloid. Sedangkan wartawan media online sudah pasti bekerja pada media yang hanya terbit secara online (dalam jaringan/daring), seperti detik.com, kompas.com, antaranews.com, dan pikiran-rakyat.com.

Salah satu suratkabar harian anggota Serikat Penerbitan Pers dan Dewan Pers yang masih terbit sejak zaman orde baru (harianpelita.id) 

Walau Kompas dan Pikiran Rakyat juga punya koran cetak yang sudah terbit sejak internet belum ada, wartawan koran cetaknya tidak boleh bertukar peran jadi wartawan di kompas.com dan pikiran-rakyat.com, pun sebaliknya.

Tangkapan layar versi digital (epaper) dari suratkabar Harian Pikiran Rakyat

Bagaimana kalau si wartawan ditugaskan oleh grup media itu untuk menulis selang-seling di media online dan cetak bergantian?

Walau ada kemungkinan seperti itu, tapi amat jarang terjadi wartawan cetak ditugaskan ke online dan online ditugaskan meliput untuk versi cetak. Manajemen media cetak dan online berbeda. Kebijakan pemberitaannya pun berbeda karena mereka punya pemimpin redaksi yang beda juga.

Sebagai contoh, Kompas. Kita tahu ada kompas.com dan kompas.id. Dua media itu masing-masing punya wartawan sendiri yang tidak bersangkut-paut satu sama lain, walau mereka bekerja di grup media yang sama, yaitu Kompas.

Tangkapan layar versi digital atau epaper suratkabar Harian Kompas

Kompas.id adalah versi digital dari koran Harian Kompas, artinya apa yang ada di kompas.id sama plek seperti yang ada di Harian Kompas. Maka, pemberitaannya masih mengikuti kaidah jurnalistik yang taat pada kode etik wartawan dan UU Pers. Sementara kompas.com murni media online, maka pemberitaannya mengikuti ciri khas online, termasuk menggunakan teknik SEO (walau tidak banyak).

Pemberitaan


Bahasa berita media online tidak lagi mengutamakan kelengkapan menggunakan rumus 5W+1H (when, where, who, why, what, dan how) atau yang dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan Adik Simba (apa, dimana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana).

Kenapa tidak pakem memakai 5W+1H, padahal amat diperlukan supaya pembaca dapat informasi yang lengkap?

Banyak media online yang memecah satu topik menjadi 2-3 artikel. Satu artikel dapat memuat hanya 3W dan artikel lain memuat 2W+1H, atau sebaliknya. 

Mereka melakukan yang seperti itu supaya dapat banyak klik dari pembaca yang penasaran kelanjutan berita tersebut. Padahal sering kita lihat isi artikelnya sama saja, cuma beda judul dan ditambah info sedikit.

Cara Menulis Berita


Bila media cetak mengikuti 5W+1H, media online mengikuti kaidah SEO on-page. SEO on-page adalah teknik menulis ramah mesin pencari yang diterapkan dalam artikel saat si wartawan menulis sebuah berita.

Gunanya supaya saat orang mengetikkan kata kunci tertentu di mesin pencari semacam Google dan Bing, yang muncul di halaman pertama mesin pencari itu adalah artikel dari media tersebut. Syukur-syukur bisa nangkring di lima teratas. 

Orang malas mencari sampai ke bagian bawah, apalagi sampai halaman 2 dan seterusnya. Peluang berita itu diklik banyak orang sangat besar bila berada di nomor lima teratas pada halaman satu mesin pencari.

Berarti wartawan online juga harus menguasai SEO on-page? Tidak, mereka otomatis terbiasa menulis dengan gaya online saat sudah menguasai pekerjaannya sebagai wartawan berita online.

Sebagai contoh, kalau kita sering baca kompas.com kemudian ganti baca kompas.id, akan mudah melihat perbedaan gaya bahasa dan pemberitaan diantara keduanya, walau sama-sama media milik Kompas Gramedia Group.

Sekarang ini media penguasa mesin pencari adalah detik.com dan tribunnews.com. Kita ketikkan kata kunci tertentu, yang muncul paling atas kalau tidak Detik, ya Tribunnews.

