Cerpen: Cappuccino dalam Semangkuk Mie Ayam

Cerpen: Cappuccino dalam Semangkuk Mie Ayam

Cipto mematikan laptop dan memasukkan ke dalam tasnya. Diperiksanya pesan instan di ponselnya apakah ada pesan dari Riana atau tidak. Ada. Tercatat pesan itu datang lima belas menit lalu.a

Jangan terlambat, ya, nanti. Aku gak mau kelamaan nunggu.

Oke, oke. Memangnya kapan aku pernah terlambat? Cipto membatin. Dilihatnya jam di tangan kirinya, pukul lima sore.

Meski janji temu dengan Riana masih satu jam lagi tapi Cipto tetap pada niatnya semula untuk pergi tepat setelah jam kantor selesai.

Toh dia tidak akan bisa cepat sampai karena jalanan pasti macet. Dia juga tidak keberatan menunggu andai datang lebih dulu dari Riana.

Cipto keluar dari ruangannya dan menyapa lima orang sales anak buahnya yang masih mengecek stok obat dalam daftar penjualan mereka.

“Pulang tenggo, Mas?” tanya salah satunya.

Cipto mengangguk.

“Tumben,” timpal yang lain.“

“Ada urusan,” jawab Cipto singkat.

Anak buahnya terkekeh saling melempar gurauan bahwa itu pasti urusan cinta. 

Kemudian ada suara yang mengatakan bahwa Mas Cipto belum punya pacar. Yang lain menimpali bahwa mereka harus syukuran kalau Mas Cipto benar punya pacar.

Cipto hanya tersenyum dan tidak menghiraukan gurauan-gurauan yang ditujukan padanya. Dia keluar kantor menuju lift sambil menyampaikan sampai jumpa di hari Senin, kepada para anak buahnya itu.

Jalanan di Jumat sore belakangan ini tidak semacet sebelum dibangun MRT, jadi Cipto masih bisa memacu sedannya merayapi jalan, tidak tersendat-sendat dan terhenti mendadak seperti siput tertabrak kura-kura. Cipto menyetel lagu pop kesukaannya yang lalu mengalun merdu memenuhi kabin.

Tiga puluh menit kemudian Cipto sampai di Grand Indonesia. Dia sengaja mencari parkiran di basement yang lebih lapang.

Ada pesan masuk di ponselnya, dari Riana.

Maaf aku agak terlambat. Harus rapat mendadak. Klien complaint.

Cipto membalas bahwa dia tidak keberatan dan akan menunggu di Caffé Milano, tempat temu janji mereka. Lalu emoji hati warna biru muncul dari balasan Riana.

Suasana di Caffé Milano masih sepi. Cipto menyebut nama Riana sebagai pemesan tempat, dan dia dibawa oleh pelayan ke meja dengan sofa melingkar berwarna krem. Dia memesan cappucino dan menangguhkan memesan makanan sampai Riana datang.

Ini tempat favorit Riana. Katanya makanannya enak-enak. Adonan dough pizzanya renyah tapi kenyal, beda dari pizza yang ada di Indonesia karena dimasak oleh chef asli Italia. Yang paling disuka Riana adalah Smoke Salmon Burata yang dia bilang menu andalan kafe ini.

Apapun yang Riana suka, Cipto juga menyukainya meskipun makanan Italia terasa aneh dilidahnya.

Sebenarnya dia kenal Riana sejak SMP. Mereka pernah satu kelas dan beberapa kali mengerjakan tugas kelompok bersama. Dan Riana anak yang ramah ketika mengobrol dan bercanda tapi serius bila bicara soal pelajaran.

Cipto juga sebenarnya pernah naksir Riana, tapi dia tidak pernah mengungkapkannya karena malu. Siapalah dia, sementara Riana anak orang kaya, cantik, dan banyak cowok keren yang juga naksir padanya.

Mereka pisah sekolah ketika lulus. Riana ke SMA swasta dan Cipto ke sekolah negeri yang dikenal punya murid yang pintar-pintar.

Saat di SMA Cipto juga naksir seorang perempuan teman sekelasnya karena punya pembawaan mirip Riana, tapi lagi-lagi dia malu mengungkapkan isi hatinya. Baru setelah kuliah dia melupakan Riana sepenuhnya.

