Kotak

Cerita pendek karangan Ashri Riswandi Djamil ini berbentuk naratif bertema psikologis yang menggunakan sudut pandang orang pertama.

Silakan membaca perlahan-lahan supaya bisa menangkap makna dan menikmati ceritanya secara keseluruhan.

Aku tidak gila. Aku bisa pastikan itu. Ya aku tidak gila….. Pandanganku mulai melemah, muncul pixel kotak-kotak putih memenuhi sepandanganku hingga putih semua lalu hilang. 

Aku hilang kesadaran. Terakhir kali aku berada di depan pintu kamar tidurku terbaring di lantai bukan di ranjang. Lalu “tok-tok” suara pintu diketuk dari luar. Aku membuka pintu dan melihat sosok wanita berpakaian serba hitam. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa.

Mata basah saat tersadarkan diri di atas ranjang putih serba putih. Aku tak dapat membedakan apakah ini nyata atau mimpi. Berusaha untuk menghentakkan diri bangun tapi tak ada tenaga. Tubuh serasa lumpuh. Bahkan bibirku saja sulit digerakkan. 

Apa ini?! Aku emosional, kesal, dan marah. Tak ada, daya percuma. Setelah sadar beberapa jam kemudian. Aku telah menyadari bahwa aku mengalami yang namanya sleep paralysis atau tidur lumpuh yang penjelasannya tidak aku mengerti.

Mimpi buruk pikirku. Kulihat jam weker di atas meja kerjaku. Jam enam pagi. Aku lupa ternyata aku tidak perlu lagi bangun pagi dan bergegas pergi ke kantor. Aku sudah resign tiga hari yang lalu tepat setelah libur Lebaran. 

Ya, keputusan yang sudah bulat. Pandemi telah memberi pelajaran berharga buatku. Kerja dari rumah yang keterusan. Bekerja di rumah adalah duniaku. 

Aku merasa bebas dari aturan kerja. Entah kepada siapa aku harus berterima kasih. Kepada orang-orang di Wuhan sana? Atau siapapun pencipta virus itu. Bagiku ini adalah sebuah berkah. Asalkan tidak kuposting di sosmed. Cukup aku saja yang merasakan sukacita ini.

Aku menyadari juga kalau kasur ini bukan warna putih maksudnya seprainya bukan putih, tapi hitam. Setelah kupastikan ini memang kamarku lalu kubuka laptop dan ternyata sudah menyala. 

Aku bahkan lupa sudah menyalakannya. Kilatan mimpi semalam muncul seperti potongan-potongan gambar di penglihatanku. Hanya sebentar mungkin hanya sedetik. Kutampar kecil pipiku. Memastikan aku berada di alam sadar. Aku sedang sadar. Mengapa seluruh tubuhku terasa capek dan sakit? Aku masih belum bisa mengingat apapun sebelum mimpi itu.

Layar laptopku menampilkan email dan situs freelance. Aku sedang mengerjakan sebuah proyek membuat desain grafis. Ternyata pekerjaanku sudah selesai, tinggal melakukan submit dan menunggu admin untuk menyelesaikan transaksi. Saldo sudah lebih seribu dolar. Karena aku melakukan pekerjaan dengan platform luar dengan bayaran dolar. Pekerjaan impian banyak orang saat ini. Kuncinya adalah kerja keras dan konsisten. Satu lagi: percaya diri.

Aku melihat notif tidak ada pekerjaan selanjutnya artinya aku bisa fokus untuk mencari tahu apa yang terjadi pada diriku sebelum terakhir kali tidur dan mimpi aneh. Aku keluar kamar dan melihat sekeliling rumah, dapur ruang tamu dan balkon. 

Aku ringgal di rumah susun sederhana dengan biaya sewa bulanan yang lumayan murah untuk ukuran kota besar. Kuamati meja tamu ada tumpukan koran dan buku catatan. Asbak yang masih bersih dan botol air mineral. Tidak ada yang berantakan seperti biasanya. TV dan perabotan semua terlihat normal. Jendela pun masih tertutup. Aku biasa membukanya pagi-pagi.

Menuju pintu utama. Aku terpana dengan sesuatu yang menyembul di sela-sela pintu di bawah. Amplop putih kecil. Tanpa pikir-pikir kuambil saja amplop itu. 