Media Kuning

Kalau wartawan media cetak sama sekali tidak boleh membuat judul yang gak nyambung dengan isi beritanya, lalu bagaimana dengan media online

Media kuning atau yellow journalism adalah media yang tidak menggunakan kaidah jurnalistik karena lebih mementingkan sensasi. Judulnya sering vulgar dan dilebih-lebihkan untuk memancing rasa penasaran orang. Beritanya pun cuma seputar seks, gosip, dan kriminal.

Sebelum ada internet, istilah ini dikenal sebagai koran kuning, merujuk pada media cetak sebagai satu-satunya produk pers selain berita televisi.

Saya ingat, mendiang tokoh pers Leo Sabam Batubara yang juga mantan wakil ketua Dewan Pers 2007-2010, pernah mengatakan bahwa koran kuning bukan produk jurnalistik karena amat melanggar kaidah-kaidah jurnalistik.

Namun nyatanya media itu sangat disukai masyarakat kelas bawah dan penulis beritanya tetap disebut sebagai wartawan.

Malahan, koran kuning pertama di Indonesia, yaitu Pos Kota, didirikan oleh Harmoko. Harmoko mendirikan Pos Kota sebelum jadi menteri penerangan era Soeharto. Setelah dia jadi menteri lalu pensiun, Pos Kota bahkan masih terus terbit.

Lama-lama, muncul juga "koran kuning" di internet yang berciri sama dengan koran kuning cetak. Judulnya gak nyambung dengan isi artikel, isi beritanya penuh gosip dan sensasi, serta tidak pernah menulis berdasarkan narasumber yang kredibel.

Judul yang sering tidak nyambung dengan isi berita dan ditujukan untuk memancing rasa penasaran orang supaya mengklik berita tersebut dinamakan clickbait

Klik yang dilakukan orang akan menambah jumlah kunjungan (view) media tersebut yang lalu menambah pundi-pundi iklan yang masuk.

***

Karena banyak perbedaan antara media cetak dan online, maka wartawan media cetak tidak boleh merangkap jadi wartawan online dan sebaliknya.

Si wartawan sendiri yang akan kesulitan menerapkan gaya bahasa dan sudut pandang pemberitaan. Wartawan media online dituntut serba cepat menulis berita di internet. Sedangkan wartawan cetak masih punya waktu untuk melengkapi artikelnya karena deadline mereka relatif panjang dibanding media online.

Jumlah Kata Ideal Pada Artikel dan Kebiasaan Baca Netizen

Jumlah Kata Ideal Pada Artikel dan Kebiasaan Baca Netizen

Sewaktu mengisi kelas menulis untuk guru dan siswa  di Kabupaten Magelang, saya katakan pada mereka bahwa jumlah kata ideal dalam artikel adalah 800-1000.

Seorang Kompasianer yang sering kami panggil dengan Pastor Bobby pernah menulis bahwa jumlah kata dalam artikel untuk publikasi online alias blog, yang paling ideal adalah 400-1000 kata.


Sementara itu, banyak blogger (narablog) bilang bahwa jumlah kata yang ideal untuk artikel blog banyaknya 500-2000 kata. Lebih bagus kalau konsisten menulis dikisaran 1000 kata. Sebabnya, kata mereka, artikel akan dianggap lengkap oleh Google dan lebih mudah bagi artikel itu tampil di mesin pencari karena banyak kata kunci yang terangkut.

Soal kata kunci ini saya alami sendiri. Pada suatu waktu cerita pendek berjudul Asmara Sebundar Bola diklik banyak orang yang memasukkan kata kunci "Bambang Budi Asmara" di mesin pencari Bing.

Padahal cerpen itu tentang kisah asmara seorang pemain bola yang bernama Bambang, tapi bukan Bambang Budi Asmara.

Fleksibilitas Jumlah Kata Ideal Pada Artikel


Bagi saya, penetapan 800-1000 kata yang saya anjurkan di kelas menulis kemarin pertimbangannya karena kalau hanya 500 kata, artikel itu akan terlalu pendek untuk dibaca. Pembaca masih merasa ada  yang kurang dari artikel itu.

Jumlah kata ideal dalam artikel 800-1000 kata yang saya anjurkan, ideal untuk artikel jenis feature (karangan khas) dan esai. Panjang informasinya sudah memuaskan pembaca, tidak kependekan juga tidak kepanjangan.

Sementara kalau lebih dari 1000 kata, artikel jadi terlalu panjang. Penulis artikelnya juga bakal kesulitan mencari subjudul apa saja yang dimasukkan ke dalam artikel untuk memenuhi jumlah 2000 kata. Artikel malah jadi bertele-tele ngalor-ngidul ngetan-ngulon.