Dunia ternyata sempit dan jodoh memang tidak kemana. Lima tahun setelah lulus kuliah, Cipto bertemu lagi dengan Riana di acara penandatanganan kontrak antara kantornya—distributor obat milik perusahaan farmasi terkemuka—dengan kantor Riana.

Riana ternyata mendirikan perusahaan komunikasi riset. Cipto memerlukan jasa konsultasi milik Riana untuk branding produk penurunan berat badan.

Riana kuliah di Singapura lalu melanjutkan ke sekolah bisnis Harvard. Selepasnya dia bekerja di perusahaan milik seorang konglomerat Amerika selama tiga tahun lalu pulang ke Indonesia.

Lucunya mereka baru dekat justru setelah kontrak kerjasama kantornya dengan perusahaan Riana selesai.

Berawal dari bertukar nomor ponsel, ngopi bareng, bertukar pesan, bertemu, dan kali ini adalah pertemuan mereka yang ketiga dalam dua bulan terakhir, di kafe favorit Riana.

Musik instrumental di Caffé Milano lamat-lamat terdengar dan mulai mengeras seiring dengan bertambah banyaknya orang yang datang.

Cipto memesan cappucinonya yang kedua. Riana belum juga datang, hanya pesan darinya yang muncul.

Maaf setengah jam lagi aku sampai. Tunggu, ya.

Cipto membalas singkat dengan huruf o dan k besar. Dia bersedia menunggu dan tidak merasa diremehkan meski harus menunggu hampir satu jam, karena Riana pantas untuk ditunggu.

Perempuan itu selalu memberi perhatian dengan cara tak terduga. Riana pernah mengirim makan siang untuk semua orang di kantor Cipto. Alhasil kepala cabang dan anak buahnya mengira Cipto sedang berulang tahun.

“Cipto, aku minta maaf, maaf banget, I’m very very late.” Riana datang, duduk di sebelah Cipto, memanggil pelayan, dan langsung memesan spaghetti oglio olio.

“Kenapa kamu gak pesan makanan?” tanyanya pada Cipto.

Cipto menggeleng, “Aku sudah kembung minum,” dia menunjuk dengan kepalanya dua cangkir cappucino di depannya.

“Maaf kamu kelamaan menunggu. Rapat tadi benar-benar mendadak karena karyawan baru salah kirim laporan ke klien,” Riana menggenggam tangan Cipto erat, meminta permakluman.

Cipto tersenyum, “Tidak apa-apa, aku ngerti. Tadi susah cari parkir?” katanya menutupi kegugupannya karena pertama kali disentuh oleh Riana.

Riana menggeleng, “Aku naik ojek.C

Cipto tersedak, “Yang benar?!”

“Cuma ojek yang bisa cepat sampai. Mobil kutinggal di kantor.”

Pesanan makanan dan minuman Riana datang dan dia melahapnya dengan cepat sampai Cipto mengira dia tidak makan berhari-hari.

“Lapar berat. Aku tadi belum makan siang,” sahut Riana.

“Cipto, apa kamu punya perasaan terhadapku?” tanya Riana ketika dia selesai mengunyah suapan terakhirnya.

“Perasaan yang bagaimana?”

“Jatuh cinta.”

Cipto tidak langsung menjawab. Diseruputnya lagi cappucinonya. Dipandanginya wajah Riana yang berambut panjang itu. Mata Riana kelihatan bersinar dan berbinar.

“Jadi?!” Riana mendesak.

“Apa?”

“Bagaimana perasaanmu terhadapku?”

“Aku suka padamu.”

Riana tidak puas, “Lalu?”

Cipto mengerti maksud Riana, tapi tiba-tiba dia tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Diseruputnya lagi cappucinonya sampai tetes terakhir.

“Kau tahu, aku menikmati setiap detik bersamamu. Aku juga menyukai semangatmu, kemandirianmu, dan semua perhatianmu untukku…” Cipto mengambil napas panjang alih-alih melanjutkan.

Riana duduk mendekat pada Cipto sampai tubuh mereka hampir saling menyentuh.