Tertulis : “To : Ardio"

Penasaran setengah mati aku terawang amplop itu untuk menjaga agar isinya tidak ikut sobek saat aku membukanya. Isinya kuraba berupa kertas yang sedikit tebal seperti kertas karton dengan salah satu permukaannya licin. Foto atau gambar pikirku seketika dan ku lihat …..

Dan aku kaget serta panik sambil melempar foto itu “ANJING!!! SIAL!” nyaris teriak aku menutupi mulut dengan kedua tanganku. 

Mataku melotot panik. Foto itu tergeletak di lantai. Di foto itu aku sedang tertidur lelap dengan cahaya redup tetapi bukan di atas ranjang kamarku. Semua hitam kecuali aku dengan cahaya redup kemerahan. Apa ini? Kenapa? Apa yang terjadi? Aku frustrasi. Kakiku lemas dan aku menjatuhkan diri diatas sofa ruang tamu.

Apakah aku mengalami penculikan semalam? Atau mohon seseorang beritahu aku. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Tidak ada keterangan di foto polaroid itu. Aku ambil air minum untuk menenangkan diri dan kunyalakan rokok kretek yang biasa kuhisap. 

Kutarik dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan. Mencoba mencerna apa yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Pagi yang menegangkan pikiranku. Aku membuka kunci pintu rumah dan membuka sedikit. Memang masih sepi sepagi ini seperti biasanya. Hanya terdengar suara tukang sapu di bawah yang biasa menyapu pagi-pagi dengan sapu lidi besarnya. 

Seorang bapak tua yang juga salah satu penghuni rumah susun ini. Mungkin beliau tahu atau setidaknya ada sedikit informasi yang bisa kuperoleh. Apakah ada orang asing masuk ke area rusun ini. Ide yang bagus pikirku. Namun, nanti setelah aku lebih tenang lagi. Kubiarkan pintu sedikit terbuka agar ada sedikit udara masuk.

Sudah lima cangkir kopi habis dan dua bungkus rokok sisa dua batang. Asbak penuh aku masih di sofa menatap layar TV yang menayangkan film tengah malam. Aku sempat tertidur. Bangun karena kaget mendengar adegan tembak-menembak dari TV. 

“Sial!” teriakku. Aku bangkit dari sofa menuju kamar mandi untuk buang air kecil.

Aku merasa ada bayangan terpantul dari cermin wastafel kamar mandi. Cepat sekali dan hitam. Jantungku berdegup kencang seketika. Kumenoleh cepat ke belakang jaga-jaga ada orang masuk tanpa sepengetahuanku. Aku bergegas keluar sambil membawa pisau dapur. Menuju pintu masuk kupastikan sudah terkunci. Aman pikirku. Kalaupun ada di rumah, aku pasti sudah mengetahuinya. 

Rusun ini kecil dan hal kecil sekalipun aku bisa merasakannya. Kamar tidur balkon aman. Jantungku sudah lebih tenang. Nafas mulai normal. Tapi pikiranku kacau. Permainan apa ini. Aku takut semua ini hanya di dalam kepalaku. Tapi mengapa terasa begitu nyata?

Aku lupa untuk menanyakan orang asing itu ke bapak tua tukang sapu rusun. Aku mengenakan jaket parka dan saat kenop pintu kuputar, pintu terbuka dan kulihat ada sosok berjaket hitam dan bertopi ponco membelakangiku. Tak ada firasat apa-apa. Sosok itu berbalik ke arahku pelan, tiba-tiba gerakanku ikut pelan dengan mata terbelalak setelah melihat wajah di balik jaket hitam itu. Tubuhku seketika lumpuh. Pandangan gelap. Aku blackout.

Aku terbangun, mataku terasa berat namun masih gelap, padahal mataku sudah terbuka. Kali ini aku pasrah apa pun yang terjadi selanjutnya. Pandangan masih gelap. Bau tanah yang menyengat merasuk seperti memnuhi semua rongga di tubuhku. 

Sesak nafas seperti tenggelam tapi bukan air. Tanah lembab. Mungkin ini akhirnya. Aaaarrrrggghhhh! 

Sosok hitam di pintu itu muncul kembali dengan seringai ngeri tak terbayangkan. Apakah kesakitan atau kenikmatan yang akan kudapatkan? Semua lenyap seketika.



0 komentar

Posting Komentar