Asal Mula Panggilan Haji dan Hajjah di Indonesia

Asal Mula Panggilan Haji dan Hajjah di Indonesia


Zaman ketika Belanda masih menjajah Indonesia, setiap orang yang hendak berangkat dan pulang dari beribadah haji ke Arab Saudi didata oleh pemerintah Belanda. Hal ini dilakukan jika ada wilayah yang bertolak melawan pemerintahan kolonial maka orang-orang yang sudah berhaji itulah yang lebih dulu dicari.

Why is that? Mengapa begitu? Karena orang-orang Indonesia yang bukan keturunan Arab semangat jihad dan keimanannya pasti berlipat-lipat ketika sampai di tanah tempat Islam diturunkan itu. Semangat itu dibawa sampai pulang ke Indonesia. Inilah yang ditakuti Belanda. Jika semua orang yang pulang beribadah haji punya semangat dan keimanan tebal maka pendudukan Belanda pasti terancam. Pribumi (kata yang digunakan penjajah Belanda kepada orang Indonesia asli) akan melawan dan mengusir mereka.

Maka Belanda mendata semua orang yang pulang dari tanah suci. Mereka dikarantina disuatu tempat sebelum pulang ke rumah masing-masing dan diberi tanda "haji" atau "hajjah". Orang yang pulang berhaji dari Arab akan ditandai dengan "haji" dan "hajjah" untuk memudahkan Belanda  mengawasi mereka karena semangat dan keimanan mereka bisa membuat orang-orang di sekitar mereka melawan pemerintah Belanda.

Penandaan "haji" dan "hajjah" itu berlanjut sampai sekarang. Kita memanggil orang yang sudah berhaji dengan sebutan, misal, "Haji Udin" atau "Hajjah Mirna".

Padahal pergi haji ke Mekah itu ibadah wajib (bagi yang mampu) sama seperti ibadah shalat, puasa, dan zakat. Apa selesai kita melakukan shalat tahajud lantas kita dipanggil dengan Tahajud Polan, atau Maghrib Polan? Kan tidak. Jadi tidak ada kewajiban memanggil orang yang sudah naik haji dengan sebutan "pak haji" dan "bu hajjah", itu hanya kebiasaan dan penghormatan terhadap orang yang sudah jauh-jauh pergi haji ke Arab.

However, itulah Islam Nusantara. Islam yang rahmatan lil alamiin tapi berasimilasi dengan kebudayaan dan kebiasaan di Indonesia tanpa meninggalkan Qur'an, hadits, mahzab, dan ijtima ulama.
Tekad Kuat Setan Lewat

Tekad Kuat Setan Lewat

Puasa sunah tarwiyah dan arafah pada 30-31 Agustus 2017 -8-9 Djulhijah 1438H- ini terasa berat diawal. Malam sebelumnya ada keraguan antara puasa atau tidak. Malahan saya mengentengkannya dengan anggapan, "Ahh, cuma puasa sunah ini kan. Malas juga deh."

However, Alhamdulillah setan yang bercokol berhasil ditendang jauh-jauh jauh dengan mengucapkan niat puasa sunah dan menyetel alarm untuk bangun sahur.

Ndilalah, alarm ponsel gak nyala, mati aja terus. Padahal ponselnya dalam keadaan menyala. Setelan alarmpun pas di jam 3.30 WIB. Alhamdulillah, sebelum masuk waktu imsak, saya dibangunin suami. Dengan sayur sisa semalam tanpa dipanaskan, tanpa lauk dan ditemani teh panas, berhasillah saya dan suami sahur.

Jadi, selain dibutuhkan niat juga usaha. Apapun itu harus ada usaha kalau mau berhasil. Bahkan untuk puasa sunahpun perlu usaha untuk menunaikannya sampai Maghrib.

Yang Kafir, Lebay, dan Diskriminatif

Yang Kafir, Lebay, dan Diskriminatif

 Penganut Islam yang membela Ahok bukan kafir tapi membela ketidakadilan terhadap orang yang mereka anggap jujur, amanah, dan berani melawan koruptor.