“Kau mau melanjutkan hubungan kita atau tidak?"

Batin Cipto menggumam, hubungan yang mana? Kita belum pernah ada hubungan apapun.

Tiba-tiba bayangan perempuan lain berkelebatan di benak Cipto. Perempuan yang dia kenal sebagai kerabat tetangganya.

“Cipto?”

“Ya?”

"Bagaimana?”

“Apanya?” 

Riana menghela napas. Ditatapnya Cipto dalam-dalam, “Kau menyukaiku, menikmati waktu bersamaku, tapi tidak ingin melanjutkan hubungan denganku sebagai sepasang kekasih. Begitu maksudmu?”

Cipto tidak mampu menjawab karena Riana sudah mengatakan apa yang sebenarnya Cipto rasakan.

“Maafkan aku, Riana.”

“It’s alright. Terima kasih untuk waktumu, Cipto,” Riana mengecup pipi Cipto yang membuat wajah Cipto merona menahan malu dikecup di tengah keramaian Caffé Milano.

“Oh ya, kau yang bayar tagihannya, ya,” lanjut Riana yang lalu berdiri dan langsung menghilang dari pandangan Cipto.

Cipto merasa tak enak karena tampaknya dia telah menyakiti Riana, tapi sekaligus terpana pada sikap Riana yang tidak menuntut karena perasaannya diabaikan.

Sesampainya ditempat parkir Cipto tidak langsung pergi, tapi mencari nomor perempuan yang tadi muncul diingatannya. Perempuan manis dari kampung yang bekerja di butik. 


“Eni? Hai. Kau pulang jam berapa? Boleh aku jemput? Kebetulan aku dekat dengan tempat kerjamu. Kita makan malam. Mie ayam dekat rumah? Oke. Aku ke tempatmu sekarang, ya. Tunggu aku.”

Cipto memacu mobilnya sambil bersiul mengikuti lagu What a Wonderful World dari suara Ray Charles yang berkumandang di kabin sedannya.

***

For Puji Suripto, died in June 2021 due to Covid-19. May you rest in peace, my old friend.

Cerpen: Romansa Kambing Lima Puluh Juta

Cerpen: Romansa Kambing Lima Puluh Juta

“Mau kemana lagi kita, Boy?’ tanya Randi sambil merebahkan punggungnya ke jok mobil. Sejauh ini Boy sudah membeli dua belas kambing dari enam tempat penjualan yang berbeda untuk dibagi-bagikan ke masjid dan panti asuhan. 

Randi sudah bosan dan lelah jadi dia berharap Boy menyudahi petualangan kambingnya, atau setidaknya mereka istirahat dulu menikmati kopi sore sebelum Boy mengajaknya entah kemana lagi.

“Ke rumah Sheren,” jawab Boy singkat.

Hampir sampai ke rumah Sheren ketika Boy berbelok dan memarkir mobilnya ke halaman ruko kosong yang dipenuhi kambing-kambing gemuk.
Randi mengekor Boy turun dari mobil dan menghela napas mengetahui Boy ingin beli kambing lagi. Kali ini Randi membiarkan Boy yang memilih-milih sendiri sedangkan dia bersandar pada mobil sambil melipat dua tangan ke dadanya.

Sesaat kemudian Boy sudah menggiring kambing tergemuk dan terbesar dengan tanduk panjang yang kokoh.

‘'Mau kemana, Boy!” teriak Randi melihat Boy berjalan ke luar area ruko meninggalkan mobilnya. Disusulnya Boy secepat mungkin.

“Tadi sudah kubilang kita ke rumah Sheren,” jawab Boy ketika Randi sudah berjalan disampingnya.

“Lalu kenapa kau bawa-bawa kambing?”

“Untuk Sheren,”

Randi terlonjak, “Buat apa?!”

“Buat Sheren, tadi sudah kubilang apa kau tidak dengar,” Boy menengok ke arah kanan dan kiri bermaksud menyeberang jalan.

“Maksudku buat apa kau beri kambing untuk Sheren?”

“Untuk hadiah kurban.”

Randi ingin bertanya lagi tapi diurungkannya karena tidak mau merusak suasana hati Boy yang mungkin berubah jika dicecar pertanyaan darinya.