Akan tetapi, jumlah 2000 kata amat mungkin jadi terasa pendek dibaca kalau artikel itu adalah jenis in-depth reporting atau reportase mendalam dari suatu peristiwa yang sedang populer.

Kalau untuk artikel berita (cetak dan digital) 300 kata saja sudah cukup. Apalagi media berita online sangat suka memecah 1 artikel jadi 2-3 artikel untuk kepentingan views dan mesin-pencari-minded guna menjaring iklan lebih banyak.

Kenapa banyak versi mengenai berapa jumlah kata ideal dalam artikel? Harus ikut yang mana?

Enggak usah ikut yang mana-mana. Namun, kalau kamu mau mau mulai nulis artikel di blog semisal Medium, Kompasiana, Brilio, Idntimes, atau blog pribadi, buatlah minimal 500 kata seperti yang disarankan banyak blogger, walaupun itu artikel curhat.

Makin panjang curhatmu, makin lega hatimu dan makin terhindar dari kemungkinan depresi. Apa iya begitu?

Lalu, bila pengetahuan kamu sudah lengkap tentang suatu topik, buatlah minimal 800 kata supaya pengetahuan dalam artikel lebih lengkap.

The most important of all, pastikan saja artikel kamu enak dibaca dan tidak mengulang-ulang kalimat walaupun untuk kepentingan kata kunci SEO.

Minat Baca Netizen


Netizen atau internet citizen adalah mereka yang sering membuka internet dan melakukan aktivitas dalam jaringan, misal mengepos sesuatu di medsos, membaca berita, berselancar mencari informasi, dan nonton hiburan yang menggunakan internet.

Menurut riset Nielsen pada 2020, mayoritas orang di internet akan membaca judul lebih dulu, men-scroll isinya sampai kebawah, baru kemudian membacanya jika artikel (nonberita) itu menarik minatnya.

Kebiasaan membaca seperti itu lazim ditemukan di banyak negara. Kalau di Indonesia saya yakin orang lebih suka baca judulnya saja untuk menyimpulkan isi artikel, baik berita maupun feature. Itu karena orang Indonesia memang tidak suka baca.


Makanya banyak media online membuat judul clickbait demi menarik minat baca orang walau judul itu sering gak nyambung dengan isi artikelnya.

Satu lagi fakta yang mungkin menyesakkan buat orang-orang yang hobi nulis panjang-lebar di blog, orang mencari informasi di internet karena benar-benar butuh, bukan karena mereka suka baca.

Amat jarang mereka membaca artikel sepanjang 500-800 kata hanya untuk mengisi waktu. Waktu luang mereka isi dengan membaca berita online dan memperhatikan medsos, bukan membaca blog. Artikel blog yang cuma berisi 300 kata pun mereka baca kalau memuat informasi yang mereka cari.

Membaca tuntas beribu-ribu kata hanya dilakukan oleh orang yang benar-benar suka baca, tidak punya buku untuk dibaca, dan kebanyakan kuota untuk dihabiskan..

Other than that, those who likes to write thousand words may lower their expectation to gain more readers, including me. Is that sad? No, it is challenging.

Mengukur Kefasihan Anak-anak Jawa Berbahasa Jawa

Mengukur Kefasihan Anak-anak Jawa Berbahasa Jawa

Bahasa Jawa saat ini masih digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh para keturunan suku Jawa yang tinggal di Malaysia, Singapura, Suriname, Belanda, Kaledonia Baru, dan Kepulauan Cocoa. Itu menjadikan bahasa Jawa sebagai salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia.

Akan tetapi, jumlah anak-anak suku Jawa di pulau Jawa yang menggunakan bahasa Jawa malah berkurang.

Oh, itu pasti karena orang tuanya sok keminggris, kan? Tiap hari ngomong Inggris. Babysitter dan pekerja rumah tangga nyarinya yang bisa bahasa Inggris. Anak belajarnya di sekolah bilingual. Jadinya lupa bahasa Jawa.

Bukan, itu di kota besar dan metropolitan. Apa di desa harus ikut-ikutan seperti itu? Ngg, kalau mampu, sih, boleh aja kayaknya, ya.