Siapa saja yang senang Ahok dipenjara? Mereka yang tidak suka lahan korupsinya digilas. Lihat saja Lulung, penguasa parkir dan preman Tanah Abang. Juga Daeng Azis, pemilik kafe di lokalisasi Kalijodo. Juga para koruptor tahanan KPK yang berfoto tiga jari tanda dukungan terhadap Anies Baswedan. Orang biasanya berkumpul bersama orang yang seidealisme atau sepikiran dengannya. Dalam hal ini para koruptor yang mendukung Anies berpikir bahwa Ahok bukan bagian dari mereka yang senang memperkaya diri dan kelompoknya sehingga tidak perlu didukung menjadi gubernur.

Kebetulan mereka yang benci Ahok juga pembenci Jokowi. Karena Ahok sama dengan Jokowi. Mereka sama-sama pemimpin yang dianggap jujur dan adil. Pemimpin seperti ini tidak disukai kelompok penggila KKN karena tidak punya ruang untuk melakukan aksinya.

Kami yang lebay, dicap kafir dan kerap mendapat perlakuan diskriminatif membela Ahok karena ia simbol kejujuran. Lihat bagaimana ia melawan DPRD yang menyusupkan anggaran siluman 12 triliun. Ia adalah simbol ketidakadilan dimana selip lidah dianggap memecah belah bangsa padahal banyak penganut Islam lain yang menghina agama lain tidak diapa-apakan.

Kita yang umat Islam mestinya menegur mereka yang salah kalau mereka benar-benar khilaf. Membimbing mereka yang secara tidak sengaja melakukan kesalahan. Kenapa? Karena Rasulullah mencontohkan demikian. Karena Islam itu rahmatan lil alamin, rahmat untuk semua.
Kok Mau Dibodohi PAKAI Aksi Bela Islam?!

Kok Mau Dibodohi PAKAI Aksi Bela Islam?!

Aksi Bela Islam sudah tahu semua kan yes. Kemarin tuntutannya supaya Basuki di proses hukum karena menista Surat Al Kaidah ayat 51 tentang pemimpin non muslim. Padahal sebelum Aksi Bela Islam dilakukan proses hukum terhadap Basuki sudah berjalan. Beberapa saksi sudah diperiksa Bareskrim Polri. Basukipun sudah datang kesana untuk memberikan keterangan.

Setelah aksi 4 November 2016 Basukipun ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama Islam. Lalu ada rencana aksi 25 November menuntut Basuki dipenjara. Tapi banyak kecaman karena aksi dianggap tidak relevan lagi, maka diubah jadi doa bersama dan aksi super damai pada 2 Desember 2016 di Monas.

Kenapa ngotot sekali menginginkan Basuki dijebloskan ke penjara, bahkan kalau perlu mati sekalian? Memangnya Basuki menindas umat Islam? Seberapa parah Basuki menghina Al Quran? Padahal kalau kita lihat video asli Basuki yang berpidato di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, tidak ada konteks Basuki melecehkan Al Maidah 51. Beliau dalam konteks menyindir politikus yang suka membodohi rakyat yang menggunakan Al Maidah untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Video itu kemudian dipotong dan diberi caption provokatif oleh Buni Yani sehingga konteks yang asli jadi berubah menjadi pelecehan Al Maidah 51.

Kenapa Basuki harus dipenjara? Supaya Basuki gagal jadi gubernur dan APBD DKI bisa jadi tambang emas bagi para maling berdasi. PNS korup juga aman bekerja asal-asalan yang penting pendapatan maksimal. Pengusaha-pengusaha hitam juga senang kalau gubernurnya bukan Basuki karena segala perda bisa diterabas dengan asik.

Dan supaya Basuki tidak jadi gubernur, duit 100 milyar (yang katanya sumbangan dari rakyat Indonesia) pun rela dirogoh. Umat Islam diprovokasi bahwa Jokowi memihak Basuki supaya berhasil jadi gubernur DKI yang kafir. Potongan video dan caption karya Buni Yani disebar kemana-mana supaya rakyat percaya Basuki menista Islam.

Presiden Jokowi sendiri sudah mengisyaratkan bahwa ada aktor politik dibalik Aksi Bela Islam yang berkaitan dengan Pilkada DKI.