Lima menit kemudian mereka sampai di rumah Sheren. Mereka dipersilahkan masuk oleh supir keluarga Sheren yang terheran-heran, tapi tak berani tanya, saat melihat kambing Boy.
S
keluar dari dalam rumah dan terkejut melihat Boy muncul mendadak di halaman rumahnya.

“Selamat Idul Adha, Sayang. Ini untukmu,” tanpa basa-basi Boy menyorongkan kambing ke arah Sheren, “maaf tidak diberi pita karena ini kambing jantan. Kalau diberi pita jadi banci.”

“Maksudmu apa ya, Boy?” tanya Sheren tidak yakin pada sikap aneh Boy.
 
Boy memamerkan gigi-giginya yang putih dan berkilau, “Ini kambing untukmu, Sayang. Silahkan diterima.”

Sheren mundur menjauh dan menolak mengambil kambing dari tangan Boy.

“Apa-apaan sih kamu, Boy? Buat apa kamu memberiku kambing?”

Sheren melongok ke kanan-kiri dan memanjangkan lehernya ke arah gerbang berharap menemukan kamera yang menyadarkannya bahwa ini prank.

“Kalau kamu berharap ini prank untuk konten, kamu keliru. Tidak ada kamera atau apapun karena yang aku berikan ini tulus bukan untuk mengerjai dan menjahilimu,” Boy maju lagi mendekati Sheren.

Sheren mundur dan sekali lagi melihat ke sekelilingnya berharap menemukan tanda bahwa dia memang sedang dijahili. Tapi yang dilihatnya hanya supir yang juga penasaran ada apa dibalik pemberian kambing itu.

Harapan Sheren musnah karena tidak ada tanda-tanda Boy melakukan prank terhadapnya.

“Tolong terima, Sayang. Tidak ada yang lebih indah dari berkurban di hari raya kurban ini,” bujuk Boy sambil maju lebih dekat kepada Sheren.

“Boy, stop!” Sheren mulai hilang kesabaran. 

“Kalau kamu maju lagi dan nekat memberi kambing padaku, kau tak usah jadi pacarku lagi!”

“Sheren, Sayang, kalau kau terima kambing ini lalu kau kurbankan ke masjid, kau akan dapat pahala. Aku memberimu hadiah dunia akhirat,  Sayang.”

Sheren murka, “Pergi, Boy! Bawa kambingmu dan jangan hubungi aku lagi! Kau sudah sinting!” Pergi, Boy!” Sheren mengangkat telunjuknya tinggi ke arah gerbang untuk mengusir Boy.

Boy pergi tanpa mengucap sepatah katapun. Dia menggiring kambing jantannya keluar rumah Sheren, bersama Randi yang membisu berjalan disampingnya.

Randi terus mengikuti Boy berjalan ke arah, yang Randi yakin, ke masjid berjarak lima ratus meter dari rumah Sheren.

“Kita berhasil, Ran,” kata Boy.

“Berhasil putus atau berkurban kambing?” 

“Dua-duanya,” Boy sumringah, “thanks bantuannya, sob!”

Sejak awal Randi sudah merasa dianggap sebagai asisten pribadi daripada teman kuliah. Boy memberi “uang terima kasih” tiap kali Randi membantunya membuat tugas kuliah, mengingatkan jadwal kuliah, atau membeli buku-buku yang diperlukan. 

Tiga bulan setelahnya Boy memberinya upah bulanan ditambah uang pulsa yang secara tidak langsung menyatakan, “Mulai saat ini kau bekerja padaku.”

Maka Randi sangat paham jika Boy memanggilnya dengan sebutan “sob”, berarti Boy sedang sangat bersuka cita.

Membeli banyak kambing senilai lima puluh juta untuk kurban dan sedekah memang membangkitkan suka cita. Tapi memutuskan pacar secara “jantan” menggunakan kambing jantan? 
Menurut Randi itu gila, dalam tanda kutip.
Cerpen: Sepiring Ubi Rebus

Cerpen: Sepiring Ubi Rebus

Hujan sudah mulai reda meski masih menyisakan rintik-rintiknya yang dingin. Andri menarik rapat jaketnya. Perasaan bosan mulai menyergap dirinya. Tuan rumah, Pak Dimar, yang juga adalah direktur di departemennya, belum juga keluar menemui mereka.

