Filosofi dan Karakter Pemakan Bubur Gak Diaduk

Orang yang sedang sakit atau sedang kurang bugar biasanya makan bubur. Tekstur bubur yang lembek menjadikannya mudah ditelan dan dicerna lambung.

Bahan pelengkap bubur juga bisa disesuaikan dengan kondisi si sakit sehingga tidak menimbulkan alergi atau masalah kesehatan lain. Maka itu, orang sakit lebih cocok makan bubur dengan cara diaduk. Dengan mengaduk, bubur lebih cepat encer dan berair sehingga suwiran ayam, daging, dan bahan pelengkap juga jadi cepat layu.

Dengan begitu, bubur tidak perlu dikunyah lama-lama karena secara otomatis cepat tertelan, cocok dengan orang yang sedang tidak bisa menikmati lezatnya makanan karena sakit atau hal lain.

Bagi orang sehat, makan bubur diaduk atau tidak, sangat dipengaruhi oleh pengalamannya di masa lalu.

Bisa jadi sewaktu kecil keluarganya makan bubur diaduk dan dia terbawa pada kebiasaan itu. Bisa jadi dia pernah melihat bestie-nya makan bubur tidak diaduk lalu dia ikutan. Cara makan kita memang tergantung pada lingkungan tempat kita berada.

Di Indonesia kita biasa makan menggunakan tangan, tapi di Barat makan menggunakan tangan dianggap jorok dan tidak higienis.

Kebiasaan kita makan bubur bisa berubah secara permanen sesuai dengan pola pikir, pengaruh lingkungan, dan selera.

Karakter umum pemakan bubur tidak diaduk


1. Menyukai kehangatan. Bubur yang tidak diaduk lebih tahan kehangatannya karena panas yang ada di bagian tengah dan dalam bubur tidak mudah menguap. 

Pada bubur yang diaduk panas akan cepat terlepas dan bubur jadi cepat dingin. Makin diaduk makin bubur itu berkurang kekentalannya dan jadi encer.

2. Menyukai kehangatan. Bubur yang tidak diaduk lebih tahan kehangatannya karena panas yang ada di bagian tengah dan dalam bubur tidak mudah menguap. 

Pada bubur yang diaduk panas akan cepat terlepas dan bubur jadi cepat dingin. Makin diaduk makin bubur itu berkurang kekentalannya dan jadi encer.

3. Tidak mudah membebek. Pemakan bubur tidak diaduk tidak mudah terbawa isu dan opini dari media sosial dan media massa walau isu itu sedang sangat populer.

Mereka tidak akan ikut-ikutan berkomentar, mencerca, mendukung, atau memaki bila tidak betul-betul menguasai topiknya.

4. Cermat dan detail. Bila pemakan bubur diaduk cenderung punya kepribadian simpel dan sederhana, kebanyakan pemakan bubur tidak diaduk sangat cermat dan memerhatikan detail pada banyak hal yang mereka lakukan.

Bila ingin travelling, misalnya, mereka akan menghitung dengan cermat waktu keberangkatan, spot wisata, sampai biaya tidak terduga mereka hitung betul-betul.

5. Menganggap penampilan adalah bagian dari jati diri. Jarang pemakan bubur tidak diaduk yang berpakaian asal-asalan. 

Mereka menghindari memakai baju dan aksesori yang warna dan motifnya saling tabrakan. Karena menyukai barang berkualitas tinggi, pemakan bubur tidak diaduk juga rela menabung untuk mendapatkan barang berkualitas yang mereka inginkan.

6. Punya selera seni bagus. Walau cuma buat dimakan, menata makanan juga termasuk seni.

Di Jepang, presentasi visual makanan termasuk penting disamping cita rasa, dinamakan mukimono atau seni makanan. 


Makanan juga merupakan bagian dari filosofi Yin dan Yang di Tiongkok. Di Jawa filosofi bubur punya beberapa makna. Contohnya bubur merah putih yang dibuat untuk menyambut kelahiran bayi atau orang yang berganti nama.

Merah melambangkan keberanian dan putih berarti suci.

Apakah makan bubur merah-putih lantas diaduk diublek-ublek? Ambil setengah sendok bubur putih yang gurih dan setengah sendok bubur merah yang manis. Suap sendok itu ke mulut. Rasakan kegurihan dan kemanisan dalam bubur yang menyatu padu.

Mangkuk dan piring di Jepang bahkan tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran, bukan cuma bundar dan oval karena menyesuaikan dengan hidangan dan dekorasinya.

Perbedaan makan soto dan bubur


Satu hal yang sering dinyatakan oleh pemakan bubur diaduk adalah: makan bubur sama dengan soto, harus diaduk supaya semua rasanya tercampur rata. Makannya juga sama-sama pakai mangkuk, berarti sama-sama diaduk dong!

Pertama, soto itu pake kuah, guys! Secara otomatis semua bahan makanan yang ada di mangkok sudah kecampur duluan tanpa diaduk.

Bubur juga ada yang pake kuah, tapi kuahnya tidak sebanyak soto, jadi menyamakan makan bubur dengan soto itu gak apple to apple, ya, alias gak nyambung!

Kedua, pada soto tidak berlaku cara makan diaduk dan tidak diaduk, tapi cara makan nasi dicampur ke dalam mangkuk soto dan nasi dipisah dari soto. 

Pada orang yang menyukai makan soto dipisah dari nasi, mereka akan menuang soto ke dalam piring nasi sebelum disuap ke mulut.

Sebaliknya, orang yang menyukai soto campur nasi akan menaruh nasi ke dalam mangkuk supaya bisa dimakan bareng sotonya.

Ketiga, soto dan bubur adalah dua menu yang berbeda karena bahan, bumbu, dan cara pengolahannya tidak sama.

Dari tiga hal diatas dapat disimpulkan bahwa makan bubur tidak bisa disamakan dengan makan soto. Valid no debate.

***

Last but not least, karena berbeda karakter dan filosofi memandang hidup, orang yang makan bubur diaduk dan tidak diaduk tidak bisa jadi bestie (sahabat).

Mereka tetap bisa berteman dengan sangat asyik, tapi lebih dari itu tidak bisa. 

Perbedaan karakter antara dua orang sebenarnya baik untuk saling melengkapi, tapi perbedaan dengan  orang yang makan bubur diaduk dan tidak diaduk lebih kepada perbedaan prinsip dan visi hidup.

Maka, lebih baik cari pasangan hidup yang sama-sama makan buburnya diaduk atau tidak diaduk.


0 komentar

Posting Komentar