Coba pakai logika. Tidak mungkin orang dari daerah mau ke Jakarta kalau tidak dikasih duit atau diprovokasi. Apalagi orang daerah itu tidak melek YouTube sehingga hanya dengan disodorkan screenshot Facebook Buni Yani ditambah ancaman, "nanti kualat 7 turunan kalau melawan habib", maka terbakarnya iman Islam mereka melawan Basuki calon gubernur kafir penista Islam.

Maka berbondong-bondonglah mereka ke Jakarta. Sebagian datang dengan pikiran kosong dan setengah bingung, sebagian datang karena senang bisa tamasya gratis ke ibukota, makan dijamin, transportasi dikasih, diberi uang saku lagi.

Apapun dalih FPI, kami tahu bahwa Aksi Bela Islam bukanlah benar-benar membela Islam, tapi menggulingkan Basuki supaya gagal jadi gubernur DKI. Selain itu untuk menggoyang pemerintahan Jokowi supaya situasi politik memanas. Politik yang panas menghambat pembangunan ekonomi sehingga kesejahteraan rakyat mandek. Kalau pemerintahan Jokowi mandek maka pemerintahan presiden sebelumnya akan terlihat kinclong menakjubkan.

Benar yes, buat apa ngotot unjuk rasa besar-besaran kalau tidak ada udang dibalik batu.

Aksi damai yang sesungguhnya adalah tidak adanya aksi intimidasi yang dibalut dengan aksi super damai.

Harga Pangan Naik Karena Kita Takut Kelaparan

Harga Pangan Naik Karena Kita Takut Kelaparan

Iya, lihat deh, seminggu sebelum puasa mulai kita memborong buah-buahan, daging, telur, sirup, dan aneka makanan lain. Supaya selama puasa punya stok makanan yang cukup katanya. Selain itu saat berbuka kita menyediakan aneka hidangan di meja melebihi yang bisa ditampung lambung. Itu wajar, katanya, karena tubuh butuh kompensasi setelah berlapar dan berhaus selama 14 jam.

Selama bulan puasa coba lihat berapa banyak penjual takjil dan lauk-pauk dadakan di pasar-pasar, pinggir jalan, ujung gang, dan perumahan. Mereka semua perlu bahan pokok untuk diolah jadi makanan. 

Itulah beberapa penyebab kenapa harga pangan selalu naik saat Ramadhan dan Idul Fitri. Bukan melulu karena pemerintah tak mampu menahan permainan kartel dagang atau inflasi, tapi juga karena pola makan penduduk yang rakus. 

Padahal puasa itu menahan hawa nafsu. Tapi yang terjadi malah mengumbar nafsu. Puasa bisa jadi ajang berhemat, lho, padahal. Dengan tidak adanya makan siang, uang yang dialokasikan untuk makan siang mestinya bisa ditabung. Tapi ya itu puasa malah jadi dalih untuk mengumbar nafsu.

Jadi, sebelum mengeluh harga pangan yang mahal ketika Ramadhan dan Idul Fitri coba perbaiki dulu niat kita menjalankan ibadah puasa. Lillahi taala atau melampiaskan nafsu makan.
Tak Perlu Tutorial Hijab

Tak Perlu Tutorial Hijab

Sebagian besar perempuan pemakai hijab pasti mengalami "gegar fashion" saat awal-awal mengenakan hijab. Cari tutorial sana-sini untuk pemakaian hijab pesta, hijab kantor atau untuk jalan-jalan. Semua jenis hijab dibeli, ciput aneka warna menumpuk dan peniti serta bros-bros memenuhi meja rias.
Ada yang berhasil menjadi pemakai hijab trendi yang mengikuti mode, tapi lebih banyak yang gagal.

Kelompok yang gagal ini lantas kembali di hijab "klasik" yaitu jilbab segitiga dan ciput model bandana. Pakaianpun paling banter gamis, bukan dress, dan tunik.

Sebenarnya saat perempuan memutuskan menutup auratnya, ia harus ingat bahwa mode bukanlah yang utama, tapi syarat berpakaian yaitu tidak ketat membentuk lekuk tubuh, tidak tipis menerawang, dan tidak memperlihatkan tonjolan buah dada. Syarat itu rasanya mudah dilakukan sebagai patokan untuk membeli pakaian.