“Mas Andri enggak makan ubinya? Enak lho! Lumayan jadi pengganti makan malam,” kata Kimun sambil menyodorkan sepotong ubi rebus ke hadapan Andri.

Andri menggeleng, “Aku sudah kenyang.”

Sebenarnya Andri malas sekali berkunjung ke rumah atasannya itu. Hari Jumat jalanan selalu macet, akan bertambah parah macetnya kalau hujan. Jam berapa nanti dia akan bertemu teman-temannya di klub boling, sekarang saja sudah pukul delapan malam.

Pak Dimar baru pulang dari luar negeri tadi siang, sementara proposal yang sudah ditandatangani Pak Dimar harus siap Senin pagi. Itu harus sebabnya dengan terpaksa Andri mengantar draft proposal malam ini.

Beginilah risiko karyawan baru, selalu kena tugas yang tak mengenakkan. Pak Dimar direktur yang memimpin departemen marketing dan komunikasi di kantor pusat, tapi Andri baru satu dua kali bertatap muka dengan beliau karena dia juga baru satu bulan bekerja di perusahaan asuransi milik negeri Elizabeth itu. 
Jadi sungguh canggung sekali Andri bertamu ke rumah Pak Dimar.

Untunglah Kimun si office boy, yang memang dikenal sebagai office boy favorit di departemen Pak Dimar, bersedia menemaninya. Padahal tadi siang Andri hanya basa-basi memintanya ikut ke rumah Pak Dimar. Alasan Andri iseng mengajak Kimun karna dia belum berkeluarga sepertinya, jadi Kimun tidak bakalan terbebani jika pulang larut malam.

Yang menjadi soal, hari ini Andri sudah punya janji yang sudah dibuat jauh hari sebelumnya dengan teman-teman kuliahnya untuk pergi ke arena boling.

“Kalau sama Pak Dimar, apa yang sudah disuguhkan kepada kita artinya benar-benar boleh dimakan, Mas,” kata Kimun berusaha supaya Andri juga menikmati hidangan yang disediakan. "Bukan sekedar basa-basi."

Andri hanya tersenyum. Kimun mengambil potongan talas goreng yang langsung masuk ke mulutnya. Tak lama seruputan teh panas terdengar pula dari mulut Kimun.

Apa dikira mukaku seperti orang kampung jadi dihidangkan ubi rebus dan talas goreng? pikir Andri. Kalau dilihat dari besar dan megahnya rumah Pak Dimar yang berada di kompleks perumahan paling mewah di Jakarta, sulit membayangkan bahwa yang dihidangkan kepada tamu adalah ubi rebus dan talas goreng. Tanpa sebab yang jelas tiba-tiba ada rasa tersinggung berdesir di dada Andri yang disuguhi ubi rebus dan talas goreng. 
Ilustrasi (Cookpad/Ecefa)

Desiran yang berasal dari egonya sebagai lelaki metropolitan yang dibesarkan dengan moderen oleh orang tuanya.

“Maaf lama menunggu. Ayo silahkan dimakan lagi, mau tambah tehnya?” sapa Pak Dimar dari balik pintu besar rumahnya. Pak Dimar memakai sarung hitam dengan polo shirt warna hijau.

“Makasih, Pak,” jawab Andri dan Kimun bersamaan. "Ini sudah cukup," sahut Kimun kemudian.

Beberapa detik setelah Kimun menutup mulutnya, perempuan setengah baya pekerja rumah tangga Pak Dimar datang mengantar tiga cangkir kopi dan ubi rebus lagi. Setelah pekerjanya pergi, Pak Dimar mengambil sepotong ubi rebus dan mengunyahnya. Melihat Pak Dimar makan ubi rebus ketersinggungan yang tadi kental di dada Andri mendadak luntur dan berubah menjadi rasa malu.

“Ayo silahkan dimakan lagi. Santai saja, ini kan bukan di kantor dan bukan pula jam kantor,” kata Pak Dimar ramah.