(sekolahnesia)

Admin Emper Baca kenal banyak pasangan suami-istri (40 tahun kebawah) asli suku Jawa, tapi tidak bicara bahasa Jawa kepada anak-anak mereka, padahal mereka bermukim di tanah Jawi dengan anak yang juga lahir di tanah Jawi.


Anak-anak mereka hanya tahu kosakata Jawa dari percakapan antar orang tua atau ketika nenek-kakek melakukan percakapan dengan sesama orang Jawa. 


Di Magelang, tempat Admin berada, karena wilayahnya dekat dengan keraton Yogyakarta, tiga tingkat bahasa Jawa masih digunakan dalam percakapan sehari-hari, tergantung dengan siapa kita bicara. Tingkatan percakapan itu juga masih kental dipakai di Semarang, Solo, dan Klaten.


Tiga tingkatan bahasa Jawa


Bahasa ngoko digunakan kepada orang yang kedudukan sama atau lebih rendah. Misal bos kepada karyawannya, majikan kepada pekerja rumah tangganya, atau kawan sepergaulan.


Kromo ngoko (kromo lugu/kromo madyo). Ini bahasa yang enggak halus, tapi juga gak kasar jadi bisa digunakan saat bicara dengan teman sepermainan, yang lebih muda, atau yang lebih tua, tapi sudah akrab banget.


Tingkat tertinggi adalah kromo inggil. Digunakan untuk bicara kepada sultan dan keluarganya, kepada orang yang dihormati, yang disegani, yang ditakuti, yang lebih tua umurnya, atau tua dari sisi kekerabatan. 

***

Pada rantai kekerabatan di Jawa, terutama Jawa Tengah, dikenal istilah "awu". Misalnya, Admin punya kakak laki-laki namanya Polan, tapi anak Admin umurnya lebih tua dari anak Polan. Anak Admin tetap harus memanggil anak Polan dengan sebutan Mbak atau Mas, bukan Adik. 


Kalau anak Admin jarang berkomunikasi dengan anak Polan yang membuat hubungan mereka tidak dekat, maka anak Admin menggunakan bahasa kromo ngoko kepada anak Polan, walaupun mereka bersepupu yang wajarnya bisa menggunakan bahasa ngoko.


Contoh penggunakan dalam tingkatan bahasa Jawa untuk kata "kamu atau Anda", yaitu:

  1. Pada ngoko yang dipakai adalah "kowe"
  2. Kromo ngoko menggunakan "sampeyan"
  3. Kromo inggil menggunakan "panjenengan"
Kata 'panjenengan' atau 'njenengan' juga dipakai dalam percakapan sehari-hari dengan orang yang dianggap akrab, tapi belum cukup akrab untuk disapa 'kowe' dan 'sampeyan'. Misal, di perkumpulan arisan, kelompok tani, paguyuban sekolah, atau tetangga.

Sementara "sampeyan" digunakan untuk memanggil orang yang lebih muda, namun masih dihormati oleh orang lebih tua yang mengenalnya.

Adakalanya orang yang lebih tua atau lebih muda saling menggunakan ngoko kalau hubungan mereka sudah sangat akrab, seperti suami-istri, kakak-adik, atau orang tua-anak. Percakapan seperti itu biasanya terjadi di dalam rumah tangga, atau antarkerabat yang hubungannya sudah amat akrab.

Berdasarkan observasi dan survei sosial Emper Baca, ada lima alasan makin banyak anak Jawa yang tidak berbahasa Jawa sebagai bahasa ibu


1. Sekolah menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Ada belasan ibu mengaku mereka bicara bahasa Jawa (ngoko dan kromo hinggil) kepada anak pertama mereka sejak bayi, tapi anak-anak mereka kemudian kesulitan memahami bahasa Indonesia ketika masuk TK karena hanya mengenal bahasa Jawa.


Maka pada anak kedua dan seterusnya, mereka memutuskan bicara bahasa Indonesia supaya ketika sekolah, anak sudah mengerti apa yang diajarkan gurunya.


Alhasil, sampai tulisan ini ditulis pada 26 Februari 2022, anak mereka yang berusia SD-SMP hanya bisa bahasa Indonesia dengan sedikit Jawa ngoko. Hal itu membuat anak-anak tidak menguasai kromo Inggil dan hanya bercakap alakadar dalam bahasa Jawa ngoko.