Kalau untuk pakaian dan hijab pesta beli saja hijab instant tinggal pakai. Tak perlu repot menguntel-untel pashmina atau shawl dikepala dan leher, tak perlu tusuk-tusuk peniti, dan tak usah pasang aksesori di kerudung. Bajupun banyak gamis cantik khusus pesta, tinggal pakai.

Pada muslimah yang meyakini bahwa warna busana muslimah haruslah gelap dan tidak berwarna-warni, malahan hanya memakai pakaian hitam, coklat tua dan abu-abu. Ini karena ada tafsir hadits yang menyaratkan bahwa warna baju muslimah tidak boleh mencolok sehingga mengundang perhatian. Ukuran baju merekapun benar-benar longgar dengan hijab lebar panjang. Merekapun tidak pernah pakai celana panjang karena celana identik dengan laki-laki, sedangkan perempuan dilarang memakai pakaian yang menyerupai laki-laki. Saat mereka naik motorpun tetap pakai rok.

Jadi sebenarnya kita muslimah tak perlu repot-repot memakai baju mode terbaru dengan aneka model hijab. Cukup ikut syarat berpakaian yang diberikan agama saja. Aturan agama dibuat bukan untuk merepotkan manusia tapi mengatur supaya manusia hidup nyaman, teratur, dan bahagia.

Jangan sampai niat berhijab malah bikin kerepotan yang dibikin-bikin sendiri. Muslimah yang baru berhijab tak perlu repot menjadi hijaber modis, niatkan saja penampilan menutup aurat lillahi taala. Insya Allah jd pede memakai hijabnya meski tidak fashionable (^^)/

---------------------------------------------------------------
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan (melaknat) wanita yang menyerupai lelaki.” (HR.al-Bukhari no. 5885)

Berjilbab, Karena Allah atau Trend?

Berjilbab, Karena Allah atau Trend?

Saya senang melihat makin banyak perempuan menutup aurat dengan mengenakan jilbab. Apalagi dengan adanya kelompok beranggotakan para perempuan yang bernama Hijabers. Cara berkerudung dan baju-baju mereka modis, fashionable, dan tidak melulu berupa rok atau celana panjang. Islam mengajarkan kesederhanaan, meski anggota Hijabers kadang terlihat berlebihan dalam berbusana, tapi patut diapresiasi mereka berjilbab karena Allah.

Alhamdulillah, meski cara berbusana saya tidak fashionable seperti kelompok Hijabers tapi saya bersyukur menjadi bagian dari orang yang mengenakan jilbab.

Pada akhir 2011, waktu hamil 5 bulan anak pertama, saya baca status teman SMP saya di Facebook yang menganjurkan muslimah untuk tidak menunda mengenakan jilbab, sayapun terusik. Saya mencari dalil-dalil dalam Quran dan Hadits tentang jilbab.

Memang benar, muslimah wajib mengenakan jilbab ketika sudah memasuki usia baligh. Tidak ada tawar-menawar. Alhamdulillah sejak itu saya pakai jilbab kalau keluar rumah atau jika ada tamu bukan mahram bersilaturahim ke rumah.
Akan tetapi, karena pemula, dulu saya maunya berjilbab modis. Karena kalau cuma pakai jilbab dan baju yang "sekedar" menutup aurat rasanya kuno, seperti ibu-ibu pengajian yang tidak trendi.

Sayapun rajin melihat youtube, mempraktikkan aneka tutorial jilbab, jepit sini pakai peniti disana, lilit sana lipat sini. Ternyata, repooott! Kalau dipakai saat jalan-jalan atau ke acara tertentu memang pe-de rasanya. Berjilbab tapi gaul dan keren. Tapi ketika sudah masuk waktu shalat kerepotan itu datang.
Alhamdulillah, suami saya termasuk orang yang tidak suka menunda shalat. Sering ditengah acara kami shalat sebentar. Buka jilbab gaul itu ternyata merepotkan.

Memasangnya lagi lebih merepotkan karena tidak semua masjid/mushola menyediakan cermin.

Untungnya sekarang banyak jilbab instant langsung pakai. Tanpa banyak peniti bisa tetap rapi. Melepas dan memakainyapun gampang. Sekarang saya lebih sering pakai bergo atau kerudung segiempat yang dilipat segitiga, paling praktis deh! Suami juga tak peduli saya dandan cantik atau tidak kalau keluar rumah, yang penting cara berpakaian saya harus syar'i. Tapi ya kalau kucel juga kan gak bagus, minimal bedakan sama lipstikan lah meskipun cuma ke warung, ehehee!