“Kalian kena macet ya?” tanya Pak Dimar lagi. Pria lima puluh tahunan itu bertanya penuh perhatian.

“Sedikit, Pak,” Andri menjawab rikuh. Ia bingung harus basa-basi bagaimana di rumah bosnya itu.

“Ubi dan talasnya enak sekali, Pak. Rasanya pulen,” tiba-tiba Kimun menyeletuk. Andri merasa Kimun berani sekali.

Pak Dimar tertawa kecil. Rupanya Pak Dimar senang dengan kepolosan Kimun.

“Alhamdulillah kalau kamu suka. Ini penganan kegemaran saya. Kemarin saya ke luar negeri untuk berobat, dokter bilang penyakit saya tambah parah. Saya jadi sakit karena dalam undangan rapat atau pesta sering makan, yang kalian bilang makanan enak itu. Akhirnya segala macam penyakit saya derita. Karena itulah untuk menghindari penyakit saya makin parah, saya lebih doyan ubi rebus,” kata Pak Dimar yang tertawa pelan.

Oh, jadi Pak Dimar ke luar negeri benar untuk berobat. Andri jadi malu karena lebih percaya pada gosip teman-temannya yang bilang Pak Dimar ke luar negeri untuk berlibur dan belanja. Padahal Mas Wingky, manajernya di kantor, sudah mengatakan Pak Dimar berobat.

“Mana draft proposal yang kamu bawa?” tanya Pak Dimar pada Andri.

“Ini, Pak,” Andri menyerahkan amplop putih besar berisi draft dimaksud. Sambil menunggu Pak Dimar selesai membaca mau tak mau Andri menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah. 

Malam itu menjadi malam yang akrab bagi Andri dan Kimun di rumah Pak Dimar. Apalagi, selagi menunggu Pak Dimar memeriksa proposal, Bu Dimar sempat menghangatkan suasana dengan cerita-cerita romansa bersama Pak Dimar selagi mereka muda.

Sesekali Andri dan Kimun saling menceritakan kisah dan pengalaman masing-masing karena diminta Bu Dimar. Kimun ternyata punya banyak cerita menarik dari masa kecilnya di pedalaman Gunung Kidul sana.

Kesempatan itu juga dimanfaatkan Andri untuk berdiskusi seputar industri asuransi yang dia masih awam didalamnya. Dari cerita-cerita Pak Dimar Andri berkesempatan menyerap banyak ilmu dan pengalaman berharga. 

Sebelumnya empat tahun Andri bergelut di bidang periklanan, bidang yang amat bertolak belakang dari asuransi. 

Bayangan Andri tentang sosok Pak Dimar seperti yang dia simpulkan dari rekan-rekan kantornya ternyata tidak terbukti. Pak Dimar memang orang kaya sejak lahir, tapi pembawaannya lebih membumi daripada Andri.

Tak terasa waktu bergerak makin malam. Pukul sepuluh malam hampir lewat. Andri melirik Kimun dan menunjuk jam tangannya. Kimun mengangguk tanda mengerti.

“Maaf, Pak. Sudah jam sepuluh lewat, kami mau pamit dulu, kuatir makin mengganggu istirahat Bapak,” kata Andri.

“Iya, Pak,” Kimun mengiyakan.

“Oh iya. Kalian sudah kemalaman ya, harus istirahat juga,” jawab Pak Dimar. Ia lalu memanggil istrinya. Ibu Dimar pun menghampiri dengan membawa dua bungkusan di tangannya.

“Ini oleh-oleh untuk kalian,” Ibu Dimar menyerahkan bungkusan itu masing-masing ke tangan Andri dan Kimun membuat mereka berdua semringah sekaligus canggung  menerimanya.

Seperti anak panti asuhan saja berkunjung diberi bingkisan, pikir Andri.

“Juga ini untuk pengganti transpor kalian berkunjung kesini,” lagi-lagi Ibu Dimar menyerahkan dua amplop berisi lima lembar seratus ribuan langsung ke tangan Andri dan Kimun, membuat mereka takbisa menolak sekaligus takbisa menahan malu.