Meski begitu kita tidak boleh menyalahkan bahasa Indonesia. Anak bisa diajarkan bilingual (bicara dua bahasa) kalau orang tuanya mau mengajarkan.


Yuk baca juga: Asal Mula Anak Jaksel Ngomong Bilingual


2. Acara televisi menggunakan bahasa Indonesia. Anak-anak mereka telah terbiasa dengan bahasa Indonesia dibanding bahasa Jawa. Orang tua tidak ingin anak mereka bingung jika sehari-hari bercakap Jawa, tapi yang mereka tonton bahasa Indonesia.


Anak-anak mengerti bahasa Jawa jika orang tuanya bercakap-cakap dengan kakek-nenek atau tetangga di rumah, tapi jika anak-anak bercakap boso Jowo, tidak sefasih bahasa Indonesia. Mereka bahkan gagap.


3. Bapak-ibunya tidak menguasai kromo inggil. Kalau anak hanya tahu bahasa ngoko, nanggung, kata mereka. Daripada anak salah bicara kepada orang yang lebih tua, lebih aman anak-anak bicara bahasa Indonesia.


Yup, orang tua Jawa generasi milenial (usia 26-41 tahun) banyak yang tidak menguasai kromo inggil karena telah terbiasa dan sering menggunakan ngoko dan bahasa Indonesia. Belum lagi kesukaan para ibu menonton drama Korea membuat anak-anak perempuan menyukai bahasa Korea alih-alih bahasa Jawa.


Jadi, orang tua memlih untuk tidak mengajari bahasa yang tidak mereka kuasai.


4. Buku teks dan modul pelajaran bahasa Jawa menggunakan bahasa ngoko. Walau menganut tiga jenjang bahasa, buku teks dan modul yang beredar di Magelang tidak menggunakan kromo inggil. Semua dicetak dalam bahasa ngoko. 


Tapi, jangan dikira pakai ngoko lalu pelajaran bahasa Jawa jadi enteng. Tidak. Bahasa Jawa termasuk pelajaran paling susah setelah prakarya dalam bidang SBdP (Seni Budaya dan Prakarya). Indikatornya adalah banyak peserta didik dapat nilai B dan C dibanding nilai A.


Pada sekolah negeri berstatus unggulan, sekolah model, dan sekolah penggerak nilai A bisa diraih bila siswa mendapat nilai minimal 93 pada satu mata pelajaran. Sedangkan di swasta konversi A sudah bisa diraih pada nilai minimal 86.


Karena pelajaran bahasa Jawa dianggap susah, maka bukannya tumbuh keinginan berbahasa Jawa, mereka malah tambah tidak mau berbahasa Jawa dengan baik dan benar.


5. Bahasa Indonesia dianggap mampu membawa anak ke bahasa internasional daripada bahasa Jawa. Admin pernah menemui orang tua yang beranggapan bahwa dengan menggunakan bahasa Indonesia akan memudahkan anak belajar bahasa Inggris dan bahasa lain.


Dengan begitu jika anak akan keluar negeri untuk kuliah atau bekerja, lidahnya sudah luwes cas cis cus, tidak lagi kaku beraksen Jawa.

Heleh, heleh! Otak manusia tidak sesempit yang kita kira. Interpol saja menguasai lima bahasa asing selain bahasa Indonesia dan bahasa daerah, mosok kita nyerah sama bahasa Jowo.

***

Anak-anak Jawa masih bisa bicara ngoko alakadar kepada teman-teman sepergaulannya. Alakadar disini berarti hanya sebagai percakapan sehari-hari, bukan seperti geguritan (puisi Jawa) atau babad (kisah berbahasa Jawa, Bali, atau Sunda yang berkisah latar sejarah).


Apa yang harus kita lakukan supaya bahasa Jawa tidak punah?


Bahasa Jawa tidak bakalan punah karena penuturnya masih banyak, bahkan di luar negeri. Jika mau khawatir, khawatirkanlah kromo inggil. Bila penutur kromo inggil makin sedikit, kelak bahasa Jawa halus itu punah juga. Yang tinggal adalah Jawa ngoko dan ngapak.


Bapak-bapak dan ibu-ibu harus mulai berbahasa kromo inggil di depan anak-anak dan menggunakannya kepada anak-anak mereka kalau tidak mau tingkatan tertinggi bahasa Jawa itu punah.


Sederhana, bukan?