Meanwhile, saya prihatin dengan banyak muslimah berjilbab tapi tidak shalat. Baju dan jilbab mereka bagus-bagus, modis, tapi sampai waktu shalat hampir habis mereka tidak juga shalat. Ini kebanyakan saya lihat di kantor-kantor dan mall. Saat bulan Ramadhan apalagi. Banyak perempuan berjilbab santai makan di restoran fast food. Okelah mereka sedang datang bulan dan tidak puasa. Akan tetapi, karena jilbab mereka itu mereka dipandang sebagai orang sholehah. Sebaiknya orang sholehah menahan diri untuk tidak terang-terangan makan-minum ditempat terbuka (umum) di bulan Ramadhan, bulan spesial bagi umat Islam.

Pun begitu ketika bulan Ramadhan memunculkan buka puasa bersama. Puasa tapi tidak shalat. Buka puasa bersama tapi bersama-sama tidak shalat.

Hal-hal demikian memunculkan pemikiran saya bahwa kebanyakan perempuan berjilbab karena trend, bukan karena Allah SWT.

Munculnya pemakai jilbab bercelana ketat, dada membusung, dan penggunaan cepol dikepala menambah keyakinan saya bahwa jilbab sekarang adalah bagian dari trend fashion, bukan kesadaran untuk menjadi muslimah sejati.

Islam tidak melarang perempuan mengenakan baju bagus sesuai trend, asal sesuai syar'i. Tapi jangan pula karena merasa belum dapat hidayah lantas kita menunda memakai jilbab. Hidayah itu dicari bukan ditunggu. Kalau kita sudah tahu kewajiban muslimah memakai jilbab, lantas kenapa menunda menutup aurat?

Semoga saja kita tidak termasuk perempuan yang mengenakan jilbab karena ingin dipandang solehah, melainkan karena Allah, bukan pula karena lingkungan dan trend, Aamiin!






Jilbab Fisik Lebih Penting Dari Jilbab Hati

Jilbab Fisik Lebih Penting Dari Jilbab Hati

Pamer aurat di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini seperti tiada akan berakhir. Di tempat belanja mewah, pasar, gang senggol, bahkan dipinggir jalan seringkali kita lihat paha dan dada bertebaran. Media yang paling sering jadi pelopor pameran paha-dada adalah televisi, terutama Trans7 dan Trans TV.  Di televisi kita bisa gampang menemukan acara dimana perempuannya hanya berkutang dan bercelana super pendek. Bahkan koki acara masak-memasakpun ikutan berbaju minim. Padahal sebebas-bebasnya negara barat para chefnya berpakaian sopan untuk acara masak di televisi.

Kenapa kok para perempuan lebih senang memamerkan tubuh indahnya daripada menyembunyikannya? Kalau dipamerkan bukannya jadi tidak eksklusif ya, kan semua orang, terutama laki-laki, jadi bisa gratis memelototinya. Mestinya, mengambil contoh pada media massa, semakin eksklusif semakin tinggi nilainya. Karena itulah Islam menjaga perempuan supaya eksklusif (baca: tidak pamer aurat) sehingga terjaga kehormatannya.

Kalau ditanya, "Apa yang menghalangimu dari berjilbab, saudariku?" Umumnya mengatakan, "Saya ingin menjilbabkan hati dulu sebelum memakai jilbab dan menutup aurat." Padahal jilbab dalam arti bebas berarti menutup. Kalau berjilbab hati berarti menutup hati dari hidayah-Nya dan ajaran Islam. Menutup aurat adalah kewajiban muslimah yang tercantum dalam Quran dan Hadits. Kalau kewajibannya sudah begitu masa mau ditawar-tawar?

Ada lagi yang bilang, "Yang penting hati gw. Allah lebih tahu hati gw tetap takwa." Baiklah, logikanya, jika mengaku bertakwa kita tentu ikhlas menjalankan perintah Allah untuk berhijab/jilbab sebagai bukti ketakwaan. Kalau suami kita bilang "I love You" di telinga kita, kita tentu senang bukan?! Tapi kalau dia bilang i love you cuma dalam hati, mana kita tahu dia benar sayang pada kita atau tidak.