“Terima kasih, Bu. Kami jadi malu karena merepotkan seperti ini,” kata Kimun menempatkan diri berbicara mewakili Andri.

“Iya, Bapak dan Ibu mestinya tak usah repot-repot,” sambung Andri.

“Tidak apa, kan tidak setiap hari kalian kesini. Setiap hari pun boleh. Kalau saya tidak ada ngobrol saja dengan Mas Kirman," ujar Pak Dimar sambil menyebut nama penjaga keamanannya. 
Bu Dimar mengiyakan.

“Kalau begitu kami pamit pulang, Pak Dimar, Ibu,” kata Andri dan Kimun sambil menyalami keduanya dengan tubuh sedikit membungkuk tanda hormat.

Dalam perjalanan pulang Andri mengutarakan perasaannya pada Kimun yang lalu ditimpali Kimun, “Kan sebelumnya saya sudah bilang sama Mas Andri, Pak Dimar itu beda, makanya saya hormat sekali sama beliau,” katanya tersenyum lebar.

Andri juga merasakan hal yang sama seperti Kimun. Dalam sinar lampu-lampu kota yang buram karena rintik hujan, Andri mengemudikan mobilnya dengan senang dan lega. Perasaan ini lebih menyenangkan dibanding main boling bersama teman-temannya.

Satu Setengah Juta Rupiah

Satu Setengah Juta Rupiah

Sampan bergegas ke sekolah tempat anaknya didaftarkan di sekolah menengah pertama. Tasnya ia sampirkan dibahu kirinya.  Hari ini ia membawa uang satu setengah juta rupiah.

Bersama Cipluk, anak tertuanya, Sampan menumpang bajaj tetangganya. Sampan mampu pergi dengan hati sedikit bersyukur. Karena giatnya ia menabung dan menjual beberapa barang - barangnya, Cipluk bisa masuk SMP. Tak tanggung – tanggung, Sampan membayar dua juta rupiah lebih hanya untuk biaya masuk murid baru. Kadang Sampan bangga. Itu artinya ia mampu menyediakan uang dan anaknya tak sampai putus sekolah. Kata Pak Bimo, majikannya, pendidikan itu penting karena bisa membuat hidup lebih baik.

Sampan dan istrinya hanya sekolah sampai kelas enam SD, itupun tak tamat karena tak mampu bayar biaya ujian sekolah negeri yang katanya sudah amat murah itu. Tapi Sampan sekaligus bingung. Kalau Cipluk saja sudah menghabiskan jutaan rupiah untuk masuk SMP, bagaimana nanti dengan adik – adiknya? Ah, Sampan yakin Tuhan Maha Pemurah pasti memberi kemudahan padanya.


Asmara Sebundar Bola

Asmara Sebundar Bola

Budi mematut-matut dirinya di depan cermin. Penampilan Budi rapi sekali. Tubuhnya menebarkan bau harum bagi hidung siapapun yang kebetulan lewat di dekatnya. Melihat penampilan Budi yang seperti itu, dari balik pintu kamar Budi yang terbuka, Ponaryo masuk dan tak tahan untuk tak berkomentar.

“Rapi sekali seperti mau kondangan,”ujar Ponaryo sambil senyum-senyum.Yang ditanya diam saja namun menebarkan senyum lebar sambil menggeleng.

“Mau kencan.” Ponaryo mengangkat sebelah alisnya.

“Dengan siapa?” tanya Ponaryo penasaran.

“Perempuan cantik.” jawab Budi singkat.

Malam sudah menanjak tinggi waktu Budi mematut dirinya di cermin. Matahari sudah resmi berganti tugas dengan bintang dan bulan di malam minggu yang cerah ini. Keramahan sinar bulan membuat suasana di asrama yang penghuninya para pemain sepakbola ini terasa menyenangkan. Asrama ini memang ditinggalkan beberapa penghuninya yang sedang makan malam dengan keluarganya, juga ditinggal penghuni yang jalan-jalan di pusat perbelanjaan terdekat. Sementara yang lain pergi, ada penghuni lain yang memutuskan tinggal di asrama sambil bermain playstation atau menonton DVD. Mereka yang masih tinggal itu termasuk Budi dan Ponaryo.