Jawaban lain yang juga populer adalah, "Urusan ibadah biar jadi urusan saya dan Tuhan. Tuhan tidak perlu jilbab saya." Iya betul! Allah tidak perlu jilbab, shalat, puasa, dan haji kita. Tapi kitalah yang perlu melakukan semua yang diperintahkan itu untuk dapat "password" Allah memasuki surga-Nya. Ketika kiamat tiba manusia akan hidup kekal, entah di surga entah di neraka. Sebelum ke alam kekal tentu kita perlu bekal. Shalat, puasa, haji, melakukan semua perintah Allah dan Rasul-Nya, termasuk menutup aurat, adalah bekal menuju kehidupan kekal.

14 Februari Bukan Sekedar Hari Kasih Sayang

14 Februari Bukan Sekedar Hari Kasih Sayang

Tanggal 14 Februari adalah hari kasih sayang, begitu kata banyak orang. Entah paham atau tidak asal muasal hari kasih sayang itu, banyak orang kemudian membeli mawar, coklat, pernak-pernik pink, bahkan kondom.

Meningkatnya penjualan kondom di Hari Valentine, buat saya pribadi, mengesankan bahwa

14 Februari adalah hari mesum alias hari dimana orang dengan kedok "kasih sayang" merasa bebas melakukan seks diluar nikah.

Padahal nun jauh di abad ke-3 atau pada 14 Februari 270 M, berdasarkan "sejarah" lahirnya Hari Valentine, Pastor Valentine dibunuh karena dianggap menentang perintah Raja Claudius II untuk tidak menikahkan pasangan muda pada waktu yang ditentukan. Perintah raja yang melarang wanita dan pria muda menikah karena ia sedang butuh prajurit untuk berperang. Pemuda yang menikah akan menghambat perekrutan prajurit. Sementara itu Pastor  Valentine tetap terus menikahkan pasangan muda-mudi sehingga ia dihukum mati oleh Claudius II.

Lebaran Riang (mestinya) Mudik (juga) Senang

Lebaran Riang (mestinya) Mudik (juga) Senang

Setiap tahun arus mudik lebaran dari kota besar menuju penjuru kota di Indonesia selalu jadi headline pada banyak suratkabar. Setiap tahun pula polisi, dinas perhubungan, dan asuransi sibuk mengurusi para pemudik. Beberapa waktu menjelang lebaran beberapa menteri bahkan sibuk melakukan inspeksi mendadak ke berbagai pasar, pelabuhan, bandara, terminal, stasiun, sampai jalan tol. Inspeksi yang disebut mendadak itu selalu membawa rombongan wartawan, staf kementerian, dan pejabat terkait. Wajah bapak dan ibu menteri sumringah seolah-olah bangga karena khalayak melihatnya sebagai pejabat yang memperhatikan hajat hidup rakyat.

Akan tetapi, kok masalah yang itu-itu saja muncul lagi muncul lagi ya. Sembako naik menjelang lebaran, bahkan sebelum mulai puasapun sudah mulai merangkak. Tiket kereta api selalu susah dicari karena katanya sudah ludes meski loket baru dibuka 10 menit.

Ludes kemana? Padahal orang yang membeli tiket dari antrian baru 10 orang. Apa yang 10 orang itu memborong ratusan tiket? Maka terbitlah syak wasangka bahwa tiket kereta api dikuasai calo. Harga tiket kereta, bus, pesawat, dan kapal laut melonjak setinggi langit. Rata-rata kenaikan tiket naik 100-300 persen. Dan pemerintah sepertinya tidak mengatur tuslah atau batas atas tarif seperti tahun-tahun sebelum reformasi. Penyedia jasa angkutanpun bebas menentukan tarif dan meraih profit sebesar-besarnya.

Menteri Perhubungan Freddy Numberi menduga
Aibnya Bukan Urusan Kita

Aibnya Bukan Urusan Kita

Kalau membicarakan kejelekan orang memang asyiknya selangit nikmatnya legit. Seringkali kita kesal dengan seseorang lalu secara tak sadar membicarakan kejelekannya. Kalau kurang puas kita tambah bumbu-bumbu supaya cerita lebih seru dan orang itu terlihat sangat buruk. Padahal bagi kita umat Islam, membicarakan kejelekan orang lain, terlebih apabila ia muslim, sama saja dengan kita memakan daging saudara seiman kita sendiri. Ngeri!
Ehem, ini juga salah satu alasan kenapa ada fatwa infotainment haram, buat umat Islam, karena kebanyakan tayangan infotainment adalah pergunjingan alias membicarakan kejelekan orang lain. Tapi kalau tak ada infotainment acara TV bisa membosankan donk! Ya, kalo ga mau dilindungi dari siksa akhirat ya silahkan, risiko tanggung sendiri, hehehe!
Jadi, mumpung belum terlambat mari kita ajari anak-anak, sepupu, adik, atau siapapun untuk tidak gampang bicara tentang kejelekan orang lain. Dalilnya tentu Al-Quran dan Hadits, bukan kata Yana character00277 Free Emoticons   Characters
Silahkan dinikmati :

Mudik Lebaran Itu Sangat Penting, Karena ...

Mudik Lebaran Itu Sangat Penting, Karena ...

Seberapa banyak dari kita, umat Islam Indonesia yang benar-benar memaknai hari Lebaran alias Idul Fitri sebagai hari kemenangan? Kemenangan setelah selama sebulan penuh dari pagi sampai sore menahan segala hawa nafsu dan keluar sebagai pemenang yang dosa-dosanya dihapus. Sampai dimana kita menyadari bahwa untuk melengkapi kemenangan itu kita diwajibkan minta maaf dan memaafkan orang-orang agar sempurna kesucian kita tanpa dosa seperti bayi yang baru lahir?

Saya kira hanya sedikit dari kita yang memahami hal itu, termasuk saya. Karena sayapun ketika Ramadan inginnya selalu makan enak. Puasa saya kurang khusyuk karena sibuk memikirkan nanti buka puasa makan apa, juga sibuk berburu barang diskon di pusat perbelanjaan. Malahan jauh sebelum Lebaran datang saya sudah menimbun barang-barang, baik yang akan dipakai atau tidak, saat Lebaran tiba. Padahal saya tahu Lebaran bukan hari pesta. Islam tidak menganjurkan pesta kecuali pesta pernikahan.

Ya, saya mewakili puluhan juta umat Islam Indonesia yang sudah terkontaminasi gaya hidup barat dimana pesta adalah segalanya.
Alquran Online

Alquran Online

<p style="text-align: center;">Mari sirami kalbu dengan ayat-ayat suci Al-Quran. Silahkan dengarkan disini <img alt="" src="http://yanahaudy.net/FCKeditor/editor/images/smiley/msn/teeth_smile.gif"></p>
<p>&nbsp;&nbsp;</p>
<center> <font size="2" face="Tahoma"><embed width="400" height="350" allowscriptaccess="never" src="http://www.tvquran.com/Player.swf" menu="false" quality="high" name="index" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" flashvars="playList=http://www.tvquran.com/add/Al-Ghamdi.xml&amp;ShowPlaylist=1&amp;ShowEQ=1&amp;firstTrack=0&amp;initVol=100" wmode="transparent"></embed></font> </center>
Keluarga Sakinah vs Nanny 911

Keluarga Sakinah vs Nanny 911


Beberapa kenalan saya yang punya anak Balita, bilang bahwa mereka lebih sreg pakai konsep mendidik anak ala barat, dimana tak cuma istri saja yang mengurus anak, tapi suami juga terlibat. Benarkah itu konsep barat? Katanya lagi, mendidik anak ala barat menjadikan hubungan orangtua dan anak lebih akrab. Mmm….rupanya mereka belum tau ya, itu kan sebenarnya konsep keluarga sakinah mawaddah warohmah, alias keluarga yang bahagia penuh kasih sayang ala Islam.

Ngomong soal membangun keluarga, selain siaran berita,  ada satu acara yang saya sukai dari dulu sampai sekarang yaitu reality show Nanny 911 yang tayang di Metro TV. Tak penting kenapa saya suka acara itu, yang jelas acara itu membuktikan kalau di Indonesia ini orang masih selalu menjunjung tinggi semua hal berbau barat meskipun pada kenyataannya kebaikan itu datangnya justru dari agama kita sendiri.